Hari Suroto
Balai Arkeologi Jayapura


Abstrak

Batik telah ditetapkan sebagai warisan budaya takbenda UNESCO. Penetapan batik oleh UNESCO membuat euforia pengembangan batik di tiap daerah, hal ini juga terjadi di Raja Ampat, Papua Barat. Dikhawatirkan pemakaian batik Raja Ampat hanya sekedar trend kesadaran budaya yang bersifat sesaat, untuk itu pengembangan industri kerajinan batik khas Raja Ampat terus didorong agar menjadi salah satu industri kreatif, disesuaikan dengan nilai-nilai budaya asli Raja Ampat terutama keberadaan tinggalan lukisan tebing prasejarah yang dapat dijadikan motif batik khas.

Kata kunci: Batik, industri kreatif, lukisan tebing prasejarah


Abstract

Batik has been designated as intangible cultural heritage of UNESCO. Determination by UNESCO for batik, making euphoria of batik in each region this also happens in Raja Ampat, West Papua. It is feared that the use of batik Raja Ampat just a trend of cultural awareness that is momentary.For that development of typical batik craft industry Raja Ampat continue to be encouraged in order to become one of the creative industries, tailored to indigenous cultural values Raja Ampat, especially the presence of prehistoric rock paintings that can be used as typical batik motifs.

Key word: Batik, creative industry, prehistoric rock paintings


Pendahuluan

Pada 2 Oktober 2009, di Kota Abu Dhabi – Uni Emirat Arab, UNESCO resmi menetapkan batik dari Indonesia sebagai warisan budaya takbenda UNESCO (Intangible Cultural Heritage). Penetapan ini sangat sangat antusias oleh masyarakat Indonesia sebagai pemilik batik. Penetapan Batik sebagai warisan budaya takbenda dunia, juga merupakan sarana dalam memupuk kebersamaan atau solidaritas nasional di antara suku-suku bangsa yang ada di Indonesia yang memiliki kekhasan budaya tersendiri dari masing-masing daerah.

Sebagai warisan budaya takbenda yang diakui UNESCO, tentu hal ini janganlah membuat masyarakat Indonesia langsung berpuas diri. Penetapan batik yang telah melalui beberapa tahap penilaian, merupakan satu rangkaian perjuangan dan bentuk penghargaan masyarakat Indonesia terhadap warisan leluhur. Selama ini batik identik dengan pakaian, seharusnya menjadi pakaian resmi di negeri sendiri, serta dapat di terima sebagai pakaian internasional khususnya di negara-negara tropis serta negara-negara subtropis pada musim panas.

Industri batik merupakan salah satu industri kreatif yang termasuk dalam sektor kerajinan. Industri kreatif merupakan salah satu industri yang saat ini menjadi strategi pembangunan industri di Indonesia. Salah satu strategi pembangunan ekonomi dan industri di Indonesia yaitu industri kreatif. Industri kreatif memiliki ketergantungan impor yang rendah, dan memiliki potensi ekspor, karena adanya keunggulan komparatif. Kerajinan batik merupakan salah satu sektor industri kreatif yang berpotensi dalam memberikan kontribusi dan solusi pada persoalan-persoalan lingkungan, sosial dan ekonomi bangsa.

Dalam konteks lingkungan, di tengah ancaman pemanasan global dan kondisi iklim yang berbeda-beda di setiap negara, momentum penetapan batik sebagai warisan budaya dunia haruslah dilihat sebagai sebuah peluang bahwa batik bisa dijadikan solusi alternatif pakaian resmi internasional. Hal ini sangat logis, karena pakaian batik sangatlah tepat digunakan dalam kondisi iklim tropis seperti di Indonesia dan banyak negara tropis lainnya. Selain itu berkembang isu back to nature yang tekait dengan isu kesehatan, hal ini terkait dengan isu pemakaian pewarna kimia pakaian sintetis yang berdampak pada munculnya kanker. Batik memiliki keunggulan yaitu penggunaan teknologi pewarna alami.

Proses kreatif adalah kondisi dimana berlangsung pengembangan kreativitas. Pekerjaan kreatif yaitu pekerjaan untuk menghasilkan produk inovatif. Agar dapat menjadi industri kreatif dalam arti yang sesungguhnya, industri batik dituntut untuk dapat selalu menghadirkan produk-produk baru dan inovasi-inovasi baru, baik dalam bahan baku, peralatan, proses, maupun pengelolaan. Pengembangan kreativitas merupakan hal yang sangat mutlak diperlukan di industri ini.

Dalam tulisan ini akan dibahas mengenai pengembangan batik khas Raja Ampat sebagai salah satu industri kreatif, disesuaikan dengan nilai-nilai budaya asli Raja Ampat terutama keberadaan tinggalan lukisan tebing prasejarah yang dapat dijadikan motif batik khas. Batik khas Raja Ampat sendiri muncul dan berkembang sejak ditetapkannya batik sebagai warisan budaya takbenda UNESCO.


Pembahasan

Penetapan batik oleh UNESCO membuat euforia pengembangan batik di tiap daerah, hal ini juga terjadi di Raja Ampat, Papua Barat yang dalam tradisinya tidak mengenal pembuatan batik. Komitmen Pemerintah Kabupaten Raja Ampat dalam pelestarian batik memadai. Pemerintah Kabupaten Raja Ampat mewajibkan penggunaan batik pada hari kerja tertentu atau setiap Kamis bagi PNS di lingkungan Kabupaten Raja Ampat. Di samping itu Dinas Pendidikan Kabupaten Raja Ampat juga telah mewajibkan sekolah untuk memakai batik sebagai seragam sekolah pada hari-hari tertentu.

Dikhawatirkan pemakaian batik Raja Ampat hanya sekedar trend kesadaran budaya yang bersifat sesaat, untuk itu pengembangan industri kerajinan batik khas Raja Ampat harus terus didorong agar menjadi salah satu industri kreatif yang diandalkan untuk peningkatan pertumbuhan ekonomi daerah.

Kendala teknis dalam pengembangan batik khas Raja Ampat adalah selama ini pengembangan batik Raja Ampat baru sebatas batik printing (pabrikan), produktivitas atau kuantitas produksi yang terbatas, pola usaha yang masih mengandalkan batik printing yang di produksi di Jawa, belum ada pelatihan pengrajin batik tulis atau cap. Masyarakat umum hanya menyadari bahwa batik identik dengan motif bukan teknik pembuatan. Pemasaran pasif hanya terbatas di lingkungan pegawai dinas dan seragam wajib sekolah. Pengembangan desain untuk menjawab kemauan costumer kurang. Harga jual batik khas Raja Ampat yang masih mahal. Toko atau tempat yang menjual batik khas Raja Ampat masih terbatas.

Pengembangan batik khas Raja Ampat memiliki peluang, hal ini didukung oleh pertama pengakuan batik sebagai warisan budaya Indonesia, kedua industri kreatif menjadi salah satu konsentrasi pemerintah pusat, ketiga Raja Ampat sebagai tujuan destinasi internasional wisata bawah air.

Beberapa hal yang harus dilakukan dalam upaya pengembangan batik Raja Ampat oleh dinas terkait adalah, memasukkan batik sebagai muatan lokal SD, SMP, SMA, SMK oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Raja Ampat, disamping itu dinas ini juga berupaya mewajibkan sekolah untuk memakai batik sebagai seragam sekolah pada hari-hari tertentu.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Raja Ampat seyogyanya memfasilitasi promosi yang dilakukan oleh melalui pameran-pameran dalam event pariwisata. Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi Kabupaten Raja Ampat perlu pemberian modal melalui skema simpan pinjam kelompok pengrajin dan pembinaan jiwa kewirausahaan, peningkatan kemampuan produksi, bantuan promosi dan pemasaran melalui pameran, fasilitasi pembentukan sentra dan pelatihan packaging serta labeling.

Saat ini motif batik khas Raja Ampat hanya berupa mahkota raja dan burung cenderawasih. Kedua motif ini belum mencerminkan Raja Ampat sebagai kabupaten bahari. Sumberdaya bahari Raja Ampat sangat melimpah. Kepulauan Raja Ampat terletak di jantung pusat segitiga karang dunia (coral triangle) dan merupakan pusat keanekaragaman hayati laut tropis terkaya di dunia. Dengan melihat potensi keanekaragaman hayati ini tentu saja dapat dijadikan motif batik. Disamping itu juga terdapat pulau-pulau karang yang indah terutama di Misool dan Waigeo, di kedua pulau ini terdapat sumberdaya arkeologi berupa lukisan prasejarah.

Motif lukisan prasejarah ini terdapat di tebing-tebing karst pesisir pulau. Motif-motif lukisan ini diantaranya adalah motif fauna air laut, bumerang, perahu, telapak tangan, abstrak dan manusia.. Hal yang menarik adalah keberadaan motif bumerang, dalam tradisinya masyarakat Papua tidak mengenal bumerang, bumerang saat ini identik dengan suku aborigin Australia, sedangkan di Australia sendiri hingga saat ini belum ditemukan lukisan prasejarah dengan motif bumerang.

Motif bumerang serta motif lukisan prasejarah lainnya sangat menarik untuk dijadikan motif batik khas Raja Ampat. Jika hal ini dikembangkan maka batik Raja Ampat memiliki ciri khas dan menjadi pembeda dengan motif batik khas daerah lainnya, sehingga diharapkan banyak konsumen yang akan membeli produk ini.


Kesimpulan

Diperlukan satu pola pengembangan yang terintegral dan komprehensif serta didasarkan bukan pada upaya pengembangan ekonomi semata namun juga didasarkan pada keinginan untuk melestarikan warisan budaya Raja Ampat berupa lukisan tebing prasejarah sebagai motif batik.

Strategi pemberdayaan dan pengembangan batik Raja Ampat yang harus dilakukan diantaranya: pembuatan desain peraturan yang dapat menumbuhkan pasar bagi batik Raja Ampat dan pengembangan batik Raja Ampat itu sendiri, memasukkan kerajinan batik sebagai muatan lokal di semua jenjang pendidikan, sehingga muncul inovasi-inovasi baru dalam hal pengembangan batik Raja Ampat (terutama oleh SMK program studi tata busana), melakukan negosisasi dengan perusahaan batik besar dan perusahaan lainnya mengenai pelatihan bagi pengrajin batik asli Raja Ampat, mengintrodusir teknologi produksi batik secara massal, mensinergikan paket wisata sebagai salah satu cara pemasaran batik Raja Ampat.

Ke depan, ada baiknya batik Raja Ampat ini mencoba membuat desain cap sendiri, kemudian membuat alat sendiri atau memesan alat sesuai dengan desain yang mereka kembangkan. Dengan demikian desain batik yang dihasilkan tidak umum (pasaran), tetapi memiliki daya beda dengan desain produk yang ada.

*MAKALAH PIA 2011

Iklan