Dody Wiranto
Balai Pelestarian Peninggalan Manusia Purba Sangiran


Abstract and Keyword

The papper entitled “The Increase of Souvenir Design Creativity to Support Museum Sangiran in the Regency of Sragen Central Java”, studies the increase of craftsman and souvenir market potential that support the museum. The title is chosen because of the important value of souvenir creative design in supporting the presence of Museum Sangiran especially as the Heritage of the World Cultural Remains. Thus, the museum is able to give education, information, and entertainment for the visitors. Museum Sangiran is quite crowded by the visitors who also shop at souvenir kiosks around the museum, yet the souvenir design which are marketed are less interesting and informative.     The things mentioned above will encourage the importance of increasing souvenir design creativity based on museum collection, society myth, and types of visitors. Furthermore, the research discusses souvenir marketing channels in general, so the information can be spread optimally. Key words: creative industry, souvenirs design, Museum Sangiran.


Abstrak

Makalah berjudul Peningkatan Kreatifitas Desain Cenderamata Untuk Mendukung Museum Sangiran Kabupaten Sragen Jawa Tengah ini, membahas mengenai peningkatan potensi perajin dan pasar cenderamata sebagai pendukung museum. Judul ini dipilih karena nilai penting industri kreatif cenderamata dalam mendukung keberadaan Museum Sangiran terutama sebagai Warisan Tinggalan Budaya Dunia. Dengan demikian akan mampu secara optimal didalam memberikan edukasi, informasi, dan hiburan kepada pengunjungnya. Museum Sangiran cukup ramai didatangi oleh pengunjungnya termasuk juga berbelanja di kios cenderamata kompleks museum, akan tetapi desain cenderamata yang dipasarkan kurang menarik dan informatif. Hal tersebut mendorong diperlukannya peningkatan kreatifitas desain cenderamata berbasis pada koleksi museum, mitos masyarakat, serta jenis pengunjungnya. Di samping itu di dalam penelitian ini akan dibahas secara umum mengenai saluran-saluran pemasaran cenderamata, sehingga informasinya akan mampu disebarluaskan secara optimal. Kata kunci: Industri Kreatif, Cenderamata, Museum Sangiran.


Pendahuluan

Museum menurut ICOM (International Council of Museum) adalah suatu lembaga permanen yang melayani kepentingan masyarakat dan kemajuannya, terbuka untuk umum, tidak bertujuan mencari keuntungan, yaitu mengumpulkan, memelihara meneliti, memamerkan, dan mengkomunikasikan benda-benda pembuktian material manusia dan lingkungannya, untuk tujuan studi, pendidikan, dan rekreasi obyek wisata (Ambrose & Paine, 2006:8).

Situs Sangiran terletak di kawasan pemukiman penduduk yang memiliki tingkat pendidikan rendah, sehingga sering terjadi perbedan pemaknaan fosil sebagai Benda Cagar Budaya yang harus dilindungi. Kondisi perekonomian penduduk yang kurang bagus dan bentang alam kawasan Sangiran yang tandus, semakin mendorong maraknya pencurian fosil. Keadaan tersebut akan semakin memperparah musnahnya tinggalan fosil di Situs Sangiran yang sudah ditetapkan sebagai World Cultural Heritage.

Sebagai salah satu alternatif pemecahan masalah ini adalah dengan mengembangkan industri kreatif berupa cenderamata yang sudah sejak lama ditekuni oleh perajin di kawasan Sangiran. Cenderamata yang dipasarkan di kios kompleks Museum Sangiran masih memiliki desain yang sangat sederhana dan kurang menarik serta informatif. Oleh karena itu penulis ingin meningkatkan kreatifitas desain cenderamata, sehingga akan menjadi daya tarik bagi pengunjung museum. Dengan demikian pada akhirnya desain cenderamata yang menarik dan informatif akan mampu mendukung keberadaan Museum Sangiran sebagai media edukasi, informasi dan hiburan.


Hasil dan Pembahasan

Sangiran adalah Situs manusia Purba yang terletak kurang lebih 18 kilometer arah Utara Kota Surakarta. Situs Cagar Budaya Sangiran merupakan situs dari Kala Pleistosen yang terlengkap di Indonesia, baik ditinjau dari aspek paleoantropologis, arkeologis, paleontologis, maupun geologis. Situs ini dipandang penting bagi pemahaman evolusi manusia secara umum, bukan hanya sebagai kepentingan Nasional, akan tetapi juga telah dianggap sebagai salah satu pusat evolusi manusia di dunia. Di situs ini ditemukan fosil manusia jenis Homo Erectus yang jumlahnya mencapai 50 % dari populasi yang dimiliki dunia, yang representatif menggambarkan perkembangan evolusi manusia (Widianto dan Simanjuntak, 2009 : 129).

Tingkat pendidikan dan taraf hidup masyarakat Situs Sangiran pada umumnya dikategorikan menengah ke bawah, 80 % lulus SD, 15,4 % lulus SLTP dan hanya 6,02 % lulus SLTA, lulus perguruan tinggi di bawah 2 % (Soeroso, 2008 : 7). Tingkat pendidikan tersebut akan mempengaruhi pilihan jenis mata pencaharian mereka. Dengan demikian tingkat pendidikan yang rendah orang akan sulit memperoleh pekerjaan yang layak dengan penghasilan yang memuaskan. Keadaan tersebut diperburuk oleh faktor pertanian di kawasan Sangiran yang tandus tidak dapat menjanjikan hasil yang baik. Oleh karena itu, alternatif atau jalan pintas yang mereka lakukan untuk menambah penghasilan adalah dengan berdagang fosil kepada turis yang datang ke museum dan penadah (Sulistyanto, 2003 : 112).

Penulis dalam penelitian ini bermaksud mengembangan kreativitas desain cenderamata sebagai alternatif penghasilan masyarakat yang juga memberikan dampak positif bagi Museum Sangiran. Ditinjau secara makna dan fungsinya, cenderamata berperan sebagai identitas dengan wujud simbolis agar bisa dirasakan oleh orang lain, dan mengandung makna-makna di dalamnya. (Berger, 2005 : 107). Seperti diungkapkan juga oleh filusuf terkenal Rene Descartes :  “cogito ergo sum” , yang berarti “aku berfikir maka aku ada”. (Foucault, 2002 : 14). Cenderamata sebagai benda yang merangsang instrumen otak untuk berfikir dan mengingat, sehingga keberadaan atau asal cenderamata dapat diakui serta diingat. Dengan demikian museum menciptakan atau membuat cenderamata dengan memperhatikan model, tipe, atau ciri khusus yang sangat ikonis, simbolis. (Greenhill, 2006 : 139). Peran cenderamata bisa mewakili identitas suatu daerah, misalnya: di Perancis diidentikkan dengan menara Eiffel, di Belanda diidentikkan dengan kincir angin, dan di Amerika diidentikkan dengan menara Liberty. Museum Sangiran sangat terkenal dengan temuan fosil makhluk hidup, salah satu yang bisa dijadikan ikon menarik adalah manusia purba dalam berbagai bentuk dan kegiatan.


Desain Cenderamata di Museum Sangiran

Produk desain cenderamata di Museum Sangiran masih kurang memberikan daya tarik untuk pembelinya. Daya tarik tersebut antara lain cenderamata harus mempunyai nilai budaya, yang terdiri dari: nilai keindahan, nilai kerohanian, nilai simbolis, nilai kesejarahan, dan nilai keaslian. Di samping itu produk cenderamata di Museum Sangiran masih kurang informatif, artinya belum dilengkapi dengan label, tulisan atau tanda yang menjelaskan tentang cenderamata tersebut. Produk cenderamata selain itu juga masih belum bersifat konservatif. Masih banyak produk cenderamata yang menggunakan bahan atau material yang diambil dari kawasan situs dan kadangkala berupa BCB. Dengan demikian dalam jangka waktu yang singkat atau lama akan merusak kawasan situs Sangiran. Desain cenderamata di Museum Sangiran selain yang telah disebutkan, juga kurang menampilkan secara menarik replikasi koleksi Museum Sangiran. Faktor pengunjung dan mitos yang berkembang di masyarakat Sangiran juga masih kurang diperhatikan dalam mendesain cenderamatanya.

Kekurangan yang lain, yaitu semua karya desain cenderamata yang merupakan replika dari koleksi museum dan diperjualbelikan di kios tidak mendapatkan kekuatan hukum berupa hak cipta. Perajin cenderamata perlu mendapatkan hak cipta replika dari Museum Sangiran agar memperoleh perlindungan secara hukum dan mendapatkan edukasi secara benar. Perlindungan hukum sangat membantu para perajin cenderamata, karena karya mereka tidak akan ditiru oleh pihak lain dan bebas untuk diperjualbelikan. Dengan demikian keuntungan akan diperoleh bagi pihak perajin cenderamata (perlindungan secara ekonomis), dan bagi pihak Museum antara lain mengenai keaslian cenderamata (perlindungan kepuasan pengunjung). Di samping itu peran cenderamata juga mengangkat tingkat perekonomian masyarakat sekitar Museum Sangiran, sehingga mengikis  pola pikir perdagangan fosil secara ilegal. Dengan demikian Sangiran menjadi agen perubahan (agent of change), dari perajin yang kurang memiliki pengetahuan desain hingga menjadi perajin yang piawai.

Peran cendermata sangat penting sebagai  sektor pendukung dalam upaya menarik kunjungan wisatawan ke khususnya di Museum Sangiran. Sebagai sektor pendukung yang melayani pengunjung museum akan kebutuhan cenderamata, maka perlu diperhatikan desain sesuai selera pembelinya. Pada umumnya wisatawan menghendaki benda cenderamata yang memiliki ciri khas terrtentu, sehingga mencerminkan budaya lokal yang dihasilkan oleh masyarakat setempat. Dengan demikian perlu diperhatikan desain cenderamata antara lain harus mengacu antara lain pada: mitos yang berkembang, etika masyarakat, ketersediaan bahan alami lokal yang tidak dilindungi undang-undang, pencitraan kawasan situs, dan koleksi Museum Sangiran (Atmojo, 2010: t.h.).


Alternatif Desain Cenderamata di Museum Sangiran

Proses mendesain cenderamata memerlukan daya kreativitas yang bisa digali dari kondisi lingkungan maupun koleksi yang terkait dengan keberadaan Museum Sangiran. Tahap yang dilakukan adalah identifikasi,klasifikasi, dan eksplanasi pada kawasan situs Sangiran, koleksi museum, dan jenis pengunjung Museum Sangiran. Pertama adalah proses identifikasi, klasifikasi, dan eksplanasi pada koleksi Museum Sangiran telah menghasilkan  acuan desain cenderamata. Fosil tengkorak manusia purba Homo erectus dan binatang gajah purba dijadikan desain cenderamata. Pemilihan tersebut berdasarkan asumsi bahwa temuan fosil manusia purba di situs sangiran merupakan salah satu temuan penting dan terlengkap di dunia dalam mengungkap evolusi manusia. Di samping itu pemilihan desain cenderamata binatang gajah didasarkan bahwa temuan fosilnya menjelaskan keberadan tiga tipe gajah yang berkembang di Indonesia. Kedua adalah proses identifikasi, klasifikasi dan eksplanasi telah memberikan acuan desain cenderamata yang berbasis mitos masyarakat situs Sangiran. Desain berdasarkan mitos masyarakat tersebut di dasarkan pada pengilustrasian cerita mitos “Balung Buto” menjadi desain cenderamata. Ketiga adalah proses identifikasi, klasifikasi, dan eksplanasi pada jenis pengunjung di Museum Sangiran yang telah memberikan acuan desain pada produk cenderamatanya. Jenis pengunjung berdasarkan data yang diperoleh di museum menyebutkan bahwa pengunjung jenis umum menempati posisi teratas dari jenis lainnya. Dengan demikian desain cenderamata disesuaikan dengan selera konsumen dari jenis umum, yaitu mencakup umur dari 0 tahun sampai dengan 60 tahun keatas.

Desain cenderamata setelah melalui proses identifikasi, klasifikasi, dan eksplanasi, harus mencakup pula nilai-nilai agar memiliki fungsi edukatif, informatif, dan menarik. Nilai-nilai pada desain cenderamata tersebut, antara lain: 1). keindahan (aesthetic value); 2). kerohanian (spiritual value); 3). simbolis (symbolic value); 4). kesejarahan (historical value); 5). keaslian (authenticity value) (Keene, 2005: 14).  Dengan demikian desain cenderamata akan mampu memberikan gambaran tentang keberadaan museum Sangiran beserta kawasannya secara budaya maupun fisik dengan optimal. Di samping hal tersebut, produk cenderamata juga harus memperhatikan hak cipta (copyright) yang akan melindungi hasil karya, jaminan, dan keaslian  cenderamata. Dengan demikian hak cipta akan melindungi produk cenderamata yang dihasilkan oleh perajin lokal masyarakat kawasaan Sangiran.


Peran Cenderamata Untuk Museum Sangiran

Cenderamata memiliki peran yang sangat besar antara lain: pertama, kerjasama dan pemberdayaan; kedua, edukasi dan penyebarn informasi; dan ketiga adalah sebagai daya tarik kunjungan ke Museum Sangiran. Peran dalam hal kerjasama dan pemberdayaan, yaitu pihak museum akan bekerjasama dengan memberdayakan perajin lokal dalam membuat cenderamata. Dengan demikian terjadi hubungan sinergis resiprokal  antara perajin lokal dengan pihak Museum Sangiran. Hal tersebut akan berdampak dalam turut menekan tingkat pencurian fosil sekaligus meningkatkan taraf hidup masyarakat situs Sangiran. Peran dalam bidang edukasi dan penyebaran informasi, yaitu cenderamata akan memberikan edukasi kepada perajin lokal mengenai pengenalan koleksi dan kawasan situs secara lebih mendalam. Di samping itu pihak museum juga akan memperoleh edukasi tentang local genius dan ketersedian bahan alam di kawasan situs Sangiran. Peran cenderamata juga memiliki potensi yang besar dalam menyebarkan informasi keberadaan Museum Sangiran. Pengunjung yang berbelanja cenderamata akan turut menginformasikan kepada calon pengunjung melalui media cenderamata tersebut. Cenderamata selain itu memiliki kemampuan yang signifikan dalam meningkatkan jumlah kunjungan ke Museum Sangiran. Desain cenderamata yang menarik, informatif, dan edukatif akan menjadi daya tarik yang luar biasa bagi pengunjung museum. Di samping itu tempat dan penataan yang lebih representatif akan memberikan rasa nyaman dan aman bagi pengunjung yang mau berbelanja cenderamata. Dengan demikian keberadaan cenderamata akan turut mendukung museum dan dilain pihak keberadaan Museum Sangiran turut membangun pencitraan positif pada kawasannya.


Simpulan dan Saran

Pengunjung sebagai konsumen produk cenderamata merupakan bagian penting dari pelayanan museum, sehingga perlu mendapatkan produk yang menarik dan informatif. Desain cenderamata di Sangiran yang menarik dan informatif perlu memperhatikan tiga hal, yaitu: koleksi museum, mitos masyarakat, dan pengunjung. Di samping itu peran cenderamata akan lebih efektif dengan didukung oleh faktor fisik dan non fisik dalam pelayanannya kepada pengunjung. Dengan demikian peningkatan desain cenderamata akan mampu mendukung keberadaan Museum Sangiran dan semakin memantapkan peran museum kepada kawasanya.

Peningkatan desain cenderamata perlu segera dilakukan oleh pihak Museum Sangiran terutama merupakan peran museum dalam rangka memberdayakan masyarakat kawasannya. Masyarakat sekitar Museum Sangiran dengan local geniusnya dan ketersediaan kekayaan alamnya akan mampu mendukung potensi cenderamata, sehingga meningkatkan taraf ekonomi masyarakat.

Pihak Museum Sangiran di samping itu juga perlu mendorong terbentuknya asosiasi perajin di sekitar museum, sehingga akan mampu melindungi dan melestarikan budaya serta karya asli masyarakat Sangiran. Hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah hak cipta (copyright) desain cenderamata, sehingga tidak menimbulkan permasalahan dikemudian hari. Sebaiknya pemegang hak cipta adalah Museum Sangiran, karena memiliki kekuatan hukum atas peniruan dan penggandaan koleksinya.

Peran cenderamata yang sangat penting dalam melayani pengunjung dan pada akhirnya berimplikasi pada meningkatnya jumlah kunjungan ke Museum Sangiran. Oleh karena itu sudah sepantasnya apabila pihak Museum Sangiran menyediakan tempat yang representatif bagi pedagang cenderamata. Dengan demikian pengunjung yang berbelanja cenderamata akan merasa aman dan nyaman serta berpotensi untuk datang dan mengunjungi Museum Sangiran lagi.

Sebagai langkah jangka panjang, sebaiknya Museum Sangiran segera memasukkan konsep peningkatan desain cenderamata ke dalam program kerjanya, sehingga peran cenderamata dalam mendukung museum dapat terwujud. Dengan demikian semboyan konservatif yaitu: “dengan membeli cenderamata anda turut menyelamatkan fosil”, menjadi nyata dan berkesinambungan.


DAFTAR PUSTAKA

Ambrose, Timothy & Paine, Crispine. 2006.Museum Basics. New York: Routledge.

Atmojo, Wahyu Tri. 2010. Penciptaan Karya Seni Kerajinan Cenderamata Sebagai Seni Wisata Berbasis Seni Etnik Batak Guna Mendukung Kepariwisataan di Sumatra Utara. http://www.jurnalseni.com. Diunduh pada tanggal  29 Oktober 2010.

Berger, Arthur Asa. 2005. Tanda-Tanda dalam Kebudayaan Kontemporer. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Foucault, Michel. 2002. Pengetahuan dan Methode. Yogyakarta: Jalasutra.

Greenhill, Eilean Hooper. 2006. Museums and The Interpretation of Visual Culture. London: Routledge.

Keene, Suzanne. 2005. Fragments of The World Uses Museum Collections. London: Elsevier Butterworth Heinemann.

Soeroso. 2008. Rencana Induk Pelestarian dan Pengembangan Kawasan Sangiran. Jakarta: Direktorat Peninggalan Purbakala Direktorat Sejarah dan Purbakala Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.

Sulistyanto, Bambang. 2003. Balung Buto:Warisan Budaya Dunia dalam Perspektif Masyarakat Sangiran. Yogyakarta: Kunci Ilmu.

Widianto, Harry dan Simanjuntak, Truman. 2009. Sangiran Menjawab Dunia. Jawa Tengah: Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran.

*MAKALAH PIA 2011