Oleh: Trigangga
Museum Nasional

Manusia pada dasarnya tidak hanya ingin mengetahui beberapa segi dari masa lampau. Sesungguhnya ia ingin mengetahui selengkapnya apa yang telah terjadi di masa yang lampau. Bukan hanya mengenai kehidupan manusia, melainkan juga segala hal yang terjadi di alam ini. Sebabnya ialah segala subjek akan lebih mudah dipahami jika kita mengetahui sejarahnya. Dengan demikian banyak ilmu dalam penyelidikannya juga memperhatikan masa lampau, walau ilmu-ilmu tersebut tidak termasuk ilmu sejarah. Antara ilmu-ilmu tersebut dengan ilmu sejarah, termasuk arkeologi, terdapat kerja sama yang erat (Soemadio 1964: 170).

Ilmu-ilmu bantu arkeologi dapat dibagi ke dalam dua golongan, eksakta dan non-eksakta. Yang termasuk dalam ilmu-ilmu eksakta, antara lain geologi, kimia, biologi, arsitektur, dan astronomi. Sedangkan yang termasuk ilmu-ilmu non-eksakta, contohnya filologi, antropologi, numismatik, paleografi, dan ikonografi. Satu hal yang pertama akan dilakukan dalam penyelidikan arkeologi adalah berupaya menyusun suatu kronologi sebagai latar belakang penempatan kembali kejadian-kejadian di masa lampau melalui artefak atau benda cagar budaya (movable) dan bangunan cagar budaya (immovable), juga situs/struktur cagar budaya.

Salah satu ilmu bantu arkeologi yang paling banyak dibutuhkan dalam penyusun-an kronologi adalah astronomi, karena dari pengetahuan astronomi ini tercipta berbagai sistem kalender. Dari beberapa benda langit yang diamati ternyata Matahari dan Bulan adalah dua benda langit yang paling banyak dijadikan acuan menciptakan kalender. Oleh karena itu ada kalender yang berdasarkan peredaran Matahari (dari sudut pandang geosentris), dikenal dengan sebutan kalender solar (samsiyah), dan berdasarkan peredaran Bulan, dikenal dengan sebutan kalender lunar (qomariyah).

Berbagai (suku) bangsa di dunia seperti Aztec, Maya, Indian, Babilonia, Mesir Kuno, Romawi, Yahudi, India, China, Arab, dan Jawa telah menciptakan kalender berdasarkan sistem peredaran Matahari, Bulan, atau gabungan keduanya (lunisolar). Mereka menentukan tarikhnya sendiri berdasarkan peristiwa sejarah yang mereka yakini. Oleh karena itu ada kalender-kalender Matahari, Bulan atau gabungan keduanya, dengan tarikh berdasarkan penciptaan dunia (Anno Mundi), kelahiran Jesus Kristus (Anno Domini), berdasarkan hijrahnya Nabi Muhammad dari Mekah ke Madinah (Anno Hijrae), dan sebagainya.

Astronomi adalah satu-satunya ilmu bantu arkeologi yang masih dapat menjembatani peradaban kuno dan peradaban moderen. Walau sudut pandang berbeda (Geosentris versus Heliosentris), termasuk metodenya, namun hitungan secara eksak tetap sama. Ternyata, sudut pandang geosentris (astronomi kuno) tetap tidak dapat ditinggalkan karena posisi manusia sendiri yang berada di Bumi sebagai pengamat alam semesta. Sintesis antara astronomi dan arkeologi menghasilkan kajian baru, archeoastronomy, yaitu kajian bagaimana orang-orang di masa lalu telah memahami fenomena di langit, bagaimana mereka mengaplikasikan fenomena di langit, dan apa peranan yang langit mainkan dalam kebudayaan mereka.

Benda-benda arkeologis yang dapat ditentukan secara kronologis umumnya adalah artefak-artefak bertulisan, kebanyakan dokumen berupa prasasti (batu, logam) dan naskah (lontar, kertas) dengan tanggal atau tanpa tanggal. Jika dokumen tersebut memuat unsur-unsur penanggalan, dapat diketahui sistem kalender apa dan tarikh apa yang digunakan, dan dengan pendekatan ilmu astronomi (moderen) dapat ditelusuri padanan dari istilah-istilah yang tertulis dalam dokumen-dokumen kuno tersebut. Jika dokumen tersebut tak bertanggal, ilmu bantu lain seperti paleografi dapat menentukan kronologi secara relatif.

Sampai dengan akhir tahun 1970-an, ilmu astronomi masih tergolong “eksklusif” karena belum banyak orang yang tahu dan memanfaatkan ilmu ini. Kalau pun tahu, hanya sebatas pengetahuan mengenai gerak peredaran planet-planet dalam lingkup Tata Surya, atau secara khusus gerak peredaran Matahari dan Bulan dalam hubungannya dengan penggunaan kalender. Tetapi gerakan benda-benda angkasa secara detail, terutama Matahari, Bumi, dan Bulan, belum banyak diketahui orang. Apalagi membaca posisi (titik-titik koordinat) benda angkasa pada peta langit. Louis Charles Damais adalah salah seorang arkeolog (epigraf) yang mengkhususkan penelitiannya pada dokumen-dokumen tertulis seperti prasasti dan naskah. Ia telah berhasil mengungkap sebagian dari unsur-unsur penanggalan dengan berbagai variasinya dan mengonversikannya ke dalam tarikh yang digunakan masa sekarang. Dokumen-dokumen kuno yang diteliti Damais menggunakan sistem kalender lunisolar dan tarikh saka; dalam sebuah dokumen minimal mengandung satu unsur penanggalan dan maksimal 15 unsur penanggalan. Damais hanya mengupas unsur-unsur penanggalan yang paling umum terdapat di dalam prasasti dan naskah seperti warsa, māşa, tithi, pakşa, wāra, wuku, sedangkan unsur-unsur lain seperti karaņa, nakşatra, dewata, yoga, grahācara, maņdala, parweśa, muhūrtta, raśi belum pernah dibahas secara tuntas.

Sejalan dengan perkembangan teknologi komputer dan bahasa-bahasa pemrograman untuk membuat aplikasi khusus, ilmu astronomi mulai dikenal orang. Walau belum user friendly karena terbentur istilah-istilah yang belum akrab bagi orang awam, tetapi aplikasi-aplikasi astronomi berupa kalender Masehi yang menampilkan data ratusan tahun ke belakang dan ke depan sudah dapat dioperasikan orang awam. Begitu juga dengan aplikasi astronomi yang lebih banyak tampil secara visual, seperti program planetarium. Pada program ini user dapat menjelajah alam semesta secara virtual. Hingga sekarang, program-program astronomi sudah mencapai taraf “realitas maya” (virtual reality) dan trimatra (3-Dimension) sehingga user seolah-olah berada di dalam wahana ruang angkasa dan menjelajah bintang-bintang terjauh. Kebanyakan software astronomi boleh dimiliki secara gratis, mungkin bagi pemrogram (yang juga astronom) supaya astronomi dapat dikenal secara luas oleh masyarakat, dan tidak “eksklusif” lagi.

Dampak pengenalan astronomi melalui perangkat lunak (software) akhirnya menyingkap sedikit demi sedikit pengetahuan astronomi kuno yang selama ini belum terungkap tuntas, terutama unsur-unsur penanggalan tersebut di atas yang “diabaikan” Damais. Secara visual perangkat lunak tersebut memberi ilustrasi kaitan antara unsur penanggalan yang satu dengan yang lain.

Perkembangan teknologi lain yang masih berkaitan dengan astronomi adalah diciptakannya alat GPS (Global Positioning System), suatu alat untuk mengetahui titik-titik koordinat suatu tempat di permukaan Bumi. Peralatan ini sekarang menjadi kebutuhan para arkeolog untuk menentukan lokasi bangunan cagar budaya dan pemetaan situs suatu kawasan. Bagi arkeolog yang menekuni prasasti dapat dijadikan landasan menentukan pertanggalan yang sesuai dengan pengamatan ketika prasasti dikeluarkan.

Di samping menentukan kronologi artefak-artefak bertulisan dan bertanggal/tak bertanggal astronomi mungkin dapat menentukan kronologi bangunan cagar budaya; mengenai ini pernah dicoba pada bangunan candi, dengan memperhitungkan arah hadap candi yang berubah sepanjang waktu sesuai pergerakan benda-benda angkasa (Eadhiey Laksito Hapsoro, 1985) walau hasilnya masih multitafsir.


Reka Ulang Pertanggalan Prasasti Prapañcasarapura

Berikut ini adalah contoh kasus bagaimana ilmu astronomi dapat membantu arkeologi merestorasi atau merekonstruksi pertanggalan yang rusak pada sebuah artefak bertulisan (prasasti) berdasarkan istilah astronomi yang masih tersisa di dalamnya.

Masalah pertanggalan yang tidak lengkap atau rusak pada sebuah prasasti memang perlu ditangani dengan metode yang berbeda. Kali ini akan dipaparkan reka ulang pertanggalan prasasti Prapañcasarapura yang sebagian besar unsur-unsur penanggalannya telah rusak. Prasasti ini berasal dari Surabaya (LS 7° 14’ 24”; BT 112° 44’ 24”) dalam kondisi rusak; bagian atas prasasti hilang, mungkin dipangkas karena patahannya merata. Diperkirakan prasasti ini akan dijadikan potongan balok-balok batu yang lebih kecil. Indikasinya adalah dua pahatan garis melintang dan membujur yang membuat sebagian tulisan menjadi rusak. Oleh karena bagian atas prasasti sudah hilang, maka hilang pulalah sebagian tulisan yang biasanya memuat titimangsa. Sekarang prasasti itu menjadi koleksi Museum Nasional dengan nomor inventaris D.38. Di bawah ini adalah sebagian transkripsi yang telah dibaca sementara oleh JLA Brandes, diterbitkan dalam Oud-Javaansche Oorkonden (1913), prasasti nomor LXXXIV:

[1] .—–ņa, tūlarāśi, irika diwaśa ny ājñā paduka śrī maharaja śrī wişņuwarddhani kŗtana [2] garamahārājadohitra, ……. [4] ……tribhuwano [5] ttunggadewī jayawişņuwarddhanināmarājabhişeka…….

Prasasti tersebut dikeluarkan oleh raja perempuan (ratu) Tribhuwanottunggadewi yang memerintah kerajaan Majapahit dari tahun 1328 hingga 1350 M. Sayangnya, dari unsur-unsur penanggalan yang biasanya tercantum sampai 15 unsur hanya tersisa satu unsur yaitu tūlarāśi. Dapatkah direka ulang untuk mengetahui pertanggalannya yang pasti? Mungkin, dengan bantuan sedikit uraian sejarah yang terkandung di dalamnya diharapkan terungkap kapan prasasti itu dikeluarkan. Secara garis besar isi prasasti memperingati penetapan daerah perdikan (sima) untuk kepentingan sang hyang dharmma (bangunan suci) di Prapañcasarapura. Bagian depan toponimi tersebut mengingatkan kita pada seorang pujangga besar Majapahit, Mpu Prapañca, dengan karyanya yang monumental, Nāgarakŗtāgama atau Deşawarņnana, digubah tahun 1365 M. Namun, kesamaan nama itu hanya kebetulan, dan prasasti tersebut bukan untuk mengenang jasa pujangga besar itu. Bagian yang menarik lainnya adalah disebutkan nama-nama orang penting di dalam prasasti, yaitu Hayam Wuruk, Gajah Mada, dan Adityawarman.

Hayam Wuruk, dalam prasasti ini disebut Ayam Wuruk, telah dinobatkan menjadi raja muda (rājakumāra) dan mempunyai daerah lungguh di Jīwana, gelarnya adalah Śrī Rājasanagara. Dalam Kakawin Nāgarakŗtāgama dikisahkan bahwa Hayam Wuruk lahir tahun Saka 1256 (1334 M), ditandai oleh suara gemuruh Gunung Kampud yang mengakibatkan gempa bumi, halilintar sambar-meyambar di langit, dan hujan abu, menewaskan banyak orang terutama orang jahat dan hina.

Orang penting kedua adalah Gajah Mada yang dalam prasasti ini disebut Pu Gajah Mada, menjabat sebagai Rake Mapatih ring Majhapahit. Kelihatannya, karier Gajah Mada sudah menanjak masuk ke “lingkaran (ring) satu” yang dekat dengan pusat kekuasaan di Majapahit. Sebelumnya, tahun 1330 M (prasasti Palungan, 1252 Saka) Gajah Mada masih menjabat sebagai Rake Mapatih ring Daha berkedudukan di Daha, daerah lungguh Rājadewī Mahārājasa (Bhre Daha), adik Tribhuwanottunggadewī. Karier Gajah Mada menanjak karena ia berhasil menumpas pemberontakan di Sadeng dan Kĕta pada tahun 1331. Sejak saat itulah Gajah Mada ditarik dari daerah (Daha) ke pusat (keraton Majapahit) dan mendapat promosi jabatan sebagai Rake Mapatih ring Majhapahit.

Orang ketiga yang juga penting adalah Adityawarman yang dalam prasasti ini disebut Aryyadewarāja Pu Âditya, menjabat sebagai Wŗddhamantri . Tokoh ini cukup menarik karena mungkin satu-satunya orang non-Jawa yang masuk “ring 1” pusat kekuasaan Majapahit. Dia adalah salah satu keluarga bangsawan Majapahit keturunan Malayu (Suwarnadwipa). Adityawarman mungkin adalah keturunan salah seorang pangeran Majapahit dengan putri Dara Jingga dari tanah Malayu pada masa pemerintahan Raden Wijaya. Oleh karena itulah dalam sebuah prasasti yang dipahatkan pada arca Mañjuśrī di Candi Jago, tahun 1265 Saka (1343 M) ia menyebut dirinya masih berkerabat dengan Śrī Rajapatni Gayatrī, ibunda Tribhuwanottunggadewī. Adityawarman dan Gajah Mada adalah bagaikan “dua ujung tombak” dalam pelaksanaan ekspansi kekuasaan Majapahit. Dalam tahun 1343 M itulah ia bersama Gajah Mada berhasil menaklukkan pulau Bali. Adityawarman sendiri setelah ekspedisi penaklukan pulau Bali tidak terlalu lama tinggal di pusat kekuasaan Majapahit. Ia mudik ke tanah leluhurnya, Suwarnadwipa (Sumatera) untuk menata kembali kerajaan yang diwariskan oleh Mauliwarmadewa (memerintah sekitar tahun 1286 M) untuk menjadi raja daerah di sana. Prasasti Amoghapaśa B, yaitu prasasti yang ditulis di bagian belakang arca Amoghapasa, menyebutkan bahwa pada tahun 1269 Saka (1347 M), Adityawarman sudah menjadi mahārājadhirāja dengan gelarnya Udayādityawarman.

Dari paparan singkat sejarah tersebut di atas diperoleh ancar-ancar tahun penulisan prasasti Prapañcasarapura, yaitu antara tahun 1334 – 1343 M (1256 – 1265 Saka). Sekarang tinggal mencari tahun pengeluarannya yang pasti di antara tahun-tahun tersebut, untuk itulah digunakan metode seperti di bawah ini.


Bulan di Rasi Libra

Di atas telah dijelaskan bahwa dari 15 unsur pertanggalan yang mungkin tercantum dalam prasasti Prapañcasarapura hanya satu yang tersisa, yaitu tūlarāśi, atau rasi Libra. Penggunaan unsur penanggalan rāśi sudah mulai dikenal pada prasasti-prasasti abad ke-11, contohnya pada prasasti Sumengka tahun 981 Saka (1059 M). Ada juga prasasti-prasasti sebelum itu yang mencantumkan unsur penanggalan rasi, tapi ditengarai sebagai prasasti tinulad (salinan) dari masa ratusan tahun kemudian, biasanya salinan dari masa Majapahit. Rasi dalam prasasti-prasasti umumnya merujuk kepada posisi Bulan, bukan Matahari, seperti yang dikenal dalam astrologi barat. Memang, adakalanya Bulan dan Matahari berada dalam satu rasi, yaitu pada saat mendekati konjungsi (bulan baru). Di samping itu, rasi juga berkaitan dengan unsur penanggalan lain, yaitu nakşatra, perjalanan harian Bulan di sepanjang sabuk ekliptika selama satu putaran penuh (360º). Selama satu putaran penuh, Bulan membutuhkan waktu 27,32166 hari (periode siderik atau sidereal month). Periode siderik ini dibagi menjadi 27 naksatra, menempati busur sebesar 13º 20’ atau 1 hari lebih. Setiap hari Bulan singgah di “rumahnya” yang ditandai bintang tetap (fixed star) pada rasi tertentu.

Dewasa ini, astronomi moderen membedakan pengertian konstelasi (constellation) dan rasi (sign/zodiac). Jutaan bintang yang tampak oleh mata di kubah langit saat ini telah dikelompokkan menjadi 88 konstelasi. Setiap konstelasi memiliki area yang tidak sama, ada yang besar ada juga yang kecil. Dari sejumlah itu hanya 13 konstelasi yang dilalui ekliptika (garis edar Matahari). Waktu yang ditempuh Matahari melewati ketigabelas konstelasi itu tidak sama, ada yang singkat ada pula yang lama. Waktu tersingkat bagi Matahari adalah ketika melewati konstelasi Scorpio (sekitar 8,4 hari), dan paling lama adalah ketika menyeberangi konstelasi Virgo (sekitar 44,5 hari).


Pengertian sign/zodiac merujuk kepada 12 rasi yang dikenal dalam astronomi/ astrologi kuno yang masih digunakan dalam ramalan-ramalan bintang. Astronomi/ astrologi Jawa Kuno yang mengadopsi pengetahuan astronomi India juga hanya mengenal 12 rasi, jadi rasi Ophiuchus tidak dikenal dalam astronomi Jawa Kuno. Konstelasi Ophiuchus dulu bagian dari rasi Scorpio atau Sagittarius. Astronomi Jawa Kuno membagi ekliptika menjadi 12 bidang yang sama besar, yaitu sebesar 30º atau RA 02h 00m 00s. Jadi, Matahari melewati 12 rasi dalam rentang waktu yang sama yaitu 30,4375 hari, inilah yang kemudian disebut sebagai bulan solar (samkrānti).


Dulu, sekitar abad ke-4 sM, Aries menjadi rasi pertama dari ke-12 rasi, dan bintang 13 Alpha Arietis (Hamal) ditetapkan sebagai titik awal musim semi (vernal equinox), persisnya jatuh pada tanggal 26 Maret 390 sM, pukul 18:00 WIB. Disebabkan gerak presesi (precession) Bumi yang membutuhkan waktu sekitar 25.760 tahun dalam sekali putaran penuh, akibat yang dirasakan adalah perubahan posisi kutub-kutub langit terhadap bintang-bintang, serta perubahan yang lambat garis-garis koordinat ekuatorial terhadap benda langit yang “tetap” seperti bintang atau galaksi. Dengan demikian, titik awal musim semi yang dulunya dimulai di rasi Aries, sejak 2000 tahun yang lalu sudah bergeser ke rasi Pisces. Dewasa ini, titik awal musim semi sejajar dengan bintang 28 omega Pisces dan sudah mendekati batas areal rasi Aquarius. Kembali kepada bahasan semula, bahwa tūlarāśi yang tertulis dalam prasasti Prapañcasarapura merujuk kepada posisi Bulan di rasi Libra. Tahun dan bulan manakah yang dimaksud?


Metode

Untuk menyingkap semua atau beberapa unsur penanggalan prasasti Prapañcasarapura, hal pertama yang perlu dihitung adalah periode siderik Bulan (sidereal month), karena ini berkaitan dengan nakşatra, perjalanan Bulan yang singgah setiap hari di “rumahnya” berdasarkan bintang tetap (fixed star) di setiap rasi. Kedua, menghitung hari/bulan lunar (synodic month) untuk menetapkan tanggal dan bulan, kemudian dilihat “titik temu” antara keduanya; selisih waktu makin kecil adalah makin baik. Hitungan dimulai dari tahun 1334 M (awal tahun Saka 1256) sampai tahun 1343 (akhir tahun Saka 1265). Walau demikian, penulis tetap menghitung sampai tahun 1350 M (akhir pemerintahan Tribhuwana). Hasilnya adalah seperti berikut :

1 Kŗşņapaksa, Waisakha (hari lunar/Synodic Month)
Julian day number : 2209502.7625
Tanggal : 16 April 1337
Waktu : 13:48:01
Right Ascension : 14h 20m 39.29s
Declination : -17° 59′ 57.0″
Azimuth : 136° 46′ 20″
Altitude : -55° 12′ 12″
Illuminated fraction : 0.997
Moonrise : 18:08:22
Moonset : 6:02:12

Sidereal Month (Tūla Rāśi)
Julian day number : 2209502.7580
Tanggal : 16 April 1337
Waktu : 13:41:28
Right Ascension : 14h 20m 19.25s
Declination : -17° 58′ 25.1″
Azimuth : 138° 36′ 55″
Altitude : -56° 15′ 44″
Sign/Rasi : Libra
Fixed star : 9 Alpha2 Librae (Zuben el-Genubi)

Di atas dapat dilihat Julian day number antara synodic month dan sidereal month selisihnya amat tipis, yaitu 0,0045 hari atau 6 menit 33 detik. Dengan demikian, prasasti Prapañcasarapura dikeluarkan pada tanggal 16 April 1337. Jika dikonversi dalam tarikh Saka menjadi: Śaka 1259. waiśākha māşa. pratipāda kŗşņapakşa, ha wa bu wâra. manahil. wiśakha nakşatra. cakra dewatā. parigha yoga. bāyabyasthā grahacāra, āgneya maņdala, walawa karaņa, tūla rāśi.

Ilustrasi ketika prasasti Prapañcasarapura dikeluarkan; Bulan dan planet-planet lain berada di rasi Libra (Tula) di atas langit Surabaya, 16 April 1337.