Oleh: Atina Winaya
Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional


Abstrak

Museum Taman Prasasti merupakan salah satu museum di Jakarta yang memiliki keunikan tersendiri. Berbeda dengan museum lain yang pada umumnya memamerkan koleksinya di dalam suatu bangunan, Museum Taman Prasasti memamerkan koleksinya di ruang terbuka. Keunikan lainnya adalah kawasan museum yang pada awalnya merupakan kompleks pemakaman masyarakat Belanda pada masa kolonial. Pemakaman yang berasal dari akhir abad ke-18 tersebut merupakan warisan budaya yang sangat berharga, salah satunya sebagai tempat yang memberikan kesaksian tentang komposisi penduduk Batavia yang berasal dari seluruh dunia pada masa itu. Melalui pendekatan open air museum, Museum Taman Prasasti dapat “disulap” menjadi tempat rekreasi dan edukasi yang menarik minat masyarakat. Museum, yang merupakan suatu situs pemakaman, tidak lagi terkesan sepi dan menyeramkan, melainkan rindang, teduh, dan menyenangkan. Pendekatan open air museum berupaya menjadikan kawasan museum sebagai sarana rekreasi di alam terbuka melalui penataan lansekap dan penyajian pameran yang menarik, serta program-program interaktif yang menghibur masyarakat. Selain itu, yang tidak kalah penting adalah museum dapat berperan sebagai area terbuka yang berfungsi sebagai paru-paru kota.

Kata kunci: situs pemakaman, open air museum

The Development of Colonial Funeral Site as an Open Air Museum:
Research on Taman Prasasti Museum

Written by:
Atina Winaya

Abstract

Taman Prasasti museum is one of the museums in Jakarta, which has its own uniqueness. In the colonial period, this museum was used as a cemetery of the Dutch people. Thus, the museum collections, such as gravestone and statue, exhibited in the open area. Taman Prasasti museum, which is built from the late 18th century, is a precious cultural heritage. This funeral site is a witness of the composition of Batavia residents who come from all over the world at that time. Using the open air museum approach, Taman Prasasti museum can be “transformed” into a recreational-educational place that attracts people. As a funeral site, “dead and creepy” image changed into a calm and pleasant place. The approach of open air museum intends to create the museum as an interesting recreation area in the open space through the landscape arrangement, exhibition, and interactive program. Besides, the more important thing is museum roles as lungs of the city.

Keyword: funeral site, open air museum


Pendahuluan

Museum Taman Prasasti merupakan salah satu museum di Jakarta yang memiliki keunikan tersendiri. Berbeda dengan museum lain yang pada umumnya memamerkan koleksinya di dalam suatu bangunan (indoor museum), Museum Taman Prasasti memamerkan koleksinya di ruang terbuka (outdoor museum). Keunikan lainnya adalah kawasan museum pada awalnya merupakan kompleks pemakaman masyarakat Belanda pada masa kolonial.

Kompleks pemakaman yang menjadi cikal bakal Museum Taman Prasasti didirikan pada tahun 1795. Menurut Adolf Heuken, kompleks pemakaman tersebut merupakan taman pemakaman umum modern tertua yang masih tersisa di Jakarta, bahkan merupakan salah satu yang tertua di dunia. Pemakaman tersebut lebih tua dari Fort Canning Park (1926) di Singapura, Gore Hill Cemetery (1868) di Sydney, La Chaise Cemetery (1803) di Paris, Mount Auburn Cemetery (1831) di Cambridge, Massachusetts (yang diklaim sebagai taman makam modern pertama di dunia), dan Arlington National Cemetery (1864) di Washington D.C. (ikon visual lansekap sejarah Amerika Serikat) (Joga dkk., 2005:11-12).

Pada awalnya pemakaman digunakan khusus untuk orang asing, terutama yang beragama Kristen. Pemakaman yang dikenal dengan nama Kebon Jahe Kober tersebut berkembang hingga seluas 5,9 hektar (Heuken, 1997:243-244). Kemudian pada tahun 1975, pemakaman ditutup dengan alasan kawasan makam telah penuh. Pada tanggal 9 Juli 1977, kawasan pemakaman dijadikan sebagai Museum Taman Prasasti dan diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin. Akibat pembangunan gedung-gedung pemerintahan di sekitarnya, saat ini kawasan museum hanya memiliki luas 1,2 hektar (DMS DKI Jakarta, 1994:10) .

Melalui penjelasan tersebut, dapat diketahui bahwa Museum Taman Prasasti pada awalnya bukanlah kawasan yang diciptakan khusus sebagai suatu museum, melainkan suatu pemakaman di wilayah tengah Kota Jakarta. Namun, karena kawasan pemakaman tersebut dianggap memiliki nilai historis dan arkeologis, maka dijadikan suatu museum sebagai usaha untuk melestarikannya. Peninggalan arkeologis berupa kawasan pemakaman jarang mendapat perhatian yang lebih, padahal keberadaan pemakaman dapat memberikan informasi serta gambaran mengenai keadaan manusia di masa lampau melalui cara yang unik dan menarik.


Pendekatan Open Air Museum

Isu mengenai pengembangan museum di ruang terbuka sudah menjadi perhatian beberapa negara. Open air museum yang pertama didirikan di Stockholm pada tahun 1891, yaitu Skansen Museum. Skansen Museum memiliki area seluas 50 hektar yang memamerkan berbagai jenis koleksi seperti bangunan tradisional, ladang dan perkebunan, kandang ternak, gudang, gereja, dan rumah bangsawan. Bangunan-bangunan tersebut merupakan bangunan yang insitu. Selain menyajikan koleksi berupa lansekap dan bangunan, Skansen Museum juga menyajikan berbagai aktivitas yang berlangsung pada kehidupan masyarakat Skandinavia kuno. Misalnya, terdapat seorang pandai besi yang sedang bekerja di bengkel pandai besi, kemudian terdapat pula pemuda-pemudi yang mengenakan busana nasional sedang bercengkerama di kedai. Gereja masih difungsikan dan mengadakan pelayanan kepada jemaat. Seringkali acara pernikahan masih diselenggarakan di gereja tersebut, dan semua undangan yang hadir mengenakan busana nasional yang beragam. Pihak museum juga mengadakan festival musik dan tari tradisional yang diadakan di plaza museum. Kebudayaan lampau berikut artefaknya menjadi ”hidup” kembali. Skansen Museum menekankan bahwa semua sajian yang ada di museum merupakan aktivitas yang sebenarnya dan pernah terjadi di masa lalu, bukan rekayasa (Huth, 1940).

Setelah berdirinya Skansen Museum di Stockholm, open air museum lainnya mulai didirikan di berbagai negara di seluruh dunia dengan berbagai bentuk dan ukuran. Pada awalnya, museum tipe ini hanya terdapat di Eropa Utara, kemudian berkembang ke Eropa Barat dan Eropa Tengah. Dewasa ini, konsep open air museum diminati oleh berbagai negara di seluruh dunia, sehingga kemudian berkembang di benua Amerika, Asia, Australia, dan juga Afrika (Rentzhog, 2007:ix).

Open air museum menekankan pentingnya suatu objek ditempatkan pada konteks sejarah kebudayaan yang bersangkutan. Tujuannya adalah untuk merekonstruksi peninggalan bersejarah tersebut, baik berupa bangunan atau lansekap di ruang pameran (Laenen, tt:126). Dengan demikian, otentisitas situs, fitur, dan artefak menjadi sangat penting.

Pelestarian merupakan motivasi utama bagi pengembangan hampir setiap open air museum. Pelestarian tersebut harus dilaksanakan sesuai dengan kaidah-kaidah yang ada. Jika suatu bangunan kuno ingin dipreservasi, maka bangunan tersebut harus ditangani secara baik dan benar, yaitu dengan tetap membiarkan bentuk bangunan sesuai dengan aslinya. Apabila bangunan tersebut tidak menampilkan bentuk asli dan sesuai, maka pelestarian yang dilakukan tidaklah tepat (Chappell, 1999:336).

Selain fungsi pelestarian, open air museum juga ditujukan untuk menciptakan suatu gambaran mengenai kehidupan masyarakat masa lalu dengan cara merekonstruksi kembali lingkungan dan kehidupan mereka. Museum jenis ini ”menghidupkan” kembali kehidupan masyarakat lampau yang telah punah. Dengan demikian, pengunjung dapat merasakan dan memahami kehidupan masyarakat pada saat itu (Laenen, tt:129-132).

Open air museum biasanya dikenali sebagai museum of buildings, living farm museum, living history museum, dan folk museum. Pada umumnya open air museum mengkhususkan koleksinya pada kawasan dan bangunan-bangunan yang memiliki nilai historis dan estetis. Museum berupaya mendirikan kembali bangunan-bangunan tua di dalam kawasan situs terbuka yang luas untuk kemudian dirancang dan diatur kembali sesuai dengan keadaan pada masa lalu.


Pengembangan Situs Pemakaman Kolonial

Situs pemakaman, khususnya yang berasal dari masa kolonial, kerapkali dianggap sebagai tempat yang sepi dan menyeramkan. Padahal, secara tidak disadari, tempat tersebut menyimpan berbagai macam informasi menarik mengenai komposisi penduduk suatu kota di masa lampau. Situs pemakaman merupakan data arkeologi yang tidak kalah penting apabila dibandingkan dengan situs pemukiman, situs keagamaan, atau jenis situs lainnya. Situs pemakaman harus dikemas secara menarik agar dapat berfungsi sebagai sarana rekreasi dan edukasi masyarakat di ruang terbuka.

Sebagai model acuan, akan dipaparkan secara singkat bentuk pengembangan situs pemakaman ”Weaste Cemetery” di Salford, Inggris.

Weaste Cemetery
Weaste Cemetery merupakan pemakaman pertama di kota Salford, Inggris. Sebelum pemakaman didirikan pada tahun 1857, warga kota dimakamkan di halaman gereja. Namun, halaman gereja sudah tidak mampu menampung makam lebih banyak lagi, sehingga Weaste Cemetery pun dibangun sebagai pemakaman kota (www.weasteheritagetrail.co.uk).

Pada periode Victoria , pemakaman juga difungsikan sebagai taman kota yang dirancang mirip satu sama lain. Tidak terkecuali Weaste Cemetery. Weaste Cemetery mempunyai empat kapel dan satu rumah kaca yang dirancang dengan sangat indah. Selain berfungsi sebagai pemakaman, Weaste Cemetery juga menawarkan tempat dan pemandangan yang indah dimana pengunjung dapat melepaskan penat dari keramaian kota (www.weasteheritagetrail.co.uk).

Sejak tahun 1857 hingga sekarang, kawasan Weaste Cemetery telah diisi sekitar 330.000 makam. Di antara orang-orang yang dimakamkan, terdapat beberapa tokoh yang dikenal masyarakat, seperti Joseph Brotherton (politikus sekaligus anggota parlemen pertama Salford), Sir Charles Hallé (pendiri Hallé Orchestra), Mark Addy (pahlawan kota yang menyelamatkan 50 orang yang tenggelam di Sungai Irwell), dan para veteran perang (www.weasteheritagetrail.co.uk).

Saat ini, Weaste Cemetery dirancang layaknya sebuah oase hijau yang tenang di tengah perkotaan. Berbagai jenis tumbuhan, baik berupa pepohonan maupun bunga-bunga liar, ditanam di area seluas 39 hektar. Sebagian besar tumbuhan tersebut telah ada semenjak pemakaman pertama kali didirikan, seperti bunga aster, dandelion, lady’s smock, bluebell, self-heal, dan thyme-leaved speedwell. Tempat tersebut sekaligus menjadi habitat yang nyaman bagi berbagai jenis satwa, seperti burung dan serangga (www.weasteheritagetrail.co.uk).

Weaste Cemetery telah melakukan inventarisasi terhadap seluruh makam yang dimilikinya. Selain itu, sedapat mungkin, dikumpulkan kisah hidup “para penghuni makam”, karena setiap orang memiliki kisah menarik untuk diceritakan. Melalui website resminya, Weaste Cemetery menampilkan data base biografi orang-orang yang dimakamkan, baik yang terkenal maupun tidak. Salah satu contoh yang menarik adalah biografi mengenai James Payne (1823-1907), seorang teknisi lampu di Kota Salford (www.weasteheritagetrail.co.uk).

Weaste Cemetery merupakan model yang cukup ideal bagi pengembangan situs pemakaman. Penataan lansekap yang indah disertai tetumbuhan yang menghiasinya menjadikan situs pemakaman tersebut diminati pengunjung yang mencari suasana alam, udara segar, serta ketenangan di tengah keramaian kota. Namun, hal utama yang harus dimiliki pengelola situs pemakaman adalah kelengkapan data orang-orang yang dimakamkan di tempat tersebut. Weaste Cemetery berhasil mengumpulkan data-data itu dan memasukkannya ke dalam data base yang dapat diakses oleh masyarakat. Dengan demikian, masyarakat dapat mengetahui siapa saja orang-orang yang telah menghuni Kota Salford terlebih dahulu. Kisah kehidupan mereka merupakan bagian dari sejarah yang mewarnai Kota Salford.

Pengetahuan akan sejarah kota menjadikan masyarakat lokal paham akan perkembangan kota yang mereka huni dari masa ke masa. Situs pemakaman dapat memberikan pengetahuan tersebut melalui cara yang unik. Melalui model pengembangan yang tepat, situs pemakaman dapat ”disulap” menjadi tempat rekreasi dan edukasi yang menarik minat masyarakat, serta area terbuka yang berfungsi sebagai paru-paru kota.

Situs Pemakaman sebagai Open Air Museum:
Uji Coba pada Museum Taman Prasasti

Pada awalnya, kawasan Museum Taman Prasasti digunakan sebagai pemakaman khusus orang asing di Batavia. Pemakaman yang diberi nama Kerkhof Laan atau Kebon Jahe Kober (kober = kuburan) tersebut didirikan pada tahun 1795 (Heuken, 1997:244). Pemakaman Kebon Jahe secara resmi mulai berfungsi setelah dibongkarnya kawasan pemakaman yang berada di Gereja Belanda Baru (Nieuwe Hollandsche Kerk) yang saat ini telah menjadi Museum Wayang yang terletak di Jalan Pintu Besar Utara nomor 27. Ketika itu, Pemerintah Batavia berupaya mencari lahan yang lebih luas untuk menampung orang meninggal yang jumlahnya semakin meningkat. Kondisi Kota Batavia yang semakin padat menyebabkan atmosfer yang tidak sehat, sehingga banyak warga kota yang terserang wabah penyakit malaria, diare, dan penyakit lainnya, yang menyebabkan kematian. Sebagai lahan pengganti, dicari lokasi baru di luar kota ke arah selatan, yakni di Kebon Jahe yang termasuk daerah Tanah Abang (DMS DKI Jakarta, 1994:8).

Pemakaman Kebon Jahe berkembang menjadi suatu pemakaman yang prestisius karena banyaknya orang terkenal yang dimakamkan di sana, baik pejabat penting, pelaku sejarah, hingga selebritis pada masanya. Beberapa di antaranya adalah Olivia Mariamne Raffles (istri Gubernur Jenderal Inggris, Sir Thomas Stamford Raffles), MGR. Adami Caroli Claessens pastor Katolik terkemuka), keluarga van Rimsdijk (keluarga gubernur Hindia Belanda), Jonathan Michiels (saudagar di Batavia yang merupakan mardjiker terakhir), Dr. H.F. Roll (pendiri Stovia), W. F. Stutterheim dan Dr. J.L.A. Brandes (ahli sejarah purbakala Indonesia), Miss Riboet (pemain sandiwara terkenal), serta Soe Hok Gie (aktivis mahasiswa).

Kisah di balik tokoh, baik yang terkenal maupun tidak, dikumpulkan dan diulas sehingga masyarakat dapat mengetahui siapa saja orang-orang yang telah menghuni Kota Jakarta terlebih dahulu.

Dalam makalah seminar yang disampaikannya, Adolf Heuken (2005) mengemukakan bahwa Museum Taman Prasasti sebagai peninggalan makam dari akhir abad ke-18 merupakan warisan budaya dari masa lampau yang sangat berharga, salah satunya sebagai tempat yang memberikan kesaksian tentang komposisi penduduk Batavia yang berasal dari seluruh dunia pada masa itu. Keragaman bahasa yang tertera pada nisan-nisan dapat memberikan pengetahuan mengenai perkembangan bahasa dan sastra pada masa kolonial. Informasi lainnya adalah tentang pendeknya umur orang Batavia dan banyaknya kematian anak-anak. Selain itu, terdapat beberapa gaya arsitektur yang khas, antara lain adalah klasisisme, neo-gotik, dan Jawa. Hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah gambaran mengenai gaya pengungkapan (bentuk ekspresi) kepercayaan atau ketidakpercayaan akan kehidupan sesudah kematian, rindu atau perasaan orang yang ditinggalkan yang dapat diketahui melalui gaya patung, puisi, atau prosa yang dituliskan pada nisan.

Museum Taman Prasasti dikategorikan ke dalam jenis open air museum. Museum jenis ini jumlahnya masih sangat terbatas di Indonesia. Walaupun dewasa ini terdapat beberapa museum yang berada di ruang terbuka, namun yang benar-benar menerapkan prinsip open air museum sangat jarang ditemui. Open air museum sebaiknya berlokasi di suatu situs arkeologi, mengutamakan keotentikan situs beserta isinya, dan berupaya merekonstruksi cara hidup di masa lampau melalui pameran dan program lainnya.

Museum Taman Prasasti memiliki kemampuan untuk memenuhi kriteria tersebut. Museum sudah berlokasi di suatu situs arkeologi yang berasal dari periode kolonial. Hanya saja, museum masih perlu berupaya mengedepankan nilai keotentikan situs melalui penataan pameran yang sesuai, dengan menerapkan pendekatan kontekstual. Penataan lansekap sedapat mungkin disesuaikan dengan bentuk kondisi Kebon Jahe Kober di masa lampau. Melalui foto, gambar, dan dokumen lainnya, dapat diketahui bentuk penataan lansekap dan jenis-jenis vegetasi yang ditanam. Mengenai hal ini, diperlukan penelitian yang mendalam mengenai bentuk pemakaman Belanda pada masa kolonial dan jenis tumbuh-tumbuhan yang ditanam. Tujuannya adalah agar pengunjung dapat merasakan secara langsung bentuk pemakaman kolonial di masa lampau sehingga memudahkan proses penerimaan informasi.

Selain itu, museum juga harus mengadakan program-program edukatif-rekreatif yang berkaitan dengan koleksi museum guna merekonstruksi cara-cara hidup masyarakat Batavia pada abad ke-18 hingga 20, terutama yang berkaitan dengan pemakaman dan kematian. Misalnya saja, pada tahun 2004, Museum Taman Prasasti pernah mengadakan kegiatan “Prosesi Pemakaman Batavia 1820: Sebuah Rekonstruksi Sejarah” yang bertujuan untuk memberikan gambaran umum kepada masyarakat saat ini mengenai kehidupan masyarakat Batavia pada masa kolonial, khususnya yang terkait dengan prosesi pemakaman. Selain itu di tahun yang sama, diselenggarakan “Pertunjukan Sound and Light”. Pertunjukan tersebut menonjolkan keindahan batu-batu nisan dan prasasti yang ada dengan menggunakan sinar lampu yang kontras. Kemudian terdapat narasi yang menceritakan keadaan di Batavia pada abad ke-18, yang ketika itu merupakan daerah yang tidak sehat akibat merebaknya berbagai macam penyakit (Museum Sejarah Jakarta, 2004). Sayangnya kegiatan-kegiatan tersebut tidak diadakan secara rutin. Padahal, sebagai open air museum, upaya rekonstruksi kehidupan masa lampau merupakan agenda utama. Oleh karena itu, Museum Taman Prasasti harus lebih mengembangkan program-program interaktif yang dilaksanakan secara rutin, baik itu harian, mingguan, bulanan, maupun tahunan.


Penutup

Museum Taman Prasasti adalah salah satu museum di Jakarta yang mempunyai daya tarik dan keunikan tersendiri. Daya tarik tersebut berupa lokasi museum yang berada di ruang terbuka (outdoor), sehingga pengunjung dapat menikmati koleksi sekaligus keindahan alam yang saat ini sudah jarang ditemui di Jakarta. Sedangkan keunikan museum adalah kawasan museum yang pada awalnya merupakan kompleks pemakaman masyarakat Belanda pada masa kolonial. Sebagai open air museum, sudah seharusnya Museum Taman Prasasti dapat memberikan gambaran umum mengenai suasana Kota Batavia pada abad ke-18 hingga abad ke-20. Melalui keberadaan kompleks pemakaman tersebut, dapat diketahui bentuk pemukiman di wilayah Jakarta tempo dulu secara umum, dan gambaran pemakaman itu sendiri secara khusus.

Museum Taman Prasasti merupakan warisan budaya dari masa lampau yang dapat memberikan berbagai pengetahuan dan wawasan kepada masyarakat saat ini mengenai dinamika kehidupan sosial di Batavia pada abad ke-18 hingga abad ke-20. Setiap informasi yang tersimpan di balik objek harus dapat disampaikan dalam kemasan yang menarik agar dapat dipahami dengan mudah oleh pengunjung. Bentuk penyajian tersebut, baik penyajian koleksi ataupun penyajian gagasan di balik koleksi (nilai) menjadi hal yang sangat penting untuk diperhatikan.

Bentuk penyajian museum tidak lagi bersifat tradisional yang terfokus pada penanganan objek semata (object oriented), melainkan bersifat melayani masyarakat (public oriented) sebagaimana yang terdapat di dalam prinsip new museology. Pendekatan open air museum merupakan salah satu cara yang dapat diterapkan dalam mengembangkan Museum Taman Prasasti. Melalui pendekatan tersebut, museum dapat mengoptimalkan potensi yang dimilikinya melalui penataan lansekap, penyajian koleksi, serta berbagai program interaktif.

Sebagai museum yang berada di wilayah Jakarta, Museum Taman Prasasti berperan dalam meningkatkan kepedulian masyarakat mengenai identitas dan sejarah perkembangan kota Jakarta. Diharapkan masyarakat Jakarta dapat mengetahui dan memahami bentuk perkembangan Kota Jakarta dari masa ke masa melalui informasi di balik koleksi museum. Museum berperan sebagai wahana edukasi dan rekreasi bagi masyarakat, serta penyedia ruang terbuka yang berfungsi sebagai paru-paru kota.


Daftar Pustaka

Chappell, Edward A. 1999. Open-Air Museums: Architectural History for the Masses”, The Journal of the Society of Architectural Historians 58(3): 334-341.

Dinas Museum dan Sejarah Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta. 1994. Petunjuk Museum Taman Prasasti.

Dinas Pertamanan DKI Jakarta. TT. Site Plan Museum Taman Prasasti. (denah).

Heuken, Adolf. 2005. Makna Taman Prasasti sebagai Tempat Bersejarah Kota Jakarta. Makalah yang disampaikan pada Seminar Pengembangan Museum Taman Prasasti yang diselenggarakan oleh Museum Sejarah Jakarta, Jakarta 13-14 Juli 2005.

Heuken, Adolf. 1997. Tempat-tempat Bersejarah di Jakarta. Jakarta: Yayasan Cipta Loka Caraka.

Heuken, Adolf. 2007. Historical Sites of Jakarta. Ed. Ke-7. Jakarta: Yayasan Cipta Loka Caraka.
Huth, Hans. “Open-Air Museums and Folk Art Centers”, The Regional Review IV(6).

Joga, Nirwono dkk. 2005. Museum Taman Prasasti: Metamorfosis Makam Menjadi Museum. Jakarta: Universitas Trisakti, Jurusan Arsitektur Lansekap, Fakultas Arsitektur Lansekap dan Teknologi Lingkungan.

Laenen, M. tt. A New Look at Open Air Museum. 125-140.
Museum Sejarah Jakarta. 2004. Laporan Kegiatan Prosesi Pemakaman Batavia 1820: Sebuah Rekonstruksi Sejarah.

Museum Sejarah Jakarta. 2004. Laporan Kegiatan Pertunjukan Sound and Light di Museum Taman Prasasti.

Rentzhog, Sten. 2007. Open Air Museums: The History and Future of a Visionary Idea. Kristianstad: Kristianstads Boktryckeri.

http://www.weasteheritagetrail.co.uk


Makalah pada PIA 2011