Tim Konsevasi BP3 Jatim
(Ahmad Hariyono, Abdul Bagus, Asto, Soekarjo, Suwanta, Bambang Susilo, S.P., Ira Fatmawati, S.Si., Ni Ketut Wardani, S.S., M.A.)


Abstraksi

Situs Kedung Watu atau lebih dikenal dengan Gua Made merupakan lokasi peninggalan purbakala yang masih menyimpan misteri. Lokasi ini pada tahun 1982 ditemukan secara tidak sengaja oleh para penambang emas liar. Mereka menemukan gua bawah tanah, pecahan-pecahan gerabah dan keramik serta cangkang kerang. Penemuan ini mengundang perhatian seorang pemerhati seni yang berasal dari Italia untuk mengunjungi lokasi Gua Made pada tahun 1998. Semenjak itu, lebih banyak temuan lepas yang dapat dijumpai. Salah satunya adalah topeng.

Penemuan topeng ini membawa babak baru mengenai Gua Made. Hal ini disebabkan belum pernah ada topeng dan kerak besi yang ditemukan di gua bawah tanah. Beberapa ahli melakukan analisis terhadap topeng untuk membuka tabir Gua Made. Ada yang menyimpulkan topeng terbuat dari bahan cermet, ada juga yang menduga berbahan terakota. Sementara itu, di daerah Trowulan banyak bermunculan pengrajin patung dan cor logam. Mereka membuat barang-barang kerajinan dari bahan batu, terakota, dan logam dari berbagai bentuk, yaitu sesuai pesanan atau meniru benda cagar budaya. Peniruan ini diharapkan dapat membuat benda-benda seni seperti benda cagar budaya.

Oleh karena itu dibutuhkan suatu pendekatan untuk menjembatani hasil analisis ilmiah yang sudah ada dengan keterampilan pengrajin benda seni. Pendekatan dilakukan dengan cara pemahaman pembuatan dan perilaku pengrajin benda seni dan uji fisik di laboratorium BP3 Jatim. Berdasarkan pendekatan yang telah dilakukan didapatkan hasil sebagai berikut:

  1. Bahan dan teknologi topeng yang ditemukan di Gua Made memiliki kesamaan dengan bahan yang biasa digunakan untuk pembuatan barang-barang seni yang meniru benda cagar budaya.
  2. Adanya bukti tindakan adaptif yang ditemukan di topeng Gua Made
  3. Tindakan adaptif dilakukan secara acak terhadap temuan topeng yang jumlahnya relatif banyak.
  4. Topeng-topeng dari Gua Made merupakan benda seni (barang kerajinan) yang dibuat dari masa sekarang dan diolah sedemikian rupa menjadi benda yang memiliki nilai arkeologis dan sejarah.

Pemahaman terhadap bahan dan teknologi serta tindakan adaptif yang ada di topeng Gua Made terbentuk dari pengalaman para pengrajin dan uji fisik topeng serta hasil ekskavasi. Tindakan pembuatan dan penempatan topeng di Gua Made adalah tindakan yang dilakukan secara terencana. Tindakan seperti ini mampu mengundang berbagai pengkajian terhadap Gua Made atau Situs Kedung Watu.


SITUS KEDUNG WATU

Situs Kedung Watu terletak di Dukuh Kedung Watu, Desa Made, Kecamatan Ngusikan. Pada masa lalu situs ini termasuk Kecamatan Kudu, namun semenjak ada pengembangan kecamatan di Kabupaten Jombang pada tahun 2008, situs ini termasuk wilayah Kecamatan Ngusikan. Situs Kedung Watu berada di kawasan Petak 16 D, BKPH Tapen, Bagian Hutan Mantup, KPH Mojokerto, Perum Perhutani Unit II Jawa Timur. Lokasi ini terletak pada 07°24’07,3” LS dan 112°19’05,7” BT.

Penemuan situs diawali dengan kegiatan penambangan emas liar yang dilakukan oleh penduduk pada tahun 1982. Mereka tidak sengaja menemukan ruangan bawah tanah yang kemudian disebut dengan gua bawah tanah. Pada tahun 1992/1993, lokasi ini ditinjau oleh Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Timur. Penemuan ini mengundang perhatian seorang pemerhati seni (ahli geometri) yang berasal dari Italia untuk mengunjungi lokasi Gua Made pada tahun 1998. Pemerhati ini mengambil satu balok bata untuk diuji ke laboratorium.

Berdasarkan metode thermoluminesence yang dilakukan Lembaga Penelitian Arcadia di Milan, Italia, bata tersebut berusia 2993tahun ± 250 tahun. Hasil uji analisis lab ini, membuatnya memiliki keinginan untuk mengadakan penelitian lebih lanjut di lokasi ini. Oleh karena itu, pada tahun 2001 dilakukan pendataan (dokumentasi foto) yang didampingi oleh petugas dari Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Timur. Kegiatan ini mencatat adanya temuan struktur bata di 3 lubang dan beberapa temuan lepas seperti fragmen gerabah, keramik asing, kerang, dan kerak perunggu.

Kemudian pada 23-28 Mei 2006 dilaksanakan penggalian situs. Kegiatan ini didampingi oleh Puslitarkenas dan BP3 Jatim. Penggalian dilakukan secara rapid system pada lubang III karena diperkirakan terdapat beberapa temuan. Lubang ini berada 7 m di bawah tanah tepian lubang, berupa lorong bawah tanah dengan dinding dan lantai yang dibuat dengan cara memahat lapisan tufa yang cukup padat sehingga bagian lantai, atap, dan dinding lorong memiliki kepadatan yang berbeda dengan lapisan tanah isian yang ada pada bagian tersebut. Tim Puslitarkenas dan BP3 Jatim yang melakukan survei permukaan menemukan fragmen gerabah, keramik, celupak, gandik, bandul jala, dan fosil kerang, sedangkan tim yang dipimpin oleh pemerhati seni dari Italia yang menggali di dalam lorong menemukan fragmen gerabah dan keramik, kerak besi, 2 topeng, dan 7 fragmen topeng.

Penelitian kemudian dilanjutkan dengan ekskavasi pada 8-28 Agustus 2006 yang dilakukan oleh Puslitarkenas (diwakili oleh arkeolog Balar Bandung) dan BP3 Jatim. Ekskavasi yang dilaksanakan yaitu Ekskavasi pilihan yang dilakukan secara vertikal dan horisontal. Ekskavasi vertikal dilakukan pada kotak-kotak yang diperkirakan berada pada bagian yang memiliki konstruksi bata di bawah tanahnya. Ekskavasi horisontal dilakukan pada bagian lorong bawah tanah dengan cara mengikuti bentuk fitur lorong yang sudah terbentuk di bawah tanah yang kemudian digali searah orientasi lorong. Hasil penelitian ini berupa fitur lorong bawah tanah dan struktur bata, topeng dan fragmen topeng, fragmen senjata perunggu, fragmen makara perunggu, celupak, fragmen dan wadah terakota, kerak besi dan kerak perunggu, dan mata uang kepeng. Topeng dan kerak besi serta kerak perunggu ditemukan secara insitu di lapisan tanah isian pada lorong bawah tanah yang menghubungkan antara Bangunan IV dan Bangunan V. Setelah penelitian ini, Situs Kedung Watu semakin banyak diketahui orang, sehingga kemudian dikenal dengan nama “Gua Made”.


Trowulan

Trowulan merupakan nama salah satu kecamatan di Mojokerto. Daerah ini memiliki banyak peninggalan dari Kerajaan Majapahit. Peninggalan-peninggalan ini menjadi salah satu sumber inspirasi membuat barang-barang kerajinan. Bejijong adalah nama desa yang ada di Kecamatan Trowulan yang memproduksi barang-barang kerajinan. Barang-barang ini ada yang menggunakan bahan batu, tanah liat, logam, maupun kaca. Mereka mendapat keterampilan secara turun-temurun maupun belajar kepada sanak-saudara. Keterampilan ini pada awalnya ditularkan oleh Maclaine Pont melalui pembuatan patung Yesus dari bahan logam (timah). Keberhasilan ini kemudian menarik minat pegawai museum saat itu, yaitu Sabar dan Suwoto untuk mempelajarinya. Sabar memfokuskan pada pembuatan barang-barang kerajinan dari timah, sedangkan Suwoto memfokuskan pada pembuatan arca dari tanah liat. Keterampilan Sabar kemudian dikembangkan dengan menggunakan bahan logam lainnya (perak, emas, perunggu, dan kuningan) dan diajarkan kepada anak, keponakan, dan 2 orang muridnya. Keempat orang ini kemudian melahirkan banyak pengrajin cor logam di Trowulan (Kuswanto, dkk.: 2011). Barang-barang kerajinan ini kebanyakan meniru arca dewa atau sesuai dengan pesanan.  Arca dewa yang dibuat bahkan dapat diproses menjadi arca (patung) yang seakan-akan memiliki nilai arkeologis.

Pembuatan barang-barang kerajinan logam di Bejijong biasanya dilakukan dengan teknik pengecoran pola lilin (a cire perdue). Teknik ini dipilih karena bentuk arca dewa memiliki detail yang rumit. Pola lilin menggunakan lilin yang sudah dicairkan menjadi cetakan, kemudian dilapisi tanah lempung yang dibakar sampai keras. Melalui lubang yang telah dibuat untuk meluruhkan lilin, bahan logam dimasukkan ke dalam cetakan dan kemudian dibiarkan keras. Cetakan selanjutnya dipecah untuk mengambil hasil cetakan (Kuswanto, dkk.: 2011). Selain menggunakan teknik cor logam ini, pengrajin di Bejijong maupun Trowulan menggunakan teknik cetak. Mereka menyebutnya dengan teknik cetak tanpa cor. Teknik ini menggunakan lilin atau karet (silicone rubber) sebagai bahan untuk membuat cetakan. Bahan tersebut kemudian dioleskan pada barang yang ditiru untuk dibuat, atau dipahat sesuai bentuk yang dikehendaki (jika belum ada benda acuan yang akan ditiru). Setelah selesai dan kering, dibuatkan tempat kedudukan (bahasa Jawa “pangkon”) dari semen agar ketika proses pencetakan barang-barang kerajinan, cetakan tidak bergerak sehingga mendapat hasil yang baik. Setelah cetakan jadi mereka memasukkan bahan pembuat barang kerajinan selapis demi selapis. Cara ini membutuhkan ketelitian dan membuat ketebalan barang kerajinan tidak rata.

Bahan yang digunakan dengan teknik ini adalah lempung, pasir, kuningan atau perunggu, semen, lem (perekat), “gram” (limbah dari penggosokan barang-barang yang terbuat dari kuningan, atau perunggu dan berwujud seperti tepung), dan “patina” (yang diambil dari temuan uang kepeng yang sangat banyak di Trowulan). Bahan-bahan ini diaduk dengan “air keras putih”. Setelah tercampur rata kemudian dioleskan di atas cetakan. Selanjutnya dikeringkan di bawah sinar matahari. Barang-barang kerajinan yang ditujukan untuk meniru benda yang memiliki nilai arkeologis kemudian diproses lebih lanjut. Tujuannya agar “patina” yang biasa ada di benda yang memiliki nilai arkeologis dapat dijumpai di barang kerajinan yang mereka buat. Mereka menambahkan bahan lapisan seperti lem (perekat), “patina”, dan kadang lempung serta pasir. Pemberian bahan pelapis dilakukan setahap demi setahap. Langkah terakhir adalah pemberian “soda api”. Bahan ini digunakan apabila barang-barang ini belum memiliki warna hijau dan tekstur seperti benda yang memiliki nilai arkeologis.

“Soda api” dioleskan ke seluruh permukaan dan dipanaskan di atas bara api. Proses ini biasanya diulang-ulang sampai mendapatkan warna dan tekstur yang diinginkan. Bahan “air keras putih” yang digunakan adalah asam nitrat, sedangkan “soda api” adalah Natrium Hidroksida (NaOH). Kedua bahan ini dijual umum dan mudah didapatkan. Mereka dapat membelinya di toko-toko yang menjual bahan kimia di Mojokerto, Jombang, atau Surabaya. Sementara itu bahan-bahan, yang lain juga sangat mudah diperoleh di pasaran.


Analisis Topeng

Setelah tahun 2001, terdapat 23 topeng dari situs ini yang sudah berada di salah satu galeri seni di Italia. Topeng-topeng ini kemudian dikaji untuk diketahui unsur-unsurnya. Analisis metalurgi yang telah dilakukan menunjukkan bahwa topeng-topeng tersebut mengandung beberapa unsur logam seperti Zn, Pb, Cu, Fe, Sn, dan Si, dengan komposisi mayoritas lebih dari 50% merupakan unsur Cu atau Cuprum (Tim Peneliti, 2006). Selain itu, pada tahun 2010 topeng Gua Made diteliti ulang oleh beberapa peneliti dari University of Arkansas. Mereka melakukan a Preliminary archaeometric investigation, dengan melakukan berbagai analisis seperti Portable x-ray florescence tests, Optical metallographic microscopic and stereo microscopic examination, scanning electron microscope analysis (SEM), x-ray diffraction analysis, Raman spectroscopy, dan X-ray examination. Hasilnya adalah ditemukan unsur tembaga, seng, timbal (Pb) pada topeng-topeng dari Gua Made.

Sementara itu, Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Trowulan Wilayah Kerja Jawa Timur juga melakukan kajian terhadap topeng dan beberapa fragmen topeng Gua Made. Melalui laboratoriumnya BP3 melakukan tes terhadap beberapa fragmen topeng Gua Made, yakni  untuk menjalani tes pengujian fisik serta analisa terhadap kandungan unsur yang terdapat pada sample potongan topeng tersebut. Tes dilakukan terhadap 1 (satu) topeng maupun beberapa fragmen topeng, yang terdiri dari:

a. 1 buah topeng utuh
b. 1 buah topeng yang kondisinya telah patah menjadi 2 bagian, memotong di tengah kedua lubang matanya.
c. 5 buah potongan ukuran sedang yang mewakili potongan hidung, pipi, dagu-leher dan mata kanan.
d. 1 potongan kecil yang tidak diketahui perwakilannya.
e. 4 potongan kecil yang tidak diketahui perwakilannya.

A. Observasi Fisik temuan topeng


Langkah ini diperlukan sebagai upaya pengenalan fisik permukaan secara visual terhadap gejala yang muncul di permukaan topeng seperti membangun asumsi pembuatan topeng termasuk cara pembuatan “patina” yang bertujuan untuk menciptakan kesan bahwa temuan topeng tersebut adalah benda yang memiliki nilai arkeologis.


Beberapa dugaan yang ada adalah sebagai berikut: Pola pembuatan, diperkirakan melalui proses cetakan pemadatan. Terdapat deposit pasir yang melapisi permukaan topeng bagian muka dan bagian belakang yang tidak merata.Terdapat endapan putih keruh kecoklatan seperti lapisan kerak (slag) yang tidak merata di bagian belakang topeng. Ketebalan tepi potongan arca tidak rata.


B. Tes Uji Fisik Untuk Pembuktian Adanya Penggunaan Perekat

1. Dengan cara perendaman


Sample yang dipergunakan potongan frgamen yang tidak terdapat lapisan pasir dan kerak (slag) panjang 3 cm, lebar 2 cm, tebal 2-2,5 cm sejumlah 4 (empat) buah, masing-masing dimasukkan kedalam petridish yang disiapkan sebelumnya dan telah diisi beberapa jenis pelarut, kemudian direndam selama ± 10 menit, meliputi:

a. Perendaman dalam larutan air
b. Perendaman dalam larutan Alkohol
c. Perendaman dalam larutan Ethyl Acetat
d. Perendaman dalam Asan Nitrat

Salah satu potongan sample yang berukuran kecil direndam dalam larutan Asam Sitrat (C6H807) selama kurang lebih 20-30 menit, kemudian timbul warna biru sebagai akibat terlarutnya lapisan pewarna yang berwarna kehijau hijauan, yang diduga dibuat dari bahan kimia seperti Asam Sulfat (H2S04), Asam Chloride (HCl) ataupun larutan Merqury ( Air keras). Setelah itu dilakukan penyikatan dengan menggunakan alat sikat gigi nylon. Akibat perlakuan ini lapisan pewarna yang berwarna hijau terlarut dan hilang. Kemudian dilakukan pencucian dengan air bersih dan dimasukan dalam oven. Muncul warna dasar yang berwarna kecoklatan, diduga adalah warna tanah lempung (clay) yang bercampur dengan unsur material bahan penyusun lainnya seperti pasir kwarsa, pasir emas, gram logam dan perekat. Pada tahap pengujian ini dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa benda topeng tersebut yang membentuk patina berwarna hijau dibagian permukaannya adalah bukan terbentuk secara alamiah, tapi melalui suatu pemrosesan, yang dapat mengunakan unsur kimiawi seperti Asam Sulfat (H2SO4), Asam Chloride (HCl) ataupu Air Keras (Hg).

e. Perendaman dalam larutan Alkali Gliserol, menggunakan konsentrasi 16% dengan dua perlakuan perendaman, yaitu :

1) Sampel dalam bentuk utuh
Berdasarkan hasil pengamatan diketahui bahwa setelah sampel dilakukan perendaman terbentuk gelembung dan terjadi pelarutan warna biru.Terbentuknya gelembung kemungkinan berasal dari udara yang masih terperangkap dalam sampel yang keluar akibat perendaman. Setelah dilakukan perendaman selama 10 menit, sampel dioven dengan suhu 100 °C selama 30 menit dan permukaan sampel yang awalnya berwarna hijau kebiruan berubah menjadi coklat kehitaman yang mengindikasikan adanya pelarutan patina yang menempel pada permukaan sampel. Hal ini semakin diperkuat dengan hasil penimbangan sampel yang memiliki selisih 0,1 gram antara sebelum dan setelah dilakukan perlakuan.

2) Sampel dalam bentuk serbuk
Berdasarkan hasil pengamatan diketahui bahwa setelah sampel dihaluskan dan dilakukan perendaman tidak terbentuk gelembung namun masih terjadi pelarutan warna biru.Tidak terbentuknya gelembung disebabkan udara yang terperangkap dalam sampel telah berkurang akibat perubahan bentuk sampel menjadi serbuk halus. Perendaman dilakukan selama 15 dan 30 menit selanjutnya sampel dioven dengan suhu 100 °C selama lebih dari 4 jam sampai benar-benar kering yang ditandai dengan hasil penimbangan akhir. Hasil penimbangan diperoleh data bahwa pada perendaman selama 15 menit diperoleh perbandingan antara patina yang terlarut dalam Alkali gliserol dan campuran yang merupakan residu sebesar 1 : 17,88 dengan volume Alkali gliserol yang dibutuhkan sebesar 50 – 70 ml sedangkan pada perendaman selama 30 menit diperoleh perbandingan antara patina yang terlarut dalam Alkali gliserol dan campuran yang merupakan residu sebesar 1 : 167,43 dengan volume Alkali gliserol yang dibutuhkan sebesar 38 ml. Dengan demikian perbandingan yang signifikan antara patina dan campuran pada perendaman selama 15 dan 30 menit dipengaruhi oleh besar kecilnya volume Alkali gliserol yang dibutuhkan selain lamanya perendaman.

Dari hasil analisis yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa:
1. Sampel terdiri atas campuran bahan yang salah satunya merupakan patina yang dibuktikan dengan terlarutnya warna biru oleh Alkali gliserol.
2. Sampel yang mengandung patina akan bereaksi dengan Alkali gliserol baik dalam bentuk utuh maupun serbuk. Sampel bentuk utuh bereaksi dengan mengeluarkan gelembung dan terjadi pelarutan warna biru sedangkan sampel bentuk serbuk tidak mengeluarkan gelembung tapi masih terjadi pelarutan warna biru.
3. Tingkat keterlarutan patina oleh Alkali gliserol dipengaruhi oleh lamanya perendaman dan volume Alkali gliserol yang digunakan. Semakin lama waktu perendaman dan semakin banyak volume Alkali gliserol, maka patina yang terlarut akan semakin besar.

b. Dengan cara dibakar
Salah satu sample dibakar dengan korek api gas, dihasilkan bara yang menyala dibagian benda yang terbakar, hal tersebut mengindikasikan bahwa adanya kemungkinan penggunaan bahan perekat Thermosetting ataupun Thermoplastic yang dapat terbakar, begitu pula bahan penyusun pembuatan topeng yang terakumulasi secara homogen dengan bahan perekatnya sehingga ikut terbakar menjadi bara merah.

c. Test Kuat Tekan
Dilakukan test kuat tekan terhadap sample yang berukuran tebal 2-2,5 cm, p: 3 cm , l: 2 cm dengan cara perlakuan dipatahkan menggunakan jari tangan. Hasilnya cukup mudah untuk dipatahkan jika dibandingkan dengan lempengan tembaga atau kuningan setebal 1-2 mm yang lebih sulit untuk dipatahkan.

d. Pengujian Penghilangan Lapisan Pasir dan Endapan Kerak
Adanya deposit lapisan pasir yang terdapat dibagian muka dan belakang permukaan topeng diduga menggunakan polatabor. Sementara itu endapan kerak yang berwarna putih diduga bertujuan untuk memberikan kesan benda yang bernilai arkeologis. Mengingat bahwa lapisan pasir terdapat pada topeng yang utuh, maka tindakan pembersihannya tidak sampai menghilangkan warna hijaunya (cukup endapan pasirnya). Setelah dilakukan beberapakali tindakan pengujian dengan cara dioleskan larutan asam sitrat ( C6H8O7) dan dibiarkan selama kurang lebih 10 -15 menit serta disikat menggunakan sikat gigi nylon dan dilakukan pencucian dengan air bersih. Hasilnya ikatan lapisan pasirnya dapat dihilangkan. Selanjutnya dilakukan pencucian beberapa kali dengan air bersih dan dilanjutkan pengeringannya dalam oven, ternyata endapan kerak warna putih (Slag) dapat dihilangkan hanya dengan kuku jari (rontok) tanpa harus menggunakan pelarut kimia. Pengujian ini mengindikasikan penggunaan perekat dari jenis Thermoplastik untuk upaya merekatkan pasir pada permukaan topeng dibagian depan ataupun belakang.


C. Upaya Pembuatan/Penggandaan Topeng Temuan

Tindakan ini, hanya sebatas pembuktian bahwa temuan topeng tersebut adalah baru, dan pihak BP.3 Jawa Timur lewat Laboratoriumnya, berupaya untuk dapat membuat bentuk pola yang sama, dengan menggunakan beberapa macam unsur penysun yang diduga juga dipergunakan pada temuan topeng tersebut.

1. Pengadonan Bahan Cetak Negatif dari Karet silikon

2. Pembuatan Cetak Negatif pada Obyek

3. Hasil Pembuatan Cetak Negatif

4. Kotak cetakan pembuatan Statip

5. Pembuatan Cetak Positip

6. Hasil Cetakan Positip sebelum diproses Pewarna

7. Hasil cetakan positip setelah diproses Pewarnaan


Kesimpulan Uji Fisik dan Analisis Tahap Awal Topeng Gua Made

Berdasarkan uji fisik dan analis yang dilakukan, disimpulkan bahwa:
1. Topeng-topeng yang ditemukan di Gua Made memiliki kesamaan teknologi dan bahan yang biasa dilakukan pengrajin barang-barang kerajinan di Trowulan untuk membuat barang-barang kerajinan yang diproses menjadi seperti benda yang memiliki nilai arkeologis. Topeng dibuat tanpa proses pengecoran, melainkan memasukkan bahan pembuat topeng selapis demi selapis yang kemudian ditekan dan dipadatkan ke dalam cetakan. Bahan yang digunakan untuk membuat topeng adalah lempung, pasir, kuningan atau perunggu, semen, lem (perekat), “gram” (limbah dari penggosokan barang-barang yang terbuat dari kuningan, atau perunggu dan berwujud seperti tepung), dan “patina” (yang diambil dari temuan uang kepeng yang sangat banyak di Trowulan), “air keras putih” (asam nitrat), dan “soda api” (Natrium Hidroksida atau NaOH).

2. Topeng dari Gua Made ditujukan untuk menjadi benda yang memiliki nilai arkeologis dengan proses menggunakan “patina” yang diambil dari temuan uang kepeng yang banyak dijumpai di Trowulan. Selain itu, “patina” berwarna hijau di bagian permukaannya bukan terbentuk secara alamiah melainkan melalui suatu pemrosesan, yang dapat mengunakan unsur kimiawi seperti Asam Sulfat (H2SO4), Asam Chloride (HCl) ataupu Air Keras (Hg). Upaya lainnya adalah penaburan pasir dan pemberian endapan kerak. Penaburan pasir diterapkan di permukaan dan bagian belakang topeng dengan perekat jenis Thermoplastic. Pemberian endapan kerak dilakukan dengan pengolesan perekat (lem kayu merk Rajawali dan thermosetting jenis alteco tipe G).

3. Tindakan pemberian pasir di bagian permukaan maupun bagian belakang dilakukan secara acak. Topeng-topeng yang ditemukan memiliki tekstur yang berbeda. Ada yang halus, sedang, maupun kasar di bagian permukaan maupun dalamnya. Selain pemberian pasir, tindakan adaptif untuk memberikan kesan memiliki nilai arkeologi dilakukan dengan pemberian endapan kerak (slag) yang dilakukan secara acak. Tidak semua topeng yang relatif utuh memiliki endapan kerak. Endapan ini ditemukan di bagian belakang topeng yang utuh.

4. Topeng-topeng Gua Made adalah barang baru yang diproses untuk menjadi benda yang memiliki nilai arkeologis yang diletakkan di lokasi lorong Gua Made yang juga disebut dengan Situs Kedung Watu.


Hipperrelitas Topeng Gua Made

Setelah situs KedungWatu (Gua Made) ditemukan pada tahun 1982 dan dilakukan survei tahun 2001, topeng mulai ditemukan sebagai salah satu temuan lepas. Pada masa selanjutnya semakin banyak studi yang dilakukan terutama terhadap temuan topeng dari lokasi ini. Topeng-topeng ini berbeda dari temuan topeng yang pernah ditemukan sebelumnya di nusantara. Tidak semua temuan topeng Gua Made berada di Trowulan, sebanyak 23 topeng berada di Galery Paolo Bertuzzi di Bologna Italia. Temuan topeng yang berada di galeri ini ada yang menyerupai manusia, arca, dan kepala manusia atau hewan, sedangkan yang ada di Trowulan menyerupai kepala dan wajah manusia. Topeng yang menyerupai manusia, kepala manusia maupun hewan memiliki berbagai bentuk, seperti oval, bundar, segiempat, dan segilima. Bentuk-bentuk ini masih memiliki variasi pada bagian mata dan mulut. Bagian mata ada yang terbuka, tertutup, dan berlubang. Selain itu, bagian ini juga digambarkan dengan mata lebar atau sempit. Kemudian bagian mulut juga memiliki variasi tertutup, terbuka, dan berlubang.

Peneliti, pemerhati, dan tenaga lokal yang membantu penelitian menjumpai berbagai macam kondisi topeng. Ada yang ditemukan utuh, namun ada juga yang ditemukan dalam keadaaan pecah. Selain itu ada juga yang ditemukan berupa fragmen. Ada fragmen yang diidentifikasi dari bagian mata, pipi, dan dagu, namun ada juga yang tidak dapat diidentifikasi. Kemudian setelah melakukan pengamatan, ditemukan perbedaan pada masing-masing topeng. Ada yang memiliki tekstur kasar, sedang dan hampir halus maupun perpaduan ketiganya. Selain itu ada juga kerak (slag) di bagian belakang topeng.

Keseluruhan bentuk dan variasinya, serta tekstur dan kerak ditemukan secara acak. Tidak ada topeng yang benar-benar sama. Berdasarkan pengamatan topeng-topeng yang sudah ditemukan melalui penelitian yang dilakukan oleh pemerhati seni dari Italia maupun Puslitarkenas dan BP3 Jatim, peneliti, pemerhati, dan masyarakat mendapat informasi bahwa topeng-topeng ini ditemukan di situs dengan cara penggalian arkeologi. Selain itu, topeng-topeng ini memiliki bahan yang tidak biasa, dan bentuk, tekstur, serta kerak (slag) yang sangat bervariasi. Realitas-realitas tersebut disebarkan kepada para peneliti, pemerhati, dan masyarakat. Topeng-topeng ini berubah menjadi seperti hipperrealitas dalam kerangka pemikiran postmodernisme. Realitas yang dihasilkan berdasarkan penelitian arkeologi dibuat mengalahkan realitas sesungguhnya dan menjadi model acuan yang baru bagi arkeologi di Indonesia maupun di luar negeri. Citra lebih meyakinkan ketimbang fakta.

Disamping menjadi hiperralitas, penemuan topeng-topeng Gua Made seolah-olah dijadikan sebagai suatu komoditi. Topeng sebagai salah satu temuan lepas dari Gua Made menjadi komoditi yang ditujukan untuk mendapatkan keuntungan, meskipun juga menjadi media penelitian arkeologi maupun disiplin yang lain. Pada sisi perkembangan arkeologi di Indonesia, temuan topeng memberikan citra dan simbol bahwa Indonesia memiliki situs dengan temuan topeng yang sangat banyak. Berdasarkan uraian ini, terlihat topeng-topeng Gua Made menyiratkan adanya tema citra. Selain itu, topeng Gua Made juga mewakili silang sengkarut berbagai hal, yaitu moralitas, dunia arkeologi, teknologi dan impian dalam suatu ruang yang sama.


Daftar Bacaan

Adhyatman, Sumarah, 1990, Antique Ceramics found in Indonesia, Jakarta: The Ceramic Society of Indonesia

Ervina, 2003, “Desain Suvenir Pada Produk Kriya Logam di Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto”, Skripsi Sarjana, Surakarta: Prodi Kriya Seni, Jurusan seni Rupa, Sekolah Tinggi Seni Indonesia Surakarta

Kuswanto, dkk, 2011, “Cor Kuningan Desa Bejijong, Refleksi Seni Logam Majapahit”, dalam Desawanana Edisi 2011, Mojokerto: Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Timur

Riyanto, Sugeng, 2008, “Kajian Ikonometri Arca Loham Produk Perajin Trowulan”, dalam Berkala Arkeologi tahun XXVIII Edisi No. 2/November 2008, Yogyakarta: Balai Arkeologi Yogyakarta

Sukendar, Haris, dkk., 1999-2000, Metode Penelitian Arkeologi, Jakarta: Puslitarkenas

Knebell, J., 1909, Rappoerten van de Commissie in Nederlansch-Indie (ROC) 1908, Batavia: Albrecht & Co., Gravenhage: M. Nijhoff

Tim BP3 Jatim, 2006, “Laporan Peninjauan Penggalian Situs Kedung Watu di Desa Made, Kecamatan Kudu, Kabupaten Jombang”, Mojokerto: Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Timur

Mambo, Winston SD, 2001, “ Laporan Hasil Pendataan Benda Cagar Budaya Situs Kedung Watu di Desa Made, Kecamatan Kudu, Kabupaten Jombang”, Mojokerto: Suaka Peninggalan Sejarah Purbakala Jawa Timur

Tim BP3 Jatim, 2006, “Laporan Hasil Ekskavasi Di Kawasan Situs Kedung Watu di Desa Made, Kecamatan Kudu, Kabupaten Jombang”, Mojokerto: Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Mojokerto

Sumadio, Bambang (ed.). 1990. “Jaman Kuno” Sejarah Nasional Indonesia II, Jakarta: P.N. Balai Pustaka.

Prijohutomo, 1953, Sedjarah Kebudajaan Indonesia II, Kebudajaan Hindu di Indonesia, Djakarta, Groningen: J.B. Wolters

Kartidirdjo, Sartono, dkk., 1976, Sejarah Nasional Indonesia II, Jakarta: Depdikbud

Sarup, Madan, 1993, An Introduction Guide To Post Structuralism and Post Modernism, Georgia: The University of Georgia

*MAKALAH PIA 2011