Mujib
Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional


ABSTRAK

Kerajaan Kutai Kartanegara berdiri para kurang lebih abad ke-14 M dan berakhir pada awal abad ke21 M. pada awalnya, kerajaan ini bercorak Hindu, namun pada masa raja yang kelima, yaitu Sultan Aji Dilanggar kerjaan itu berubah haluan ideologinya menjadi Islam. Orang yang berjasa dalam pengislaman di Kerajaan Kutai Kartanegara disebut dalam sejarah bernama Tuan Tunggang Parangan dan Tuan Datuk Ri Bandang. Tuan Tunggang Parangan disebut-sebut berasal dari Aceh dan Tuan Datuk Ri Bandang berasal dari Sumatra Barat. Kedua ulama itu berperan dalam penguslaman wilayah Nusantara bagian timur. Komsultasi keagamaan dilakukan keduanya dengan ulama Gresik sebelum mereka berjuang mendakwahkan Islam di wilayah yang menjadi tujuannya.

Selama enam abad itu banyak sudah tinggalan kerajaan itu yang dapat disaksikan hingga kini, seperti makam-makam kuna, tempat-tempat ibadah, istana, naskah-naskah kuna serta beberapa tinggalan yang lainnya. Tinggalan-tinggalan itu sebagian masih asli dan sebagian yang lainnya sudah mengalami pemugaran. Tinggalan-tinggalan itu tersebar kuas di bekas wilayah kekuasaan kerajaan tersebur seperti di Kutai Lama, Sangasanga, Tenggarong, Kotabangun dan lain-lain.

Tinggalan arekologi yang begitu banyak belum banyak dimanfaatkan oleh masyarakat hingga kini. Akibatnya lingkungan tinggalan itu kadang menjadi tidak terawatt. Oleh karena itu perlu dipikirkan bagaimana memanfaatkan tinggalan-tinggalan arkeologi yang bersifat keagamaan itu. Ketika penulis mengadakan kunjungan ke Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kutai kartanegara, Kepala Dinas sempat mempertanyakan bagaimana cara mengembangkan manfaat tinggalan-tinggalan itu. Penulis member saran agar dipikirkan bagaimana cara mengembangkannya dengan wisata religi. Pada bulan Februari tahun 2011 yang lalu, penulis mengunjungi lagi Kutao Kartanegara untuk bersilaturahmi dengan kepala Dinan Kebudayaan dan Patiwisata Kabupaten Kutai Kartanegara. Setelah itu penulis diajak untuk menghadiri ceramah agama di komoleks makam Sultan Alimuddin di Tdenggaromng. Penulis sempat mendiskusikan tentang wisata religi. Akhirnya didapat kesimpulan ketua pengajian itu akan membuat kionsep berdasarkan masukan penulis dalam pengembangan wisata reliji di Kutai Kartanegara.

Kata Kunci: Kerajaan Kutai Kartanegara – Tinggalan Arkeologi – Ziarah Religi


1. Pendahuluan

Kalimat bijak yang dituturkan oleh seorang yang bijak mengatakan, “al-ilm bilá ‘amal ka asy-syajar bilá tsamar” dapat diterjemahkan “bahwa ilmu tanpa (bias) diaplikasikan itu bagaikan pohon yang tidak ada buahnya”. Kalimat itu dapat diinterpretasikan bahwa apabila suatu ilmu dikaji hanya untuk menghasilkan teori saja tanpa dapat diaplikasikan dan dimanfaatkan oleh masyarakat luas maka ilmu itu akan menjadi sia-sia tak ada arti, tak berguna dan tak bermanfaat. Sebagai ilmu kepurbakalaan, arkeologi semestinya dapat dapat diaplikasikan dan dapat member nilai dan manfaat terhadap masyarakat luas. Untuk dapat bermanfaat, maka tinggalan arkeologi yang menjadi obyek kajian ilmu tersebut harus dikaitkan dengan empat hal, yaitu wujůduh (keberadaannya), rûhuh (nilainya), hauluh (lingkungannya), intifá’uh (pemanfaatannya) baik di masa lalu, masa kini maupun di masa yang akan dating.

Secara teori, arkeologi telah banyak dibicarakan para ahli, namun pemanfaatannya masih harus dikaji terus menerus disesuaikan dengan hasrat danminat masyarakat pada umumnya. Pemanfaatan sebagai obyek kajian terus dilakukan, pemanfaatan sebagai barang komuditi perdagangan pernah dilakukan dan mungkin sampai kini masih berlangsung, dan pemanfaatan sebagai koleksi perorangan dan museum sampai kini masih berlangsung serta pemanfaatan sebagai obyek wisata ziarah juga dilakukan. Pemanfaatan sebagai wisata religi secara tidak disadari juga telah dilakukan di seluruh lokasi tinggalan arkeologis yang bersifat keagamaan.

Untuk menjembatani agar ilmu kepurkalaan tidak hanya menghasilkan teori-teori yang kadang tidak dapat dicerna dengan sederhana oleh masyarakat luas, maka diperlukan suatu terobosan baru untuk mempraktekkan ilmu itu, untuk mengaplikasikan ilmu itu, untuk pemanfaatan ilmu itu, maka hendaklah dibuat konsep untuk pemanfaatannya di masyarakat.

Kutai Kartanegara, sebuah institusi kerajaan yang menguasai wilayah muara dan aliran Sungai Mahakam dan sekitarnya dan kini di bekas wilayah kekuasaannya itu dijadikan nama sebuah kabupaten, yaitu Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur. Sebenarnya luas wilayah kekuasaan kerajaan itu melebihi wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara sekarang. Luas wilayah kerajaan itu sesungguhynya meliputi tiga wilayah kabupaten yang menjadi pecahan Kabupaten Kutaiu Kartanegara, yaitu Kabupaten Kutai Barat, Kabupaten Kutai Timur, dan Kabupaten Kutai Kartanegara itu sendiri. Pada zamannya, ibukota Kerajaan Kutai Kartanegara berpindah hingga tiga kali, pertama Kutai Lama dari tahun 1300 – 1832; kedua Pemarangan, Jembayan dari tahun 1832 – 1882; dan terakhir Tenggarong dari tahun 1882 hingga awal abad 21.

Di setiap wilayah ibukota Kerajaan Kutai Kartanegara terdapat tinggalan arkeologi yang diduga tinggalan kerajaan tersebut. Di Kutai Lama, terdapat tinggalan makam, masjid, dan bekas pemukiman kuna. Artefak yang begitu banyak dan beragam juga ditemukan di lokasi itu, misalnya keris, keramik, bandul jala, dll. Begitupun di Pamarangan, Jembayan juga ditemukan makam dan tempat ibadah. Tidak ketinggalan pula keramik, ijuk, tonggak-tonggak kayu dll. Di Tenggarong lebih banyak lagi makam dibandingkan dengan tempat-tempat pusat kota Kerajaan Kutai Kartanegara yang lainnya. Pemakaman di Tenggarong tampaknya menjadi kompleks pemakaman raja-raja Kutai Kartanegara yang berkuasa sejak kepindahan kerajaan itu di kota ini. Di kompleks pemakaman para raja dimakamnkan Sultan Salihuddin – Sultan Parikesit. Di Tenggarong juga ditemukan tempat ibadah berupa masjid yang dibangun oleh salah seorang menantu Sultan Alimuddin, ayah Sultan Parikesit yang bernama Tumenggung Hasanuddin. Oleh karena itu masjid ini dinamakan Masjid Hasanuddin. Sampai sekarang masjid itu masih berdiri tegak di belakang istana Kesultanan yang sekaran menjadi Museum Negeri Mulawarman di Tenggarong. Tinggalan lain yang terdapat di Tenggarong adalah naskah-naskah kuna keagamaan dan kesejarahan. Naskah Salasilah Kutai menjadi mascot dan tinggalan naskah yang paling dibanggakan oleh masyarakat Kutai Kartanegara karena berisi tentang riwayat kerajaan Kutai Kartanegara dari penguasa pertama samapai terjadinya pemindahan kerajaan ke Tenggarong.

Dari penuturan tersebut dapat diketahui bahwa Kerajaan Kutai Kartanegara mempunyai tinggalan arkeologis yang amat bergam. Tinggalan arkeologis yang bersifat keagamaan bahkan mendominasi tinggalan-tinggalan itu. Tempat-tempat ibadah, naskah-naskah, dan makam-makam kuna alan keagamaan itu tidak dioptimalkan pemanfaatannya, bahkan ada yang sama sekali tidak dimanfaatkan oleh masyarakat. Makam-makam tokoh kerajaan mungkin masih sering dikunjungi oleh para peziarah untuk sekedar bertawasul atau berziarah mendoakan mereka yang dimakamkan itu, namun tidak demikian halnya maka-makam kuna yang bukan tokoh, ini sama sekali tidak tersentuh oleh hawa pemanfatan sama sekali. Oleh karena itu kerusakan selalu menghampiri tinggalan-tinggalan arkeologi itu.

Sebenarnya tinggalan-tinggalan arkeologi yang tersebar di seluruh wilayah bekas kekuasaan Kerajaan Kutai Kartanegara itu amatlah banyaknya sebagaimana telah disebutkan. Sayangnya semua tinggalan tersebut belum dapat dimanfaatkan oleh masyarakat luas, baik pemerintah, rakyat kebanyakan, dan para ilmuwan dan praktisi kebudayaan untuk mengembangkan dan memanfaatkan tinggalan budaya masa lalu kerajaan tersebut.

Dari uraian tersebut dapat dimunculkan permasalahan bahwa benda-benda arkeologis yang terdapat di Tenggarong memang selama ini sudah dimanfaatkan oleh masyarakat, baik oleh kerabat kesultanan maupun oleh masyarakat umum, seperti digunakan untuk pembukaan upacara adat Erau dan ziarah-ziarah. Masyarakat luas pun juga mengungjungi istana sultan, makam-makam kesultanan dan lain-lainnya. Namun demikian mereka belum merasakan sentuhan arahan atau yang lainnya berupa pencerahan atau pelaksanaan ritual yang dapat menyentuh hati mereka sehingga mereka akan lebih mengagumi perjuangan para sultan yang memimpin di Kutai kartanegara.

Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk menawarkan sebuah konsep pengelolaan tinggalan-tinggalan budaya dan arkologis yang bersifat keagamaan di Tenggarong sebagai bekas ibukota Kerajaan Kutai Kartanegara agar tinggalan-tinggalan budaya dan arkeologis di tempat itu dapat bernilai dan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat secara luas. konsep itu adalah “Wisata Religi: Sebuah Upaya Pemanfaatan Tinggalan Budaya dan Arkeologis di Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur”.

Teknik dan metode yang digunakan dalam penulisan makalah ini meliuti: untuk mengumpulkan data makam dipkai adalah metode survey dan interview. Survey dilakukan untuk mengamati dengan tujuan mendeskripsikan temuan dimaksud serta mengklasifikasikannya agar dapat disentesakan serta diinterpretasikan dengan benar. Sedangkan interview dilakukan untuk mendapatkan data tentang persepsi masyarakat yang berada di sekitar tempat tinggalan-tinggalan budaya dan arkeologis itu terhadap pemanfatan tinggalan-tinggalan itu. Adapun metode yang digunakan dalam penulisan makalah ini adalah metode deskfiptif – historis dengan pendekatan konsep religi yang dipahami dan diaplikasikan oleh masyarakat sekitar lokasi keberadaan tinggalan budaya dan arkeologis di Tenggarong itu.


2. Kerajaan Kutai Kartanegara dan Tinggalan dan Arkeologis di Tenggarong: Kraton, Masjid dan Makam

Kesultanan Kutai Kartannegara pada awal berdirinya semula menganut agama Hindu. Ini dapat dibuktikan dengan berbagai macam temuan di Kutai Lama berupa toponime seperti Jahitan Layar, sebuah nama lokasi yang dipercaya oleh masyarakat sebagai awal mula perkampungan yang ditempati oleh Batara Agung Dewa Sakti, Raja I Kerajaan Kutai Karttanegara. Generasi demi generasi muncul setelah Agung Batara Dewa Sakti meninggal masih memeluk agam Hindu, sampai Tunggang Parangan dan Datuk Ri Bandang dating ke Kutai lama dan mendakwahkan agama baru, Islam sehingga Raja Aji Mahkota, raja kelima Kutai Kartanegara sudi memeluk Islam. Dari situlah mulai dikenalkan istilah sultan bagi penguasa Kerajaan Kutai Kartanegara. Peristiwa itu terjadi pada abad ke-16.

Kerajaan Kutai Kartanegara yang berikukota di Kutai Lama dianggap sudah tidak bertuah lagi karena pembakaran yang dilakukan oleh musuh-musuhnya. Kemudian ibukota kerajaan itu dipoindahkan ke Pemarangan, Jembayan pada tahun 1832. Setelah istananya dibakar o,eh lanun Solok, maka kerajaan itu dipindahkan ke Tenggarong pada tahun 1782.

Sejak mula berdirinya Kerajaan Kutai Kartanegara itu sampai akhirnya dibekukan oleh Belanda pada pertengahan abad ke-20, banyak sudah hasil karya dan bukti-bukti yang ditingggalkannya. Di antara tinggalan-tinggalan yang bersifat keagamaan yang dapat disaksikan hingga kini di Tenggarong antara lain sebagai berikut.

Sebagai bukti sosialisasi Islam di Kerajaan Kutai Kartanegara adalah ditemukannya bangunan-bangunan sacral keagamaan dan istana Sultan serta makam-makam kuna di bekas wilayah kekuasaannya. Istana sebagai pusat kekuasaan yang mula pertama dikenalkan oleh orang-orang Islam merupakan pusat kekuasaan dan pusat pengendalian administrasi kekuasaan pada umumnya. Namun demikian istana juga merupakan pusat kosmis dalam kepercayaan Islam Jawa.

Di Tenggarong sebagai pusat kekuasaan Kerajaan Kutai kartanegara juga terapat bangunan istana yang dijadikan sebagai tempat tinggal sultan. Istana ini dibangun di tepi sebelah barat Sungai Mahakam. Kota Tenggarong. Istana ini menghadao kea rah timur yang biasa disebut oleh pembesar kerajaan dan masyarakat Tenggarong menghadap matahari hidup. Artinya menghadap arah terbitnya matahari. Dalam hal ini sesuai kepercayaan mereka, istana atau rumah itu sebagiknya menghadap arah terbitnya matahari karena dipercaya akan mendatangkan keuntungan

Untuk memasuki istana dibangun undakan atau tangga yang berjumlah empat belas. Istana ini dibangun dengan beberapa ruang, seperti kamar sultan, ruang tamu, dan paseban. Di bagian kanan dan kiri istana ini dibangun emper untuk istirahat. Istana ini diengkapi dengan halaman depan yang luas. sekarang di halaman istana ini dilengkapi dengan taman, sepasang meriam, lembu Suwana, patung naga dan lain-lain. Istana I ni sekarang difungsikan sebagai Museum Negeri Mulawarman, Provinsi Kalimantan Timur.

Sementara itu, tinggalam lainnya yang berupa tempat ibadah ialah masjid. Masjid ini terletak di belakang istana sultan yang sekarang difungsikan sebagai museum dibatasi dengan sungai kecil yang dismabungkan dengan jembatan kayu. Di sebelah selatan masjid berdiri istana baru yang difungsikan sebagai pusat kegiatan budaya masyarakat Kuta Kartanegara, seperti tari-tarian, jepen, gamelan dan lain-lain. Di sebelah utara dan barat adalah jalan raya. Dari data pictorial yang dipajang di dinding sebelah utara masjid diketahui bahwa masjid ini dibangun pada tahun 1929 oleh Aji Hasanuddin yang bergelar Aji Pangeran Sosro Negoro. Masjid ini mempunyai empat tiang utama yang disebut saka guru dengan bentuk segi delapan dan disangga oleh 12 tiang rawan segi 6 yang letaknya mengelilingi empat tiang utama.

Masjid dibangun dengan rancangan permanen bercorak rumah adat Kalimantan Timur. Atapnya tumpang tiga dengan puncaknya berupa bentuk limas segi lima.pada setiap tingkatan ditandai dengan fentilasi yang jumlahnya bervariasi bergantung pada besar kecilnya bangunan. Atapnya dibuat dari sirap kayu. Banhunan masjid ini juga dilengkapi dengan menara yang dibanhun di sebelah barat daya masjid dengan kontruksi besi. Sampai kini masjid kuna Tenggarong ini masih digunakan sebagai tempat ibdah, terutana salat lima waktu dan salat jumat.

Sementara itu, makam-makam kuna kesultaan di Tenggarong amatlah banyak. Begitu juga makam-makam kuna masyarakat umum. Para sultan Kerajaan Kutai kartanegara sebenarnya ingin disatukan pemakamannya dalam satu kompleks pemakaman kesultanan. Ini tampak usaha yang ada, yang bahwa makam di sebelah selatan istana Sultan yang menjadi museum itu. Di dalam kompleks makam itu berturut turut dimakamkan Sultan Aji Embut (wafat 24 Rajab, hari Selasa, pukul 7, tahun 1209 H.), Aji Muhammad Salihuddin (wafat 17 Rajab, hari Senin, tahun 1261 H.), Sultan Aji Muhammad Sulaiman (wafat 28 Rajab, hari Sabtu, ham 4.30, tahun 1317 H), Sultan Aji Muhammad Parikesit (tanpa inskripsi). Dalam kompleks makam itu juga dimakamkan para istri dan anak-anak para sultan serta kerabat deka mereka. Para ulama kesultanan juga tidak ketinggalan dimakamkan di kompleks pemakaman itu. Namun demikian, oleh karena kasus tersendiri, maka makam Sultan Muhammad Alimuddin dipisahkan dan dilokasikan di sebuah berbukitan di Kampung Melayu Tenggarong.

Makam-makam kuna para kerabat sultan dan para pemangku jabatan di lingkungan kesultanan juga dapat dilihat di lokasi lain, misalnya makam Pangeran pemangku jabatan sultan dikala Sultan Parikesit masih berusia muda, yaitu Pangeran Notonegoro yang makamnya terletak di belakang markas Tentara Kutai kartanegara, makam Awang Lor, Panglima Kesultanan Kutai kartanegara yang gugur di medan perjuangan ketika mengusir Belanda. Karena itu jasanya diabadikan sebagai nama kesatuan tentara Kalimantan Timur, yaitu Kesatuan Awang Long. Makamnya terletak di Kelurahan Sukarame, Tenggarong.


3. Persepsi Mayarakat Tenggarong terhadap Tinggalan Budaya dan Arkeologi dan Pemanfatannya

Tinggalan cagar budaya yang terdapat di Tenggarong antara lain makam-makam para sultan Kerajaan Kutai Kartanegara, makam-makam petinggi kesultanan seperti Imam Nata Igama, Penanggung jawab pemerintahan Kerajaan Kutai Kartanegara, yaitu Tuan Mangku Negara dan makam pahlawan Tuan Awang Long. Di samping makam-makam tersebut di Tennggarong terdapat peninggalan lain seperti Keraton yang sekarang dijadikan Museum Negri Mulawarman,Provinsi Kalimantan Timur serta Masjid Jami Hasanuddin.

Pengelolaan situs dan benda cagar budaya itu seharusnya melibatkan masyarakat di lingkungannya di samping pemerintah dan masyarakat secara luas. Namun demikian terdapat persepsi yang berbeda dari semua yang berkepentingan terhadap benda dan situs cagar budaya itu. Untuk mengetahui persepsi yang diyakini berbeda itu, maka penulis telah mengadakan pengamatan terhadap perilaku masyarakat di Tenggarong berkaitan dengan pengelolaan situs dan benda cagar budaya itu. Penulis juga mengadakan wawancara dengan masyarakat Tenggarong dari berbagai usia dan pekerjaan yang berbeda dari masyarakat awam, pejabat, aktivis LSM dan lain-lain.

Dalam wawancara kepada masyarakat, tidak semua kuessener itu ditanyakan, tetapi kuessener disesuaikan dengan kedudukan responden, misalnya apa kedudukan responden itu di masyarakat. Ditanyakan kepada semua responden, “Apakah Saudara tahu tentang benda cagar budaya?” para responden pada umumnya mengetahuinya. Namun demikian, pada umumnya mereka beranggapan hanya sekedar mengetahuinya saja. Tidak pernah berusaha untuk lebih memperdalam lagi pengetahuannya itu berkaitan dengan situs dan benda cagar budaya itu. Jika mereka ditanya tentang keberadaan situs dan benda cagar budaya itu, mereka hanya menunjukkan lokasinya saja, jarang yang mengetahui sejarahnya. Memang ada yang ingin mengetahui sejarah dan cerita masa lalu situs dan benda cagar budaya itu, namun itu hanya dari kalangan tertentu seperti pemerintah dan masyarakat yang aktif di Lembaga Swadaya Masyarakat.

Responden juga mengetahui apa saja situs dan benda cagar budaya yang terdapat di desanya sehingga ini mempermudah penulis untuk menelusurinya. Pengetahuan masyarakat tentang situs dan benda cagar budaya yang terdapat di desanya, hanya sebatas keberadaannya saja sehingga jika pun mereka ditanya bagaimana sejarahnya pastilah merekia akan berkata, “kami tidak begitu mengetahuinya.” Mereka juga tidak begitu peduli tentang perkembangan situs dan benda cagar budaya itu. Mereka sekedar mengetahui keberadaanya.

Kuessener yang lainnya adalah, “Apa pentingnya cagar budaya di desa Anda? Mereka pada umumnya mengatakan bahwa benda dan situs cagar budaya itu dapat memberikan gengsi masyarakat sekitarnya. Ini mereka kaitkan dengan penghormatan para pelaku sejarah masa lalu. Mereka bangga atas kepahlawanan dan perjuangan mereka para sultan dan para pejuang itu. Atas jasa mereka masyarakat di sekitar tempat tinggal mereka menjadi terkenal. Ini juga dapat mereka jadikan sebagai bukti perjuangan masa lalu mereka itu. Masyarakat awam mengatakan bahwa situs dan benda cagar budaya yang terdapat di lingkungannya itu dapat memberikan nilai lebih dibandingkan desa yang tidak terdapat tinggalan situs dan benda cagar budaya itu. Namun responden dari kalangan pemerintah daerah berpendapat loain. Mereka pada umumnya mengatakan bahwa situs dan benda cagar budaya itu di samping dapat menambah gengsi dan identitas masyarakat setempat, hal itu dapat pula dikembangkan sesuai dengan tata dan aturan pengembangan situs dan cagar budaya itu sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar. Pengembangan situs dan benda cagar budaya itu tentu saja akan disesuaikan dengan pengembangan kawasan budaya dan pariwisata.

Selanjutnya saat ditanyakan kepada responden, “Apa yang Saudara inginkan dengan adanya cagar budaya di desa Anda?” mereka berlainan pendapatnya. Sebagian mereka menginginkan agar situs dan benda cagar budaya dimanfaatkan sebhagaimana mestinya sesuai dengan keberadaan dan fungsinya masing-masing. Pada dasarnya mereka para responden itu menginginkan agar situs dan benda cagar budaya itu dibangun dan dikembangkan. Ada yang mengatakan agar situs itu dipagar, dicungkup, dibaguskan jalan menuju ke lokasi situs atau benda cagar budaya itu. Para aktivis LSM menginginkan agar situs dan benda cagar budaya itu dimanfaatkan sesuai dengan kondisi dan sifatnya masing-masing. Ini seperti diungkapkan oleh Habib Abdul Qadir al-Hasni, 67 tahun, pendiri dan aktivis Majlis Taklim Darur Rahim bahwa situs makam Imam Kesultanan Kutai Kartanegara, Nata Igama perlu dilestarikan. Caranya ialah dengan menghidupkan ziarah dan tablig akbar di situs makam itu. Inilah yang telah dilakukan oleh majlis taklim yang telah beliau dirikan. Kegiatan itu dikemas dalam kegiatan yang dinaungi oleh yayasan yang beliau dirikan atas saran dari Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Tenggarong. Kegiatan majlis taklim itu diadakan sebulan sekali pada minggu keempat setiap bulannya.

Kuesioner yang diajukan selanjutnya adalah, “Bolehkan benda cagar budaya itu dibangun, direnovasi atau dilestarikan jika ada yang menginkannya?” jawaban responden dari tahun ke tahun sebenarnya sama, yaitu silahkan saja jika ada yang ingin membangun, apalagi pemerintah. Mereka seakan tidak mempedulikan hal itu. Ini juga menunjukkan bahwa masyarakat tidak mengambil jarak apapun terhadap perkembangan situs dan benda cagar budaya itu. Ini juga tercermin dari ungkapan Bapak Haji Syamsuddin, 75 tahun penjaga makam Pangeran Mangku Negara, Pangeran yang mengemban amanat menjalankan roda pemerintahan Kesultanan Kutai Kartanegara selama sepuluh tahun saat ditinggalkan oleh Sultan Alimuddin sambil menunggu kedewasaan Sultan Parikesit. Jawaban yang sama juga dilontarkan oleh responden yang lainnya baik dari pemerintahan maupun aktivis LSM. Demikian juga apa yang diungkapkan oleh Bapak H. Nasrun, 74 tahun, pensiunan Dinas Pertanian, tinggal di Tenggarong. Beliau menyatakan, “O, silahkan saja, kami sangat berterima kasih jika ada orang atau instansi yang ingin membangun situs makam atau apapun. Ini justrru akan menambah penghormatan masyarakat setempat bagi peran masyarakat masa lalu sesuai dengan perjuangan para leluhur itu. Artinya masyarakat sekarang menghormati apa yang telah diperjuangkan para sultan dan pembesar kesultanan. Jika pandangan masyarakat demikian, maka selanjutnya tugas pemerintah kabupaten, dalam hal ini Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. H. Asmidi, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata mengungkapkan bahwa pemerintah siap untuk mengembangkan obyek-obyek wisata termasuk di dalamnya makam-makam kesultanan dan peninggalan lainnya. Namun demikian perlu dipikirkan skala prioritas.

Kuessener berkutnya adalah “Adakah orang lain yang memperhatikan benda cagar budaya itu? Mereka para responden menjawab, “Ya ada”, misalnya ahli waris, Pemerintah Daerah, instansi-instansi pemerintah maupun swasta dan lain-lain. Contohnya adalah ahli waris ahli makam seperti Pangeran Mangku Negara yang ahli warisnya memperebutkan tanah sekitar makam yang sebenarnya dimiliki oleh Kraton sekalipun belum disertifikatkan. LSM juga mempunyai kepentingan yang sama yaitu memamfaatkan situs itu untuk kegiatan yayasannya. Ini diungkapkan oleh Bapak Habib Abdul Qader. Pemerintah Daerah menginginkan agar situs dan benda-benda cagar budaya itu dikelola dengan baik, diinfentarisir dan dilestarikan. Demikian diungkapkan oleh Bapak Ridwansyah, pegawai Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kutai Kartanegara. Pemerintah sifatnya menfasilitasi dan membina. Oleh karena itu Dinas sangat apresiatif terhadap para pekerja pelestari situs dan benda cagar budaya itu.

Lain halnya Masjid Jami Hasanuddin yang pernah dipersengketakan masyarakat karena telah dibangunnya Masjid Agung Kota Tenggarong. Sebagian masyarakat menyarankan agar masjid itu digunakan sebagai pusat kegiatan umat dan pusat perpustakaan saja. Permasalahan waktu itu muncul sekitar tahun 80- han. Namun selanjutnya permasalahan itu dapat diselesaikan dengan baik karena fungsi sesungguhnya yang amat mulia, yaitu wakaf dari Kesultanan Kiutai Kartanegara untuk masyarakat Tenggarong terhadap masjid itu untuk digunakan sebagai tempat ibadah. Demikian apa yang diungkapkan oileh Bapak H. Asmidi, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kutai Kartanegara dan Bapak H. Muhammad Syafei, 54 tahun, Bendahara sementara Masjid Jami Hasanuddin.

Masalah yang berkaitan dengan pertanyaan, “Pernahkah antara seseorang (kelompok) satu dengan orang (kelompok) yang lain saling memperebutkan cagar budaya itu?” Dalam hal ini para responden berbeda jawabannya karena beberapa hal berkaitan dengan obyek kajian atau situs dan benda cagar budaya itu sendiri. Masalahnya amatlah beragam, situs yang satu tidak sama permasalahannya dengan situs yang lainnya. Tetapi terdapat masalah yang hampir sama terutama berkaitan dengan situs makam. Di makam Pangeran Nata Negara terdapat masalah perebutan tanah makam yang dilakukan oleh keluarga al-Marhum. Keluarga al-marhum mengklaim bahwa tanah itu tanah warisan, oleh karena itu yang paling berhak atas tanah itu adalah anak keturunan yang syah, sementara yang mengklaim justru keluarga istri al-marhum yang sebenarnya tidak mempunyai keturunan. Masalah tanah makam Pangeran Nata Negara ini telah diketahui oleh Sultan Kutai Kartanegara yang sekarang yang biasa dipanggil Tuan Prabu. Masalah ini akan selalu menjadi ganjalan keluarga karena belum disertifikatkan. Begitu juga kompleks pemakaman Sultan Alimuddin yang makamnya diikuti oleh menantunya yang kebetulan seorang ulama kesultanan yang bergelar Nata Igama. Ada beberapa orang yang mengklaim sebagian tanah makam ini sebagai milik mereka. tanah makam ini juga belum disertifikatkan. Karena itu akan menjadi masalah yang berlarut-larut. Tanah makam yang belum disertifikatkan juga adalah makam Pahlawan Awang Long meskpun tidak ada yang mempermasalahkannya. Namun berdasarkan penuturan Ahmad Uni, 37 tahun, juru pelihara makam Awang Long bahwa tanah makam ini adalah tanah makam yang dikelola oleh Kelurahan Sukarame. “Semua orang mengetahuinya,” katanya.

Lain tanah makam, lain pula Keraton yang kini dikelola oleh Bidang Permuseuman Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Kalimantan Timur. Pengelolaan dan managemen permuseuman ini pernah dipermasalahkan oleh Bidang Permuseuman Provinsi Kalimantan Timur dengan Bidang Permuseuman Kabupaten Kutai Kartanegara. Karena belum terdapat titik temu antara keduanya maka untuk sementara waktu masing-masing pihak melakukan coolingdown. Munculnya permasalahn ini menjadi promosi yang baik bagi kalangan masyarakat. Terbutkti pengunjung meningkat tajam yang mencapai 200.000 per tahun. Demikian ungkap Bapak Ridwansyah, 54 tahun, Kepala Tata Usaha Museum Mulawarman, Tenggarong.

Berkaitan dengan kuessener, “Apa pendapat Saudara tentang perebutan cagar budaya itu?” Mereka menjawab bahwa sebenarnya jika ada masalah persengketaan situs dan atau benda cagar budaya itu hendaklah diselesaikan dengan cara bermusyawarah dan dengan cara damai, tidak perlu adu kekuatan fisik karena hal itu akan merugikan semua pihak. Hal-hal yang sangat prinsipil dan menjadi akar masalah hendaklah dicari untuk menyelesaikan masalah dengan tuntas. Contoh kasus perselisihan pemanfaatan adalah Masjid Jami Hasanuddin dan Masjid Agung Tenggarong. Para ulama di tenggarong bersepakat untuk mengakhiri permasalahan itu dengan bantuan Sultan Kutai Kartanegara, Pangeran Prabu Sultan Sulaiman II. Sultan mengatakan agar masjid itu digunakan seperti sedia kala, yaitu untuk beribadah dan mendirikan salat Jumat. Maka masjid yang sempat fakum dari peribadatan sejak tahun 1989 kembali berfungsi seperti yang dititahkan Sultan.

Masalah yang menyangkut museum, selama tidak merugikan semua pihak, maka hendaklah dikelola sesuai dengan perundangan yang berlaku. Rupanya para pengelola museum menyadari benar bahwa keberadaan gedung kraton dan tidak semua pegawai merupakan pegawai Propinsi, maka hal ini agar dikembalikan kepada masing-masing pribadi pegawai bersangkutan. Untuk menunjukkan kebesaran Kerajaan/ Kesultanan Kutai Kartanegara masa lalu, maka usaha yang dilakukan oleh pengelola museum ini adalah dengan cara memisahkan koleksi umum Kalimantan Timur dengan koleksi masa Kesultanan Kutai Kartanegara. Koleksi kesultanan akan didisply tersendiri di gedung kraton, sementara koleksi lainnya akan didisply di gedung yang lain yang kini sedang dibangun.

Masalah tanah sekitar situs yang masih belum disertifikatkan maka usaha yang harus dilakukan adalah dengan menertibkan tanah itu, yaitu dengan cara mengurus sertifikat. Demikian respon yang dikemukakan oleh responden. Pembatasan tanah situs hendklah dipertegas dengan pagar. Untuk itu para responden mengharapkan agar batas tanah siutus dipertegas dan dipagar keliling.

Pertanyaan “Jika Saudara mempunyai pengaruh, apa yang hendak Saudara lakukan terhadap cagar budaya yang diperebutkan itu?” yang diajukan kepada responden sangat mengagetkan karena mereka tidak menyangka akan diberi pertanyaan seperti itu. Bapak Habib Abdul Qader, Ketua Yayasan Pendidikan dan Dakwah Darur Rahman mengatakan bahwa apabila kami menjadi orang yang berpengaruh, maka kami akan mengelola situs-situs dan benda cagar budaya itu untuk kepentingan umat. Beliau akan membangun sarana prasarana untuk mendukung keberadaan situs sehingga situs dan benda cagar budaya itu menarik bagi masyarakat yang mengunjungiayan. Tetapi karena beliau menjadi pelopor beridirnya yayasan yang bermaksud menghidupkan dan memanfaatkan situs dengan kegiatan religi, maka beliau akan memperkenalkan bangtunan-bangunan keagamaan itu kepada halayak dan mengajak mereka untuk berwisata religi di Tenggarong, misalnya salat di masjid Jami Hasanuddin yang merupakan masjid kuna pertama di Kaimantan Timur, lalu mereka diajak untuk berziarah ke makam-makam sultan dan para ulama yang membantu penyebaran Islam di Kutai Kartanegara.

Responden lain mengatakan hal yang hampir sama sesuai dengan kepakaran dan minatnya. Tetapi intinya bahwa situs itu akan dilestarikan dan diperbaiki bagian-bagian dan hal-hal yang rusak. Itu tentuya berkaitana dengan penghormatan kepada para leluhur yang telah membangun Kutrai masa lalu.

Masalah yang terakhir adalah: “Menurut Saudara, bagaimana pandangan masyarakat sekitar terhadap perlakuan terhadap cagar budaya itu?” Masyarakat umum mengatakan bahwa perlakuan terhadap situs sangat beragam. Pemerintah daerah mengatakan bahwa situs itu hendaknya dikelola dengan cara-cara standar yang dilandaskan atas undang-undang cagar budaya. Jika bisa maka situs-situs dan benda cagar budaya itu dikelola berdasarkan atas kepentingan bersama dan atas dasar fungsi dan keudukannya, kepentingan masyarakat, terutama masyarakat setempat.

Para awam mengatakan perlakukann terhadap situs ada yang telah baik, namun banyak kekurangannya. Makam-makam kesultanan belum memiliki liflet yang dapat menganatarkan kepada pengetahuan masyarakat luas tentang keberadaan situs itu. Daftar kunjungan pun belum ada. Maka hendaklah hal itu diadakan. Pengunjung lain, Susanti, 17 tahun siswa SMA di Tenggarong mengingatkan agar pengunjung situs tidak menyalahgunakan situs-situs bersejarah itu untuk kemaksiatan. Jika hal itu dilakukan maka akan mencemarkan nama baik para sultan yang telah dikubur di situs-situs itu atau tempat lain yang ada di Tenggarong.


4. Wisata Religi: Konsep Pengembangan dan Pemanfatan Tinggalan Budaya dan Arkeologi di Tenggarong

Wisata yang biasa diartikan melancong adalah sebuah perjalanan yang bertujuan untuk mengunjuni suatu obyek wisata yang diinginkan. Sementara itu, religi adalah sebuah kata yang dapat diartikan sebagai kepercayaan yang dimiliki oleh seseorang atau kelompok. Wisata religi ialah melancong menuju suatu tujuan dan obyek wisata yang diiringi upacara-upara keagamaan.

Berdasarkan data yang telah diuraikan, maka dapat dimengerti bahwa sekalipun masyarakat Tenggarong sangat menghargai tinggalan budaya masa lalu, namun mereka belum banyak mendapatkan manfaat yang lebih dari sekedar mengetahuinya saja. Mereka juga mengharapkan adanya perubahan dengan pengembangan tinggalan-tinggalan budaya yang ada.

Dari pemahaman itu maka akan didapat konsep tentang apa saja yang termasuk aktivitas religi dalam kegiatan wisata ini. Aktivitas religi dapat diuraiakan sebagai berikut:

a. Ziarah, kata ini berasal dari bahasa Arab, “zăr – yazū – ziyăratan” yang artinya “mengunjungi, berziarah” kubur. Ziarah kubur merupakan sunah Nabi Muhammad SAW untuk mengingatkan peziarah itu bahwa dirinya juga akan meninggal dan dikuburkan sebagaimana orang yang telah dikuburkan telebih dahulu itu. Dengan ziarah itu maka mereka manusia akan selalu mengingat kematian yang pasti akan dating menyambutnya. Firman Allah, “kull nafs dzăiqat al-maūt” yang artinya, “bahwa setiap yang bernyawa itu akan mengalami ajalnya”.

b. Tahlil, kata ini berakar dari bahasa Arab “hallal – yuhallil – yuhallil” yang artinya mengucapkan kalimat “lă ilăh illallăh” yang artinya “tiada Tuhan selain Allah” secara berulang-ulang. Membaca tahlil juga dirangkai dengan kalimat-kalimat lain baik yang bersumber dari al_Quran maupun hadits Rasul. Maksud dari tahlil ini adalah untuk mendoakan si-mati yang dimakamkan di sutu kuburan. Ada juga tahlil yang dilakukan pada malam-malam seminggu seseorang meninggal dunia atau waktu-waktu yang biasa untuk tahlil. Dengan tahlil itu diharapkan si-mati akan mendapatkan ampunan Allah SWT.

c. Salat, kata ini juga beradal dari bahasa Arab “salla – yusalli – salătan” yang artinya “berdoa” oleh karena dalam kamus bahasa Inggris, sallă diartikan “pray” yang mempunyai arti yang sama, yaitu berdoa. Salăt juga diartikan “mendoakan Nabi Muhammad SAW. Doa ini dieknal dengan istilah “salwat”. Salat dapat dilakukan di tempat ibadah seperti masjid atau musalla. Salat yang dimaksud bias salat wajib maupun salat sunnat. Wisata religi demikian dimaksudkan untuk salat di masjid atau musalla kuna. Kegiatan demikian sesungguhnya untuk memeberi kesempatan para wisatawan religi untuk beribadah di tempat ibadah yang dibangun oleh para pembesar keultanan maupun ulama terkenal masa lalu. Dengan demikian mereka juga dapat memanfaatkan bangunan tempat ibadah yang telah dibangun oleh para pendahulu. Ini dapat berarti menjadi amal jariah “yang selalu mengalir pahalanya bagi yang mengusahakanna”. Di samping itu mereka juga akan mengagumi bangunan yang mereka saksikan itu.

d. Ceramah, ialah nasehat yang disampaikan oleh seseorang yang alim (pintar) kepada orang lain yang berisi tuntunan agama agar mereka hdup dalam keselamatan di dunia dan akhirat. Dalam ceramah biasanya diajarkan ilmu-ilmu yang berkeitan dengan ajaran Islam. Dalam kaitannya dengan wisata religi, maka ceramah dapat dilakkan di situs atau tinggalan arkeologis yang bersifat keagamaan, misalnya masjid, musalla, makam, dan tempat-tempat lainnya. Ceramah dapat pula berisi tentang pengetahuan berkeitan dengan kunjungan situs dan tinggalan arkeologis yang lainnya agar masyarakat (penunjung) dapat pemahaman yang baik tentang itu. Hendaklah dalam ceramah juga diampaikan tenang baaya syirik, khurafat dan tahayyul agar mereka terhindar dari kekufuran dan terhindar dari kerusakan iman mereka.

e. Dzikir, kata ini juga bersumber dari bahasa Arab “dzakar – yadzkur – dzikr” yang artinya “mengingat, menyebut”, maksudnya adalah mengingat dengan cara menyebut asma (nama=nama) Sang Chalik, Allah SWT. Nama-nama Allah yang tercantum dalam Al-Quran ada 99 (sembilan puluh Sembilan yang tersebar di seluruh surat-suratnya. Dzikir juga dapat dilakukan dengan membaca ayat-ayat al-Quran atau hadits berupa doa yang pendek-pendek dan mudah dihafal, misalnya kata “subhănallăh, wa al-hamd lillăh, wa lă ilăh ill allăh wa allăh akbar, lă haul wa lă quwwat illă bi allăh al-“aliyy al-‘adhĩm” yang artinya “Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada Tuhan selain Allah, dan Dialah Yang Maha Agung, tiada pula daya dan upaya kecuali atas izin-Nya”.

f. Tadabbur, kata ini juga berasal dari bahasa Arab “dabbar – yudabbir – tadabbur” yang mempunyai arti “merenungkan, mengambil hikmah, menganalisa” kejadian alam. Artinya seseorang berusaha untuk memahami kejadian-kejadian dan peristiwa alam, seperti kematian agar mereka senantiasa menginat Allah SWT. sehingga mereka selalu menjalankan kebajikan karena mereka juga akan mengalami hal sama dengan mereka yang sudah meninggal, atau mungkin mereka akan mengalami kejadian yang sangat luar biasa, misalnya tsunami, gempa bumi, kebakaran dll. Tadabbur intinya adalah untuk memahami segala sesuatu yang berkaitan dengan kejadian alam agar mereka mensyukuri nikmat Allah.

g. Tadarrus, kata ini juga berasal dari bahasa Arab “tadarras – yatadarr – tadarrus” yang artinya menderas, selalu membaca dengan tertib ayat-ayat al-Quran. Tadarrus dapat dilakukan di dalam masjid kuna, aula pemakaman dll. Tadarrus itu biasanya diniatkan untuk mendoakan si-mati atau siapa saja dengan niat lillăh ta’ălă karena Allah semata.

Itulah kegiatan yang dapat dilakukan saat wisata religi di situs-situs atau tinggalan arkeologis yang bersifat keagamaan. Sebenarnya semua amalan itu sudah biasa dilakukan oleh para peziarah secara perorangan di situs-situs dan tinggalan arkeologis yang bersifat keagamaan tersebut. Namun demikian, kebiasaan itu mungkin tidak berlaku di situs atau tinggalan arkeologis di tempat yang lain. Di Kalimantan Timur, amalan seperti itu tidak begitu popular sehingga makam-makam para sultan dan para auliya Allah tidak begitu ramai diziarahi oleh masyarakat. Untuk itu maka masyarakat perlu diberi pencerahan tentang hal itu.

Di samping diberi pencerahan tentang amalan-amalan keagamaan, para pengambil kebijakan kebudayaan dan pariwisata juga perlu mempersiapkan saran dan prasarana dalam lingkup tinggalan budaya dan arkeologis di tempatnay bedinas. Persiapan itu untuk menarik minat wisatawan yang tertarik akan tinggalan budaya dan arkeologis keagamaan itu. Sebagai persiapan diperlukan:
a. Penggalian informasi tentang siapa yang berperan aktif dalam penciptaan atau pembuatan konsep tinggalan dan siapa tokoh yang dimakamkan.
b. Penataan tinggalan budaya dan arkeologi yang dipersiapkan untuk tujuan obyek wisata religi.
c. Pembersihan lingkungan tinggalan budaya dan arkeologis yang dujadikan obyek wisata.
d. Pengamanan bagi wisatawan yang melakukan wisata religi di wilayah obyek wisata religi.
e. Persiapan peralatan penunjang wisata religi, misalnya alat-alat pengeras suara, ruang pertemuan, dll.
f. Papan-papan pengumuman dan denah serta petunjuk-petunjuk arah menuju ke obyek wisata.
g. Penawaran kuliner.
h. Persiapan rute-rute perjalanan wisaa religi, misalnya apakah yang pertama kali harus dikunjungi jika lokasi tinggalan budaya dan arkeologi itu sampai pada yang terakhir kali.
i. Persiapan materi wisata religi, jika perlu dicetak dan dapat dipedomani oleh wisatawan.
j. Penawaran cindramata khas wilayah obyek wisata religi.

Semua itu tentu melibatkan pemerintah, masyarakat, LSM dan lainnya. Setelah amalan dan semua komponen tinggalan budaya dan arkeologis yang bersifat keagamaan itu telah dipenuhi, maka diperlukan komitemen pemerintah daerah untuk mengembangkan apa yang disebut dengan konsep wisata religi di kawasan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur.

Wisata religi yang demikian akan ditingkatkan terus sejalan dengan keinginan masyarakat setempat. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kutai Kartanegara merespon dan berkeinginan serta melakukan pembenahan dan mengkonsep “wisata Religi” di Tenggarong. Tentu saja mereka harus bekerjasama dengan masyarakat setempat untuk meningkatkan wisata religi itu dengan konsep ibadah di Masjid Jamik Hasanuddin dan ziarah ke makam suktan-sultan Kutai Kartanegara serta para pembesar kesultanan dan napak tilas keagungan kesultanan itu yang ditandai dengan benda-benda bersejarah yang disimpan di Museum Negeri Mulawarman, Tenggarong. Ini juga sejalan dengan apa yang dilakukan oleh Majlis Taklim Darur Rahman itu.


5. Penutup

Sebagai penutup dapat disimpulkan bahwa di Tenggarong terdapat tinggalan budaya dan arkologis yang bersifat keagamaan, yaitu masjid, makam, dan istana. Selama ini tinggalan-tinggalan budaya dan arkeologis itu belum optimal pengelolaannya. Wisatawan tidak mendapat informasi yang lengkap tentang tinggalan budaya dan arkeologis itu dan tokoh-tokoh yang berperan di belakangnya serta tokoh-tokoh yang dimakamkan itu serta bagaimana sebenarnya peran mereka di masa hidupnya. Oleh karena itu diperlukan suatu konsep yang dapat meningkatkan manfaat tinggalan budaya dan arkeologis itu bagi masyarakat luas. konsep itu harus didasarkan atas konsep wisata religi yang dapat menarik minat masyarakat dalam pemanfaatan obyek wisata itu.


Daftar Pustaka

Adham, D. 2003. Salasilah Kutai. Tenggarong: Bagian Kehumasan dan Keprotokolan Pemerintah Daerah Kabipaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

Munawwir Sadzali. 1986. Al-Quran Al-Karim dan Terjemahannya. Jakarta: Departemen Agama Republik Indonesia.

Sholihjn, Salam 2010. Ritual Kematian Islam Jawa: Pengaruh Tradisi Lokal Indonesia dalam Ritual Kematian Islam. Yogyakarta: Narasi.

Sitangganggang, S.R.H. (Editor). 2006. Pesona Budaya dan Alam Kutai Kartanegara. Tenggarong: Humas dan Protokol Sekretariat Kabupaten Kutai Kartanegara.

Tim Penelitian Arkeologi. 2006. Laporan Hasil Peneltian Arkeologi di Wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara. Tidak terbit.

——–. 2011. Laporan Penelitian Arkeologi Publik di Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara. Tidak terbit.

Yunus, Mahmud. 1990. Kamus Arab – Indonesia. Jakarta: Hidakarya.

 

*MAKALAH PIA 2011