I Wayan Ardika


Pendahuluan

Pariwisata budaya kini ditengarai sebagai salah satu segmen industri pariwisata yang perkembangannya paling cepat. Hal ini dilandasi oleh adanya kecenderungan atau trend baru di kalangan wisatawan untuk mencari sesuatu yang unik dan autentik dari suatu kebudayaan (Richards, 1997; http://en.wikipedia.org/wiki/Heritage_tourism). Hasil studi yang dilakukan oleh Travel Industry Association and Smithsonian Magazine pada tahun 2003 menunjukkan bahwa wisatawan yang mengunjungi situs sejarah dan atraksi budaya umumnya berpendidikan lebih tinggi, dengan pendapatan lebih banyak, tinggal lebih lama dan membelanjakan uangnya lebih banyak dibandingkan dengan jenis wisatawan lainnya (Tien, 2003: 2; http://www.squidoo.com/Heritage_tourism. Pariwisata budaya diyakini memiliki manfaat positif secara ekonomi dan sosial budaya. Jenis pariwisata ini dapat memberikan keuntungan ekonomi kepada masyarakat lokal, dan di sisi lain dapat melestarikan warisan budaya yang sekaligus berfungsi sebagai jati diri masyarakat bersangkutan.

Museum adalah salah satu daya tarik wisata budaya. Artefak atau benda warisan budaya yang menjadi koleksi dan bahan pameran dari suatu museum sering menjadi daya tarik wisata. Aneka ragam benda budaya yang menjadi koleksi sebuah museum biasanya merupakan milik berbagai etnik dan berasal dari beberapa daerah. Dalam konteks ini koleksi museum sesungguhnya mencerminkan pluralisme budaya atau multikultur. Sesuai dengan judul maklah ini maka permasalahan yang akan dibahas berikut adalah bagaimana memanfaatkan museum sebagai salah satu daya tarik wisata yang sekaligus juga dapat menjadi sarana ideologi multikuturalisme. Ideologi multikulturalisme adalah suatu paham atau kesadaran mengapresiasi dan menghormati adanya perbedaan budaya. Selanjutnya juga diuraikan strategi untuk mewujudkan ideologi multikulturalisme melalui benda budaya koleksi museum,


Museum Sebagai Daya Tarik Wisata

Salah satu fungsi museum adalah sebagai tempat menyimpan dan memajang benda warisan budaya (cultural heritage). Museum berfungsi sebagai pengelolaan warisan budaya sesungguhnya memiliki ideologi yang sama dengan pariwisata budaya yakni memberikan informasi dan pelayanan kepada publik dan/atau wisatawan tentang fungsi dan makna suatu artefak ataupun event tertentu. Sebagaiman diketahui bahwa warisan budaya belakangan ini merupakan daya tarik wisata yang sangat signifikan. Wisatawan pada umumnya cenderung ingin memahami tentang asal-usul kebudayaan masa lalu yang dianggap masih autentik. Selain itu, wisatawan juga ingin memahami kebudayaan yang berbeda dengan yang mereka miliki. Dalam konteks ini museum adalah tempat wisatawan untuk dapat melihat dan memahami warisan budaya masa lalu dari etnik lain, yang berasal dari kurun waktu yang berbeda.

Eksibisi dan pengelolaan benda warisan budaya seharusnya diatur sedemikian rupa sehingga menarik minat wisatawan. Informasi yang lengkap dan menarik, serta penataan yang baik tentang warisan budaya akan dapat menjadi daya tarik wisatawan. Dalam hubungan ini kerjasama antar museum dan komponen pariwisata budaya perlu dikembangkan. Museum dapat memamerkan atau memajang benda warisan budaya yang menjadi daya tarik wisata, dan di sisi lain industri pariwisata juga mendapat keuntungan ekeonomi sehingga dapat membantu keberadaan museum sebagai lembaga nirlaba (non profit).

Museum sebagaimana didefinisikan oleh the International Council of Museums (ICOM): A museum is a non profit making, permanent institution in the service of soceity and of its development, and open public, which acquaires, conserves, research, communicates and exhibits, for purposes of study, education and enjoyment, material evidence of people and their environment (Benediktason, 2004: 9). Sebagai lembaga nirlaba (non profit), museum juga perlu dana untuk memelihara koleksi dan kesejahteraan karyawannya. Salah satu sumber dananya dapat diupayakan dari industri pariwisata, sehingga dengan demikian ada hubungan yang saling menguntungkan antara museum dan pariwisata budaya.

Pengelolaan museum di dunia belakangan ini mengalami perubahan paradigma yakni dari pemeliharaan dan perawatan koleksi museum itu sendiri ke pelayanan publik. Museum kini tidak lagi sebagai gudang tempat menyimpan barang-barang antik yang langka, tetapi museum berfungsi sebagai tempat work-shop dan dapat memberi kesan tersendiri kepada pengunjungnya atau wisatawan. Dalam hubungannya dengan pariwisata budaya, museum mempunyai manfaat ekonomi. Kehadiran wisatawan ke suatu museum akan memberikan manfaat ekonomi secara langsung ataupun tidak langsung kepada masyarakat setempat dan industri pariwisata. Selain menciptakan lapangan pekerjaan baru bagi penduduk setempat, wisatawan juga memerlukan akomodasi, makanan, dan shopping atau belanja (Tien, 2003:2-3). Hal ini merupakan manfaat ekonomi dari suatu museum.

Pengelolaan museum sedapat mungkin agar dilakukan secara kluster, baik antar museum maupun dengan komponen . industri pariwisata. Wisatawan akan mendapat kemudahan dan keuntungan ekonomi karena harga tiket atau fee yang harus dibayar biasanya menjadi lebih murah, sehingga jumlah mereka akan meningkat untuk mengunjungi museum. Meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan ke suatu museum yang dikelola secara kluster itu juga berarti keuntungan bagi industri pariwisata. Hal ini dapat memberikan keuntungan kepada masyarakat lokal, wisatawan, dan industri pariwisata (Tien, 2003: 5-9).


Museum Sebagai Sarana Mewujudkan Multikulturalisme

Museum pada awalnya adalah tempat para aristokrat di Eropa untuk menyimpan benda-benda yang ekslusif dan langka yang dilandasi oleh pemikiran Renaisance dan Pencerahan pada abad ke 18. Selanjutnya muncul gagasan baru untuk memungsikan museum sebagai media pendidikan dan pencerahan bagi publik agar mereka lebih beradab dan melaksanakan kehidupan sosial yang lebih baik (Benediktason, 2004: 8).

Makalah ini akan mencoba mengkaji museum sebagai sarana untuk mewujudkan ideologi multikulturalisme. Multikulturalisme adalah ideologi yang mengakui dan mengagungkan perbedaan dalam kesederajatan, baik secara individu maupun kebudayaan (Fay, 1996). Dalam masyarakat multikultural perbedaan budaya, perbedaan etnis, lokalitas, ras, dan lain-lain dilihat sebagai mozaik yang memperindah masyarakat (Ardika, 2011: 5-6).

Perbedaan dan persamaan benda-benda koleksi museum dipandang sebagai landasan dalam multikulturalisme. Fungsi museum kini dilihat sebagai dimensi multikultural yakni peradaban manusia melalui rentang waktu dan tempat. Museum berfungsi sebagai tempat yang netral dimana bertemunya benda-benda budaya yang berbeda dan bersifat lintas budaya (interculture) dan lintas bangsa, namun diperlakukan secara sama dan setara (equal). Dalam hubungan ini museum mempunyai posisi yang bersifat lokal, regional dan internasional.

Museum memberikan peluang kepada kita untuk memahami dan mengapresiasi perbedaan dan merayakan persamaan. Selain itu, museum juga merupakan wahana untuk mengajarkan kepada manusia di dunia bahwa mereka adalah bersaudara sebagai kakak-adik (African American Multicultural Museum. http://webcache.googleusercontent.com/seacrh?hl=id&q=cache:Ibzl75PB864J:http://www… 8/26/2011).

Audien adalah para pihak/stakeholder yang berpengalaman yang datang ke museum untuk memenuhi bermacam-macam tujuan antara lain: rekreasi dan memenuhi pengalaman atau pengembangan diri. Di lain pihak, merupakan kewajiban museum untuk menciptakan metode agar para pihak/stakeholder termasuk wisatawan dapat memahami fungsi dan makna benda-benda koleksi museum.

Di Amerika perbedaan warisan budaya dan etnik dianggap sebagai elemen kuat yang menjadi karakter bangsa tersebut. Koleksi museum dan eksibisi benda-benda warisan budaya merefleksikan keanekaragaman etnik dan sekaligus dijadikan sebagai bahan ajar dan topik tentang multikultur di sekolah-sekolah. Dengan demikian, pendidikan merupakan kunci penting bagaiman mutikulturalisme itu dapat diterima sebagai kesadaran nasional sehingga menjadi kekuatan positif (Donley, 1993:2).

Proyeksi sensus menunjukkan bahwa secara budaya penduduk di Amerika cenderung bervariasi. Istilah yang banyak sekarang digunakan adalah mozaik, dan bukan melting pot. Istilah mozaik melambangkan satu tipe ideal yakni satu dalam perbedaan/keragaman (unity in diversity). Selain mozaik, “salad bowl” (mangkok salad) juga sering digunakan di Amerika untuk menggambarkan keindahan dan kekuatan budaya yang berasal dari beraneka budaya, dan memelihara identitasnya masing-masing dengan tujuan yang sama.

Di Amerika siswa diajarkan untuk memahami multikulturalisme dengan tingkatan atau hirarki sebagai berikut: kesadaran (awareness), memahami/mengerti (understanding), toleran (tolerance/acceptance), dan apresiasi (appreciation)(Donley, 1993:5-6). Dalam upaya mengajarkan kepada siswa tentang multikulturalisme yang perlu dilakukan adalah menghargai budaya sendiri (self esteem), sebelum dapat menghargai budaya orang lain. Menghargai budaya sendiri selanjutnya dapat digunakan sebagai basis untuk membandingkan dengan budaya lain (cross cultural comparisons).

Dalam menginterpretasikan benda-benda budaya koleksi museum yang perlu diperhatikan adalah konteks benda-benda tersebut. Dengan memahami konteksnya maka kita akan lebih dapat memahami fungsi ataupun makna dari suatu artefak.


Strategi Pemanfaatan Museum untuk Pendidikan Multikulturalisme

Ivan Karp dan Stephen Lavine dalam buku Exhibiting Cultures menyatakan bahwa agar pendidikan multikultural efektif museum harus mengubah paradigma dari “museum sebagai bangunan suci (temple) ke museum sebagai forum” (Karp and Lavine 1991 dalam Donley, 1993: 10). Fungsi museum tidak hanya memamerkan benda-benda koleksinya, tetapi memberikan informasi tentang objek tersebut. Berikut beberapa strategi yang perlu dilakukan oleh museum dalam konteks pendidikan multikulturalisme.

  • Menginterpretasikan perbedaan budaya berdasarkan persamaannya

Dalam upaya menanamkan rasa toleransi, menerima/mengakui dan mengapresiasi perbedaan budaya, museum dan sekolah harus selalu ingat tentang konsep multikultural yang pada intinya menyatakan bahwa manusia memiliki kebutuhan dasar dan nilai yang sama, namun cara yang ditempuh mungkin berbeda untuk memebuhi kebutuhan itu dan mengekpresikan nilai-nilai yang dikandungnya. Museum harus dapat membantu pengunjung atau wisatawan guna mengklasifikasikan kebiasaan atau adat dan objek yang aneh dengan cara menginterpretasikan kebutuhan dasar (basic needs) dan nilai-nilai yang memotivasi kebiasaan tersebut.

  • Membuat hubungan dan perbandingan lintas budaya (Cross Cultural Connections and Comparisons)

Perbandingan lintas budaya (cross-cultural comparison) adalah salah satu strategi yang efektif untuk mengajarkan pendidikan multikutural melalui museum. Hal ini dapat dilakukan dengan tema: persamaan dan perbedaan. Tema lain yang juga biasa digunakan dalam pendidikan multikultur adalah perbedaan bentuk dan fungsi benda budaya atau artefak, serta perbandingan mengenai elemen formal dari seni. Dalam melakukan perbandingan lintas budaya agar dihindari adanya kesan penyederhanaan yang berlebihan. Misalnya, fungsi benda seni dalam etnik tertentu belum tentu sama dengan benda sejenis pada etnik yang lain.

  • Menunjukkan Konteknya

Museum sedapat mungkin harus dapat menginterpretasikan fungsi ataupun makna benda-benda koleksinya sesuai dengan konteksnya. Benda-benda seni tidak dilihat dari nilai estetikanya semata, namun juga harus diperhatikan konteksnya apakah bersifat sakral atau profan.

Elemen yang paling penting mengenai konteks suatu benda adalah hubungan antara pembuat dan penggunanya. Pihak pengelola museum harus dapat menunjukkan hubungan pembuat dan pemakai suatu artefak dalam program pemeran, publikasi, dan kegiatan museum lainnya.

  • Menyeimbangkan antara konteks (Ecological) dan komparasi (Cross-cultural) dalam Pameran

Komparasi lintas budaya sering kali tidak dapat menampilkan aspek ekologi dan konteksnya. Museum harus berupaya untuk menyeimbangkan antara style dan interpretasi, serta menjelaskan keuntungan dan kerugian pendekatan tersebut.

  • Mengikutsertakan Masyarakat Pemilik Budaya dalam Pameran

Masyarakat pemilik budaya agar diikutsertakan dalam menginterpretasikan benda-benda koleksi museum. Hal ini menjadi sangat penting untuk mewujudkan fungsi museum sebagai forum dan bukan sebagai temple atau tempat suci.

Benda-benda budaya koleksi museum mencerminkan pluralitas budaya, demikian pula masyarakat ataupun wisatawan yang berkunjung bersifat heterogen. Fenomena ini merupakan dasar yang sangat penting dalam memahami dan mewujudkan museum sebagai sarana pendidikan multikulturalisme.


Penutup

Kecenderungan pariwisata global telah menempatkan musuem sebagai salah satu daya tarik wisata budaya. Wisatawan yang ingin memahami keragaman dan keaslian atau autentisitas budaya menyebabkan museum sebagai salah tempat pilihan kunjungannya. Sebagaimana diketahui bahwa wisatawan yang tertarik dengan budaya biasanya memiliki pendidikan tinggi dan uang yang lebih banyak sehingga mereka cenderung tinggal lebih lama (length of stay) dan membelanjakan uang lebih banyak (high spending) dari jenis wisatawan lain.

Museum biasanya memiliki koleksi benda-benda budaya yang beragam dan berasal dari berbagai etnik atau bangsa. Oleh karena itu, koleksi museum bersifat plural dan multikultur. Koleksi dan pengunjung museum yang bersifat plural atau heterogin dapat dijadikan media untuk pengembangan pendidikan multikulturalisme. Multikulturalisme adalah suatu ideologi yang menghormati perbedaan atas dasar persamaan. Paradigma pengelolaan museum kini harus diubah dari tempat menyimpan barang-barang antik menjadi forum untuk mendiskusikan dan menginterpretasikan benda-benda budaya tersebut sehingga muncul pemahaman, toleransi, dan apresiasi terhadap keanekaragaman dan persamaan budaya untuk mewujudkan ideologi multikulturalisme.


Daftar Pustaka

African American Multicultural Museum. http://webcache.googleusercontent.com/seacrh?hl=id&q=cache:Ibzl75PB864J:http://www… 8/26/2011.

Ardika, I Wayan. 2011. Hubungan Komunitas Tionghoa dan Bali: Perspektif Multikulturalisme. Dalam Sulistyawati. 2011. Integritas Budaya Tionghoa ke dalam Budaya Bali dan Indonesia. Sebuah Bunga Rampai. Hal 1-12. Denpasar: Universitas Udayana.

Benediktason, Gudbrandur. 2004. Museums and Tourism. Stakeholders, Resource and sustainable development. Master’s Dissertation. Musion, Goteberg University.
http://en.wikipedia.org/wiki/Heritage_tourism).
(http://www.squidoo.com/Heritage_tourism).

Casey, Valerie. 2003. The Museum Effect: Gazing from Object to Performence in the Contemporary Cultural-History Museum. Ecole du Louvre.ICHIM Paris 03. http://www.ichim.org

Donley, Susan K. 1993. The Museum as Resource. Pennsylvania Federation of Museums and Historical Organizations. Distributed by American Association of Museums. http://www.learningdesign.com/Porfolio/museum/museumschool.html. 8/26/2011.

Mingetti, Valeria, Andrea Moretti, and Stefano Micelli. 2002. Reengineering the Museum ‘s Role in the Tourism Value Chain: Towards an it Business Model. http://webcache.googleusercontent.com/search?hl=id&q=cache:m9mzDGGtG0wJ:http://ci…. 8/26/2011

Museum and Tourism. http://webcache.googleusercontent.com/search?hl=idq=cache:Iv8APIj53AJ:http://www…. 8/26/2011

Richards, Greg. 1997. Cultural Tourism in Europe. Wallingford: CAB INTERNATIONAL

Tien, Chieh-Ching. The Role of Museum Cluster in the Cultural Tourism Industry. http://webcache.googleusercontent.com/search?hl=id&q=cache:2j_vj6BpVwg:http://www. 8/26/2011.

*MAKALAH PIA 2011