Danang Wahju Utomo
Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Timur

Pada masa Majapahit (1293-1519), daerah Gresik merupakan salah satu wilayah yang berada di pesisir utara Jawa yang memiliki peran penting. Pada waktu itu Gresik merupakan salah satu pintu masuk ke kotaraja Majapahit yang berada di pedalaman. Bahkan dalam sejarah, Gresik dinilai memiliki peranan yang menonjol sebagai salah satu pelabuhan utama dan tempat perdagangan antar bangsa dan negara. Banyak pedagang-pedagang asing yang singgah di Gresik dengan tujuan berdagang sekaligus berdakwah, khususnya para pedagang muslim. Kondisi tersebut masih berlangsung cukup intensif setidaknya hingga abad XVIII. Bahkan ketika di Gresik terdapat dua kabupaten yaitu Gresik (1660-1744) dan Sidayu (1675- ), Gresik masih cukup ramai disinggahi kapal-kapal asing. Hal ini juga akibat dari keberadaan VOC-Belanda (1603) yang berhasil mendirikan loji di Gresik sehingga aktifitas perdagangan masih tetap ramai. Namun demikian hingga pertengahan abad XIV, nama Gresik masih belum muncul dalam sumber-sumber tertulis.

Ada beberapa versi berkaitan dengan toponim Gresik. Dikatakan berasal dari kata Qorrosyaik (Arab) atau Giri-gisik (Jawa). Sementara itu dalam berita Cina disebutkan sebagai T’se-T’sun (=Kersih), sedangkan orang Eropa (Belanda) menyebut dengan Girische dan karena terjadi perubahan pengucapan sehingga berubah menjadi Grissee. Penyebutan Girische oleh orang Belanda tersebut dimaksudkan untuk menyebut penduduk Gresik sebagai orang Giri atau Negara Giri. Penyebutan Grissee ini masih berlangsung hingga tahun 1916.

Adapun tafsiran lain diduga berasal dari kata giri (bhs. Jawa: bukit) yang sangat sesuai dengan lokasi pusat Giri berada di puncak bukit. Giri sebagai pusat pemerintahan didirikan oleh Sunan Giri (Raden Paku bergelar Prabu Satmata) pada tahun 1487 sebagai Kerajaan Giri Kedaton (1487-1506). Namun demikian tafsiran inipun belum sepenuhnya dapat dijadikan acuan mengenai asal muasal nama Gresik. Bahkan beberapa penulis asing menyebut Gresik dengan berbagai istilah yaitu Grisee, Gesih, Geresih, atau Gerwarase. Penulis Portugis menyebut dengan Agazi yang diucapkan Agacime, sedangkan penulis Cina menyebutnya dengan Klisik. Hingga tahun 1970 nama Gerawasi masih digunakan.

Dari sumber tertulis nama Gresik sebenarnya sudah muncul dengan sebutan grasik yang tercantum dalam Prasasti Karang Bogem berangka tahun 1309 Saka (1387), yaitu pada baris 4 : ”…hanata kawulaningang saking grasik…” (Pegeaud, 1960 :173). Tentunya yang dimaksud Grasik disini masih merupakan permukiman kecil dan belum memiliki sebuah struktur birokrasi yang kompleks seperti kota.

Namun demikian tidak dapat dipungkiri bahwa Gresik yang berada di pantai utara Jawa Timur merupakan jalur lalu lintas laut di Laut Jawa dan Selat Madura yang sangat ramai pada saat itu. Bahkan jauh sebelum muncul nama Gresik, diperkirakan di daerah ini sudah muncul komunitas-komunitas kecil sejak jaman Majapahit hingga keruntuhannya, yaitu dari masa pemerintahan Raden Wijaya (1293-1309) sebagai raja pertama hingga pemerintahan Rana Wijaya (1447-1519) yang tercatat sebagai raja terakhir, atau bahkan lebih tua lagi.

Bukti eksisnya Gresik sebagai salah satu tujuan perdagangan tentunya dapat dilihat dari aksessibilitasnya yang dapat dicapai dari arah laut (dari luar) maupun dari sungai (dari pedalaman). Wilayahnya yang langsung berhadapan dengan laut terbuka dengan topografi pantai yang tidak curam sangat memungkinkan kapal-kapal berukuran besar merapat ke pantainya. Selain itu untuk menuju ke pedalaman, terdapat beberapa sungai utama yang melewati wilayah Gresik dan merupakan jalur transportasi air menuju ke pedalaman. Sungai tersebut antara lain Sungai Manyar dan Bengawan Solo, bahkan di sebelah selatan juga terdapat sungai Brantas yang juga berperan penting dalam menyokong keberadaan Gresik sebagai salah satu pelabuhan utama pada masa itu. Tidak mengherankan apabila di sepanjang sungai-sungai tersebut banyak ditemukan jejak sejarah masa lalu yang merupakan bukti otentik dari keberadaan sejarah kuna Gresik di masa lalu.


Beberapa Sumber Tertulis Tua: Bukti Sejarah Kuna Gresik

Belum dapat dipastikan adanya bukti-bukti tertua kehidupan manusia di Gresik, karena hingga saat ini belum pernah ditemukan kerangka manusia purba di Gresik. Batasan yang dimaksud dengan Gresik merupakan wilayah Kabupaten Gresik saat ini, sehingga jika kita berbicara mengenai sejarah kuna Gresik tidak terlepas dari adanya bukti-bukti sejarah tertua di wilayah Kabupaten Gresik secara keseluruhan.

Dari beberapa penelitian arkeologi yang dilakukan di Gresik telah ditemukan bukti sejarah tertua baik berupa prasasti maupun inskripsi. Adanya bukti tertulis tersebut merupakan pijakan dalam menentukan periodesasi perkembangan sejarah suatu kota. Bukti tertulis ini sangat penting karena merupakan sumber primer dalam penyusunan sejarah sebuah kota. Dari beberapa sumber tertulis yang telah ditemukan memberikan gambaran mengenai kehidupan manusia pendukungnya, yaitu: (1) inskripsi pada batu nisan di kompleks makam Leran; (2) Prasasti Leran; (3) Prasasti Gosari; dan (4) Prasasti Karang Bogem.

1. Inskripsi pada kompleks makam Islam kuna di Leran
Inskripsi ini merupakan sumber tertulis tertua yang ditemukan di Gresik. Hasil pembacaan dari inskripsi tersebut menyebutkan nama seorang wanita yaitu Fatimah Binti Maimun Bin Hibatallah, meninggal pada tanggal 7 Rajab 475 H (25 Nopember 1082) (Moquette, 1921:397). Informasi tersebut merupakan bukti kuat yang memberikan petunjuk bahwa pada masa itu telah ada permukiman di Leran (tepi Sungai Manyar, Gresik) dan diduga telah memiliki peran yang cukup penting. Namun setelah Prasasti Leran ini tidak ditemukan lagi kesinambungan sejarah yang dapat menjadi benang merah pada masa-masa kemudian.

2. Prasasti Leran
Sumber tertulis lainnya yang berkaitan dengan Leran adalah sebuah prasasti perunggu (saat ini tersimpan di Museum Nasional Jakarta) yang dikenal dengan Prasasti Leran. Huruf dan bahasa yang digunakan adalah Jawa Kuna, tidak berangka tahun tetapi diperkirakan berasal dari abad XIII M. Isi prasasti menyebutkan sebuah daerah perdikan (sima) yang bernama Leran yang memiliki bangunan suci Hindu tempat Rahyangta Kutik.

3. Prasasti Gosari
Salah satu temuan yang cukup menarik lainnya adalah Prasasti Gosari yang berada di Desa Gosari, Kecamatan Ujungpangkah. Prasasti Gosari beraksara dan berbahasa Jawa Kuna dipahatkan pada dinding karst (batu kapur) yang merupakan rangkaian bukit kapur di Desa Gosari. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional (2010), diperoleh angka tahun 1298 Saka (1376). Bunyi dari Prasasti Gosari sebagai berikuti:
• di[1]wa[2]sa ni ngambal 1298
• duk wi[3]nahon
• denirasanramasamadayamakadi
• sira[4]buyutajrah[5]tali[6]kursi
• rakaduraha[7]no-[8]
yang terjemahannya sebagai berikut:

“tahun 1298 Saka di Ambal waktu itu (tempat ini) didiami oleh beliau san rama samadaya terutama beliau buyut ajarh talikur, beliau (yang) tersingkirkan”.

Keberadaan Prasasti Gosari tersebut juga didukung dengan adanya temuan lain berupa fragmen gerabah beserta tungku pembakarannya (kiln) yang mengindikasikan sebagai tempat industri gerabah tradisional. Kualitas gerabah yang sangat bagus (tipis dan halus) menunjukkan satu perkembangan teknologi pengerjaan gerabah yang sudah sangat maju. Diperkirakan gerabah Gosari ini didistribusikan ke pusat kerajaan Majapahit karena di Trowulan sebagai situs Kerajaan Majapahit banyak ditemukan fragmen gerabah dengan karakteristik yang sama dengan fragmen gerabah dari Gosari tetapi di Trowulan tidak ditemukan tungku pembakarannya. Hal ini menunjukkan telah adanya satu hubungan perdagangan antara wilayah produksi yang berada di daerah pesisir dengan wilayah konsumen yang berada di pedalaman.

4. Prasasti Karang Bogem
Prasasti ini berasal dari tahun 1309 Saka (1387), yang isinya antara lain menyebutkan nama tempat grasik yang mungkin dapat diidentifikasi sebagai Gresik. Toponim grasik ini tercantum dalam kalimat “……hanata kawulaningang saking grasik warigaluh ahutang saketi rong laksa…..” yaitu menceritakan bahwa seorang (nelayan) dari Gresik mempunyai hutang sebesar sekati dua laksa. Diceritakan pula bahwa di Karang Bogem ada seorang Patih Tambak yang bertugas mengurus tambak dan pengumpulan iuran dari sesama nelayan dan petambak lainnya, seperti tercantum dalam kalimat “…..uruhane yen ingong amage haken karange patih tamba karang bogem…..” Prasasti ini berhuruf dan berbahasa Jawa Kuna. Penyebutan tempat yang bernama Karang Bogem tersebut diperkirakan berada di Tanjung Widoro, Mengare (Bungah) yaitu berada di muara Bengawan Solo.

Dari batu nisan di Leran, Prasasti Leran, dan Prasasti Gosari tersebut tidak ditemukan adanya penyebutan tentang Gresik. Adapun penyebutan nama tempat, seperti di Prasasi Leran yang menyebutkan toponim leran sebagai tanah perdikan (sima) dan Prasasti Gosari yang menyebutkan toponim ambal belum memperlihatkan kedudukan Gresik dalam sejarah. Nama Gresik baru disebut dalam Prasasti Karang Bogem sebagai grasik, namun demikian belum dapat dipastikan kedudukannya sebagai kota. Berdasarkan bukti tertulis tersebut menunjukkan bahwa pada masa itu telah ada komunitas manusia yang bermukim di wilayah Kabupaten Gresik meskipun masih dalam bentuk desa atau perkampungan.


Jejak Awal Peradaban Islam di Gresik

1. Makam Fatimah Binti Maimun Bin Hibatallah
Data arkeologis menunjukkan bahwa Islam sudah ada di Jawa pada akhir abad ke XI. Data tersebut berupa inskripsi pada bangunan makam (nisan) yang terdapat di Desa Leran, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik. Kompleks makam Islam kuna tersebut menempati lahan seluas 2.280m², terletak di tepi Sungai Manyar yang merupakan salah satu jalur transportasi air dari daerah pesisir menuju ke pedalaman.

Dalam kompleks pemakaman ini terdapat salah satu makam dengan bangunan cungkup dari batu putih yang memiliki inskripsi Arab pada batu nisannya. Hasil pembacaan dari inskripsi tersebut menyebutkan nama seorang wanita yaitu Fatimah Binti Maimun Bin Hibatallah, meninggal pada tanggal 7 Rajab 475 H atau bertepatan dengan tanggal 25 Nopember 1082 (Moquette, 1921:397). Huruf yang digunakan untuk menulis pada nisan tersebut menggunakan huruf Kuffi (Arab). Bukti tersebut menunjukkan bahwa pada sekitar abad XI sudah ada suatu komunitas Islam di sekitar Gresik. Belum diketahui secara pasti ketokohan dari Fatimah Binti Maimun Bin Hibatallah serta peranannya dalam sejarah Gresik sendiri.

Jadi pada akhir abad XI tersebut merupakan suatu masa di antara pemerintahan raja Airlangga (Jawa Timur) yang turun tahta pada tahun 1042 dengan masa pemerintahan raja-raja Kadiri yang mulai berkuasa pada tahun 1222. Agaknya di tengah masa antara dua mata rantai sejarah ini telah terjadi hubungan antara penduduk yang bermukim di pesisir utara pulau Jawa dengan para pendatang dari luar yang menyebarkan ajaran Islam di Gresik. Dapat dipastikan bahwa hubungan daganglah yang memungkinkan terjadinya pertemuan antara para pendatang yang membawa ajaran Islam di belahan barat dengan orang dari timur yang dahulunya banyak menganut agama Hindu dan Budha.

Dalam sejarah, Fatimah binti Maimun atau dikenal dengan Putri Retno Suwari adalah putri Raja Kamboja, Sultan Machmud Syah Alam. Kedatangannya ke tanah Jawa adalah untuk misi penyebaran agama Islam, dimana pada waktu itu hampir seluruh penduduk Jawa masih menganut ajaran Hindu – Budha. Belum diketahui pasti strategi politik yang digunakan, mengapa untuk penyebaran Islam di tanah Jawa tersebut harus mengirim seorang wanita untuk menyebarkan ajaran Islam.

Kemudian selama kurang lebih 300 tahun tidak ada bukti-bukti material tentang keberadaan Islam di Jawa. Baru pada abad XIV muncul bukti-bukti material tentang keberadaan Islam di Jawa. Bahkan pada masa Majapahit (1294-1478), gelombang kedatangan agama Islam ke Pulau Jawa ini semakin besar dan mencapai puncaknya pada akhir abad XIV. Pada masa inilah di Majapahit banyak dijumpai orang–orang Islam yang bermukim di kotaraja Majapahit. Penganut Islam di Majapahit mendapat tempat tersendiri dalam dinamika kehidupan masyarakat di Kerajaan Majapahit. Hal ini dibuktikan dengan adanya satu kompleks situs pemakaman Islam dari masa Majapahit yang berada di Troloyo, Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Sementara itu di wilayah Aceh tepatnya di daerah Samudera Pasai pada abad XIII sudah berdiri suatu kerajaan yang bercorak Islam. Hal ini dapat dilihat dari batu nisan kepala suatu makam yang ditemukan di Blang Me. Nisan yang bertuliskan huruf Arab tersebut memuat nama As-Sultan Al-Malik Al-Saleh yang meninggal pada tahun 696 H (1297) (Moquetta,1914:10-11).

Keberadaan makam Fatimah Binti Maimun Bin Hibatallah di Gresik merupakan bukti tertua tinggalan bercorak Islam di Indonesia. Hal ini mempertegas peranan Gresik di masa lalu yang sudah eksis sejak lama dan menjadi salah satu tujuan utama perdagangan dari daerah lain. Namun sampai sekarang pengetahuan tentang keberadaan Situs Leran ini masih terbatas, tidak lebih dari apa yang tertulis pada nisan tertua tersebut. Seolah-olah data tentang makam ini berdiri sendiri, belum dicari hubungannya dengan sejarah atau data pendukung lainnya. Berdasarkan data tertulis dan arkeologis, tampak bahwa daerah Leran merupakan salah satu wilayah yang berhubungan dengan proses Islamisasi tertua di pantai utara pulau Jawa, sekaligus sebagai daerah kegiatan ekonomi, terutama di Asia Tenggara

2. Makam Maulana Malik Ibrahim
Berbicara tentang Maulana Malik Ibrahim tentu tidak dapat dilepaskan dari sejarah kota Gresik, karena makamnya ada di kota itu. Gresik adalah salah satu kota pelabuhan kuno di kawasan pantai utara Pulau Jawa. Pada awal abad XV Gresik telah menjadi pelabuhan dagang yang kaya. Banyak pedagang asing dan bumiputera yang berdatangan ke Gresik, diantaranya para pedagang Islam. Di sela-sela kegiatan berdagang inilah para pedagang Islam juga menyebarkan ajaran Islam kepada orang Gresik.

Salah seorang tokoh penyebar ajaran Islam di Gresik adalah Syeh Maulana Malik Ibrahim. Belum diketahui pasti mengenai asal usul orang tuanya. Ada pendapat bahwa Maulana Malik Ibrahim lahir di Kasyan (Persia) tetapi tahun kelahirannya tidak diketahui. Menurut Thomas Stamford Raffles (Letnan Gubernur Inggris di Pulau Jawa pada tahun 1811-1816) dalam kitab History Of Java (1817), Maulana Malik Ibrahim adalah keturunan dari Zainul Abidin bin Hasan bin Ali (Syaidina Ali adalah menantu dari Nabi Muhammad SAW). Kemudian dalam perjalanannya, sempat bermukim di Gujarat (India) lalu menjadi seorang pedagang dan penyiar agama Islam. Belum diketahui pasti kapan masuk dan menyebarkan Islam di Jawa.

Syeh Maulana Malik Ibrahim dikenal pula dengan nama Syeikh Maghribi atau Gribig, lengkapnya Sunan Gribig. Beliau sempat berkelana ke Malaka tetapi akhirnya menetap di Surabaya. Dalam usahanya menyebarkan agama Islam di Surabaya dan sekitarnya, beliau mengajarkan akhlaqul karimah yang baik dan mendirikan pesantren di Ampel Denta. Pesantren ini menjadi besar dan sempat menjadi salah satu pusat syiar Islam yang dapat mengisi dan menentramkan masyarakat yang berada dalam kancah perebutan kekuasaan di Majapahit serta krisis kepercayaan.

Syeh Maulana Malik Ibrahim wafat pada tahun 882 H atau 1419, dan dimakamkan di kota Gresik, sekitar 20 km di sebelah Barat kota Surabaya. Makam Maulana Malik Ibrahim di Gresik merupakan sebuah kompleks pemakaman Islam. Dalam kompleks pemakaman tersebut juga dimakamkan istri dan anaknya. Inskripsi yang ada di makam Malik Ibrahim tidak hanya terdapat pada nisannya, tetapi juga pada badan makam bagian atas. Namun karena terjadi vandalisme maka tulisan tersebut menjadi aus dan sulit untuk dibaca. Bagian yang masih dapat dikenali ialah surat Al-Ikhlas dengan tulisan Kuffi kaku yang dirangkai menjadi satu. Nama Malik dan waktu wafatnya tertulis pada batu nisan secara lengkap.

Kolom tulisan terdiri dari dua buah, yaitu 2 kolom melengkung di bagian atas dan 10 kolom tersusun di bagian bawah. Kedua kolom melengkung di bagian atas terdapat dua ayat. Kedua ayat ini mempunyai latar keimanan kepada Allah SWT bagi umat Islam. Kolom pertama menyatakan kekuasaan Allah SWT yang tidak pernah dikenai sifat kurang, disambung dengan ayat ke 256 yang menyatakan bahwa tidak ada paksaan dalam memeluk agama Islam. Kolom kedua terkait dengan kekuasaan Allah SWT yang Maha Pengatur termasuk di dalamnya tentang kematian manusia. Sedangkan 10 kolom dibagian bawah dapat diartikan, bahwa Malik Ibahim sebagai ulama yang berasal dari masayarakat elit, juga sebagai penguasa, adil dan memperhatikan fakir miskin. Oleh karena itu, sampai sekarang makamnya banyak dikunjungi para peziarah.

Apabila pertanggalan pada nisan Fatimah Binti Maimun dibandingkan dengan nisan Malik Ibrahim maka terdapat perbedaan 200 tahun, makam Fatimah binti Maimun lebih tua daripada makam Malik Ibrahim. Berdasarkan data ini dapat disimpulkan bahwa kedatangan pengaruh Islam ditandai dengan batu nisan Fatimah binti Maimun, sedangkan pertanggalan di batu nisan Malik Ibrahim merupakan kelanjutan perkembangannya.

3. Awal penyebaran Islam melalui aktifitas perdagangan di Gresik berdasarkan sumber berita asing
Berdasarkan berita Cina dari Dinasti Yuan dan Ming sekitar abad XIII–XVI, menyebutkan keadaan kota-kota di pesisir utara Jawa Timur yang juga berfungsi sebagai pelabuhan seperti Tuban (Tu-Phing-Shuh), Gresik (Ts’et-‘un), dan Surabaya (Patsich). Semua pelabuhan tersebut sering dikunjungi oleh kapal-kapal dan saudagar asing seperti dari Arab, Persia dan Portugis (Grouneveldt, 1960:22). Salah satu pelabuhan yang cukup ramai pada abad 13 adalah Tuban, yang merupakan pelabuhan utama Kerajaan Majapahit. Sekitar abad XV, menjelang keruntuhan Majapahit, pelabuhan Tuban mengalami kemunduran. Hal ini disebabkan banyaknya peristiwa perompakan sehingga banyak saudagar dan pedagang mengalihkan perhatiannya ke pelabuhan-pelabuhan di wilayah Gresik yang dianggap relatif lebih aman.

Pada tahun 1416, Ma-Huan mencatat bahwa penduduk di Gresik telah banyak yang menganut Islam. Seperti kita ketahui, bahwa pada masa 1500-1800, di pesisir utara Jawa Timur merupakan pusat aktivitas perdagangan yang ramai. Dengan munculnya Demak sebagai penguasa baru masa Islam, maka pelayaran antara Selat Malaka melalui pesisir utara (Tuban dan Gresik) hingga Maluku menjadi sangat ramai. Berbagai komoditas perdagangan dari berbagai daerah diperdagangkan baik berupa hasil bumi, rempah-rempah maupun barang produksi lainnya. Perdagangan tersebut didominasi para saudagar muslim. Dari sumber Cina tersebut juga diketahui, bahwa pada abad XV, Tuban masih dikunjungi oleh saudagar asing (Grouneveildt 1960 : 32). Secara umum, baik berita Cina, Portugis, Italia dan Belanda yang menyebutkan tentang Gresik pada abad XIV hingga XVII memberi kesan bahwa posisi Gresik sebagai kota pelabuhan dagang tidak penah lepas dari sejarah penyebaran agama Islam (B. Schrike, 1960:18-27).

Sejarah Gresik hampir tidak dapat dipisahkan dengan sejarah perkembangan Islam di Jawa Timur dan Indonesia. Pemberitaan dari para pedagang asing yang pernah singgah di Gresik sudah sangat jelas menceritakan kondisi Gresik dan perkembangannya dari masa ke masa. Selain itu berdasarkan berbagai inskripsi pada makam Islam kuna di Gresik diketahui perkembangan penyebaran Islam di Gresik. Bahkan kita dapat mengetahui peran dan perkembangan penyebaran Islam dari berbagai sumber babad yang dikaji oleh D. L. Monier pada pertengahan pertama abad XIX. Kajian-kajian itu terus berkembang hingga saat ini meskipun hanya melihat Gresik sebagai objek bagi pengkajian tentang penyebaran Islam. Dari berbagai kajian itu terdapat pendapat yang bersifat umum bahwa penyebaran Islam di Jawa dimulai pada abad XIV (Soedjatmoko, et.al., 1975:43 ).


Sunan Giri (1487-1506): Giri Kedhaton (1487-1743) sebagai Awal Pemerintahan di Gresik

Setiap tanggal 9 Maret kota Gresik memperingati hari jadinya. Penetapan hari jadi kota Gresik ini atas pertimbangan kajian sejarah masa silam, yaitu didasarkan pada peristiwa penting yang terjadi pada tanggal 9 Maret 1487 atau bertepatan tanggal 12 Robiul Awal 897 H. Pada saat itu, Sunan Giri dinobatkan sebagai raja Giri Kedaton dengan gelar Prabu Satmata. Peristiwa bersejarah tersebut kemudian dicatat oleh sejarawan bernama Dr. H.J. de Graaf dalam bukunya Geschieden Van Indonesie menulis: “…..is het ogenblik voor Praboe Satmata gekomen om zich aan de weereld tee openbaren. Hij vestig zich op de berg (Sanskriet: Giri) bij Grisse en wordt de eeste der befamde Soenans Van Giri…..” (“…..tibalah saatnya Prabu Satmata memproklamirkan dirinya kepada dunia. Beliau berkedudukan di atas bukit dekat Gresik dan menjadi orang pertama yang paling terkenal dari Sunan-sunan yang ada…..”)

Penobatan Sunan Giri sebagai raja tersebut bisa diartikan sebagai tonggak sejarah lahirnya dinasti pemerintahan baru di Kerajaan Giri Kedaton. Perlu diketahui sebelum Kerajaan Giri Kedaton berdiri Gresik merupakan bagian wilayah “hegemoni” Kerajaan Majaphit. Bukti tentang itu bisa dilihat dari Prasasti Karang Bogem berangka tahun 1387 yang isinya antara lain menetapkan seorang penguasa lokal bernama Patih Tambak yang tugasnya mengurusi pajak hasil tambak yang harus disetor ke Majapahit. Lokasi Karang Bogem sendiri diperkirakan berada di Tanjung Widoro Mengare, Bungah (berada di muara Bengawan Solo).

Semenjak Sunan Giri membangun imperium pemerintahan kerajaan di Giri Kedaton praktis hubungan Gresik dengan Majapahit mengalami gangguan. Majapahit menempatkan Giri Kedaton sebagai rival dan Sunan Giri sebagai musuh bebuyutan. Berbagai percobaan pembunuhan terhadap Sunan Giri sering dilakukan namun selalu gagal. Pada masa pemerintahan Sunan Giri, Kerajaan Giri Kedaton terus berkembang pesat. Ibu kota kerajaan dibangun istana lengkap dengan taman sarinya, masjid, tempat pengajaran agama, dan asrama untuk santri. Khusus untuk aktivitas dakwah dalam rangka syiar agama Islam ini, Dr. H. J. de Graaf menuliskan dalam bukunya “Geschiedenis Van Indonesie”, sebagai berikut: “……..Murid-murid berdatangan dari segala penjuru, bahkan Maluku, beberapa daerah di sebelah timur Gresik telah menyatakan bahwa dari Girilah tersebarnya Islam seperti : Madura, Lombok, Makasar, Hittoe dan Ternate……”. Hal ini menunjukkan bahwa Giri tidak hanya sebagai pusat pemerintahan tetapi juga sebagai pusat syiar ajaran Islam yang menyebar hingga ke seluruh pelosok nusantara. Bersamaan runtuhnya Majapahit maka Kerajaan Giri Kedaton semakin menunjukkan kebesarannya. Sunan Giri dengan Giri Kedatonnya begitu kesohor dan oleh karenanya sering dijadikan pusat rujukan kerajaan-kerajaan Islam lain. Bahkan istana Giri Kedaton juga pernah dijadikan sebagai tempat pelantikan beberapa pembesar kerajaan lain.

Sebagaimana sebuah “imperium kekuasaan” Kerajaan Giri Kedaton pun beralih dari satu dinasti ke dinasti yang lain. Berdasakan sumber Babad Gresik diawali pemerintahan Sunan Giri (1487-1506), Sunan Dalem (1506-1545), Sunan Sedomargi (1545-1548), dan Sunan Prapen (1548-1625). Ada perbedaan angka tahun periodesasi pemerintahan di Giri Kedaton berdasarkan Babad Gresik dengan yang disusun J.A.B. Wisselius (dalam Historisch Onderzoek, Naar de Geestelijke en Wereldlijke: Suprematie van Grisse op Midden en Oost Java). Menurutnya periodesasi pemerintahan di Giri Kedaton adalah sebagai berikut: Sunan Giri (1487-1511), Sunan Dalem (1511-1551), Sunan Sedomargi (1551-1553), Sunan Prapen (1553-1587), Sunan Kawis Guwo (1587-1601), Panembahan Kawis Guwo (1601-1614), Panembahan Agung (1614-1638), Panembahan Mas Witana (1638-1660), Pangeran Puspa Ita (1660-1680), Pangeran Wirayadi ( -1703), Pangeran Singonegoro ( -1725), dan dinasti Giri Kedaton yang terakhir adalah Pangeran Singosari ( -1743) adalah rangkaian imperium yang telah berjasa membangun tonggak pemerintahan kerajaan di Giri Kedaton. Segala kebesaran yang pernah diraih dinasti-dinasti tersebut pantaslah kita kenang. Pada saat Pangeran Puspa Ita berkuasa di Giri Kedaton, wilayah Gresik sendiri sebenarnya telah mengalami era baru pemerintahan yaitu ketika berubah menjadi Kabupaten Gresik (1660-1744) disebut Kanoman dan Kabupaten Sidayu (1675-1910) disebut Kasepuhan. Jadi diduga ketika para pangeran masih berkuasa, Giri Kedaton sudah tidak memiliki pengaruh secara politis dan digantikan peranannya dengan pemerintahan kabupaten (Gresik dan Sidayu).

Menurut Serat Centhini, Raja (Brawijaya) Majapahit menganggap Giri Kedhaton sebagai saingan beratnya. Oleh karena itu, raja Majapahit ini melakukan dua kali penaklukan terhadap Kewalian Giri. Pertama pada masa Kanjeng Sunan Giri I dan kedua pada masa Kanjeng Sunan Giri Prapen. Kewalian Giri dianggap telah menjadi kekuatan tandingan yang hendak menyaingi wibawa dan kekuasaan istana Majapahit. Serangan pertama ini gagal total karena kuatnya pertahanan Giri Kedaton. Atas keberhasilan mempertahankan salah satu pusat syiar Islam di Jawa, maka Sunan Kalijaga mengusulkan untuk memberikan gelar Prabu Satmata.

Di kalangan Wali Sanga, Sunan Giri juga dikenal sebagai ahli politik dan ketatanegaraan. Ia pernah menyusun peraturan ketataprajaan dan pedoman tata cara di keraton. Pandangan politiknyapun dijadikan rujukan. Ketika Raden Fatah melepaskan diri dari Majapahit, Sunan Giri dipercaya untuk meletakkan dasar-dasar kerajaan masa perintisan atau ahlal-halli wa al-‘aqd di Bintoro.

Menurut Graaf, sebagaimana dikutip oleh Ricklefs (1974) lahirnya berbagai kerajaan Islam, seperti Demak, Pajang, dan Mataram, tidak lepas dari peranan Sunan Giri. Pengaruhnya melintas sampai ke luar Jawa, seperti Makassar, Hitu, dan Ternate. Konon, seorang raja barulah sah kerajaannya kalau sudah direstui Sunan Giri. Pengaruh Sunan Giri tercatat dalam naskah sejarah Through Account of Ambon, serta berita orang Portugis dan Belanda di Kepulauan Maluku. Dalam naskah tersebut, kedudukan Sunan Giri disamakan dengan Paus bagi umat Katolik Roma, atau Khalifah bagi umat Islam. Dalam Babad Demak pun, peran Sunan Giri tercatat sebagai tokoh penting dalan penyebaran ajaran Islam di Jawa.

Perjuangan dan pemerintahan Sunan Giri ini semakin kokoh karena dalam menjalankan pemerintahannya menggunakan jalur agama, ekonomi, politik, budaya dan pendidikan. Diriwayatkan dalam Babad Gresik, pada malam Jum’at, 24 Rabi’ul Awwal 913 H (1428 Saka atau 1506) Sunan Giri wafat pada usia 63 tahun. Giri Kedhaton bertahan hingga 200 tahun. Salah seorang penerusnya, Pangeran Singosari, dikenal sebagai tokoh paling gigih menentang kolusi VOC dan Amangkurat II pada abad XVIII. Menurut Babad Hing Gresik, Sunan Giri wafat pada tahun 1428 Saka atau 1506 dan dimakamkan di Giri (gunung) Gajah.


Gresik (1660-1744) sebagai Kabupaten: Periode Giri dan Gresik

Menurut Wiselius, ketika Giri Kedaton mengalami kemunduran gelar Panembahan diubah menjadi Pangeran yang bermakna sebagai lambang kekuasaan duniawi, bukan spiritual. Namun demikian pemerintahan di Giri Kedaton masih mendapat pengakuan. Sementara itu di Gresik sendiri terbentuk pemerintahan kabupaten yang merupakan bagian dari Mataram (1660), yang dipimpin oleh bupati sebagai berikut: Bupati Gresik Nala Dika (1660-1680), Bupati K.T. Pusponegoro I (1695-1730), Bupati K.T. Astra Negara (tidak diketahui periodesasinya), dan Bupati K.T. Pusponegoro II ( -1744). Pada masa ini Bupati Gresik bersama-sama memimpin dengan para pangeran di Giri Kedaton, sehingga pada masa ini disebut dengan periodesasi Giri dan Gresik.

Pada periodesasi Giri dan Gresik inilah terjadi peristiwa bersejarah yaitu pecahnya perang Trunojoyo yang melawan Raja Mataram Amangkurat I dan Amangkurat II terjadi pada tahun 1675-1679. Peristiwa lainnya adalah terjadinya konspirasi antara Bupati (Kanoman) Gresik Pusponegoro II dengan penguasa Giri Pangeran Singosari yang akan merebut kekuasaan Bupati (Kasepuhan) Sidayu Jayanegara. Konspirasi tersebut berhasil diredam dengan bantuan kompeni (Belanda), sehingga Pangeran Singosari berhasil diusir dari Giri melarikan diri ke Japan (Bojonegoro) dan meninggal di Desa Bekukul, sedangkan Pusponegoro II diberhentikan sebagai bupati Gresik dan dibuang ke Betawi (Jakarta).


Kabupaten Sidayu (1675-1910): Gresik Pasca Giri Kedaton

Kalau kita melintas di jalur Pantura (Jalan Pos Daendels) tepat dipertigaan Sidayu kita akan melihat alun-alun kota yang jarang kita temui di kota sekelas Kecamatan. Alun-alun Sidayu yang luasnya tiga kali lipat alun-alun kota Gresik ini, tampak sangat berwibawa karena dikelilingi bangunan tua yang memberi kesan Sidayu bukanlah kota kemarin sore, bahkan pernah menjadi kabupaten yang wilayahnya meliputi kota Gresik sekarang.

Pemerintahan Kabupaten Sidayu mulai didirikan tahun 1675 dengan Bupati pertamanya bernama Raden Keromo Wijaya. Dari tahun 1675 hingga Kabupaten Sidayu dirubah statusnya oleh pemerintah Kolonial Belanda menjadi Countelir (Perwakilan) tahun 1910, telah dilantik 10 orang Bupati. Dari 10 Bupati yang pernah memerintah di Sidayu tentunya masing-masing membawa cerita yang turut mewarnai perkembangan Sidayu berikutnya.

Berbicara masalah Sidayu tidak bisa terlepas dari peran Kanjeng Sepuh, salah satu Bupati yang terkenal pada masanya. Berdasarkan keterangan sejarah yang dihimpun oleh almarhum KH. Ridwan Ahmad dan putranya KH. Suhail Ridwan bahwa Kanjeng Sepuh sebenarnya adalah Bupati Sidayu VIII (ke delapan). Dia menjabat antara tahun 1817 hingga meninggal tanggal 9 Maret 1856. Nama aslinya adalah Raden Adipati Soeryodiningrat. Bupati Kanjeng Sepuh (Adipati Soeryo Adiningrat) khususnya bagi masyarakat Sidayu dan Lamongan merupakan bupati yang paling terkenal karena telah banyak jasa yang ditorehkan. Dia dikenal sebagai sosok pemimpin yang mempunyai dua kelebihan, yaitu ilmu lahir dan ilmu batin.

Kanjeng Sepuh merupakan darah biru keturunan raja dari Surakarta Hadiningrat atau Keraton Solo. Berdasarkan silsilah yang ada Kanjeng Sepuh adalah putra selir Pakubuwono III Senopati ing Ngalogo Ngabdurrahman Sayidin (Sayid Abdulrachman) Panatagama Khalifatullah. Dalam istilah masyarakat Kanjeng Sepuh merupakan keturunan Sinuwun Solo.

Sidayu sendiri berdasarkan keterangan buku “Kerajaan Islam Pertama di Jawa” karangan sejarawan Belanda Dr. H. J. de Graaf dan Th. Pegeaud disebutkan “babat alasnya” pertamakali dirintis seorang pande besi bernama Empu Supa. Sidayu (daerah antara Tuban dan Gresik) merupakan hadiah Raja Majapahit atas keberhasilan Empu Supa mengembalikan keris kerajaan bernama Sumelang Gandring yang dicuri Raja Blambangan.


Daftar Pustaka

Anonim, 1995. Kompleks makam Sunan Prapen-Gresik, Mojokerto: Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Timur,

———-, 1991. Kota Gresik sebuah Perspektif Sejarah dan Hari Jadi. Gresik: Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Gresik.

———-, 1995. “Penelitian Arkeologi Kota di Gresik, Jawa Timur”, Jurnal Penelitian Arkeologi, No. 2. Yogyakarta: Balai Arkeologi.

———-, 2003. Warta Kediri, Media Informasi Pemerintah Kabupaten Gresik No. 42 (Pebruari).

Djajusman, 1975. Laporan Hasil Pemugaran Cungkup Makam Panembahan Kawisguwo, Kompleks Makam Sunan Prapen-Gresik. Mojokerto: Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Timur.

Graaf, H. J. de dan Th. G. Th. Pigeaud, 1989. Kerajaa-Kerajaan Islam Pertama di Jawa, Kajian Sejarah Politik Abad ke-15 dan ke-16. Cetakan ketiga. Jakarta: PT. Pustaka Utama Grafiti (Grafitipers).

Harkatiningsih, Naniek, dkk., 1997/1998. Laporan Penelitian Situs Pasucinan, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik, Provinsi Jawa Timur, No. 48. Jakarta: Proyek Penelitian Arkeologi Jakarta.

Hasyim, Umar, 1976. Sunan Giri. Kudus

Hatmadji, Tri, t.t. Jejak Para Wali dan Ziarah Spritual. Klaten: Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah.

Poesponegoro, Marwati Djoened dan Nugroho Notosusanto, 1984. Sejarah Nasional Indonesia III. Jakarta: PN. Balai Pustaka.

Soekadri, Heru, 1977. Dari Hujunggaluh ke Çūrabhaya (Menggali Tanggal Lahirnya Surabaya). Surabaya: Jurusan Sejarah FKIS – IKIP Surabaya.

Suhadi, Machi, dkk., 1994/1995. Makam-Makam Wali Sanga di Jawa. Jakarta: Departemen Pandidikan dan Kebudayaan

Suprapto, Untung, 1989. Mengenal Kepurbakalaan Islam di Pesisir Utara Jawa Timur.

Umiati, N.S., 2003. Peninggalan Sejarah dan Kepurbakalaan Makam Islam di Jawa Timur, Surabaya: Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Jawa Timur.

Wisselius, J.A.B., 1878. “Historisch Onderzoek, naar de Geestelijke en Wereldlijke: Suprematie van Grissee op Midden en Oost Java”, TBG. XXIII.

Zainuddin, Oemar, 2010. Kota Gresik 1896-1916 Sejarah Sosial Budaya dan Ekonomi. Jakarta: Ruas.

*MAKALAH PIA 2011

Iklan