Eka Asih Putrina Taim, S.S., M.Si.
Puslitbang Arkenas

Kerajaan Sriwijaya merupakan kerajaan maritime terbesar di Asia Tenggara pada abad VI hingga XIII M. Hingga saat ini dimana saja dan seberapa luas kerajaan besar ini masih belum dapat ditentukan. Di Indonesia, temuan-temuan arkeologis yang menunjukkan sisa-sisa kerajaan ini sebagian besar terdapat di wilayah Sumatera bagian Selatan. Seiring dengan waktu, temuan-temuan sisa atau jejak dari peradaban Sriwijaya mulai bermunculan di luar wilayah Sumatera Selatan. Salah satu situs yang mengindikasikan jejak peradaban tersebut adalah situs Padang Candi, Taluk Kuantan, Kuantan Sengingi Provinsi Riau Daratan.

Wilayah Riau pertama kali dihubungkan dengan salah satu prasasti Sriwiajaya ketika Purbatjaraka menafsirkan kata yang disebut dalam prasati Kedukan Bukit 682 M sebagai tempat asal dari Dapunta Hyang bernama “Minanga Tamwan” adalah berada di wilayah Riau. Menurut beliau , berdasarkan etimologi “minanga “ berarti kuala atau muara dan “tamwan” berarti temuan atau pertemuan sehingga tempat tersebut adalah adalah tempat pertemuan muara , yang dalam hal ini berada di wilayah pertemuan dua buah muara yang terletak di Riau , yaitu Kampar Kiri dan Kampar Kanan ( Poerbatjaraka , 1952, hal 34). Sementara itu Alm. Prof. Buchari menghubungkan “ minanga ” dengan Kuala atau Muara yang dalam bentuk “krămă” berarti Kuantan, dan wilayah hulu Sungai Indragiri juga disebut Batang Kuantan. Dengan demikian kemungkinan besar “Minanga” berada di suatu tempat di tepi Batang Kuantan ( Buchari , 1979; 27-28).

Keterangan di atas tetap gelap hingga pada beberapa tahun terakhir di dusun Botuang desa Padang Candi Kabupaten Batang Kuantan di laporan oleh masyrakat setempat akan adanya temuan-temuan peninggalan purbakala di desa mereka. Berdasar keterangan masyarakat, di situs Padang Candi sering didapat beragam pecahan keramik serta bata berbagai ukuran. Dusun Botuang ini banyak tinggalan-tinggalan arkeologi yang sering ditemukan penduduk setempat secara tak sengaja, sewaktu menggali tanah untuk berkebun dan atau hanya sekedar menata halaman rumah, seperti perhiasan yang terbuat dari emas: cincin, kalung, gelang, juga jarum penjahit dan mata kail. Menurut cerita penduduk setempat, Herlita menceritakan awal temuan ini, ketika salah seorang penduduk bermimpi didatangi orang tak dikenal untuk menggali sebuah guci yang berisikan perhiasan, setelah digali ditempat yang ditunjukkan orang tak dikenal dalam mimpim itu. Namun sayang guci itu kembali membenamkan diri, karena “Sewaktu bermimpi guci itu minta didarahi dengan darah Kambing Hitam, karena sulit didapat diganti dengan darah Anjing Hitam, makanya dia kembali tenggelam kedalam tanah,” terang Herlita.Hal ini dibenarkan oleh Rabu Jailani Kepala Dusun Botuang, “semenjak itu banyak masyarakat yang mengambil tanah disekitar bekas penggalian guci itu untuk didulang di Sungai Salo, dan menemukan emas, malahan ada yang telah berbentuk cincin, gelang, mata kail dan jarum penjahit, kejadiannya sekitar tahun tujuh puluhan,” kata Rabu Jailani. Karena suatu hal penggalian dibekas ditemukannya guci itu dihentikan atas kesepakatan tokoh-tokoh adat Kenegerian Koto Lubuk Jambi Gajah Tunggal.

Lokasi Situs Padang Candi, Dusun Betuang, Desa Salo, Kuantan Sengingi, Taluk Kuantan, Riau

Selain perhiasan yang terbuat dari emas yang paling sering ditemukan penduduk setempat adalah batu bata kuno, berukuran sekitar satu jengkal kali dua jengkal persegi—jengkal orang dewasa. “Kalau kita gali dengan kedalaman sekitar satu meter saja, kita bisa menemukan batu bata kuno ini masih tersusun rapi didalam tanah,” kata Rabu Jailani. Dari ditemukannya batu bata kuno tersebut banyak dilakukan penelitian-penelitian dan penggalian-penggalian. Pada tahun 1955 pernah dilakukan penggalian dan menemukan Arca sebesar botol, dan Arca tersebut sampai sekarang tidak diketahui lagi keberadaannya.

Keberadaan artefak-artefak emas ini dimungkinkan karena Taluk Kuantan terletak pada bagian hulu sungai Indragiri. Pada masa lalu , sungai ini digunakan untuk membawa emas yang ditambang di daerah Sumatera Barat ke pesisir pantai timur Sumatra. Tulisan ini memberikan gambaran awal dari situs Padang Candi dan potensi sekaligus kendala yang menyertainya.


Kondisi Situs

Secara administratif situs Padang Candi berada pada Dusun IV Betung (“Botuang”), Desa Sangau, Kecamatan Kuantan Mudik, Kabupaten Kuantan Singingi, sedangkan secara astronomis situs berada pada koordinat 00° 39.578’ LS dan 101° 28.978’ BT. Situs ini berada di areal permukiman penduduk dan lahan pertanian yang ditanami palawija dan karet. Dekat situs mengalir Sungai / Batang Salo yang masih merupakan DAS Batang Kuantan.

Situasi Padang Candi dan keletakan kotak-kotak ekskavasi

Beberapa tempat di wilayah Dusun IV Betung, Desa Sangau, dicurigai merupakan areal yang mengandung tinggalan arkeologis hal itu diindikasikan oleh banyaknya bata maupun pecahan bata dan batuan sedimen yang menunjukkan adanya bekas pengerjaan, serta temuan artefaktual lain oleh warga masyarakat baik di permukaan tanah maupun di bawah permukaan tanah sewaktu mereka menggarap lahannya. Berdasarkan sumber tutur setempat, masyarakat seringkali menemukan fragmen benda-benda logam mulia antara lain ada yang berbentuk kalung, sementara warga yang lain mengaku menemukan lembaran emas bertulisan, selain itu mereka juga menceritakan adanya kegiatan penggalian liar untuk mencari benda-benda berharga di sekitar situs. Di antaranya -konon- berhasil menemukan sejumlah benda-benda keramik berwarna kehijauan. Tempat-tempat di mana warga masyarakat mengaku menemukan -benda-benda itu serta sejumlah artefak yang masih tampak di atas permukaan tanah seperti konsentrasi bata serta batuan sedimen- merupakan suatu bentang lahan dengan ketinggian relatif tinggi dibanding lokasi di sekelilingnya. Jika dilihat sepintas seolah-olah lokasi ditemukannya artefak-artefak itu dikelilingi oleh tempat-tempat yang lebih rendah dan lebih basah yang kini dimanfaatkan sebagai lahan persawahan padi.


Hasil Penelitian

Beberapa penelitian telah dilakukan di situs ini, baik oleh Balai Arkeologi Medan maupun Pemerintah Daerah Provinsi Riau bekerjasama dengan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, berhasil mengungkapkan temuan –temuan yang cukup penting dari situs ini. Temuan-temuan tersebut antara lain susunan struktur bata yang mengindikasikan sebuah sisa bangunan yang cukup besar, pecahan –pecahan tembikar dan keramik asing , serta lempengan prasasti emas. Dari hasil analisa bentuk, meski hanya sekitar 25% saja dari seluruh temuan pecahan yang dapat diketahui bentuk asalnya. Pecahan tembikar yang ditemukan di situs ini terdiri dari tutup; kendi ; periuk dan tembikar jenis fine paste ware merupakan tembikar non local umumnya ditemukan dalam bentuk kendi.

Pecahan Cucuk Kendi dan Tutup Tembikar Temuan Ekskavasi Padang Candi 2010

Temuan lain yang berbentuk pecahan wadah adalah dari jenis keramik asing (non local). Pada jenis temuan ini analisis tidak saja dalam bentuk asal (utuh) pecahan tersebut, tetapi juga analisis tempat asal dan asal masa (priode) keramik tersebut dibuat. Dari analisis bentuk asal (utuh ) pecahan keramik asing di situs Padang Candi terdiri dari bentuk wadah : mangkuk, tempayan, guci, buli-buli (guci kecil), pasu, vas, tutup dan beberapa pecahan sudah sudah sangat sulit untuk diketahui lagi bentuk asalnya. Hasil analisa periode masa dan asal keramik asing yang ditemukan di situs ini dapat dilihat pada grafik berikut:

Nampak dalam table kronologi di atas bahwa keramik Cina masa dynasty Song khususnya masa dynasty Song utara abad 11-12 M merupakan keramik yang terbanyak ditemukan. Populasi keramik asing kedua yang terbanyak ditemukan adalah keramik masa 5 dinasty atau masa dinasti Tang akhir yaitu abad 9- 10 M dari jenis Yue ware. Keramik Cina lainnya yang ditemukan di situs ini adalah keramik masa dynasty Yuan abad 13-14 M dan keramik masa dinasty Ming dari abad 16-17M jenis Swatow ware. Selain keramik asal Cina , keramik asing asal Asia Tenggara juga ditemukan antara lain keramik Vietnam (atau Annamese Ware) dan keramik Thailand , keduanya berasal dari abad 15-16 M.

Pecahan tepian dan dasar mangkuk Cina masa 5 dinasty (Tang Akhir) 9-10 M dan Song dinasty 10-11 M

Pecahan tepian dan dasar mangkuk Cina masa 5 dinasty (Tang Akhir) 9-10 M dan Song dinasty 10-11 M

Temuan yang cukup signifikan pada situs ini adalah temuan berupa prasasti lempengan emas. Prasasti ini berjumlah 2 buah ini ditemukan olah penduduk setempat ketika membangun fondasi rumah dalam bentuk gulungan. Prasasti pertama, berukuran panjang 8 cm , lebar 3 cm , tebal 1 mm bertulisan aksara Jawa Kuna dan berbahasa Sanskerta. Berdasarkan hasil pembacaan oleh epigraf Dr. Rita M.S., prasasti tersebut berisikan mantra-mantra agama Buddha. (Soedewo , Ery ; 2009)

Lembar prasasti emas dari situs Padang Candi , menggunakan aksara Jawa Tengah dan Berbahasa Sansekerta (abad 8-19M) ( Dr. Rita M.S.) dokumentasi Balai Arkeologi Medan .

Lembar prasasti kedua yang ditemukan tidak jauh dari lembar pertama, tidak begitu dapat di baca karena kondisi huruf/aksaranya sudah tidak begitu jelas. Prasasti yang kedua ini ditemukan dalam kondisi tergulung ( sama seperti prasasti pertama) dan di tengah gulunga tersebut terdapat batu mulia (mirah?) yang sudah terbelah ( Eka Asih P. Taim, dkk:2010)

Gulungan /Lembaran Prasasti Emas Kedua yang ditemukan Penduduk


Kondisi Sosial Budaya Masyarakat

Kabupaten Kuantan Singingi terdiri dari dataran rendah dan dataran tinggi kira kira 400 m di atas permukaan laut. Dataran tinggi di daerah ini cenderung berangin dan berbukit dengan kecenderungan 5–300. Dataran tinggi berbukit mencapai ketinggian 400-800 m di atas permukaan laut dan merupakan bagian dari jajaran Bukit Barisan.

Terdapat dua sungai besar yang melintasi wilayah Kabupaten Kuantan Singingi yaitu Sungai Kuantan dan Sungai Singingi. Peranan sungai tersebut sangat penting terutama sebagai sarana transportasi, sumber air bersih, budi daya perikanan dan dapat dijadikan sumberdaya buatan untuk mengahasilkan suplai listrik tenaga air. Daerah Aliran Sungai (DAS) Sungai Kuantan mengaliri 9 (sembilan) kecamatan yaitu Kecamatan Hulu Kuantan, Kecamatan Kuantan Mudik, Kecamatan Gunung Toar, Kecamatan Kuantan Tengah, Kecamatan Benai, Kecamatan Pangean, Kecamatan Kuantan Hilir, Kecamatan Inuman dan Kecamatan Cerenti.

Berdasarkan Sensus Penduduk 2010, jumlah penduduk Kuansing sebanyak 291.044 jiwa (Penduduk Kuansing 291.044 Jiwa, Riaupos.co.id, 9 Desember 2010). Mayoritas dari mereka adalah Suku Minangkabau, diikuti oleh Suku Melayu, serta para transmigran asal Jawa. Mata pencarian utama penduduk di daerah ini sebagian besar bertani, sementara yang lainnya bekerja pada bidang jasa, perdagangan, dan pegawai negeri.

Situs Padang Candi sendiri termasuk kedalam wilayah desa Boutuang ( desa Betung) sekitar ½ jam dari pusat kota Taluk Kuantan. Meskipun sebelum tahun 1955 di wilayah dusun Boutuang ini telah ditemukan banyak peninggalan purbakala seperti arca dan barang-barang emas lainnya, belum ada tanggapan serius dari pemerintah setempat. Kondisi dusun Botuang terletak di tepian sungai/batang Kuantan merupakan lahan rendah dimanfaatkan sebagai sawah dan dataran berbukit-bukit yang dimanfaatkan sebagai permukiman penduduk. Temuan-temuan arkeologis umumnya ditemukan pada lahan berbukit-bukit yang juga merupakan lahan permukiman penduduk. Meski telah banyak ragam artefak dan peninggalan sejarah yang ditemukan penduduk namun hanya segelintir yang masih dapat ditemui saat ini karena sebagian besar darinya telah dijual atau dipindah tangankan.

Pada tahun 2005 Balai Arkeologi Medan melakukan penelitian untuk pertamakalinya di desa ini. Dari hasil penelitian ini, selain artefak-artefak lepas yang ditemukan penduduk, melalui kegiatan ekskavasi berhasil mengungkapkan sisa –sisa susunan struktur bangunan dari bata merah pada lereng salah satu bukit ( bukit terbesar disebut “bukit betung”). Temuan struktur lain yang ditemukan tidak jauh dari permukiman penduduk juga berupa susunan sisa struktur batu . Penelitian ini dapat berlangsung atas izin dari pemilik tanah atau kebun tempat dilaksanakan penggalian. Pada penelitian selanjutnya tahun 2007 dilakukan oleh Dinas Kebudayaan Provinsi Riau Daratan namun penelitian yang kedua ini menuai masalah karena tidak berkoodinasi dengan Dinas Kebudayaan setempat. Pada tahun 2010 , Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemerintah Daerah kembali melakukan penelitian di situs ini dengan berkerjasama dengan Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional. Pada penelitian terakhir ini, kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kuantan Sengingi dan tokoh masyarakat Kabupaten Kuantan Sengingi juga dilibatkan. Akan tetapi beberapa masalah tetap muncul pada awal pelaksanaan penelitian akibat kurangnya komunikasi dengan penduduk setempat.

Penduduk desa atau dusun Boutuang (bahasa Padang) atau Betung (dalam bahasa Melayu) sebagian besar merupakan pendatang dari wilayah Sumatra Barat sehingga bahasa yang lebih banyak digunakan adalah bahasa Padang, sedangkan penduduk asli yang berbahasa melayu dapat dikatakan menjadi penduduk minoritas. Kondisi lahan situs yang terdiri dari dataran rendah dimanfaatkan untuk persawahan dan dataran tinggi dengan kontur berbukit- bukit telah di bagi-bagi dengan batas-batas deretan pagar antar lahan. Beberapa bagian tidak dimiliki oleh perorangan melainkan oleh sebuah keluarga besar, sehingga segala sesuatu yang berhubungan denganlahan tersebut harus berdasarkan persertujuan ninik –mamak keluarga pemilik lahan. Kondisi ini menjadi kendala pada saat penelitian di tahun 2010 karena ijin pembukaan kotak ekskavasi hanya diketahui keluarga pemilik secara sepihak.


Kesimpulan dan Saran

Situs Padang Candi merupakan situs arkeologi yang berpotensi baik sebagai sumber data baru dalam melengkapi rekonstruksi perjalanan sejarah Indonesia terutama pada masa Sriwijaya maupun sebagai asset pariwisata sejarah di Riau. Sehubungan telah berabad-abad lamanya situs ini ditinggalkan bahkan terlupakan sehingga kemudian dimukimi oleh masyarakat pendatang baru dengan budaya yang baru pula. Hal membuat kelestarian sisa benda-benda purbakala di situs ini makin rusak dan hilang baik oleh alam maupun oleh kegiaatan manusia.

Pemerintah Daerah Kabupaten Kuatan Sengingi sendiri sebenarnya telah banyak membina obyek-obyek wisata dan budaya di wilayahnya seperti wisata alam berupa tiga buah air terjun (Air Terjun Tujuh Tingkat Batang Koban” Lubuk Ambacang terletak di Kecamatan Hulu Kuantan ;air Terjun Guruh Gemurai terletak sekitar 25 Km dari Teluk Kuantan; Air Terjun Delapan tingkat yang terletak kurang lebih 5 Km dari desa pulau padang) , sebuah sumber air panas di Kuantan Mudik dan lain sebagainya. Namun keberadaan situs Padang Candi baru mulai dilirik oleh pemerintah setempat setelah banyak instasi kebudayaan dan Purbakala melakukan tinjauan dan penelitian.


Kesimpulan

Hasil penelitian di situs Padang Candi baik oleh Balai Arkeologi Medan (2005), Pemda Provinsi Riau (2007) serta kerjasama Pemda Riau Daratan dengan Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkenas (2010) menunjukan, konsentrasi batuan sedimen dan bata yang ditemukan pada sektor II merupakan sisa-sisa struktur bangunan, karena dilihat dari polanya yang memanjang utara–selatan dengan tersusun rapi jelas adalah buatan manusia. Namun, hingga penelitian kali ini masih belum dapat disimpulkan fungsinya; apakah sebagaimana toponim dari situs ini yakni Padang Candi, jadi sebagai bangunan peribadatan atau adakah fungsi lain ? Untuk itu diperlukan penelitian lanjutan agar hal tersebut dapat dijawab dengan lebih pasti.

Berdasarkan pada temuan artefaktual baik yang berupa bata maupun keramik dan gerabah pada setiap kotak galian serta stratigrafi tanah yang ada, maka permukaan tanah masa lalu pada saat terjadinya aktivitas manusia pendukung kebudayaan Hindu-Budha di di Daerah Sangau sekarang tidak lebih dalam dari 20 cm dari permukaan tanah sekarang.

  • Berdasarkan pembacaan prasasti berbahan lembaran emas yang ditemukan warga Dusun IV Betung, diketahui bahwa situs Padang Candi adalah suatu situs peninggalan dari suatu peradaban yang bercorak Buddha, khususnya Mahayana, lebih spesifik lagi Buddha mazhab Tantrayana.
  • Berdasarkan paleografi prasasti tersebut, secara relatif situs Padang Candi diperkirakan telah dimanfaatkan pada abad ke-8 atau ke-9 M.
  • Berdasarkan temuan keramik asing diketahui keramik asing yang tertua ditemukan disitus ini adalah keramik dari masa dinasty Tang Akhir yaitu abad 9 hingga 10 M , keramik ini merupakan keramik terbanyak ditemukan pada situs-situs masa Sriwijaya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa situs Padang Candi adalah semasa dengan keberadaan Kerajaan Sriwijaya., seperti yang disebutkan oleh Almarhum Prof. Boechari.


Rekomendasi

Masih banyak hal yang perlu dilakukan terhadap situs Padang Candi . Penelitian lebih lanjut dan mendalam masih perlu dilakukan karena belum diketahui seberapa luas situs ini dan belum seluruh bagian dari situs telah diteliti sehingga masih banyak yang belum terungkap mengenai situs ini.

Berkenaan pula dengan otonomi daerah, seyogyanya hasil kerja ini disikapi sebagai masukan bagi kepentingan lain dalam upaya pemanfaatan sumber daya budaya sebagai aset daerah. Di dalamnya tentu tidak terlepas dari upaya pelestariannya.

Pemanfaatan objek arkeologis Padang Candi bagi kepentingan yang lebih luas, seperti untuk kepariwisataan seyogyanya perlu melibatkan pihak terkait baik dari instansi pemerintah maupun swasta sehingga upaya untuk melestarikan aset benda cagar budaya tersebut dapat tercapai. Pemerintah Daerah Kabupaten Kuantan sengingi sendiri , oleh karena keterbatasan SDM, sebaiknya lebih aktif “menjemput bola” ,dalam megembangkan situs ini baik untuk kepentingan ilmu pengetahuan maupun pariwisata, dengan lebih aktif melibatkan ahli-ahli terkait dalam bidangnya dari luar kabupaten bahkan provinsi. Selain itu pendekatan terhadap masyarakat setempat agar lebih ditingkatkan agar terdapat kesadaran dan rasa memiliki terhadap benda peninggalan sejarah di wilayahnya.


Daftar Pustaka

Boechari, 1979. An Old Malay Inscription of Srivijaya at Palas Pasemah (South Lampong), dalam Pra Seminar Penelitian Sriwijaya. Jakarta: Pusat Penelitian Purbakala dan Peninggalan Nasional. Hal. 19–42

Chün, Feng Ch’eng, 1970. Ma Huan: Ying-Yai Sheng-Lan The Overall Survey of The Ocean’s Shores. London: Cambridge University Press

Cortesao, Armando, 1967. The Suma Oriental of Tome Pires. Liechtenstein: Kraus Reprint Limited

Groeneveldt, W.P., 1960. Historical Notes on Indonesia and Malaya Compiled from Chinese Sources. Jakarta: C.V. Bhratara

Marsden, William, 1999. Sejarah Sumatra, diterjemahkan A.S.Nasution dan Mahyuddin Mendim. Bandung: Remaja Rosdakarya

Soejono, R.P. ed., 1993. Sejarah Nasional Indonesia I. Jakarta: Balai Pustaka

Soedewo, Ery. 2005. Laporan Penelitian Situs Padang Candi, Taluk Kuantan, Provinsi Riau Daratan , Balai Arkeologi Medan (tidak diterbitkan)

Syair, Anwar, dkk., 1977/1978. Sejarah Daerah Riau. Jakarta: Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah, Pusat Penelitian Sejarah dan Budaya, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

Suhadi, Machi. 1989. Mantra Buddha di Negara ASEAN, dalam: Pertemuan Ilmiah Arkeologi V. Jakarta: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia

Taim, Eka Asih P., 2010, Laporan Penelitian di Situs Padang Candi, Kabupaten Kuantan Sengingi , Provinsi Riau. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Riau. (tidak diterbitkan)

Tim Monografi Daerah Riau, Monografi Daerah Riau. Jakarta: Proyek Pengembangan Media Kebudayaan, Ditjen Kebudayaan Depdikbud R.I.

Ujas, Ali Amran, dkk., 1992/1993. Gugusan Candi Muara Takus. Riau: Bagian Proyek Pengembangan Permuseuman Riau

Whitten, Anthony J., dkk., 1984. The Ecology of Sumatra. Yogyakarta: Gajah Mada University Press

Simandjuntak, Harry T., Prof.DR,ed, 2008, Metode Penelitian Arkeologi, Puslitbang Arkenas , 2008.

Mc Kinnon , Edward , DR, 1996.. Buku Panduan Keramik, Pusat Penelitian Arkeologi.

*MAKALAH PIA 2011