Truman Simanjuntak
Puslitbang Arkenas

SARI
Arkeologi sangat berperan dalam pembangunan atau penguatan karakter bangsa, karena dasar-dasar dari karakter itu bertumbuh di masa lampau, sebagai nilai-nilai kehidupan yang diturunkan dari satu ke lain generasi. Dengan demikian membangun bangsa yang berkarakter atau yang berkepribadian kuat tidak cukup dari perspektif kekinian, tetapi yang lebih mendasar, dari perspektif arkeologi lewat penelusuran nilai-nilai budaya yang mewarnai perjalanan kehidupan yang sangat panjang di Nusantara.

Dilihat dari wujud kebudayaan, nilai-nilai itu ada pada budaya material dan ada pula pada sistem budaya dan sistem sosial. Jika nilai yang tergolong pertama kasat mata pada tinggalan, nilai-nilai yang kedua dan ketiga tidak kasat mata karena sifatnya yang abstrak. Rekaman arkeologi memperlihatkan nilai-nilai abstrak itu antara lain berupa: kekayaan alam pikir dan wawasan pengetahuan, kemampuan adaptasi dan kearifan lingkungan, keuletan, keunggulan, keberanian, cita rasa keindahan, kebersamaan / gotong-royong, keterbukaan dan kesiapan merespons dan mengolah pengaruh asing. Di atas semuanya itu, diversitas lingkungan tropis yang sangat tinggi dan diversitas intensitas pengaruh luar, menciptakan karakter-karakter yang paling mendasar dan yang menjadi ciri kenusantaraan kita di sepanjang jaman – kebhinnekaan yang termanifestasikan dalam tampilan fisik manusianya (pluralisme), serta dalam budayanya (multikulturalisme).

Revitalisasi nilai-nilai itu untuk dipadukan dengan nilai-nilai inovasi dan serapan budaya modern menjadi sangat mendasar, sehingga seharusnya menjadi misi besar kita dalam membangun bangsa yang kepribadian khas dan kuat. Penciptaan kondisi ini akan membuat budaya kita tidak mudah tergerus pengaruh negatif dari luar, tetapi dengan cerdik menyaring dan menyerap unsur-unsur positif bagi kemajuan bangsa. Di sinilah salah satu peran strategis arkeologi untuk kebangsaan: menggali dan mengaktualisasikan nilai-nilai masa lampau dalam membangun bangsa yang berkarakter – bangsa yang berperadaban Indonesia, di masa kini dan masa datang.

Judul makalah ini ingin menegaskan bahwa arkeologi memiliki keterkaitan dengan pembangunan karakter bangsa, bahkan sangat berperan dalam pembangunannya. Mengapa? Karena arkeologi berhubungan dengan kehidupan masa lampau, sementara karakter kebangsaan sekarang bukanlah ucuk-ucuk terbentuk, melainkan hasil proses pergulatan panjang di masa lampau. Karakter itu telah berakar panjang ke masa silam, oleh sebab itu pembangunannya mau tidak mau harus berangkat dari karakter-karakter kenusantaraan yang diciptakan oleh manusia-manusia pendahulu kita. Disinilah peran strategis arkeologi (dan ilmu-ilmu terkait tentunya) dalam membangun dan menguatkan karakter bangsa. Ilmu ini harus berada di jajaran terdepan dalam menggali dan mensosialisasikan nilai-nilai budaya itu untuk kemudian direvitalisasikan dalam kehidupan berbangsa.

Karakter, kepribadian, dan jati diri, merupakan istilah-istilah sinonim yang sering digunakan ketika berbicara tentang pembangunan karakter bangsa (nation character building). Di ranah arkeologi, karakter itu mengkait erat dengan apa yang disebut sebagai “local genius”, istilah yang pertama kali diungkapkan oleh Quaritch Wales (1948) untuk menyebut: “the sum of the cultural characteristics which the vast majority of a people have in common as a result of their experiences in early life” dan yang terjemahannya diusulkan oleh Haryati Subadio sebagai “kepribadian budaya bangsa” atau oleh Ayatrohaedi sebagai “cerlang budaya” (lebih jauh, lihat Ayatrohaedi (ed.), 1986). Dalam kaitan itu pula, keberadaan local genius sebagai budaya asli Nusantara yang menurut Sedyawati (1986) mencakup nilai, konsep, dan teknologi, serta kemampuan mengolah pengaruh asing, menjadi sangat penting untuk dasar pembentukan bangsa yang berkarakter di masa sekarang dan masa datang.

Sejatinya apa yang disebut dengan karakter atau kepribadian bangsa itu? Jawaban sederhananya adalah kumpulan nilai-nilai budaya yang dimiliki suatu bangsa, sebagai hasil proses adaptasi dan interaksi dengan lingkungan dan pengaruh luar di masa lampau, ditambah dengan inovasi dan serapan budaya modernisasi. Dalam konteks arkeologi, karakter atau nilai-nilai tersebut berada dalam ranah ideologis, salah satu dari tiga kepentingan penelitian arkeologi. Dua ranah lainnya adalah pengembangan ilmu pengetahuan (kepentingan akademis) dan pemanfaatan tinggalannya bagi kehidupan masyarakat (kepentingan praktis) (Mundarjito, 1997). Harus diakui tidak mudah menemukan nilai-nilai itu, lebih-lebih yang abstrak, yang hanya tersirat dalam tinggalan. Dibutuhkan “dialog” antara peneliti dengan tinggalan agar nilai-nilai yang tersirat itu dapat berbicara. Konsekwensinya proses penelitian membutuhkan analisis spesifik dan kontekstual dari lingkup mikro ke makro yang kemudian berlanjut pada sintesa data untuk menghasilkan interpretasi. Tahapan-tahapan ini berada pada tingkat-tingkat lanjut dari proses penelitian arkeologi (Sharer & Ashmore 1993). Proses panjang penelitian ini sejujurnya masih terbatas dilakukan peneliti arkeologi kita dan kondisi inilah penyebab dasar masih sangat terbatasnya bahasan di bidang ini.

Penting ditekankan bahwa karakter kebangsaan yang merupakan ramuan nilai-nilai masa lampau dan masa kini belum tentu seragam di lingkup nusantara, tetapi cenderung beraneka ragam. Disini hendak dikatakan bahwa karakter kebangsaan bukanlah kumpulan nilai yang stereotipe di seluruh kepulauan, tetapi lebih merupakan himpunan nilai-nilai lokal yang memiliki kekhasan-kekhasan. Dalam hal ini sungguh tepat apa yang disebut sebagai budaya nasional itu, yakni kumpulan dari puncak-puncak budaya daerah.

Bagaimana keberagaman itu terjadi? Jawabannya mengkait dengan kondisi dan keletakan geografis kepulauan kita. Sebagai negara tropis yang memiliki diversitas lingkungan fisik dan biologis yang sangat tinggi, adaptasi dan interaksi yang terjadi dengan penghuninya cenderung menciptakan budaya-budaya lokal yang khas. Di sisi lain, keletakan geografinya yang sangat strategis di antara Asia, Australia, dan Pasifik menjadikannya sebagai kawasan silang budaya (melting pot). Intensitas pengatuh luar yang berbeda-beda di setiap daerah mempengaruhi keragaman perkembangan budaya lokal. Faktor-faktor inilah yang terutama menciptakan mosaik budaya nusantara. Dalam hal ini sungguh tepat rumusan “Bhinneka Tunggal Ika” sebagai lambang negara: kebhinnekaan dalam kesatuan asal usul dan kebhinnekaan dalam kesatuan kebangsaan.

Pada masa sekarang proses globalisasi yang didukung oleh kemajuan teknologi transportasi, komunikasi, dan informasi cenderung menciptakan interaksi dalam berbagai aspek kehidupan, hingga semua komunitas yang terlibat serasa hidup dalam sebuah perkampungan (Robertson, 1992). Globalisasi yang merambah ke seluruh pelosok dunia cenderung mengaburkan batas-batas peradaban antarbangsa, bahkan pada saatnya dapat mengeliminasi jati diri bangsa yang diglobalkan. Di sinilah pentingnya pemilikan dan penguatan kepribadian bangsa agar tidak terlindas arus globalisasi itu, tetapi dengan cerdik menyaring dan mengolahnya untuk kemajuan budaya sendiri tanpa kehilangan keindonesiaannya.

Bumi nusantara kita, khususnya Jawa, telah renta dalam memfasilitasi kehidupan manusia dengan kebutuhan yang mengikutinya. Setidaknya manusia pertama – manusia purba Homo erectus – telah mendiami Jawa di sekitar 1,5 juta tahun yang lalu atau mungkin di sekitar 1,6 juta tahun yang lalu (Larick et al. 2001; Simanjuntak et al. 2010). (Bandingkan dengan hunian Amerika yang sangat muda dengan kehadiran manusia pertama di sekitar 14 ribu atau sedikit lebih tua lagi (Dixon, 2006) dan Australia di sekitar 50-60 ribu tahun yang lalu (Roberts et al. 1990). Ketersediaan sumberdaya lingkungan dan kemampuan beradaptasi telah menjadikan spesies ini hidup berkelanjutan, hingga mengalami kepunahan kemungkinan di sekitar 100 ribu tahun yang lalu atau mungkin lebih tua lagi (Simanjuntak, 2009). Hunian Nusantara tidak berhenti setelah kepunahan erectus, tetapi berlanjut lewat kedatangan manusia modern awal (early modern human) ke Nusantara di sekitar awal paruh kedua Plestosen Atas. Manusia sapiens tertua ini bertahan hingga akhir Jaman Es pada awal Holosen, untuk kemudian berevolusi ke ras Australomelanesia yang mendiami sebagian besar kepulauan di sekitar paruh pertama Holosen (Jacob, 1967).

Peristiwa yang sangat penting dalam sejarah hunian Nusantara terjadi di sekitar empat ribu tahun yang lalu, ketika pendatang baru: Penutur Austronesia yang bercirikan Ras Mongoloid Selatan, memasuki Nusantara. Seperti para pendahulunya, mereka inipun mampu mengadaptasikan diri pada lingkungan kepulauan yang beragam, hingga dalam perkembangannya menurunkan etnisitas-etnisitas asli Indonesia sekarang. Uraian panjang sejarah hunian ini ingin mengatakan, bahwa kehidupan di Nusantara telah sarat dengan nilai-nilai budaya yang sudah barang tentu mengalami perubahan-perubahan seiring dengan perkembangan jaman. Nilai-nilai yang berkembang di suatu masa dapat tereliminasi oleh serapan nilai-nilai baru atau oleh proses evolusi lokal. Nilai-nilai kenusantaraan di masa lalu itulah yang perlu digali dan direvitalisasikan untuk membangun kepribadian bangsa yang kuat.

Penting digarisbawahi bahwa nilai-nilai itu dapat ditemukan pada ketiga wujud budaya (Koentjaraningrat 1986), yakni pada gagasan (sistem budaya), perilaku (sistem sosial), dan produk perilaku (budaya material). Dua yang disebut pertama tidak terlihat eksklusif pada tinggalan, sementara nilai yang ketiga tampak kasat mata dalam tinggalan. Nilai budaya material tidak akan dibahas di sini. Sekedar mengingatkan, J.L.A. Brandes (1889) pernah mengemukakan 10 budaya khas masyarakat Nusantara sebelum menerima pengaruh Hindu. Budaya yang sebagian besar termasuk budaya material itu mencakup wayang, gamelan, membatik, teknologi logam, mata uang, pelayaran, astronomi, irigasi, dan pemerintahan yang teratur.

Rekaman arkeologi sejauh ini memperlihatkan beberapa nilai-nilai yang termasuk dalam sistem budaya dan sistem sosial manusia-manusia Nusantara (setidaknya sebagai interpretasi awal), yakni (uraian selengkapnya lihat Simanjuntak 2006; Simanjuntak 2011):

  1. kekayaan alam pikir, menyangkut dunia transendental atau khayalan yang tersirat dalam mitos dan legenda, seni cadas, sistem-sistem penguburan, bangunan megalitik, dll;
  2. wawasan pengetahuan, khususnya tentang lingkungan dan sumberdaya yang tergambar pada pemilihan batuan kersikan untuk peralatan, penentuan lokasi bangunan candi yang sesuai dengan konsepsi Hindu, dll;
  3. kearifan lingkungan yang tampak pada kemampuan adaptasi manusia-manusia nusantara (Homo erectus, manusia modern awal, Auatralomelanesia, Mongoloid) terhadap perubahan-perubahan lingkungan di masa lampau, serta kemampuan adaptasi pada sumberdaya lingkungan hingga menciptakan jenis-jenis peralatan khas;
  4. keuletan, ketangguhan, dan keberanian yang tampak pada kemampuan erectus mencapai Jawa dan kemudian Flores, penutur Austronesia yang merambah berbagai pelosok nusantara;
  5. cita rasa keindahan yang tampak pada berbagai lukisan cadas, benda-benda perhiasan sejak awal Holosen hingga sekarang;
  6. sifat kebersamaan/ gotong royong, seperti pada pendirian bangunan megalitik, candi, dll;
  7. keterbukaan dan kesiapan menerima pengaruh luar, seperti pada awal kedatangan Penutur Austronesia di kepulauan, penyerapan teknologi metalurgi pada masa protosejarah;
  8. kebhinnekaan yang tampak dalam pluralisme dan multikulturalisme kenusantaraan di sepanjang sejarah kehidupan.

Nilai-nilai tersebut di atas mestinya belum merupakan keseluruhan nilai yang pernah dimiliki Nusantara. Sejarah hunian yang sangat panjang dan kehidupan yang dinamis seiring dengan terjadinya peristiwa-peristiwa besar yang bersifat natural dan kultural, sudah barang tentu menjadi pemacu penghuni kepulauan di masing-masing jamannya untuk menyikapi dinamika kehidupan, hingga menciptakan nilai-nilai kultural yang baru. Penting pula digarisbawahi, bahwa di samping memiliki nilai-nilai budaya, tidak tertutup kemungkinan mereka mempraktekkan unsur budaya yang negatif pula. Sebagai analogi, konflik-konflik horisontal yang marak di jaman sekarang boleh jadi sudah terjadi di masa lampau. Paper ini tidak bermaksud membahasnya dalam kesempatan ini, namun pengungkapan masalah ini di lain kesempatan akan penting bagi ilmu pengetahuan, sekaligus sebagai bahan pelajaran di masa sekarang dan masa datang.

Keseluruhan nilai-nilai budaya masa lampau di atas seyogyanya menjadi bagian dari karakter keindonesiaan sekarang. Karakter itu akan semakin kaya lagi jika dilengkapi dengan nilai-nilai kehidupan masa lampau yang belum teridentifikasi dan nilai-nilai inovasi serta serapan budaya modern. Dengan mempraktekkan kesemuanya dalam kehidupan berbangsa, Indonesia niscaya tampil sebagai bangsa yang betul-betul berkepribadian khas, yang membedakannya dari bangsa-bangsa lain di dunia. Perjalanan ke arah ini sangat mendasar dan seharusnya menjadi misi besar kita untuk menciptakan negara dan bangsa yang kuat, yang berlandaskan karakter kenusantaraan (ingenuity characters). Di sinilah pentingnya pembangunan dan penguatan kepribadian bangsa agar tidak terlindas arus globalisasi sekarang, tetapi dengan cerdik menyaring dan mengolahnya untuk kemajuan budaya sendiri tanpa kehilangan keindonesiaannya.

Itulah bahasan yang dapat saya berikan sebagai sumbangan pemikiran awal tentang pentingnya peranan arkeologi dalam pembangunan karakter bangsa. Tentu saja bahasan ini masih memerlukan pendalaman-pendalaman ke depan. Saya berharap pemaparan ini dapat mengingatkan kita akan betapa pentingnya penggalian dan aktualisasi nilai-nilai itu untuk kemudian ditanamkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam kaitan tersebut, saya melihat beberapa jalur strategis yang perlu ditempuh atau ditingkatkan ke depan. Pertama, melakukan sosialisasi lewat berbagai bentuk media ke masyarakat luas. Kedua, memasukkan nilai-nilai budaya masa lampau dalam materi pendidikan karakter bangsa di semua tingkat pendidikan. Ketiga, menjalankan kepemimpinan yang dijiwai nilai-nilai itu dalam mengelola pemerintahan dan kehidupan masyarakat. Dengan melakukan upaya-upaya tersebut di semua lini, kita sudah berada di jalur pembangunan karakter Indonesia yang sesungguhnya dan yang akan berujung pada kemajuan peradaban di masa kini dan di masa datang.

Di sinilah peran strategis arkeologi untuk kebangsaan: belajar dari masa lampau untuk memajukan bangsa yang berkarakter. Arkeologi yang memulai, arkeologi pula yang seyogyanya terus menyertai pembangunan karakter itu. Kondisi ini di satu pihak merupakan tantangan besar bagi para arkeolog untuk dapat menggali nilai-nilai kehidupan yang telah tergoreskan dalam sejarah kehidupan dan mensosialisasikannya kepada semua lapisan masyarakat. Di pihak lain, peran strategis itu kiranya mendapat perhatian yang semakin besar dari pemerintah dengan mendukung pengembangan penelitian ke depan, agar dapat meningkatkan kontribusi bagi kepentingan kebangsaan (ideologis), sebagaimana juga bagi kepentingan ilmu pengetahuan (akademis) dan kepentingan masyarakat (ekonomis).


DAFTAR BACAAN

Ayatrohaedi (ed.).1986. Kepribadian Budaya Bangsa (Local Genius). Pustaka Jaya.

Brandes, J.L.A. 1889. Een Jayapatra of Acte van Eene rechterlijke uitspraak van saka 849. TBG 32.

Dixon, E.J. 2006. Guman Colonizations of the America: Timing, Technology, and Process. Dalam Ciochon, Russell L. & John F.

Fleagle (eds.), The Human Evolution Source Book. New Jersey: Advances in Human Evolution Series, hal. 637-656.

Jacob, T. 1967. Some problems pertaining to the racial history of Indonesian region : A study of human skeletal and dental remains from several prehistoric sites in Indonesia and Malaysia. Utrecht : Drukkerij Neerlandia.

Koentjaraningrat.Peranan Local Genius dalam akulturasi. dalam Ayatrohaedi (ed.).1986. Kepribadian Budaya Bangsa (Local Genius). Pustaka Jaya, hal. 80-90.

Larick, R., R.L. Ciochon, Y. Zaim, Sudijono, Suminto, Y. Rizal, F. Aziz, M. Reagan, and M. Heizler. 2001. Early Pleistocene 40 Ar/39 Ar ages for Bapang Formation hominins, Central Java, Indonesia. Proceedings of the National Academy of Sciences, USA 98 (9): 4866-4871

Mundarjito. 1997. Perlukah reorientasi strategi penelitian arkeologi di Indonesia? Prosiding Pertemuan Ilmiah Arkeologi VII. Jilid 1: 75-82

Roberts, R.G., R.Jones, M.A. Smith. 1990. Thermoluminiscence dating of a 50,000 year old human occupation site in Northern Australia. Nature, 345: 153-156.

Robertson, R. 1992. Globalization, social theory and global culture. London: Sage.

Sedyawati, Edi. 1986. Local genius dalam kesenian Indonesia. Dalam Ayatrohaedi (ed.), Kepribadian Budaya Bangsa (Local Genius). Pustaka Jaya, hal. 186-192.

Sharer, Robert J. & Wendy Ashmore. 1993. Archaeology. Discovering Our Past. California: Mayfield Publishing Company

Simanjuntak Truman. 2006. Pluralisme dan Multikulturalisme dalam Prasejarah Indonesia. Penelusuran terhadap akar kemajemukan masa kini. Orasi pengukihan Profesor Riset bidang studi prasejarah. Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional.

Simanjuntak Truman. 2009. Manusia-Manusia Indonesia. Ceramah di Kongres Indonesia 21 (Kindo 21). Jakarta

Simanjuntak Truman. 2011. Nilai-Nilai Kemanusiaan dan Kultural Nusantara. Kertas kerja pada EHPA Puslitbang Arkenas di Banjarmasin.

Subadio, Haryati. 1986. Kepribadian Budaya bangsa. Dalam Ayatrohaedi (ed.).1986. Kepribadian Budaya Bangsa (Local Genius). Pustaka Jaya, hal. 18-25.

Soekmono, R. Local genius dan perkembangan bangunan sacral di Indonesia. Dalam Ayyatrohaedi (ed.), Kepribadian Budaya Bangsa (Local Genius). Pustaka Jaya, hal. 228-246. Sdh dihilangkan dalam teks

Wales, H.G. Quaritch. 1948-1949. Cultural change in Greater India. Journal of Royal Society, hal. 2-32.

*MAKALAH PLENO PADA PIA 2011