Ade Sahroni
Puslitbang Arkenas


Abstrak

Arsitektur vernakular adalah arsitektur yang tumbuh dan berkembang dari arsitektur rakyat yang lahir dari masyarakat etnik dan berakar pada tradisi etnik, serta dibangun oleh tukang berdasarkan pengalaman (trial and error), menggunakan teknik dan material lokal serta merupakan jawaban atas setting lingkungan tempat bangunan tersebut berada dan selalu membuka untuk terjadinya transformasi. Arsitektur ini tetap bertahan dalam beragam bentuk yang dikenal sebagai bangunan tradisional Indonesia yang umum dipakai dalam berbagai kegunaan, baik sakral maupun non sakral. Bangunan yang termasuk dalam tradisi-tradisi arsitektur vernakular Indonesia yang paling penting dan paling sering dibangun adalah rumah yang digunakan sebagai tempat tinggal, lumbung, dan berbagai macam tempat penyimpanan dan bangunan umum (balai, bale) yang digunakan sebagai tempat diselenggarakannya ritual, upacara atau pertemuan warga. Di beberapa tempat di Indonesia, bangunan rumah tradisional hampir punah, yang tersisa adalah sebuah rumah yang selamat karena alasan tertentu, atau beberapa rumah yang sengaja dibangun sebagai model tipe rumah tradisional tertentu, atau beberapa rumah yang dibangun berdasarkan arsitektur modern yang ditambah fitur dan karakter tradisi arsitektur vernakular.

Kata kunci: Arsitektur vernakular, bangunan tradisional



Vernacular Architecture Indonesia:
Roles, Functions, and Preservation within communities

Abstract
Vernacular architecture is the architecture that grew and evolved from the folk architecture born in ethnic communities and is derived from ethnic traditions, and built by worker based on experience (trial and error), using local materials and techniques as well as a response to environmental setting where the building is and always open for the transformation. This architecture survives in various forms, mostly known as Indonesia’s traditional buildings, which are commonly used for several purposes, both sacred and non sacred. Buildings included in the vernacular architectural traditions of Indonesia such as residences, barns, and various other storage areas and public buildings (balai, bale) used to hold rituals, ceremonies or community gatherings. In some places in Indonesia, traditional buildings are almost extinct, except buildings that survived for specific reasons, intentionally built as a model of traditional houses, or built in modern architectural style added with features and characters of the tradition vernacular architecture.

Keywords: Vernacular architecture, traditional building


Pendahuluan

Arsitektur vernakular adalah arsitektur yang tumbuh dan berkembang dari arsitektur rakyat yang lahir dari masyarakat etnik dan berakar pada tradisi etnik, serta dibangun oleh tukang berdasarkan pengalaman (trial and error), menggunakan teknik dan material lokal serta merupakan jawaban atas setting lingkungan tempat bangunan tersebut berada dan selalu membuka untuk terjadinya transformasi [1]. Indonesia sebagai salah satu negara di Asia Tenggara merupakan negara kepulauan terbesar didunia yang terdiri dari berbagai suku, bahasa, agama, serta berbagai macam budaya dan etnik yang merupakan jati diri dari tiap-tiap daerah. Selain itu masing-masing daerah di Indonesia juga mempunyai satu atau beberapa tipe rumah tradisional yang unik yang dibangun berdasarkan tradisi-tradisi arsitektur vernakular dengan gaya bangunan tertentu yang menunjukkan keanekaragaman yang sangat menarik. Dan seiring dengan perjalanan waktu, tradisi dan gaya bangunan yang baru dan berbeda-beda akan muncul, akan tetapi dalam beberapa hal tradisi arsitektur vernakular masih dapat bertahan. Menurut Sonny Susanto, salah seorang dosen arsitek pada Fakultas Teknik Universitas Indonesia mengatakan bahwa arsitektur vernakular merupakan bentuk perkembangan dari arsitektur tradisional, yang mana arsitektur tradisional masih sangat lekat dengan tradisi yang masih hidup, tatanan kehidupan masyarakat, wawasan masyarakat serta tata laku yang berlaku pada kehidupan sehari-hari masyarakatnya secara umum [2].

Meskipun arsitektur tradisional berkembang, namun tetap mempertahankan karakter inti yang diturunkan dari generasi ke generasi yang menjadikannya sebagai karakter kuat akan suatu tempat tertentu dan akan tercermin pada tampilan arsitektur lingkungan masyarakat tersebut. Dalam perkembangannya, arsitektur vernakular mengalami banyak tekanan, baik dari dalam maupun dari luar, antara lain dari masyarakat industri barat yang menebarkan potensi dari teknologi modern dan bahan bangunan modern. Pada masa sekarang ini dimana modernisasi dan globalisasi demikian kuat mempengaruhi peri kehidupan dan kebudayaan setempat, suatu kondisi yang alami apabila suatu kebudayaan pasti akan mengalami perubahan kebudayaan setempat, namun perubahan yang diinginkan adalah perubahan yang akan tetap memelihara karakter inti dan akan menyesuaikan dengan kondisi pada saat ini, sehingga akan dapat terus dipertahankan.


Peran dan Fungsi Arsitektur Vernakular

Di dalam konteks arsitektur, peran dan fungsi arsitektur vernakular menjadi penting bukan hanya di Indonesia saja tetapi juga di Asia, karena Asia terdiri dari berbagai macam budaya dan adat yang berlainan di berbagai wilayahnnya, dimana setiap wilayah memiliki ciri arsitektur yang spesifik dan berasal dari tradisi. Antara tradisi dan arsitektur vernakular sangat erat hubungannya. Tradisi memberikan suatu jaminan untuk melanjutkan kontinuitas akan tatanan sebuah arsitektur melalui sistem persepsi ruang, bentuk, dan konstruksi yang dipahami sebagai suatu warisan yang akan mengalami perubahan secara perlahan melalui suatu kebiasaan. Misalnya bagaimana adaptasi masyarakat lokal terhadap alam, yang memunculkan berbagai cara untuk menanggulangi, misalnya iklim dengan cara membuat suatu tempat bernaung untuk menghadapi iklim dan menyesuaikannya dengan lingkungan sekitar dan dengan memperhatikan potensi lokal seperti potensi udara, tanaman, material alam dan sebagainya, maka akan terciptalah suatu bangunan arsitektur rakyat yang menggunakan teknologi sederhana dan tepat guna. Kesederhanaan inilah yang merupakan nilai lebih sehingga tercipta bentuk khas dari arsitektur vernakular dan tradisional serta menunjukkan bagaimana menggunakan material secara wajar dan tidak berlebihan. Hasil karya ‘rakyat’ ini merefleksikan akan suatu masyarakat yang akrab dengan alamnya, kepercayaannya, dan norma-normanya dengan bijaksana.


Sejarah Arsitektur Vernakular

Di Indonesia, berbagai jenis rumah tradisional dianggap sebagai tradisi vernakular Indonesia dan dipercaya memiliki kesamaan asal muasal dari tradisi pembangunan kuno. Hal ini terutama dirujukkan pada tradisi arsitektur Austronesia yang dipandang sebagai bagian yang tak terpisahkan dari ekspansi budaya Austronesia. Asal muasal dari tradisi arsitektur ini dapat dirunut kembali hingga budaya manusia kuno yang mendiami daerah pantai dan sungai-sungai Cina Selatan dan Vietnam Utara kurang lebih 4000 tahun SM. Pada masa itu, kelompok-kelompok masyarakat melakukan migrasi dan diperkirakan memiliki kesamaan tradisi arsitektur yang dinamai dengan tradisi arsitektur Austronesia, dan sebagai konsekuensinya, maka hampir di seluruh kepulauan Indonesia rumah tradisional yang merupakan warisan arsitektur vernakular memiliki kesamaan bentuk, baik dari bentuk bangunan serta dari bentuk morfologis struktur dasarnya.

Bentuk struktur dan fitur morfologis rumah-rumah tradisional Indonesia terdiri atas dua macam, yaitu rumah tradisional yang dibangun berdasarkan prinsip tipikal tradisi arsitektural Austronesia kuno yaitu: struktur kotak yang didirikan di atas tiang fondasi kayu, dapat ditanam kedalam tanah atau diletakkan di atas permukaan tanah dengan fondasi batu, lantai panggung, atap miring dengan jurai yang diperpanjang dan bagian depan atap yang condong mencuat keluar [3]. Sedangkan di bagian timur kepulauan Indonesia banyak tipe rumah tradisional digolongkan sebagai bagian dari tradisi arsitektur vernakular, dimana pada bentuk bangunannya biasanya memiliki: lantai berbentuk lingkaran dan berstruktur atap kerucut tinggi seperti bentuk sarang tawon atau struktur atap berbentuk kubah elips [4].

Rumah tradisional di seluruh kepulauan nusantara, baik yang berbentuk kotak maupun yang berstruktur atap kubah, biasanya dibangun dengan kayu dan material alami lainnya seperti bambu, daun palem, rumput, dan serat yang semuanya diambil langsung dari lingkungan alaminya. Selain itu, rumah dibangun oleh penghuninya sendiri atau masyarakat yang kadang dibantu oleh pengrajin terlatih atau dibawah petunjuk pengawas bangunan yang berpengalaman atau keduanya. Berbeda dengan konstruksi fisiknya, rumah tradisional di seluruh kepulauan nusantara memiliki kesamaan ciri dalam terminologi makna simbolik yang dikandung oleh rumah, dimana ukuran dan bentuk rumah mengindikasikan tingkat sosial dan status dari pemiliknya didalam masyarakat. Rumah juga sering dipandang sebagai tempat bersemayam nenek moyang dan digunakan sebagai tempat ritual dan upacara untuk menghormati mereka, dan juga digunakan saebgai tempat penyimpanan benda-benda pusaka nenek moyang. Ciri penting umum lainnya adalah penggunaan berbagai jenis oposisi polar dalam ruang, seperti depan dan belakang, timur dan barat, kiri dan kanan, serta dalam dan luar yang disesuaikan dengan pembedaan kelas diantara berbagai kelompok sosial masyarakat kesukuan secara umum.


Beberapa Kategori Tradisi Vernakular Arsitektur di Indonesia

Masyarakat yang mendiami daerah pedalaman, terutama di pegunungan mempunyai tradisi yang bila dilihat dari perspektif sejarah kebudayaannya dianggap lebih tua dibandingkan dengan masyarakat yang tinggal di dataran rendah atau area pantai. Bangunan tradisional yang dibangun oleh masyarakat yang tinggal dipedalaman dianggap memperlihatkan kemiripan yang lebih besar dengan tradisi arsitektural dan ragam bangunan Austronesia dan dengan tradisi yang tergambar di Candi Borobudur di Jawa Tengah daripada masyarakat yang tinggal di daerah dataran rendah dan di pantai. Rumah tradisional yang dibangun oleh masyarakat Toraja di Sulawesi selatan dan masyarakat Batak yang tinggal di Sumatra Utara dipandang sebagai bentuk rumah tradisional yang lekat dengan tradisi arsitektur vernakular dari nenek moyang mereka. Masyarakat Aceh di Sumatra Utara, masyarakat Baduy dan Tengger di Pulau Jawa, masyarakat Bali Aga (Bali Mula) di Bali, dan masyarakat Dayak di Pulau Kalimantan, serta beberapa masyarakat dikepulauan Indonesia Timur juga dianggap sebagai ‘masyarakat kuno’, akan tetapi, rumah tradisional mereka jika dari sudut pandang kebudayaan, sebenarnya termasuk dalam tradisi arsitektur asing yang muncul di kepulauan Indonesia yang merupakan bagian dari ekspansi Hindu-Buddha, Islam, dan Eropa.

Oleh karena itu, ada beberapa kategori tradisi vernakular arsitektur dan langggam bangunan Indonesia, yaitu:

  • Bangunan tradisional yang dibangun berdasar tradisi kuno Austronesia

Rumah tradisional Indonesia saat ini yang merupakan contoh rumah yang mempunyai karakter dasar dan fitur tradisi dari arsitektur vernakular yang masih kuat dapat ditemukan dibeberapa daerah pedalaman di berbagai pelosok Nusantara, seperti dapat dilihat pada rumah Batak dan rumah Tongkonan Toraja, keduanya memiliki beberapa perbedaan yang umumnya tampak bahwa rumah-rumah ini dibangun dengan mengikuti tradisi arsitektur vernakuler kuno dan langgam bangunan Austronesia sebelum adanya tradisi dan langgam bangunan Hindu-Budha, Islam, dan kolonial Belanda.

• Rumah Batak
Rumah tradisional masyarakat Batak yang mendiami pedalaman pegunungan di sekitar Danau Toba dan di Pulau Samosir di Provinsi Sumatra Utara merupakan bentuk umum dan fitur tradisi arsitektur kuno di Indonesia. Masyarakat Batak terbagi atas enam keluarga besar, yang membangun rumah tradisional dan pengaturan rumah mereka dengan cara yang berbeda-beda tergantung pada pertanian yang mereka garap. Disamping itu, tradisi arsitektur vernakular Batak juga terdapat pada bangunan komunal (bale), lumbung padi (soro), serta bangunan untuk menggiling beras dan rumah untuk orang menyimpan jenazah (joro).

Rumah Batak
http://www.prof-marlon.blogspot.com

  • Bangunan tradisional yang dibangun berdasar percampuran

Karakter dan fitur rumah yang menampilkan perpaduan antara tradisi vernakular kuno dan tradisi arsitektural asing sudah lebih sulit dkenali. Karakter umum rumah-rumah tersebut adalah perpaduan antara bentuk dasar dan fitur tradisional dan langgam Austronesia berpadu kedalam tradisi dan langgam bangunan yang datang sesudahnya yaitu, Hindu-Buddha, Islam, China, dan kolonial Belanda yang mana menghasilkan berbagai bentuk percampuran dengan karakter yang berbeda-beda dan sering disebut dengan nama yang khusus, seperti tipe “rumah tradisional melayu”. Beberapa dari rumah tersebut sangat serupa dengan bangunan yang dibangun dengan tradisi arsitektural dan langgam bangunan kuno Austronesia, tetapi beberapa diantaranya telah sulit dipahami akarnya, salah satu contoh yaitu rumah Aceh dan Gayo.

• Rumah Aceh
Rumah tradisional masyarakat Aceh merupakan sebuah contoh percampuran tradisi arsitektural dan langgam bangunan Austronesia dengan tradisi dan langgam bangunan masyarakat melayu. Bentuk luar rumah merupakan bentuk rumah Austronesia yaitu struktur tegak berupa tiang kayu, lantai yang ditinggikan sebagai ruang keluarga, dan bentuk atap pelana yang meruncing tinggi. Pembagian ruang dalam sama dengan rumah Melayu, yaitu lantai bagian yang berbeda berada diketinggian yang berbeda pula dan diatur secara berurutan. Ruang tidur yang terletak dibagian tengah rumah dengan lantai yang paling tinggi merupakan bagian yang paling penting, biasanya ditutupi dengan atap dan langit-langit dimana terdapat ruang yang digunakan untuk menyimpan benda-benda keramat, alat makan, dan pusaka. Didepan dan belakang terdapat beranda yang terletak diketinggian lantai yang lebih rendah, beranda depan digunakan untuk laki-laki dan menerima tamu, sedangkan beranda belakang digunakan untuk perempuan. Rumah tradisional Aceh biasanya disusun saling berhadapan sepanjang jalan yang membentang dari timur-barat. Hasilnya adalah rumah yang menghadap ke utara atau ke selatan.

Rumah Aceh
http://www.christineyunita.blogspot.com

  • Bangunan tradisional yang dibangun berdasar transformasi

Dibeberapa daerah di Indonesia yaitu Jawa, Madura, Bali, dan Lombok Barat, bentuk dan fitur yang umum dipakai pada tradisi arsitektur vernakular kuno telah dilebur dengan tradisi dan langgam bangunan yang datang setelahnya. Dengan adanya peleburan ini, maka bentuk dan fitur telah diubah hingga sulit untuk dikenali lagi dan ada juga yang telah diganti secara keseluruhan. Hal ini dikarenakan adanya dampak dari pengglobalan dan pembudayaan Hindu-Buddha (antara abad kedua hingga kelima), dan ekspansi kultural islam (sesudah abad kedua belas), ditambah dengan adanya pertumbuhan politik berbasis Negara yang sangat tersentralisasi yang mempengaruhi semua sektor kehidupan sosial dan mempengaruhi semua sisi kehidupan, Dengan kata lain tipe rumah tradisional dibagian kepulauan Indonesia ini adalah hasil dari proses transformasi dari prinsip arsitektural asing dengan bentuk dan fitur yang merupakan warisan dari tradisi kultural domestik.

• Rumah Bali
Warisan aritektur tradisional masyarakat Bali merupakan contoh percampuran antara bentuk dan fitur lama dan baru. Hal ini sebagian besar disebabkan dari sekelompok masyarakat elite migrasi Hindu-Buddha dari Jawa Timur untuk menghindari dominasi raja-raja islam. Karena kehadiran mereka yang lama dan dominasi politis serta pengaruh budaya maka tradisi arsitektural masyarakat yang lebih tua didaerah dataran rendah ikut berubah. Namun tradisi vernakular dan langgam bangunan kuno tetap dipraktikkan oleh masyarakat Aga yang mendiami daerah pedalaman dan pegunungan Bali. Dengan demikian, ada dua tipe rumah tradisional Bali, tipe rumah kelompok pemukiman masyarakat Bali yaitu percampuran bentuk tradisi antara fitur lama dan baru, yang kedua yaitu tipe rumah tradisional Bali Aga yang masih berpegang pada tradisi vernakular dan langggam bangunan kuno.

Rumah Bali
www. wacananusantara.org

  • Tradisi arsitektur vernakular dan langgam bangunan Indonesia Timur.

Di bagian timur kepulauan Indonesia, didiami oleh masyarakat yang berbeda-beda namun tetap mempunyai beberapa kesamaan karakter kultural yaitu menghormati arwah para nenek moyang, ritual pemakaman yang sangat rumit, tradisi panjang peperangan antar suku dan antardesa yang baru-baru ini saja ditinggalkan dibandingkan dengan bagian lain dari kepulauan Indonesia. Apapun bentuk yang dibangunnya, rumah asli mereka masih memainkan peran yang sangat penting, beberapa contoh rumah yang paling dikenal dari tradisi vernakular arsitektur yaitu rumah tradisional masyarakat Sasak dibagian timur Pulau Lombok, masyarakat Manggarai dan Ngada di pulau Flores, masyarakat Atoni di pulau Timor, dan masyarakat Dani di pedalaman Papua, di bagian barat New Guinea. Di kepulauan ini, rumah tradisional terbagi dalam dua bentuk arsitektural utama, yang pertama adalah rumah yang mewakili sejumlah fitur dasar dan karakteristik tradisi arsitektur vernakular Austronesia dan terdapat dua variasi yaitu rumah yang didirikan diatas struktur tiang, terletak di permukaan tanah dan bentuk rumah tradisional yang berdenah lantai melingkar, dengan struktur atap kerucut melingkar seperti rumah tawon, sehingga menciptakan rumah tradisioanl yang unik yang membedakannya dengan rumah tradisional lain di kepulauan Indonesia.

• Rumah Sasak
Masyarakat Sasak mendiami pulau Lombok dibagian timur dan selatan. Lain halnya dengan tradisi kultural Hindu-Buddha masyarakat Bali yang mendiami bagian barat pulau, kultur masyarakat sasak adalah sinkretis antara keimanan Islam dan kepercayaan serta praktik animistis. Merefleksikan hal ini, maka arsitektur rumah tradisional dan bangunan lain jelas mewakili percampuran antara tradisional Bali dan gaya tipikal bangunan Indonesia Timur. Adapun contoh bangunan yang dapat diklasifikasikan sebagai arsitektur vernakular yaitu rumah tradisional Sasak dan gudang padi atau lumbung. Jika dipandang dari luar, struktur atap rumah tradisional Sasak kelihatan sama dengan rumah tradisioanal tipe joglo yang dibangun masyarakat Jawa. Gudang atau tempat penyimpanan padi sangat serupa dengan beberapa jenis rumah tradisional yang ditemukan dibagian lain daerah Nusa Tenggara yang mengarah ke timur.

Rumah Sasak
www. ahgidaman.blogspot.com


Bagaimana Melestarikannya

Karya arsitektur peninggalan masa lalu yang tersebar di seluruh wilayah kepulauan Nusantara contohnya bangunan purbakala yaitu arsitektur candi/kuil sebagian besar sudah tidak difungsikan sebagaimana seharusnya, demikian halnya dengan bangunan peninggalan bangsa lain seperti Portugis, Belanda, apabila kondisi bangunan cukup baik, akan dimanfaatkan dengan fungsi baru. Sedangkan arsitektur etnik yang kebanyakan adalah rumah tinggal dan rumah adat sampai saat ini sebagian besar masyarakat setempat masih tetap membangun bangunan baru dengan gaya lama. Di beberapa tempat di Indonesia dalam empat puluh tahun terakhir ini, telah banyak usaha yang dilakukan untuk menghentikan kepunahan lebih lanjut rumah tradisional dan hilangnya tradisi arsitektur vernakular. Bangunan yang memiliki kepentingan sejarah dipelihara dan dilestarikan sebagai monumen. Sebagai tambahan, di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) disana terdapat berbagai jenis model rumah tradisional. Di samping itu di beberapa daerah, bangunan pemerintah dirancang dengan menampilkan aspek yang paling mencolok atau paling umum di daerah tersebut, semuanya itu dilakukan untuk melestarikan tradisi dan warisan budaya serta kebanggaan akan identitas kedaerahan.


Kesimpulan

Di beberapa tempat di Kepulauan Indonesia, tradisi arsitektur vernakular tetap terus dipertahankan, sebagian besar tetap berlangsung kaku tanpa adanya modifikasi, sebagian lagi dibangun secara modern tetapi dengan menambahkan fitur dan tradisi arsitektur vernakular. Tradisi dan gaya arsitektur vernakular tetap penting bagi orang Indonesia karena berbagai alasan, kepentingan, maupun kegunaan. Untuk itu perlu dilakukan suatu upaya agar kepunahannya dapat dihentikan, di samping itu pelestariannya untuk generasi yang akan datang tergantung kepada besarnya kesadaran akan pentingnya tradisi dan nilai-nilai dari warisan budaya yang tak ternilai.


Daftar Pustaka

Dawson Barry and Gillow John. 1994. The Traditional Architecture of Indonesia. Thames and Hudson.

Gunawan Tjahyono. 1998. Architecture as the Volume 6 of Indonesian Heritage Series. Singapore: Archipelago Press.

J.J.M. Wuisman, Jan. 2009. Masa Lalu dalam Masa Kini Posisi dan Peran Tradisi-Tradisi Vernakular Indonesia dan Langgam Bangunan masa Lalu dalam Masa Kini. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Lilianny S Arifin. 2008. Arsitektur Nusantara Ala Mangunwijaya: Membangkitkan Makna Vernakular Lewat Jiwa Tradisi dalam http://www.architerian.net/myforum/viewtopic.php? diunduh pada Senin, 26 September 2011 jam 13.45.

Probo Hindarto. 2008. Arsitektur Vernakular Sebagai Bahasa Arsitektur Yang Tidak Terbatas Pada Sistem Konstruksi (esai) dalam http://astudioarchitect.com/2008/11/arsitektur-vernakular-sebagai-bahasa.html diunduh pada Rabu, 28 september 2011 jam 10.05.

Lilianny S Arifin. 2008. Arsitektur Nusantara Ala Mangunwijaya: Membangkitkan Makna Vernakular Lewat Jiwa Tradisi dalam http://www.architerian.net/myforum/viewtopic.php? diunduh pada Senin, 26 September 2011 jam 13.45.

Turan, Mete. 1990. Vernacular Architecture, Paradigms of Environmental Response.


Catatan:

[1] Turan Mete, Vernacular Architecture, 1990
[2] Dial Thespider ‘Arsitektur Vernakular Sumatera Barat’, In de_concept, diakses dari http://de- arch.blogspot.com/2008/10/arsitektur-vernakular-tinjauan-rumah.html, pada tanggal 28 September jam 2.20
[3] Dalam artikelnya’The House in Indonesia’, Peter Nas menyebutkan beberapa pengarang selain dirinya menyarankan definisi dan menyuguhkan tipe ideal rumah tradisional Indonesia yang dibangun berdasarkan langgam tradisi kuno arsitektur vernakular Austronesia, namun semuanya dianggap tidak terlalu memuaskan.
[4] Di masa lalu, rumah tradisional dengan tipe yang sama juga ditemukan dibagian barat kepulauan Indonesia, misalnya di pulau Enggano. Sekarang ini rumah tradisional dengan denah dasar elips dan dinaungi oleh atap kubah hanya ditemui di Pulau Nias.


*MAKALAH PIA 2011