Alifah
Balai Arkeologi Yogyakarta


Abstrak

Mosque Kauman Pleret as part of the remains of the Islamic kingdom of Mataram has many unsolved mysteries. This happens because the conditions of mosques in ruins. Also contains historical data about the building was minimal. From the many research ever conducted has not been enough to unreveal the mysteries that exist on these sites. This article tries to unravel the mysteries of the existing one is about the existing zoning in the mosque Kauman Pleret.

Keywords: Site Kauman Pleret Mosque, layout

Masjid Kauman Pleret sebagai salah satu tinggalan dari Kerajaan Mataram Islam memiliki banyak misteri yang belum terpecahkan. Hal ini terjadi karena kondisi masjid yang tinggal puing-puing. Selain itu data sejarah yang memuat tentang bangunan tersebut sangat minim. Dari beberapakali penelitian yang pernah dilakukan belum cukup untuk mengungkap misteri yang ada di situs tersebut. Tulisan ini berusaha untuk mengungkap salah satu misteri yang ada yaitu tentang tata ruang yang ada di Masjid Kauman Pleret.

Kata kunci: Situs Masjid Kauman Pleret, tata ruang

Pada intinya masjid dibangun untuk keperluan melaksanakan ibadah bagi umat Islam yaitu digunakan sebagai tempat untuk mengerjakan sholat lima waktu, sholat Jum’at, dakwah dan tempat suci untuk mempertemukan umat dengan penciptanya. Menurut Rochym, (1983) kegiatan pembangunan masjid merupakan titik tolak utama yang menjadi pusat perhatian sebelum bangunan-bangunan lain diciptakan. Bangunan lain yang dimaksud adalah istana atau keraton, puri, benteng pertahanan, serta kuburan.

Salah satu Masjid kuno yang masih dapat ditemui beberapa bagian struktur bangunannya adalah bangunan Masjid Agung Pleret atau Masjid Kauman Pleret yang merupakan masjid kerajaan dari keraton Mataram Islam. Masjid ini didirikan oleh Susuhunan Amangkurat I atau Susuhunan Amangkurat Agung yang memerintah kerajaan Mataram dari tahun 1646-1677 Masehi. Keraton Pleret dibangun dengan berbagai fasilitas sebagai pusat pemerintahan, salah satunya adalah pembangunan sarana keagamaan, yaitu Masjid Agung Pleret. Masjid Agung Pleret, saat ini terletak pada daerah yang ditandai dengan toponim Kauman. Toponim Kauman sendiri sekarang terletak di sebelah utara Pasar Pleret yang secara administratif terletak di Dusun Kauman, Desa Pleret, Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Situs ini secara astronomis berada pada koordinat 07°51’537’’ LS dan 110°24’20.4’’ BT.

Dua sumber sejarah yang menyebutkan informasi mengenai waktu pembangunan Masjid Agung Kauman Pleret adalah Serat Babad Momana dan Babad Ing Sengkala. Dalam Serat Babad Momana (salah satu sumber tertulis yang banyak menyebutkan peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di Kerajaan Mataram Islam), menyebutkan bahwa Masjid Agung Kauman Pleret didirikan pada tahun 1571 J atau sekitar 1649 Masehi atau tiga tahun setelah Amangkurat I naik tahta (Suryanagara, 1865). Sedangkan Babad ing Sangkala menyatakan bahwa pendirian Masjid Agung Kauman Pleret terjadi pada bulan Muharram tahun 1571 Jawa (Adrisijanti: 2000). Sedangkan informasi lain yang berkaitan dengan difungsikannya masjid serta informasi tentang bentuk masjid dan sebagainya sampai saat ini masih sangat minim.

Belum bisa diketahui dengan pasti kapan masjid ini mulai rusak dan tidak digunakan lagi. Pemberontakan Trunojoyo yang melakukan puncak penyerangan pada tanggal 28 Juni 1677, berhasil merebut Keraton Pleret, dan dilakukan pembakaran disejumlah bangunan namun menurut informasi yang disampaikan oleh Jonge (dalam Graaf, 1987) diketahui bahwa masjid tidak ikut dihancurkan. Berikut kutipannya:
“…setelah raja yang tua itu mengungsi, para pemberontak memasuki keraton. Dalam 5 hari berikut (28 Juni – 3 Juli 1677) Umbul Astrayuda yang berasal dari Semarang itu melihat hampir semua rumah para pembesar habis terbakar. Yang tidak terbakar hanyalah keraton itu sendiri, masjid besar, istana Pangeran Purbaya, Pangeran Sampang, Pangeran Cirebon, dan Pangeran Aria Panular, putra Sunan yang bungsu”

Pernyataan Jonge tersebut menginformasikan bahwa Masjid Agung masih dalam keadaan utuh di akhir pemerintahan kerajaan Mataram di Pleret pada tahun 1677 M. Informasi mengenai kondisi masjid ini diketahui lagi pada 56 tahun kemudian, yaitu saat kunjungan Lons pada tahun 1733. Menurut catatan Lons seperti yang ditulis oleh Leemans (1855) bahwa dalam kunjungannya pada tanggal 13 Agustus 1733, masih dapat dilihatnya bahwa masjid tersebut berukuran besar, berbentuk segi empat, tetapi sudah rusak. Ia juga masih melihat bahwa masjid tersebut mempunyai 3 pintu di sebelah timur, dan mempunyai serambi depan yang besar. Disebutkan bahwa masjid itu dikelilingi tembok tebal dan tinggi (Adrisijanti, 2000). Jika informasi Lons tersebut benar, bisa dibayangkan seberapa besar dan megah bangunan masjid kerajaan tersebut. Sampai saat ini yang tersisa di Situs Masjid Kauman Pleret hanyalah sisa-sisa struktur bangunan, sehingga bukti kebenaran dari informasi Lons tersebut belum terlacak. Dalam tulisan ini akan coba diungkap tentang “ bagaimana tata ruang Masjid Agung Kauman Pleret”


Riwayat penelitian

Situs Masjid Kauman Pleret mulai dikenal luas sejak dilakukan penelitian pendataan Kepurbakalaan Kerajaan Mataram Islam oleh Departemen P dan K. Hasil Penelitian menyebutkan bahwa Masjid Kauman Pleret merupakan bangunan dengan luas 40×40 m dan yang tersisa hanyalah bagian pengimaman, dinding sisi utara yang di sisi tengahnya terdapat tangga dari bahan batu andesit, pada bagian timur terdapat bak air dan sumur serta temuan umpak dari batu andesit yang berjumlah 14 buah (Nurhadi dan Armeini, 1976). Penelitian berikutnya dilakukan oleh Balai Arkeologi Yogyakarta berupa survei yang hasilnya memlengkapi data dari penelitian sebelumnya.

Pada tahun 2003, Dinas Kebudayaan DIY bekerjasama dengan Balai Arkeologi Yogyakarta, Bp3 DIY dan Jurusan arkeologi UGM mulai melakukan penelitian secara intensif di situs ini dengan melakukan survey dan ekskavasi, sampai saat ini sudah dilakukan VII tahap penelitian. Penelitian tahun 2003 meliputi 2 tahap yaitu tahap I dan II. Penelitian tahap I menghasilkan temuan berupa pondasi dinding sisi barat, yang berada di sebelah utara dan selatan dari sisa struktur mihrab. Selain itu penggalian di sudut barat daya dan barat laut belum menemukan sudut pondasi dari bangunan masjid, hanya ditemukan fragmen dan runtuhan serta belum dapat digunakan sebagai acuan yang mengarah pada bukti bagian dari sudut bangunan masjid masa lalu (Tim Penelitian I, 2003).

Penggalian Tahap II berhasil mengungkap struktur denah masjid yang diwakili oleh 4 kotak di sisi utara, 1 kotak di sisi timur dan 1 kotak di sisi barat. Pembukaan sebanyak 4 kotak di sisi timur berhasil mengungkap struktur benteng masjid bagian timur. Sedangkan pembukaan 1 buah kotak di bagian selatan menemukan struktur benteng bagian selatan. Selain itu penggalian tahap II ini juga ditemukan struktur tangga masuk pada benteng sisi timur, dengan dibuka sebanyak 4 kotak, walaupun keadaan sudah tidak lengkap lagi. Di sayap selatan ditemukan struktur bata membentuk lingkaran setinggi 90 cm yang di atasnya ditutup dengan lempengan batu putih sebanyak tiga lapis. Struktur tersebut diperkirakan merupakan sisa atau runtuhan benteng atau pagar sisi selatan. Di depan mihrab berhasil ditemukan adanya trap (anak tangga) serta sebagian lantai dengan bahan batu putih. Temuan yang cukup menarik yaitu adanya struktur landasan umpak (Tim Penggalian II, 2003).

Penelitian tahap III tahun 2005 menghasilkan data yanag kemudian diinterpretasikan untuk merekonstruksi denah masjid yang berbentuk bujursangkar. Penelitian tahap ini mengungkapkan bahwa ukuran keseluruhan masjid 40×40 m2, bangunan masjid sendiri berukuran 34×35 m2, yang terdiri dari bagian bangunan induk, pawestren, serambi kanan, serambi kiri, dan selasar bagian utara. Selain itu disimpulkan pula berdasarkan pengukuran ketinggian tanah diperoleh informasi bahwa tiap-tiap bagiannya terdapat perbedaan ketinggian kurang lebih 15 cm. Misalnya, bangunan induk, serambi dan selasar terdapat perbedaan ketinggian sebesar 15 cm baik ke samping maupun ke depan. Dengan demikian Masjid Kauman ini dibangun dengan struktur yang berteras (Tim Penelitian, 2005).

Penelitian Tahap IV tahun 2007 berupa ekskavasi dan berhasil membuka sebanyak 13 kotak ekskavasi yang dititikberatkan pada pelacakan struktur sudut benteng atau dinding masjid sebelah tenggara dan jagang masjid yang berada di sebelah timur masjid. Penelitian tahap ini menghasilkan temuan berupa struktur yang bangunan yang berada di sisi timur bangunan inti masjid. Struktur ini diperkirakan sebagai bagian dari struktur bangunan kuncungan masjid, atau lebih khususnya pondasi bangunan kuncungan yang ada di bagian timur masjid. Untuk memperkuat rekonstruksi, terlebih dahulu diadakan kompilasi dengan berbagai data yang ditemukan, dan didukung oleh data hasil studi komparatif dengan Masjid Agung Mataram Kotagede (yang dibangun sebelum Masjid Kauman Pleret). Dari proses tersebut berhasil disusun rekonstruksi sementara bagian bawah bangunan kuncungan Masjid Kauman Pleret. Bagian bawah bangunan kuncungan ini terdiri dari beberapa bagian, berupa pondasi pintu kuncungan yang dibuktikan dengan adanya bekas lubang engsel pintu. Dari data tersebut diperoleh informasi bahwa lebar daun pintu sekitar 2 m.

Temuan struktur yang diinterpretasikan sebagai pondasi pintu kuncungan. Lobang pada bata yang digunakan sebagai tempat untuk pintu. Sumber: Dinas Kebudayaan DIY

Pada bagian kiri dan kanan bawah terdapat bata berlubang yang digunakan sebagai tempat engsel pintu. Bekas guratan luka yang ada pada tepian lubang menunjukkan bahwa benda yang dimasukkan ke dalam lubang tersebut digunakan dengan teknik memutar. Kusen pintu yang digunakan belum bisa diketahui apakah menggunakan kayu, pasangan bata atau material lainnya. Disebelah timur pinti kuncungan terdapat selasar yang merupakan penghubung pintu dengan jagang yang dibuktikan dengan permukaan tanah yang ada di barat pondasi pintu adalah berupa tanah yang dipadatkan (yang diduga difungsikan sebagai lantai selasar). Pada penggalian tahap ini juga ditemukan bukti keberadaan jagang berupa lapisan tanah yang mengindikasikan genangan air yang bertektur lempung pasiran, padat, agak basah, berwarna coklat tua kelabu. Selain itu juga ditemukan adanya struktur yang mengindikasikan bagian dari dasar jagang. Walaupun bukti keberadaan jagang sudah ditemukan, namun data tersebut belum dapat digunakan untuk merekonstruksi bentuk dan ukuran jagang (Tim Penelitian IV, 2007).

Penelitian Tahap V tahun 2008 berupa ekskavasi dengan tujuan untuk melengkapi data-data yang diperoleh pada tahap sebelumnya. Bagian yang menjadi sasaran ekskavasi adalah bagian barat, tengah dan timur Masjid Kauman Pleret. Bagian barat meliputi struktur pondasi dinding sisi barat, struktur sudut barat daya, dan struktur sudut barat laut. Bagian tengah meliputi struktur landasan umpak dan lantai sedangkan sasaran bagian timur meliputi struktur bangunan di bagian timur masjid. Ekskavasi pada tahap ini berhasil membuka sebanyak 43 kotak.

Berdasarkan analisis hasil ekskavasi di tahap ini dapat dihasilkan penafsiran bahwa bentuk dan karakteristik Masjid Kauman Pleret berbeda dengan karakteristik masjid Kerajaan Mataram yang lain. Perbedaan tersebut terletak pada di Masjid Kauman Pleret ini belum ditemukan bukti adanya struktur yang mengindikasikan adanya pembagian ruang berupa liwan, serambi kiri, serambi kanan, dan serambi depan. Dugaan sementara masjid ini hanya memiliki satu ruang saja dengan ukuran masjid sekitar 40×40 m . Di dalam ruang tersebut terdapat saka (tiang) sejumlah 36 buah (sejauh ini ditemukan 23 buah umpak) yang menopang atap berbentuk tajug. Data ini sekaligus merevisi hasil interpretasi penelitian tahap III tahun 2005 yang menyatakan adanya pembagian ruang pada bangunan masjid.

Umpak-umpak di situs Masjid Kauman Pleret. Sumber: Dinas Kebudayaan DIY

Penelitian tahap ini menemukan adanya data bahwa terdapat saluran air yang berada di dinding utara masjid. Adanya saluran air memunculkan dugaan bahwa terdapat bagian di dalam masjid yang tergenang air, kemudian dialirkan melewati saluran tersebut. Selain itu, pada tahap ini juga ditemukan adanya struktur yang berbelok di dinding barat masjid. Hal ini memunculkan dugaan tentang adanya pintu di lokasi tersebut. Pintu ini diduga adalah pintu yang digunakan raja atau oleh imam masjid. Akses dari pintu masuk langsung ke barisan shaf pertama sangat dibutuhkan oleh raja dan imam masjid. Keberadaan pintu tersebut serupa dengan yang terdapat di Masjid Agung Demak, yang memiliki pintu di kiri dan kanan pada shaf pertama.

Temuan adanya indikasi struktur dinding masjid yang membelok dan diperkirakan digunakan sebagai pinti masuk.

Penelitian tahap VI tahun 2009 berupa ekskavasi yang berhasil membuka 32 kotak. Tujuan dari ekskavasi tahap ini adalah guna merekonstruksi tata ruang komponen keraton Mataram Islam pada masa pemerintahan Sunan Amangkurat I. Sasaran ekskavasi ini adalah sisa-sisa peninggalan arkeologis yang ada di Situs Masjid Kauman Pleret. Kegiatan ekskavasi dilakukan pada sasaran yang ingin dicapai, yaitu di bagian timur situs yang meliputi lahan dan sisa struktur yang ada di bagian timur bangunan inti. Kegiatan ekskavasi dilakukan pada lokasi yang belum pernah digali pada penelitian ditahap sebelumnya. Beberapa lokasi yang pernah digali sebelumnya dengan temuan yang dianggap signifikan, akan ditampakkan kembali untuk memberikan gambaran mengenai detail data arkeologis yang ditemukan.

Berdasarkan temuan di lapangan dan analisis, struktur pondasi landasan umpak di Situs Masjid Kauman Pleret disusun dengan pola denah jaring, dengan jarak antar struktur 80 cm, berorientasi 15° sangat tidak sejajar dengan grid ekskavasi atau arah mata angin. Tidak hanya itu, landasan umpak di sisi timur yaitu umpak soko penitih, pada posisi 1 m bergeser ke arah selatan. Hasil ini merupakan beberapa revisi mengenai plotting landasan umpak pada tahun 2008. Ekskavasi tahap ke VI ini juga berhasil mendapatkan data baru yang signifikan terkait dengan pintu masuk di sisi timur. Struktur tersebut membujur arah utara-selatan sepanjang 175 cm dan memiliki lebar 50 cm. Ada dugaan trap tangga di pintu masuk ini juga terbuat dari batu andesit seperti yang terdapat di pintu masuk sisi utara (Tim Penelitian, 2009).

Penelitian tahap VII tahun 2010, pada tahap ini penelitian dilakukan disektor barat daya, sektor barat dan sektor timur. Dari data yang ada diperoleh kesimpulan bahwa di sebelah barat daya dari situs Masjid Kauman Pleret terdapat bangunan pendukung masjid yang diperkirakan sebagai tempat tinggal imam. Selain itu juga ada indikasi terputusnya struktur pondasi dinding masjid yang ada di sisi selatan. Temuan di sisi timur menunjukan adanya stuktur yang diperkirakan bagian dari struktur serambi, sedangkan disisi barat menunjukan adanya indikasi perbedaan ketinggian antara lantai pengimaman dan lantai jamaah.


Analisis Tata Ruang

Masjid merupakan contoh tertinggi dari wujud kerjasama antara ajaran Islam dan kebudayaan daerah (Rochym, 1983). Menurut G.F. Pijper (1992) Indonesia memiliki arsitektur masjid kuno yang khas dan berbeda dengan masjid di negara lain. Tipe masjid Indonesia berasal dari pulau Jawa, sehingga disebut masjid tipe Jawa dengan ciri berupa :

  1. Pondasi bangunan berbentuk persegi dan pejal (massive) yang agak tinggi
  2. Masjid tidak berdiri diatas tiang seperti rumah di Indonesia model kuno dan langgar tetapi diatas dasar yang padat
  3. Mempunyai atap yang meruncing ke atas, terdiri dari 2 sampai 5 tingkat, semakin keatas atap semakin kecil
  4. Mempunyai tambahan ruangan disebelah barat atau barat laut yang dipakai untuk mihrab
  5. Mempunyai serambi didepan atau di kedua sisinya
  6. Halaman disekelilingnya dibatasi oleh tembok dengan satu pintu masuk didepan yang disebut gapura
  7. Denahnya berbentuk segi empat
  8. Dibangun disebelah barat alun-alun
  9. Arah mihrab tidak tepat ke kiblat
  10. Dibangun dari bahan yang mudah rusak
  11. Terdapat parit disekelilingnya atau di depan masjid
  12. Dahulu dibangun tanpa serambi (intinya saja), (dalam Samulyo, 2006).

Berdasarkan temuan dari beberapa ekskavasi dan survei baik yang dilakukan oleh Balai Arkeologi Yogyakarta, Puslitbang Arkenas maupun oleh Dinas Kebudayaan DIY dapat diketahui bahwa masjid Kauman Pleret memiliki pembagian ruang sebagai berikut bangunan inti masjid atau liwan memiliki luas 41x41m bangunan inti tersebut terdiri dari satu ruang tanpa skat permanen. Pendapat ini berdasar pada letak soko guru yang berada di tengah bangunan dengan ukuran tersebut. Soko guru merupakan penopang utama yang terletak ditengah dari suatu bangunan, secara estetika juga menunjukan bahwa tempat tersebut sebagai titik center. Berdasarkan temuan umpak maupun landasannya diyakini bangunan inti masjid ditopang oleh 36 umpak. Jumlah umpak yang telah ditemukan sampai saat ini berjumlah 22 buah.

Umpak-umpak tersebut sebagai penopang atap yang diperkirakan bertingkat lima. Pendapat ini berdasarkan teori yang dikemukakan oleh Pijper bahwa masjid agung kerajaan memiliki atap bertingkat lima karena tingkat lima merupakan hak istimewa kerajaan. Di sisi barat bangunan inti terdapat mihrap yang memiliki indikasi lantai yang lebih tinggi dari lantai bangunan inti. Pada sisi utara bangunan inti terdapat indikasi adanya pintu masuk, hal ini dibuktikan dengan adanya struktur tangga yang terbuat dari batu andesit. Jika dilihat dari unsur estetika maka diperkirakan disisi selatan juga terdapat pintu yang simetris dengan pintu yang ada disisi utara, namun sampai saat ini indikasi temuan yang mengarah kependapat tersebut belum ada. Selain bangunan inti atau liwan di sisi selatan dari liwan terdapat bangunan pendukung yang berbeda fungsi hal ini diyakini dari ketinggian struktur bangunan yang lebih rendah dari bangunan inti atau liwan.


Pada struktur bagian selatan mihrab terdapat indikasi adanya pintu yang menghadap keselatan. Pintu tersebut kemungkinan dipergunakan sebagai penghubung dan pintu masuk untuk orang yang tinggal di bangunan yang berada di sebelah selatan masjid.

Rekonstruksi tata ruang ini masih perlu didukung oleh data sejarah mengingat situs Masjid Kauman Pleret telah mengalami beberapakali pengrusakan dan peralihan fungsi. Adanya serangan pemberontakan Trunojoyo, perang Diponegoro yang pernah berlokasi di wilayah Pleret, pembanguan pabrik Gula pleret yang menggunakan material dari sisa-sisa bangunan kraton Pleret, pendudukan Jepang yang membangun tangsi dan lobang persembunyian di sekitar situs. Selain itu pada sisi timur laut bagunan inti masjid kauman Pleret juga pernah dimanfaatkan sebagai mushola pada masa perang kemerdekaan. Hal tersebut telah sedikit banyak merancukan kondisi situs kauman Pleret sebagaimana sebelumnya yang digunakan sebagai tempat ibadah.


Daftar Pustaka

Adrisijanti, Inajati dan Novida Abbas. 1981. Laporan Penelitian Plered. Yogyakarta: Proyek Penelitian Purbakala Yogyakarta.

Adrisijanti, Inajati. 2000. Arkeologi Perkotaan Mataram Islam. Yogyakarta: Jendela.

Tim Penelitian, 2003. Laporan Ekskavasi Penyelamatan dan Pendokumentasian Benda Cagar Budaya di Situs Masjid Kauman Pleret Bantul Tahap I Tahun 2003. Yogyakarta: Dinas Kebudayaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Tim Penelitian, 2003. Laporan Ekskavasi Penyelamatan dan Pendokumentasian Benda Cagar Budaya di Situs Masjid Kauman Pleret Bantul Tahap II Tahun 2003. Yogyakarta: Dinas Kebudayaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Tim Penelitian, 2005. Laporan Ekskavasi Penyelamatan dan Pendokumentasian Benda Cagar Budaya di Situs Masjid Kauman Pleret Bantul Tahap III Tahun 2005. Yogyakarta: Dinas Kebudayaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Tim Penelitian, 2007. Laporan Ekskavasi Penyelamatan dan Pendokumentasian Benda Cagar Budaya di Situs Masjid Kauman Pleret Bantul Tahap IV Tahun 2007. Yogyakarta: Dinas Kebudayaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Tim Penelitian, 2008. Laporan Ekskavasi Penyelamatan dan Pendokumentasian Benda Cagar Budaya di Situs Masjid Kauman Pleret Bantul Tahap V Tahun 2008. Yogyakarta: Dinas Kebudayaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Tim Penelitian, 2009. Laporan Ekskavasi Penyelamatan dan Pendokumentasian Benda Cagar Budaya di Situs Masjid Kauman Pleret Bantul Tahun 2003. Yogyakarta: Dinas Kebudayaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Rochym, Abdul, 1983. Sejarah Arsitektur Islam. Bandung : Penerbit Angkasa

Rochym, Abdul, 1983. Masjid Dalam Karya Arsitektur Nasional Indonesia. Bandung : Penerbit Angkasa

Nurhadi dan Armeini. 1976. Laporan Survai Kepurbakalaan Kerajaan Mataram Islam (Jawa Tengah). Yogyakarta: Proyek Penelitian dan Penggalian Purbakala, Departemen P & K.

Suryanagara, K.P.A. Tanpa tahun. Serat Babad Momana. Naskah ketikan koleksi Badan Penerbit Soemodidjojo Maha Dewa. Tidak terbit.

Graaf, H.J. de. 1987. Runtuhnya Istana Mataram. Cetakan I. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.

Sumalyo, Yulianto, 2006. Arsitektur Masjid dan Monumen Sejarah Muslim. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

 

*MAKALAH PIA 2011