Beranda

Pameran Tematik: Sarana Untuk Meningkatkan Daya Tarik Museum Sebagai Destinasi Wisata Edukasi

Tinggalkan komentar

Pipit Puji Lestari
Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran


Abstrak

Museum didirikan dengan tujuan utama melestarikan warisan budaya, bukan hanya melestarikan fisik benda-benda warisan budaya, tetapi juga melestarikan makna yang terkandung di dalam benda-benda itu dalam sistem nilai dan norma. (Tim Direktorat Museum). Sayangnya, walaupun museum mempunyai arti yang sangat penting, kunjungan masyarakat ke museum belum menggembirakan, hanya 2 persen dari jumlah penduduk per tahun. Menurut Direktur Ullen Sentalu Museum, KRT Thomas Haryonagoro kesan museum di masyarakat selama ini adalah tidak atraktif, tidak aspiratif, tidak menghibur.

Keberadaan museum belum mampu menunjukkan nilai-nilai koleksi yang tersimpan kepada publik.(Yurnaidi, 2009) Makalah ini menyajikan tentang pameran tematik sebagai sarana untuk meningkatkan daya tarik museum sebagai destinasi wisata edukasi. Adapun yang dimaksud pameran tematik disini adalah pameran yang diadakan di luar pameran rutin harian museum, dengan tema khusus atau pada waktu tertentu. Tema pameran bisa sangat bervariasi sesuai dengan spesifikasi masing-masing museum, karena masing-masing museum mempunyai ciri khas dan keistimewaan tersendiri. Dengan adanya pameran tematik diharapkan minat masyarakat untuk berkunjung ke museum semakin tinggi dengan demikian warisan budaya yang diciptakan pada masa lampau tidak terlupakan.

Thematic Exhibition: An Instrument to Increase Museum’s
Attractiveness as Educational Tourism Destinations


Abstract

Museum was founded with the aim of preserving cultural heritage, not only the physical objects of cultural heritage, but also preserving the meaning contained in the objects in the system of values and norms (Directorate of Museum’s Team). Unfortunately, although the museum has a very important sense, community visiting museums needs to be encouraged, since the number figures only 2% of the population per year. According to KRT Thomas Haryonagoro, Ullen Sentalu’s Museum Director, museum has not yet impressed public since museum is labeled as not attractive, not aspiring, nor entertaining. The existence of the museum has not been able to demonstrate the values of the collections to the public. (Yurnaidi, 2009).

This paper presents the thematic exhibitions as a means to increase the attractiveness of the museum as an educational tourism destination. The thematic exhibition here refers to the exhibition that was held outside the daily routine Museum’s displays, but an exhibition with specific theme or at a certain time. The theme of the exhibition can vary greatly according to the specifications of each museum, as each museum has a characteristic and distinctive. With the thematic exhibition is expected to interest public to visit the museum thus the cultural heritage created in the past will not be forgotten.


PENDAHULUAN

Warisan budaya dan peradaban setiap negara membuka jendela kehidupan tentang spirit, etos, kreativitas, adat, istiadat dan sejarah berbagai bangsa dunia. Mengenal warisan budaya dan peradaban setiap negara dan menyerap pengalaman para pendahulu merupakan jalan untuk meretas masa depan yang lebih gemilang. Museum sebagai tempat penyimpanan benda-benda bersejarah dari budaya dan peradaban etnis masa lalu membuka kesempatan untuk mengenal peradaban dan budaya orang-orang terdahulu dari generasi ke generasi (Anonim, 2011).

Benda-benda yang disimpan di museum merupakan perjalanan sejarah selama ribuan tahun hingga kini. Dengan demikian, museum dewasa ini menunjukkan parameter pembangunan sebuah bangsa dan negara. Artinya, keberadaan museum di sebuah negara sebagai salah satu parameter pembangunan negara itu dibandingkan negara lainnya. Semakin tinggi kualitas dan kuantitas museum sebuah negara, maka indeks pembangunan di negara itu semakin meningkat (Anonim, 2011)

Museum di Indonesia didirikan dengan tujuan untuk menciptakan kelembagaan yang melakukan pelestarian warisan budaya dalam arti yang luas, artinya bukan hanya melestarikan fisik benda-benda warisan budaya, tetapi juga melestarikan makna yang terkandung di dalam benda-benda itu dalam sistem nilai dan norma. Dengan demikian warisan budaya yang diciptakan pada masa lampau tidak terlupakan, sehingga dapat memperkenalkan akar kebudayaan nasional yang digunakan dalam menyusun kebudayaan nasional. Museum sangat berperan dalam pengembangan kebudayaan nasional, terutama dalam pendidikan nasional, karena museum menyediakan sumber informasi yang meliputi segala aspek kebudayaan dan lingkungan. Museum menyediakan berbagai macam sumber inspirasi bagi kreativitas yang inovatif yang dibutuhkan dalam pembangunan nasional. Namun museum harus tetap memberikan nuansa rekreatif bagi pengunjungnya. Sebagai lembaga pelestari budaya bangsa, museum harus berazaskan pelayanan terhadap masyarakat. Program-program museum yang inovatif dan kreatif dapat meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap museum (Tim Direktorat Museum).

Selama ini museum belum menjadi tempat tujuan utama bagi kalangan generasi muda. Masih banyak kalangan generasi muda kita yang enggan untuk berjunjung ke museum karena kesannya yang tidak menarik dan membosankan. Kebanyakan dari mereka lebih memilih untuk pergi ke pusat-pusat perbelanjaan atau pusat keramaian lain sebagai tempat bersenang-senang. Hal ini sungguh memprihatinkan, karena bila hal ini tidak diperbaiki di khawatirkan nilai-nilai agung budaya warisan nenek moyang kita lama kelamaan akan terlupakan.


PEMBAHASAN

a. Minat Masyarakat Untuk Berkunjung Ke Museum Masih Kurang
Kunjungan masyarakat ke museum yang tersebar di berbagai kota belum menggembirakan, hanya 2 persen dari jumlah penduduk per tahun. Karena itu, dicanangkannya Tahun Kunjungan Museum 2010, perlu dibuat berbagai terobosan. Museum harus tampil beda, muncul dengan new brand (Yurnaldi, 2009).

Direktur Ullen Sentalu Museum, KRT Thomas Haryonagoro mengatakan, kesan museum di masyarakat selama ini adalah tidak atraktif, tidak aspiratif, tidak menghibur, dan pengelolaan seadanya. Keberadaan museum belum mampu menunjukkan nilai-nilai koleksi yang ters impan kepada publik. Kondisi sumberdaya manusia di museum pun memprihatinkan. Edukator (programmer) kurang profesional, kehumasan (public relation) lemah, kurang aktif. Pemasaran stagnan, ungkapnya (Yurnaldi, 2009).

Kondisi ini diperparah pula dengan penyelenggara pariwisata yang kurang berpihak kepada museum. Museum dinilai belum sebagai destinasi yang potensial. Otonomi daerah pun menghambat konsolidasi pusat-daerah (Yurnaldi, 2009).

Thomas Haryonagoro berpendapat, pengelola museum ke depan harus berupaya bagaimana menjadikan museum sebagai rumah memelihara pikiran-pikiran yang tetap hidup daripada sekadar kuburan barang rongsokan. Hanya dengan demikian, museum dapat menjadi tempat belajar dan pencerahan bagi manusia, sekaligus tempat menyenangkan (Yurnaldi, 2009).

Museum adalah juga pusat industri budaya, tempat kontemplasi yang inspirasional pemicu munculnya karya kreatif. Museum itu sendiri menjadi bagian dari industri kreatif. Perlu muncul new brand, sebuah inisiatif yang bertujuan pada peningkatan awareness masyarakat terhadap museum. Bagaimana mengemas potensi museum secara menarik, atraktif, dan kekinian, jelasnya. Bahkan, berangkat dari kesadaran bahwa pengalaman sejarah maupun artefak yang tersimpan di museum dapat dipelajari begaram hal, untuk diambil nilai-nilainya yang positif bagi kehidupan masa kini, maka positioning museum juga sebagai inspirator dan motivator bagi masyarakat untuk mengambil hal-hal yang bernilai dari masa lalu yang dimanfaatkan pada masa kini (Yurnaldi, 2009).

Data dari Direktorat Permuseuman Departemen Kebudayaan dan Pariwisata jumlah museum di seluruh Indonesia sekarang ini mencapai 269 buah. Dari jumlah tersebut, 176 museum dikelola oleh kementerian atau pemerintah daerah, 7 museum dikelola oleh unit pelaksana teknis Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, serta 86 museum dikelola oleh pihak swasta. Dari segi jumlah kunjungan, dalam rentang beberapa tahun terakhir, jumlah kunjungan masyarakat Indonesia ke museum tampak terus mengalami penurunan.Tahun 2006, angka kunjungan total masyarakat Indonesia ke museum adalah 4.561.165 kunjungan. Pada tahun 2007, jumlah ini menurun menjadi 4.204.321 kunjungan dan menurun lagi di tahun 2008 menjadi 4.174.020 kunjungan.Jika tidak dilakukan langkah-langkah berarti, bisa jadi tingkat kunjungan masyarakat kita ke museum akan terus menurun. artinya, museum akan semakin tidak dilirik orang dan bahkan mungkin akhirnya dilupakan.Sesungguhnya banyak hal yang bisa dilakukan agar museum tidak kehilangan pamor sekaligus menarik minat masyarakat untuk terus mengunjungi. Selain dengan menambah dan memperbarui koleksi-koleksinya, salah satu yang bisa dilakukan untuk menyedot minat pengunjung adalah dengan cara menggelar berbagai kegiatan menarik, seperti pentas seni, seminar, konferensi hingga pertunjukan musik remaja, yang berpusat di museum. Agenda kegiatan yang digelar di museum ini harus berkesinambungan dan berlangsung sepanjang tahun, bukan cuma temporer dan musiman (Fitriasarah, 2010).

b. Pameran Tematik: Sarana Untuk meningkatkan Daya Tarik Museum Sebagai Destinasi Wisata Edukasi
Selain penyelenggaraan kegiatan lain di luar pameran seperti konferensi dan pertunjukan musik, pelaksanaan pameran sendiri juga harus dikemas semenarik mungkin sehingga kesan membosankan museum dapat hilang, sekaligus pengunjung dapat belajar dari koleksi museum dengan lebih menyenangkan. Disamping pameran koleksi rutin setiap harinya, akan lebih menyenangkan bila pihak museum juga menyelenggarakan pameran-pameran khusus dengan tema yang populer sehingga lebih menarik masyarakat untuk berkunjung. Tema yang diangkat dipilih berdasarkan pangsa pasar utama yang dituju. Untuk kalangan pelajar setingkat sekolah lanjutan tema yang perlu diangkat tentu agak berbeda dengan masyarakat umum misalnya, karena kalangan pelajar biasanya lebih kritis sehingga pameran perlu dibuat lebih menarik dan memancing imajinasi mereka untuk bertanya. Pameran bisa diselenggarakan dengan memanfaatkan momen tertentu yang familiar dengan remaja seperti misalnya hari valentine, dengan tema pameran yang menarik sehingga tidak membosankan bagi remaja. Pameran tematik bisa dilaksanakan di museum maupun di luar museum. Lokasi pameran yang diselenggarakan di luar museum bisa dilakukan di tempat umum yang banyak dikunjungi masyarakat seperti alun-alun, pusat perbelanjaan atau sekolah-sekolah. Pada pameran ini, koleksi yang dipamerkan sebaiknya replika. Bila memungkinkan untuk membawa koleksi asli, pengamanan koleksi harus diperhatikan, menyangkut keamanan di lokasi pameran maupun pengangkutan sehingga resiko koleksi hilang/rusak bisa ditekan seminimal mungkin.

Bila memungkinkan, pameran dengan tema yang berubah-ubah dapat diselenggarakan di dalam museum itu sendiri. Untuk itu, selain ruang koleksi utama, patut dipertimbangkan untuk menyediakan ruangan khusus untuk pameran tematik, misalnya untuk memamerkan koleksi terbaru yang dimiliki oleh museum, terutama untuk museum yang masih bisa menambah koleksinya.

Disamping remaja, kalangan yang sangat perlu ditingkatkan minatnya untuk berkunjung ke museum adalah anak-anak. Anak-anak akan mendapat akan pengalaman di museum dengan bertambahnya pengetahuan yang diperoleh di lingkungan pendidikan formal di sekolah. Untuk menunjang ke arah itu, maka museum harus menekankan pada aspek keunikan materi koleksi yang di milikinya. Oleh sebab itu, fokus dari proses pembelajaran anak adalah pada koleksi beserta informasinya (Arbi, 2002).

Para ahli menetapkan ada 3 lingkup pembelajaran di museum yaitu:

  • Kognitif (berpikir)
  • Afektif (emosi)
  • Motor (keterampilan fisik)

Dalam membuat program interpretasi di museum, khususnya untuk anak-anak, harus mempertimbangkan ketiga aspek tersebut. Penyajian informasi maupun pembimbingan yang dilakukan harus mampu merangsang anak untuk bertanya dan secara aktif mencari jawaban-jawabannya sendiri. Aktifitas terutama berpusat pada diskusi dan teknik penjelajahan yang dipandu (guided discovery) dapat diterapkan pada beberapa kelompok usia dan secara efektif dapat mendorong anak-anak untuk belajar melalui benda (Arbi, 2002).

c. Perlunya Kerjasama Dengan Pihak di Luar Museum
Hal yang bisa dilakukan pengelola museum untuk menggaet wisatawan untuk berkunjung adalah dengan menggalang kerja sama dengan agen wisata. Pihak pengelola museum dan agen wisata dapat merancang paket wisata khusus ke museum termasuk berbagai atraksi yang akan digelar di museum, sekaligus menjadikan kunjungan ke museum sebagai salah satu daftar agenda kunjungan para wisatawan. Memperpanjang waktu buka museum dan memungkinkan para pengunjung masuk ke museum secara gratis juga dapat dilakukan untuk menarik minat masyarakat berkunjung ke museum. Khusus untuk masuk museum secara gratis, tentu hanya diberlakukan pada momen-momen tertentu, tidak setiap hari. Contohnya, pada saat peringatan Hari Kemerdekaan atau peringatan Hari Museum Internasional.Menurunnya kunjungan masyarakat ke museum antara lain disebabkan pula oleh kurangnya promosi dan pemasaran dari para pengelola museum. kebanyakan pengelola museum dinilai pasif dalam memasarkan museum yang dikelolanya. Saat ini banyak sarana yang bisa dimanfaatkan untuk melakukan promosi dan pemasaran menyangkut koleksi dan aktivitas museum. Dari pihak pengelola museum, misalnya, bisa bekerja sama dengan media agar secara berkala memuat agenda acara yang ada di berbagai museum. Dengan demikian, masyarakat mengetahui secara persis koleksi museum, jam buka dan tutup museum berikut berbagai agenda acara yang ada di museum (Fitriasarah, 2010).

Hal lain yang dapat dilakukan pengelola museum adalah merangkul komunitas-komunitas yang ada di masyarakat. Sebagaimana diketahui, terdapat banyak sekali komunitas di masyarakat ini. Dengan mempertimbangkan bidang minat yang mereka tekuni, berbagai komunitas di masyarakat ini bisa dirangkul dan menjadi bagian penting dalam upaya promosi dan pemasaran museum. Dengan pesatnya kemajuan teknologi informasi komunikasi saat ini, pengelola museum sesungguhnya dapat dengan mudah melakukan promosi dan pemasaran melalui dunia maya sehingga koleksi dan aktivitas museum pun dapat dikenal secara lebih luas.Tujuannya agar masyarakat ke depannya tidak hanya menunggu acara seremonial ke museum, namun dapat datang kapan saja, sepanjang tahun. Sudah saatnya masyarakat umum yang menjadi sasaran pendidikan nonformal museum untuk tidak terpaku lagi dengan acara khusus yang dilaksanakan museum, namun masyarakat dapat kapanpun mengunjungi museum. Kunjungan wisatawan mancanegara ( Wisman ) ke Indonesia masih sangat rendah, jauh dibandingkan Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam yang sudah banyak wisatawan yang berwisata ke negera tetangga. Rendahnya wisatawan berkunjung ke Indonesia karena promosi yang kurang gencar, akibat dana promosi kita masih kecil dan sangat terbatas. Dengan melakukan promosi horisontal itu melalui pendekatan komunitas di Indonesia, Dimana secara aktif mereka menggelar kegiatan MICE (Meeting, Incentive, Convention & Exhibition) di antaranya pertemuan dihadiri anggota – anggota dari mancanegara (Fitriasarah, 2010).


PENUTUP

Museum di Indonesia didirikan dengan tujuan untuk menciptakan kelembagaan yang melakukan pelestarian warisan budaya dalam arti yang luas, artinya bukan hanya melestarikan fisik benda-benda warisan budaya, tetapi juga melestarikan makna yang terkandung di dalam benda-benda itu dalam sistem nilai dan norma. Namun museum harus tetap memberikan nuansa rekreatif bagi pengunjungnya. Sebagai lembaga pelestari budaya bangsa, museum harus berazaskan pelayanan terhadap masyarakat. Program-program museum yang inovatif dan kreatif dapat meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap museum. (Tim Direktorat Museum). Meningkatnya apresiasi masyarakat salah satunya tercermin dari tingginya tingkat kunjungan masyarakat ke museum. Dengan demikian warisan budaya yang diciptakan pada masa lampau tidak terlupakan, sehingga dapat memperkenalkan akar kebudayaan nasional yang digunakan dalam menyusun kebudayaan nasional.

Pameran tematik merupakan salah satu sarana untuk meningkatkan daya tarik museum sebagai destinasi wisata edukasi. Adapun yang dimaksud pameran tematik disini adalah pameran yang diadakan di luar pameran rutin harian museum, dengan tema khusus atau pada waktu tertentu. Tema pameran bisa sangat bervariasi sesuai dengan spesifikasi masing-masing museum, karena masing-masing museum mempunyai ciri khas dan keistimewaan tersendiri. Dengan adanya pameran tematik diharapkan minat masyarakat untuk berkunjung ke museum semakin tinggi dengan demikian warisan budaya yang diciptakan pada masa lampau tidak terlupakan.


DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2011. Hari Museum sedunia. Tuesday, 17 May 2011. http://indonesian.irib.ir [2 Agustus 2011]

Anonim. 1994. Buku Pinter Tentang Permuseuman. Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan. Jakarta.

Arbi, Y. 2002. Museum Dan Pendidikan. Kementerian Kebudayaan Dan Pariwisata. Jakarta.

Fitriasarah.2010. Pendapat Visit Museum Year 2010-2014. http://fitrisarah.wordpress.com/2010/04/26/pendapat-visit-museum-year-2010-2014/ [2 Agustus 2011]

Wawan. 2008. Museum Sebagai Lembaga Pelestari Warisan Budaya. http://www.facebook.com/topic.php?uid=56583952447&topic=7676 [2 Agustus 2011]

Yurnaldi. 2009. Tahun Kunjungan Museum 2010, Munculkan New Brand. http://www.kompas.com [10 Agustus, 2011]

*MAKALAH PIA 2011

Museum Sebagai Daya Tarik Wisata: Perspektif Multikulturalisme

Tinggalkan komentar

I Wayan Ardika


Pendahuluan

Pariwisata budaya kini ditengarai sebagai salah satu segmen industri pariwisata yang perkembangannya paling cepat. Hal ini dilandasi oleh adanya kecenderungan atau trend baru di kalangan wisatawan untuk mencari sesuatu yang unik dan autentik dari suatu kebudayaan (Richards, 1997; http://en.wikipedia.org/wiki/Heritage_tourism). Hasil studi yang dilakukan oleh Travel Industry Association and Smithsonian Magazine pada tahun 2003 menunjukkan bahwa wisatawan yang mengunjungi situs sejarah dan atraksi budaya umumnya berpendidikan lebih tinggi, dengan pendapatan lebih banyak, tinggal lebih lama dan membelanjakan uangnya lebih banyak dibandingkan dengan jenis wisatawan lainnya (Tien, 2003: 2; http://www.squidoo.com/Heritage_tourism. Pariwisata budaya diyakini memiliki manfaat positif secara ekonomi dan sosial budaya. Jenis pariwisata ini dapat memberikan keuntungan ekonomi kepada masyarakat lokal, dan di sisi lain dapat melestarikan warisan budaya yang sekaligus berfungsi sebagai jati diri masyarakat bersangkutan.

Museum adalah salah satu daya tarik wisata budaya. Artefak atau benda warisan budaya yang menjadi koleksi dan bahan pameran dari suatu museum sering menjadi daya tarik wisata. Aneka ragam benda budaya yang menjadi koleksi sebuah museum biasanya merupakan milik berbagai etnik dan berasal dari beberapa daerah. Dalam konteks ini koleksi museum sesungguhnya mencerminkan pluralisme budaya atau multikultur. Sesuai dengan judul maklah ini maka permasalahan yang akan dibahas berikut adalah bagaimana memanfaatkan museum sebagai salah satu daya tarik wisata yang sekaligus juga dapat menjadi sarana ideologi multikuturalisme. Ideologi multikulturalisme adalah suatu paham atau kesadaran mengapresiasi dan menghormati adanya perbedaan budaya. Selanjutnya juga diuraikan strategi untuk mewujudkan ideologi multikulturalisme melalui benda budaya koleksi museum,


Museum Sebagai Daya Tarik Wisata

Salah satu fungsi museum adalah sebagai tempat menyimpan dan memajang benda warisan budaya (cultural heritage). Museum berfungsi sebagai pengelolaan warisan budaya sesungguhnya memiliki ideologi yang sama dengan pariwisata budaya yakni memberikan informasi dan pelayanan kepada publik dan/atau wisatawan tentang fungsi dan makna suatu artefak ataupun event tertentu. Sebagaiman diketahui bahwa warisan budaya belakangan ini merupakan daya tarik wisata yang sangat signifikan. Wisatawan pada umumnya cenderung ingin memahami tentang asal-usul kebudayaan masa lalu yang dianggap masih autentik. Selain itu, wisatawan juga ingin memahami kebudayaan yang berbeda dengan yang mereka miliki. Dalam konteks ini museum adalah tempat wisatawan untuk dapat melihat dan memahami warisan budaya masa lalu dari etnik lain, yang berasal dari kurun waktu yang berbeda.

Eksibisi dan pengelolaan benda warisan budaya seharusnya diatur sedemikian rupa sehingga menarik minat wisatawan. Informasi yang lengkap dan menarik, serta penataan yang baik tentang warisan budaya akan dapat menjadi daya tarik wisatawan. Dalam hubungan ini kerjasama antar museum dan komponen pariwisata budaya perlu dikembangkan. Museum dapat memamerkan atau memajang benda warisan budaya yang menjadi daya tarik wisata, dan di sisi lain industri pariwisata juga mendapat keuntungan ekeonomi sehingga dapat membantu keberadaan museum sebagai lembaga nirlaba (non profit).

Museum sebagaimana didefinisikan oleh the International Council of Museums (ICOM): A museum is a non profit making, permanent institution in the service of soceity and of its development, and open public, which acquaires, conserves, research, communicates and exhibits, for purposes of study, education and enjoyment, material evidence of people and their environment (Benediktason, 2004: 9). Sebagai lembaga nirlaba (non profit), museum juga perlu dana untuk memelihara koleksi dan kesejahteraan karyawannya. Salah satu sumber dananya dapat diupayakan dari industri pariwisata, sehingga dengan demikian ada hubungan yang saling menguntungkan antara museum dan pariwisata budaya.

Pengelolaan museum di dunia belakangan ini mengalami perubahan paradigma yakni dari pemeliharaan dan perawatan koleksi museum itu sendiri ke pelayanan publik. Museum kini tidak lagi sebagai gudang tempat menyimpan barang-barang antik yang langka, tetapi museum berfungsi sebagai tempat work-shop dan dapat memberi kesan tersendiri kepada pengunjungnya atau wisatawan. Dalam hubungannya dengan pariwisata budaya, museum mempunyai manfaat ekonomi. Kehadiran wisatawan ke suatu museum akan memberikan manfaat ekonomi secara langsung ataupun tidak langsung kepada masyarakat setempat dan industri pariwisata. Selain menciptakan lapangan pekerjaan baru bagi penduduk setempat, wisatawan juga memerlukan akomodasi, makanan, dan shopping atau belanja (Tien, 2003:2-3). Hal ini merupakan manfaat ekonomi dari suatu museum.

Pengelolaan museum sedapat mungkin agar dilakukan secara kluster, baik antar museum maupun dengan komponen . industri pariwisata. Wisatawan akan mendapat kemudahan dan keuntungan ekonomi karena harga tiket atau fee yang harus dibayar biasanya menjadi lebih murah, sehingga jumlah mereka akan meningkat untuk mengunjungi museum. Meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan ke suatu museum yang dikelola secara kluster itu juga berarti keuntungan bagi industri pariwisata. Hal ini dapat memberikan keuntungan kepada masyarakat lokal, wisatawan, dan industri pariwisata (Tien, 2003: 5-9).


Museum Sebagai Sarana Mewujudkan Multikulturalisme

Museum pada awalnya adalah tempat para aristokrat di Eropa untuk menyimpan benda-benda yang ekslusif dan langka yang dilandasi oleh pemikiran Renaisance dan Pencerahan pada abad ke 18. Selanjutnya muncul gagasan baru untuk memungsikan museum sebagai media pendidikan dan pencerahan bagi publik agar mereka lebih beradab dan melaksanakan kehidupan sosial yang lebih baik (Benediktason, 2004: 8).

Makalah ini akan mencoba mengkaji museum sebagai sarana untuk mewujudkan ideologi multikulturalisme. Multikulturalisme adalah ideologi yang mengakui dan mengagungkan perbedaan dalam kesederajatan, baik secara individu maupun kebudayaan (Fay, 1996). Dalam masyarakat multikultural perbedaan budaya, perbedaan etnis, lokalitas, ras, dan lain-lain dilihat sebagai mozaik yang memperindah masyarakat (Ardika, 2011: 5-6).

Perbedaan dan persamaan benda-benda koleksi museum dipandang sebagai landasan dalam multikulturalisme. Fungsi museum kini dilihat sebagai dimensi multikultural yakni peradaban manusia melalui rentang waktu dan tempat. Museum berfungsi sebagai tempat yang netral dimana bertemunya benda-benda budaya yang berbeda dan bersifat lintas budaya (interculture) dan lintas bangsa, namun diperlakukan secara sama dan setara (equal). Dalam hubungan ini museum mempunyai posisi yang bersifat lokal, regional dan internasional.

Museum memberikan peluang kepada kita untuk memahami dan mengapresiasi perbedaan dan merayakan persamaan. Selain itu, museum juga merupakan wahana untuk mengajarkan kepada manusia di dunia bahwa mereka adalah bersaudara sebagai kakak-adik (African American Multicultural Museum. http://webcache.googleusercontent.com/seacrh?hl=id&q=cache:Ibzl75PB864J:http://www… 8/26/2011).

Audien adalah para pihak/stakeholder yang berpengalaman yang datang ke museum untuk memenuhi bermacam-macam tujuan antara lain: rekreasi dan memenuhi pengalaman atau pengembangan diri. Di lain pihak, merupakan kewajiban museum untuk menciptakan metode agar para pihak/stakeholder termasuk wisatawan dapat memahami fungsi dan makna benda-benda koleksi museum.

Di Amerika perbedaan warisan budaya dan etnik dianggap sebagai elemen kuat yang menjadi karakter bangsa tersebut. Koleksi museum dan eksibisi benda-benda warisan budaya merefleksikan keanekaragaman etnik dan sekaligus dijadikan sebagai bahan ajar dan topik tentang multikultur di sekolah-sekolah. Dengan demikian, pendidikan merupakan kunci penting bagaiman mutikulturalisme itu dapat diterima sebagai kesadaran nasional sehingga menjadi kekuatan positif (Donley, 1993:2).

Proyeksi sensus menunjukkan bahwa secara budaya penduduk di Amerika cenderung bervariasi. Istilah yang banyak sekarang digunakan adalah mozaik, dan bukan melting pot. Istilah mozaik melambangkan satu tipe ideal yakni satu dalam perbedaan/keragaman (unity in diversity). Selain mozaik, “salad bowl” (mangkok salad) juga sering digunakan di Amerika untuk menggambarkan keindahan dan kekuatan budaya yang berasal dari beraneka budaya, dan memelihara identitasnya masing-masing dengan tujuan yang sama.

Di Amerika siswa diajarkan untuk memahami multikulturalisme dengan tingkatan atau hirarki sebagai berikut: kesadaran (awareness), memahami/mengerti (understanding), toleran (tolerance/acceptance), dan apresiasi (appreciation)(Donley, 1993:5-6). Dalam upaya mengajarkan kepada siswa tentang multikulturalisme yang perlu dilakukan adalah menghargai budaya sendiri (self esteem), sebelum dapat menghargai budaya orang lain. Menghargai budaya sendiri selanjutnya dapat digunakan sebagai basis untuk membandingkan dengan budaya lain (cross cultural comparisons).

Dalam menginterpretasikan benda-benda budaya koleksi museum yang perlu diperhatikan adalah konteks benda-benda tersebut. Dengan memahami konteksnya maka kita akan lebih dapat memahami fungsi ataupun makna dari suatu artefak.


Strategi Pemanfaatan Museum untuk Pendidikan Multikulturalisme

Ivan Karp dan Stephen Lavine dalam buku Exhibiting Cultures menyatakan bahwa agar pendidikan multikultural efektif museum harus mengubah paradigma dari “museum sebagai bangunan suci (temple) ke museum sebagai forum” (Karp and Lavine 1991 dalam Donley, 1993: 10). Fungsi museum tidak hanya memamerkan benda-benda koleksinya, tetapi memberikan informasi tentang objek tersebut. Berikut beberapa strategi yang perlu dilakukan oleh museum dalam konteks pendidikan multikulturalisme.

  • Menginterpretasikan perbedaan budaya berdasarkan persamaannya

Dalam upaya menanamkan rasa toleransi, menerima/mengakui dan mengapresiasi perbedaan budaya, museum dan sekolah harus selalu ingat tentang konsep multikultural yang pada intinya menyatakan bahwa manusia memiliki kebutuhan dasar dan nilai yang sama, namun cara yang ditempuh mungkin berbeda untuk memebuhi kebutuhan itu dan mengekpresikan nilai-nilai yang dikandungnya. Museum harus dapat membantu pengunjung atau wisatawan guna mengklasifikasikan kebiasaan atau adat dan objek yang aneh dengan cara menginterpretasikan kebutuhan dasar (basic needs) dan nilai-nilai yang memotivasi kebiasaan tersebut.

  • Membuat hubungan dan perbandingan lintas budaya (Cross Cultural Connections and Comparisons)

Perbandingan lintas budaya (cross-cultural comparison) adalah salah satu strategi yang efektif untuk mengajarkan pendidikan multikutural melalui museum. Hal ini dapat dilakukan dengan tema: persamaan dan perbedaan. Tema lain yang juga biasa digunakan dalam pendidikan multikultur adalah perbedaan bentuk dan fungsi benda budaya atau artefak, serta perbandingan mengenai elemen formal dari seni. Dalam melakukan perbandingan lintas budaya agar dihindari adanya kesan penyederhanaan yang berlebihan. Misalnya, fungsi benda seni dalam etnik tertentu belum tentu sama dengan benda sejenis pada etnik yang lain.

  • Menunjukkan Konteknya

Museum sedapat mungkin harus dapat menginterpretasikan fungsi ataupun makna benda-benda koleksinya sesuai dengan konteksnya. Benda-benda seni tidak dilihat dari nilai estetikanya semata, namun juga harus diperhatikan konteksnya apakah bersifat sakral atau profan.

Elemen yang paling penting mengenai konteks suatu benda adalah hubungan antara pembuat dan penggunanya. Pihak pengelola museum harus dapat menunjukkan hubungan pembuat dan pemakai suatu artefak dalam program pemeran, publikasi, dan kegiatan museum lainnya.

  • Menyeimbangkan antara konteks (Ecological) dan komparasi (Cross-cultural) dalam Pameran

Komparasi lintas budaya sering kali tidak dapat menampilkan aspek ekologi dan konteksnya. Museum harus berupaya untuk menyeimbangkan antara style dan interpretasi, serta menjelaskan keuntungan dan kerugian pendekatan tersebut.

  • Mengikutsertakan Masyarakat Pemilik Budaya dalam Pameran

Masyarakat pemilik budaya agar diikutsertakan dalam menginterpretasikan benda-benda koleksi museum. Hal ini menjadi sangat penting untuk mewujudkan fungsi museum sebagai forum dan bukan sebagai temple atau tempat suci.

Benda-benda budaya koleksi museum mencerminkan pluralitas budaya, demikian pula masyarakat ataupun wisatawan yang berkunjung bersifat heterogen. Fenomena ini merupakan dasar yang sangat penting dalam memahami dan mewujudkan museum sebagai sarana pendidikan multikulturalisme.


Penutup

Kecenderungan pariwisata global telah menempatkan musuem sebagai salah satu daya tarik wisata budaya. Wisatawan yang ingin memahami keragaman dan keaslian atau autentisitas budaya menyebabkan museum sebagai salah tempat pilihan kunjungannya. Sebagaimana diketahui bahwa wisatawan yang tertarik dengan budaya biasanya memiliki pendidikan tinggi dan uang yang lebih banyak sehingga mereka cenderung tinggal lebih lama (length of stay) dan membelanjakan uang lebih banyak (high spending) dari jenis wisatawan lain.

Museum biasanya memiliki koleksi benda-benda budaya yang beragam dan berasal dari berbagai etnik atau bangsa. Oleh karena itu, koleksi museum bersifat plural dan multikultur. Koleksi dan pengunjung museum yang bersifat plural atau heterogin dapat dijadikan media untuk pengembangan pendidikan multikulturalisme. Multikulturalisme adalah suatu ideologi yang menghormati perbedaan atas dasar persamaan. Paradigma pengelolaan museum kini harus diubah dari tempat menyimpan barang-barang antik menjadi forum untuk mendiskusikan dan menginterpretasikan benda-benda budaya tersebut sehingga muncul pemahaman, toleransi, dan apresiasi terhadap keanekaragaman dan persamaan budaya untuk mewujudkan ideologi multikulturalisme.


Daftar Pustaka

African American Multicultural Museum. http://webcache.googleusercontent.com/seacrh?hl=id&q=cache:Ibzl75PB864J:http://www… 8/26/2011.

Ardika, I Wayan. 2011. Hubungan Komunitas Tionghoa dan Bali: Perspektif Multikulturalisme. Dalam Sulistyawati. 2011. Integritas Budaya Tionghoa ke dalam Budaya Bali dan Indonesia. Sebuah Bunga Rampai. Hal 1-12. Denpasar: Universitas Udayana.

Benediktason, Gudbrandur. 2004. Museums and Tourism. Stakeholders, Resource and sustainable development. Master’s Dissertation. Musion, Goteberg University.
http://en.wikipedia.org/wiki/Heritage_tourism).
(http://www.squidoo.com/Heritage_tourism).

Casey, Valerie. 2003. The Museum Effect: Gazing from Object to Performence in the Contemporary Cultural-History Museum. Ecole du Louvre.ICHIM Paris 03. http://www.ichim.org

Donley, Susan K. 1993. The Museum as Resource. Pennsylvania Federation of Museums and Historical Organizations. Distributed by American Association of Museums. http://www.learningdesign.com/Porfolio/museum/museumschool.html. 8/26/2011.

Mingetti, Valeria, Andrea Moretti, and Stefano Micelli. 2002. Reengineering the Museum ‘s Role in the Tourism Value Chain: Towards an it Business Model. http://webcache.googleusercontent.com/search?hl=id&q=cache:m9mzDGGtG0wJ:http://ci…. 8/26/2011

Museum and Tourism. http://webcache.googleusercontent.com/search?hl=idq=cache:Iv8APIj53AJ:http://www…. 8/26/2011

Richards, Greg. 1997. Cultural Tourism in Europe. Wallingford: CAB INTERNATIONAL

Tien, Chieh-Ching. The Role of Museum Cluster in the Cultural Tourism Industry. http://webcache.googleusercontent.com/search?hl=id&q=cache:2j_vj6BpVwg:http://www. 8/26/2011.

*MAKALAH PIA 2011

Peran Media Baru dalam Komunikasi Museum dengan Masyarakat

Tinggalkan komentar

Edy Gunawan


ABSTRAK

Berkembangnya teknologi informasi memberikan dampak yang sangat banyak pada kehidupan manusia. Informasi dapat diakses dan diketahui dalam waktu yang sangat singkat dan cepat. Tulisan ini menggambarkan peran media baru dalam penyajian informasi museum tanpa meninggalkan sesuatu yang penting dalam informasi itu sendiri.

Media-media baru yang muncul sebagai akibat dari perkembangan teknologi informasi menjadi penting dalam komunikasi Museum dengan Masyarakat.


Abstract

The gowing of information technology give impact on people’s live. Information is accesible and known within very short and fast. This paper describes the role of new media for museum information.

New Media as a result development of information technology becomes important in communication museum with community.


Pendahuluan

Media baru adalah istilah yang dimaksudkan untuk mencakup kemunculan digital, komputer, atau jaringan teknologi informasi dan komunikasi di akhir abad ke-20. Sebagian besar teknologi yang digambarkan sebagai “media baru” adalah digital, seringkali memiliki karakteristik dapat dimanipulasi, bersifat jaringan, padat, mampat, interaktif dan tidak memihak. Beberapa contohnya adalah Internet, website, komputer multimedia, permainan komputer, CD-ROMS, dan DVD. Media baru bukanlah televisi, film, majalah, buku, atau publikasi berbasis kertas (Manovich, Lev, 2003:13)

Internet jika dapat digambarkan dengan mudah adalah computer dengan computer lain yang dapat terhubung melewati sebuah jaringan, yang mengijinkan mereka untuk berkomunikasi, berinteraksi, bertukar data dan lain-lain.. New media berawal dari bentuk komunikasi bermedia computer atau computer-mediated communication (CMC) ini. Dalam buku Media New, disebutkan beberapa fitur atau fasilitas yang terdapat dalam internet yakni elektronic publishing (penerbitan elektronik), entertainment (hiburan), communities ( komunitas), blog, search engine, dan beragam fitur lainnya termasuk download dan upload data. Internet dalam komunikasi adalah sebuah perubahan, karena dianggap telah menjadi bentuk atau pola baru dalam berkomunikasi. Hal ini lah yang menjadi jawaban keinginan dan mimpi manusia untuk dapat “bersentuhan” dengan sesama secara lebih luas, meng-global, cepat, dan murah. Dan ini kemudian yang menjadi sebuah bentuk baru media, bentuk baru komunikasi, media baru.

Seperti definisi yang diuraikan new media adalah media yang berbasis teknologi komputer, kemajuan teknologi baik dari segi hardware dan software membuat internet semakin canggih dan menjadi populer saat ini. Para peneliti komunikasi dan media mulai tertarik dengan penelitian-penelitian mengenai perbedaan antara old media dan new media. Daya tarik media baru sangat hebat, banyak kelebihannya seperti kecepatan, interaktifitas, jaringan luas dan akses yang lebih bersifat pribadi membuatnya dapat berkembang dengan cepat. Perbandingan antara new media dapat dilihat dari menurunnya angka data-data survey beberapa negara tentang penggunaan atau penjualan old media.


Kemunculan sosial media dalam media baru

Sosial media muncul dalam media baru dan dalam setiap perkembangannya mendapat perhatian yang bersar pengguna internet. Sosial media ini mengijinkan kita untuk dapat bertukar informasi dengan semua orang yang merupakan sesama pengguna media tersebut. Dalam sosial media setiap individu dapat melakukan hal-hal dibawah ini (Wright dan Hinson, 2009):

  • Menerbitkan atau menunjukkan konten-konten digital kreatif, isi dari akun atau halaman pribadi kita dapat ditentukan oleh kita sendiri. Apakah itu buatan sendiri ataupun orang lain
  • Menyediakan dan memiliki fitur online yang realtime, dimana kita dapat melakukan dialog dalam bentuk percakapan langsung atau komentar dengan pengguna lain
  • Dapat melakukan perubahan atau perbaikan sendiri sesuai keinginan kita hingga dapat kita klaim sebagai konten yang sebenarnya

Sistem bermedia inilah yang berbeda dengan sistem media lama sebelumnya. Ketika proses produksi pesan, distribusi dan konsumsinya dapat dilakukan secara mudah dan cepat tanpa pertimbangan atau kendala. bahkan saat ini ditambah dengan kemudahan akses bagi semua orang, kemunculan gadget yang dapat mengakses media sosial dimanapun, kapanpun dengan biaya yang cukup murah.

Aplikasi sosial media tersebut antara lain Facebook, Friendster dan Twitter telah menjadi sosial media yang digunakan saat ini. Informasi akun pribadi yang disajikan akan dapat memperlihatkan secara sekilar tentang profile pengguna. Pada tahap selanjutnya dengan melakukan update informasi yang diinginkan maka informasi tersebut akan mudah diakses oleh banyak orang.


Implikasi media baru terhadap penyampaian informasi museum

Peran museum saat ini tengah mengalami pergeseran paradigma. Semula peran museum hanya mengoleksi benda – benda purbakala dan menjadi sarana penelitian. Sekarang ini telah muncul paradigma baru tentang museum harus mampu menginformasikan dan mengkomunikasikan hasil karyanya kepada public sebagai sarana pembentukan jati diri dan budaya bangsa. Dapat pula dikatakan fungsi museum di Indonesia tidak hanya bertujuan untuk konservasi nilai-nilai budaya, sehingga dapat diteruskan kepada generasi yang akan datang, melainkan juga sebagai sarana pendidikan, penelitian dan rekreasi.

Penyajian informasi museum adalah bentuk dari ekspresi objek dan kejadian dalam konteksnya. Objek museum bukan hanya objek nyata dari bagian sumber daya budaya yang berpindah ke museum melainkan juga pengunjung sebagai projek informasi bagi museum. Informasi yang disampaikan adalah sejumlah informasi yang disusun dengan bentuk tertentu. Ia dapat sepenuhnya berbentuk verbal atau berupa paduan antara verbal dan visual. Kelemahanan dalam aspek penyajian informasi dapat ditingkatkan dengan media baru serta membingkainya dengan informasi yang memadai agar masyarakat dapat memanfaatkan keberadaan museum sebagai sumber sejarah dan pengetahuan tentang masa lampau, para pengelolaan harus gencar melakukan promosi atau kegiatan lain yang menunjang, seperti pameran yang dilengkapi dengan adegan dari isi prasasti tersebut yang dipublikasikan melalui media baru.

Daud Aris Tanudirjo (2007) dalam tulisannya yang berjudul “Museum sebagai Mitra Pendidik”, menjelaskan bahwa museum-museum di Indonesia masih lebih banyak menekankan pada aspek “memamerkan” benda (object oriented) dan hanya memikirkan dari segi keilmuan dan riset, namun melupakan pengunjungnya. Akibatnya museum tidak melakukan komunikasi dengan pengunjug maupun calon pengunjungnya. Bagaimana penyajian informasi dapat berjalan dengan baik jika salah satu pihak tidak terjalin komunikasi yang baik kepada pihak lainnya. Untuk itu, pengelola harus mengetahui kebutuhan pengunjung atau calon pengunjung, sehingga dapat disusun konsep penyajian informasi museum yang menarik. Hal ini dapat dilakukan dengan melakukan banyak interaksi dengan masyarakat calon pengunjung melalui media baru secara intensif dan berkala.

Koleksi yang ada di museum perlu dikomunikasikan dan diinformasikan kepada masyarakat luas. Hal ini menjadi tugas kurator, preparatory, dan educator (bagian edukasi) bagaimana informasi koleksi disampaikan kepada masyarakat. Jika penyampaian informasi koleksi museum tepat dan menarik, mungkin museum tidak lagi menjadi tempat yang sepi pengunjung, upaya yang dapat dilakukan adalah :

  1. Membuat panel informasi singkat berkenaan dengan pembagian ruang dan jenis koleksi yang dipamerkan museum, diletakan di posisi yang menjadi pusat perhatian pengunjung sehingga pengunjung dapat memperoleh gambaran isi museum. Sehingga walau pengunjung hanya masuk disalah satu ruangan, dia tidak akan kehilangan cerita dan informasi yang disajikan museum.
  2. Membuat panel-panel informasi yang disajikan secara lengkap dan menarik sebagai pelengkap informasi setiap koleksi yang dipamerkan. Hal ini akan menimbulkan rasa ingin tahu dan menghilangkan kejenuhan pengunjung.
  3. Menyediakan berbagai fasilitas dan media informasi, seperti leaflet, brosur, buku panduan, film, slide, tabloid dll, sehingga pengunjung dengan mudah mempelajari objek yang dipamerkan.
  4. Memperbaiki service, membuat label-label yang lebih informative, menyediakan guide yang memadai, memperlengkapi museum dengan hiburan pada hari-hari atau jam-jam tertentu, menjajakan buku-buku, foto-foto atau brosur yang tepat.

Setelah tahapan dalam penyajian informasi museum dilakukan, maka media baru akan sangat bermanfaat dalam menginformasikan ke masyarakat luas untuk mengenalkan museum dan informasinya. Hal yang dapat dilakukan yaitu:

  1. Mengupdate informasi yang terdapat pada website, website yang digunakan sebagai sarana informasi digital dunia maya, harus mampu merepresentasikan informasi yang tentangkoleksi museum walaupun hanya pengantar saja.
  2. Membuat iklan dan berita pada sebuah media baru tentang event-event dan kegiatan yang berkaitan dengan acara-acara museum.
  3. Membuat komunitas museum pada sosial media. Sosial media akan menjadi tempat perkenalan museum dengan masyarakat luas.
  4. Membuat forum yang ada pada website, sosial media dengan menyajikan beberapa tema khusus mengenai koleksi museum, program museum maupun kritik dan saran terhadap penyajian informasi museum.
  5. Menjaring sebanyak mungkin komunitas – komunitas yang ada pada sosial media, blog dll. Agar keberadaan museum dan koleksinya semakin diketakui oleh masyarakat luas.


Penutup

Seiring berkembangnya teknologi dan informasi, sudah saatnya hal tersebut dapat membantu museum dalam melakukan komunikasi terhadap masyarakat, menginformasikan visi dan misi museum dalam lingkup yang semakin luas. Media baru berperan sangat besar dalam merubah pola dan tata kehidupan masyarakat saat ini. Dengan tetap menjadikan perubahan ini sebagai penunjang, maka perkembangan teknologi dan informasi akan banyak berdampak baik terhadap lembaga museum dengan masyarakat.

Satu hal lagi dengan menjalin kerjasama yang intensif melalui media baru antara pemerintah, swasta dan masyarakat, akan dapat meningkatkan kualitas museum baik dalam berbagai bidang. Salah satunya dengan membatu untuk pengembangan dan pengelolaan museum. Dengan demikian museum akan berkembang sebagai etalase ilmu pengetahuan, pencitraan suatu bangsa sekaligus sarana informasi tentang banyak hal bukan saja untuk para golongan tertentu tetapi juga masyarakat secara keseluruhan.


Daftar Pustaka

Arbi, Yunus. (2007). “Serpihan: Tampaknya Kita Perlu Evaluasi”, Museografia: Museum dan Pendidikan 1(1): 3-4.

Ardiwidjaja, Roby. (2009). Masyarakat Museum “Peran, fungsi dan Manfaat”. Dalam Museografia Vol.III (4):41-62

Flew (2005). New Media : An Introduction. 2nd Edition. Oxford University Press: New York.

Manovich, Lev. “New Media From Borges to HTML.” The New Media Reader.Noah Wardrip-Fruin & Nick Montfort. Cambridge, Massachusetts, 2003.13-25.

Greenhill.1991. Museum and Gallery Education. Leicester. University Press.

Hopper, Eilen and Greenhill.1995. Museum, Media, Message. Routledge : London Wright dan Hinson, 2009

Curran, James. Media and Cultural Theory. 2006. New York : Routlegde

Henning, Michelle. 2006. Museum Media and Cultural Theory. Open University Press. New York.

Tanudirjo, Daud A. 2007. Museum sebagai Mitra Pendidik, Museografia:
Museum dan Pendidikan 1(1): 5-32.

Wright dan Hinson, 2009. Examining How Public Relations Practitioners Actually Are Ussing Social Media. Public Relation Journal – vol 3. Public Relations Society of America.

*MAKALAH PIA 2011

Museum Sangiran: Upaya Pendekatan Arkeologi ke Publik (Kajian Antropologi Budaya)

Tinggalkan komentar

Duwiningsih
Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran


Abstrak

Semua disiplin ilmu apapun bidangnya hanya akan menjadi monumen yang tak tersentuh jika tidak disajikan ke publik. Sentuhan langsung ilmu pengetahuan dengan masyarakat menjadi jembatan penting pengakuan implementasi keilmuan. Sebagai upaya menjangkau ranah publik, pengetahuan arkeologi diungkapkan antara lain lewat pemaparan langsung melalui display museum. Museum Sangiran merupakan sumber kepariwisataan yang berharga dan bernilai tinggi bagi ilmu pengetahuan. Kawasan situs Sangiran mempunyai arti yang sangat besar sumbangannya bagi perkembangan ilmu pengetahuan, diantaranya arkeologi dan antropologi. Museum Sangiran diharapkan menjadi obyek wisata budaya yang dapat dimanfaatkan sebagai sarana rekreasi dan pendidikan yang dapat dibanggakan. Potensinya sebagai gambaran kehidupan masa lampau merupakan ladang penelitian yang dapat dimanfaatkan sebagai pelestari budaya yang akhirnya menjadi warisan budaya kaya makna. Sebagai usaha mendekatkan pemahaman arkeologi langsung ke masyarakat, keberadaan Sangiran menjadi sangat ideal sebagai media penarik minat masyarakat untuk mengenal ruang lingkup yang disajikan studi arkeologi. Pembahasan mengenai arkeologi publik pada dasarnya mengenai hubungan langsung antara arkeologi sebagai ilmu dengan masyarakat luas. Tulisan ini mencoba memandang arkeologi sebagai konsep ilmu pengetahuan yang disuguhkan langsung ke publik melalui museum Sangiran. Penulis mencoba mengurai peran arkeologi sebagai ilmu hasil dari evolusi budaya manusia, perjalanan masa lampau yang bisa dinikmati manusia kini, dan mengkajinya dari sudut pandang antropologi.

Any science whatever the discipline are, will only be untouch monument if are not presented to public. The direct contact between science and community is an important bridge of science implementations acceptance. To reach public domain, archaeology is expressed through direct explanation by museum display. Sangiran Museum is valuable tourism center and posses outstanding values for science. The area of Sangiran site greatly contributes to science development, in particular, Archaeology and Anthropology. Sangiran Museum is expected to be a cultural tourism destination which can be used as recreation and education media that we proud of it. It’s potential as a description of past period is the research field that can be used as cultural conservation that finally become a meaningful heritage. As exertion to bring archaeological understanding closer to community, the existence of Sangiran Museum become an ideal media to attrack community response to gain more knowledge of what archaeology study present. Explanation of public archaeology also fundamentally about the direct relation between archaeology as a science, with community. This article is trying to consider archaelogy as a concept of science that directly presented to the public through Sangiran Museum. The writer tries to analyze archaeology role as science from human culture evolution, the past journey that can be enjoyed by today’s people, and analyzed it from anthropological view.


1. LATAR BELAKANG

Diawali dengan kedatangan G.H.R. Von Koeningswald seorang ahli paleontologi Jerman yang memulai eksplorasi sejak tahun 1930an untuk mengumpulkan fosil demi kepentingan pemerintah Belanda, mengingat semakin banyaknya fosil yang ditemukan dan sekaligus untuk melayani kebutuhan wisatawan yang datang untuk melihat fosil, maka dibangunlah museum yang cukup representatif. Museum yang sepenuhnya mengandalkan koleksi fosil itu sekarang bertransformasi menjadi museum megah, yang membantu masyarakat yang haus akan pengetahuan masa lampau.

Arkeologi adalah ilmu yang mempelajari kebudayaan manusia masa lalu melalui kajian sistematis atas data bendawi yang ditinggalkan. Kajian sistematis meliputi penemuan, dokumentasi, analisis dan interpretasi data berupa artefak (budaya bendawi, seperti kapak batu dan bangunan candi) dan ekofak (benda lingkungan, seperti batuan, rupa muka bumi, dan fosil). Antropologi berarti ilmu tentang manusia (Koetjaraningrat, 1990). Dalam kaitannya antara pandangan antropologi terhadap kajian arkeologi di dalam museum Sangiran, Antropologi sebagai ilmu yang mempelajari budaya diantaranya keberadaan ilmu sebagai hasil evolusi perkembangan manusia yang berbudaya. Dengan arkeologi, manusia masa kini dapat mengetahui dan mempelajari kehidupan pendahulunya. Tulisan ini mencoba melihat implementasi arkeologi di ranah publik, serta manfaat langsung yang bisa dirasakan masyarakat, dari sudut pandang antropologi budaya.

Dalam bidang kajian arkeologi, potensi yang ada di situs Sangiran sangat mendukung penelitian, diantaranya ditemukannya alat-alat masif dan non-masif (serpih). Sebagai ilmu yang mempelajari manusia dan kebudayaannya pada masa yang lampau, arkeologi menitikberatkan kajiannya pada pengamatan terhadap benda-benda yang ditinggalkan dan sampai atau dapat ditemukan saat ini.diantaranya berupa artefak, ekofak, fitur, situs atau wilayah. Semua proses evolusi melalui fosil yang ditampilkan menjadi bidang kajian arkeologi yang bisa secara langsung dinikmati masyarakat.


2. PEMBAHASAN

Museum adalah lembaga, tempat penyimpanan, perawatan, pengamanan dan pemanfaatan benda-benda bukti materiil hasil budaya manusia serta alam dan lingkungannya guna menunjang upaya perlindungan dan pelestarian kekayaan budaya bangsa (Pasal 1(1) PP no. 19 Tahun 1995)(Hamzuri dkk, 1997). Museum bukan sekedar tempat sumber informasi, masih banyak yang bisa didapatkan jika kita menelaah lebih jauh. Museum Sangiran beserta situs arkeologinya, selain menjadi obyek wisata yang menarik juga merupakan arena penelitian tentang kehidupan pra sejarah terpenting dan terlengkap di Asia, bahkan dunia.

Museum Sangiran merupakan destinasi pariwisata yang menyimpan koleksi ribuan temuan fosil antara lain fosil manusia, hewan bertulangbelakang, binatang air, batuan, tumbuhan laut dan alat-alat batu. Secara stratigrafi situs Sangiran merupakan situs manusia purba terlengkap di Asia yang kehidupannya dapat dilihat secara berurutan dan tanpa putus sejak dua juta tahun yang lalu menurut riwayat penelitian hingga sekitar 200.000 tahun yang lalu.

Situs Sangiran memiliki potensi penting bagi ilmu pengetahuan, sejarah dan kebudayaan. Secara arkeologis arti penting situs Sangiran didapat dari penemuan alat-alat batu di desa Ngebung yang dikenal dengan istilah “Sangiran Flakes Industry”, berupa alat-alat serpih dari batu kalsedon dan jaspis. Peralatan lain selain serpih yang ditemukan mulai dari yang berciri paleolitik hingga neolitik. Potensi Sangiran tersebut menyebabkan situs ini dianggap sebagai salah satu pusat evolusi manusia di dunia dan digunakan sebagai tolak ukur untuk mengkaji proses-proses evolusi secara umum.

Tujuan dari ilmu arkeologi adalah berusaha merekonstruksi sejarah kebudayaan masa lalu, cara-cara hidup maupun proses-proses budaya yang pernah terjadi. Melalui kajian arkeologi, kehidupan masa lampau dapat disajikan ke permukaan. Penelitian terhadap fosil dan artefak sekaligus membawa peneliti pada cara hidup mahkluk purba itu. Di dalam arkeologi publik, seorang arkeolog dituntut untuk membuat sebuah publikasi dan menyebarluaskan hasil-hasil penelitiannya, sehingga masyarakat dapat merasakan manfaat dari hasil penelitian arkeologi yang dilakukan.

Sebagai ilmu yang berkompeten untuk mengungkap budaya maupun kehidupan purba, Sangiran memberikan bidang yang luas guna pengumpulan data tentang budaya dan evolusi manusia. Penelitian berkelanjutan yang telah dilaksanakan untuk mengungkap kandungan budaya maupun sebaran situs, menjadi bukti implementasi arkeologi. Dari Sangiran kita bisa memperoleh informasi tentang sejarah kehidupan manusia purba dengan kehidupan dan lingkungannya.

Di museum dan situs Sangiran dapat diperoleh informasi lengkap tentang pola kehidupan manusia purba di Jawa yang menyumbang perkembangan ilmu pengetahuan seperti Antropologi, Arkeologi, Geologi, Paleoanthropologi. Di lokasi situs Sangiran ini pula, untuk pertama kalinya ditemukan fosil rahang bawah Pithecantropus erectus (salah satu spesies dalam taxon Homo erectus) oleh Von Koenigswald. Pada homo erektus, terjadi dua kemajuan budaya yang penting, yaitu alat batu yang berbentuk simetris yang mulai dikerjakan sekitar 700.000 tahun yang lalu, serta penguasaan atas api, ini kemudian menyebabkan berkembangnya kehidupan sosial, dan secara tidak langsung mengakibatkan kemajuan di bidang teknologi. Dorongan manusia untuk bertindak didasarkan atas keinginan (apetit) dan dorongan dari dalam untuk menghindar dari bahaya (avertion). Menurut Teuku Jacob, akal dan bahasa merupakan landasan yang memungkinkan kebudayaan berevolusi.

Banyaknya fosil yang terkumpul menunjukkan Museum Sangiran sebagai situs prasejarah yang memiliki peran penting dalam memahami proses evolusi manusia. Alat-alat batu yang ditemukan di wilayah Sangiran merupakan perwujudan adaptasi manusia purba terhadap lingkungannya. Mereka mulai menciptakan peralatan dari batu meski dalam taraf teknologi sederhana. Melalui Sangiran digali informasi mengenai habitat, populasi, binatang yang hidup pada masa itu, dan proses terjadinya bentang alam dalam kurun waktu tidak kurang dari 2 juta tahun yang lalu.

Evolusi membicarakan tentang asal-usul hidup dan kehidupan. Evolusi mencoba merekonstruksi bentuk mahkluk hidup, sejak jaman purba sampai sekarang, beserta aktivitas dan segala hal yang mendukung aktivitas hidupnya. Evolusi terus berlangsung, yang berarti seleksi alampun terus berlangsung. Salah satunya perkembangan pola pikir yang lambat laun terus mencari jawab akan hakekat alam dan kehidupannya. Sifat tidak mudah puas akan persoalan hidupnya memaksa manusia memaksimalkan penggunaan otaknya untuk mencari jawaban. Dari perkembangan tingkat sederhana hingga hal yang semakin kompleks. Dari sekedar memenuhi kebutuhan dasar hingga kebutuhan sekunder bahkan tersier. Rasa haus terhadap keinginan menemukan jawaban inilah yang memicu otak manusia berevolusi. Hal yang terjadi kemudian ilmu sebagai perkembangan daya pikir manusia semakin berkembang ke banyak cabang salah satunya arkeologi. Ilmu Arkeologi (atau ilmu sejarah kebudayaan purbakala) pada mulanya meneliti sejarah dari kebudayaan-kebudayaan kuno dalam zaman purba (Koentjaraningrat,1990).

Perkembangan volume otak manusia diikuti pula dengan kemampuannya mengolah apa yang alam berikan. Tuntutan pemenuhan kebutuhan hidup, dimulai dengan kebutuhan dasar, memaksa manusia mengembangkan kemampuannya untuk pemenuhan bertahan hidup. A Wallace mengemukakan mengenai proses seleksi alam, mahkluk yang bisa bertahan yang akan eksis. Menurutnya, proses seleksi alam menentukan bentuk-bentuk fisik mahkluk hidup yang ada pada saat ini dalam menjalani proses evolusi mereka. Semakin keras dan kejam proses seleksi alam yang dialaminya maka semakin tinggi kualitas jenis mahkluk hidup yang mampu survive.

Evolusi pada manusia mempunyai nilai yang berbeda dengan evolusi tingkat hewan. Pada tingkat hewan, evolusi itu dirangsang oleh kondisi material alam sekitarnya berupa makanan, suhu, tekanan udara dan lain-lain, yang secara mekanis mendorong pertumbuhan atau melenyapkan sel-sel tertentu dari generasi ke generasi. Suatu populasi yang tidak mampu mengadakan perubahan seirama dengan alamnya, sehingga dari generasi-ke generasi mereka punah. Evolusi pada manusia bukan lagi tingkat jasmaniah, namun ia dikontrol oleh kondisi spiritual (metafisik) alam sekitarnya, yang menumbuhkan kebudayaan dan ilmu pengetahuan. Dengan kebudayaan, manusia mempunyai daya dan berusaha untuk merobah alam.

Proses evolusi yang terjadi pada manusia sejalan dengan evolusi sosial budayanya. Faktor fisiologis manusia mempengaruhi kebudayaan, mencakup perilaku,sikap dan tindakan yang dihasilkannya. Dalam teori evolusi sosial universal, semua hal mengalami proses perkembangan yang sangat lambat, berevolusi dari tingkat yang rendah dan sederhana menuju ke tingkat yang makin lama makin tinggi dan kompleks. Sesungguhnya ada hubungan yang erat antara evolusi manusia dengan budaya. Budaya yang berkembang sampai saat ini merupakan konsekuensi dari evolusi biologis. Aktivitas terhadap penelitian fosil membawa peneliti kepada bekas-bekas hasil karyanya, yang terbuat dari bahan-bahan yang keras yang masih utuh dalam lapisan-lapisan bumi, memberitahukan bahwa cara hidup manusia waktu itu sudah berkebudayaan.

Di area situs Sangiran ini jejak tinggalan berumur 2 juta tahun hingga 200.000 tahun masih dapat ditemukan hingga kini. Sehingga para ahli dapat merangkai sebuah benang merah sebuah sejarah yang pernah terjadi di Sangiran secara berurutan. Berdasarkan misi Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata tahun 2010-2014 untuk meningkatkan kualitas perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan warisan budaya, maka menjadi sangat tepat untuk mendukung pengembangan situs Sangiran menjadi museum kelas dunia. Potensi yang bisa digali di dalamnya menjadikan sumber pengetahuan tiada henti. Peranan arkeologi sebagai bidang studi yang sangat berkompeten dalam hal ini mutlak diperlukan untuk menggali cakrawala pandang atas apa yang telah disimpankan alam untuk diolah dan disajikan ke masyarakat.

Perbedaan-perbedaan jenis tanah, bentuk fosil serta jenis fosil yang terdapat pada empat lapisan tanah (Kalibeng, Pucangan, Kabuh, Notopuro) menunjukkan bahwa di Sangiran telah terjadi evolusi. Evolusi adalah konsep umum yang berlaku bagi setiap benda di alam semesta. Evolusi merupakan kejadian sebab akibat yang sangat panjang dan kolosal. Evolusi tidak semata-mata terjadinya perubahan sederhana atau perubahan adaptif. Begitu kompleksnya bidang yang bisa dijamah, membuat evolusi sebagai bidang keilmuan yang diharapkan mampu memberi solusi atas permasalahan tentang asal mula sesuatu, beserta perubahannya baik yang sudah punah maupun yang tetap eksis, dan kajian itu dipakai sebagai masukan untuk tindakan masa depan. Ilmu dalam menyoroti manusia tidak lepas dari gagasan evolusi (khususnya sains modern).

Seperti halnya masyarakat yang terus berubah, perkembangan ilmu pengetahuan pun semakin kompleks. Untuk menarik minat masyarakat terhadap kehidupan lampau, maka Museum Sangiran sebagai jembatan untuk menampilkan hasil penelitian dan penggalian ke masyarakat. Semakin atraktif suatu obyek di pandangan masyarakat, maka semakin masyarakat tergugah mengunjunginya. Pengunjung tidak hanya tertarik pada benda koleksi museum saja, tetapi mereka juga memiliki rasa ingin tahu terhadap latarbelakang kehidupan manusia dan lingkungan purba pada masa itu. Pada dasarnya cinderamata yang paling baik saat berkunjung ke lokasi situs purbakala adalah cerita yang ada di balik sejarah purbakala yang pernah terjadi di daerah itu. Tampilan display hasil olahan studi arkeologi menjadi oleh-oleh, kenangan yang menarik. Melalui sentuhan langsung dengan masyarakat, maka akan mendapatkan dukungan dan apresiasi publik terhadap arkeologi. Museum Sangiran merupakan suatu bentuk tanggungjawab dalam pemanfaatan sumber kekayaan alam dan budaya Indonesia. Melalui benda yang dipamerkan museum, kita memperoleh pengetahuan dan kita dapat belajar sejarah serta kebudayaan masa lampau, serta mengetahui misteri evolusi mahkluk hidup.

Benda cagar budaya tidak hanya penting bagi disiplin ilmu arkeologi, tetapi terdapat berbagai disiplin yang dapat melakukan analisis terhadapnya. Antropologi misalnya dapat melihat kaitan antara benda cagar budaya dengan kebudayaan sekarang. Pengelolaan terpadu benda cagar budaya sebagai warisan budaya dunia seperti halnya museum Sangiran akan menjadi tinggalan tak ternilai bagi generasi berikut. Disamping mengedepankan upaya perlindungan terhadap benda cagar budaya sekaligus dapat dikembangkan kawasan wisata berbasis pengetahuan. Laboratorium alam yang dimiliki sekarang mampu membawa kita melihat kembali ke masa lampau, masa awal kehidupan manusia. Perkembangan budaya yang terjadi, mulai dari masa ketika manusia memanfaatkan alat batu sebagai pendukung hidupnya hingga tahap mereka mengenal api hingga perkembangan budaya yang semakin kompleks akibat bertambahnya volume otak manusia tersebut.

Tugas arkeolog adalah menemukan kembali makna budaya sumber daya arkeologi dan menempatkannya dalam konteks sistem sosial masyarakat sekarang. Ahli Arkeologi bekerja mencari benda-benda peninggalan manusia dari masa lampau. Mereka melakukan penggalian untuk menemukan sisa-sisa peralatan hidup atau senjata. Benda–benda ini adalah barang tambang mereka. Tujuannya adalah menggunakan bukti-bukti yang mereka dapatkan untuk merekonstruksi atau membentuk kembali model-model kehidupan pada masa lampau. Dengan melihat pada bentuk kehidupan yang direkonstruksi tersebut dapat dibuat dugaan-dugaan bagaimana masyarakat yang sisa-sisanya diteliti itu hidup atau bagaimana mereka datang ketempat itu atau bahkan dengan siapa saja mereka itu dulu berinteraksi. Pembuatan peralatan membutuhkan ingatan, perencanaan dan pemecahan masalah yang abstrak. Hal ini menandai awal dimulainya fungsi kebudayaan untuk membantu kita beradaptasi dengan lingkungan, suatu kemampuan yang khas manusia.

Evolusi terjadi karena sifat adaptif yang dimiliki manusia. Manusia beradaptasi melalui medium kebudayaan pada waktu mereka mengembangkan cara-cara untuk mengerjakan sesuatu sesuai dengan sumberdaya yang mereka temukan dan juga dalam batas-batas lingkungan tempat mereka hidup. Proses adaptasi menghasilkan keseimbangan yang dinamis antara kebutuhan penduduk dan potensi lingkungannya. Adaptasi untuk mempertahankan hidup membuat manusia bertindak untuk memanfaatkan apa yang telah disediakan alam. Evolusi sebagai upaya adaptasi lingkungan seperti contoh teknik yang digunakan mereka untuk mendapatkan hewan buruan, misalnya dengan membuat jebakan atau menggiring binatang-binatang tersebut ke arah jurang yang terjal.

Tidak bisa dihindari bahwa manusia harus selalu bisa adaptif karena alam menyeleksi mahkluk yang bisa bertahan. Proses adaptasi yang berlangsung menghasilkan bentuk kontinuitas sosial. Struktur adaptasi menimbulkan perubahan. Adaptasi bisa berupa internal dan eksternal. Adaptasi internal melalui mutasi, perubahan-perubahan dalam fungsi organ, dan pergantian sel-sel hidup. Proses internalisasi biologis yang membentuk sel organisma berjalan secara berkelanjutan. Sedangkan, adaptasi eksternal adalah kehidupan bermasyarakat harus disesuaikan dengan lingkungan alam.

Dalam rangka melanjutkan hidupnya, manusia diharuskan berhubungan dengan lingkungannya. Hubungan manusia dan lingkungan lebih banyak ditekankan pada tema adaptasi. Proses adaptasi yang berlangsung menghasilkan bentuk kontinuitas sosial. Struktur adaptasi menimbulkan perubahan. Lingkungan fisik (alam) adalah pendorong utama dalam kehidupan manusia. Perkembangan pola kehidupan suatu masyarakat dalam bentuk kebudayaan dipandang sebagai pengaruh yang dimunculkan oleh lingkungan alamnya. Pola hubungan antara fenomena sosial budaya dengan lingkungan alamnya dijembatani oleh unsur tengah, yaitu suatu kumpulan tujuan dan nilai-nilai spesifik, suatu kumpulan pengetahuan dan keyakinan, atau adanya suatu pola kebudayaan.

Pada manusia, tingkah-laku tergantung pada proses pembelajaran. Apa yang manusia lakukan adalah hasil dari proses belajar yang dilakukan sepanjang hidupnya disadari atau tidak. Mereka mempelajari bagaimana bertingkah-laku ini dengan cara mencontoh atau belajar dari generasi diatasnya dan juga dari lingkungan alam dan sosial yang ada disekelilingnya. Inilah yang oleh para ahli Antropologi disebut dengan kebudayaan. Jadi, kebudayaan menunjuk pada berbagai aspek kehidupan. Istilah ini meliputi cara-cara berlaku, kepercayaan-kepercayaan dan sikap-sikap, dan juga hasil dari kegiatan manusia yang khas untuk suatu masyarakat atau kelompok penduduk tertentu.

Pola hubungan manusia dan lingkungannya tidak selalu bertujuan menjaga homeostatis (keseimbangan). Walaupun adaptasi tertentu kelihatannya baik untuk untuk jangka waktu pendek dan bijaksana di mata masyarakat yang bersangkutan, tetapi dalam jangka waktu yang panjang justru terlihat merugikan keseimbangan lingkungan, kesehatan manusia, bahkan merugikan masa depan satuan sosio kultural tersebut. Antropologi melihatnya sebagai suatu perangkat proses psikologis, juga suatu perangkat respon perilaku baru yang diadaptasikan pada situasi-situasi dan waktu-waktu tertentu. Pengendalian kebutuhan-kebutuhan individu dipandang tidak relevan bagi pengendalian sumber daya alam oleh kelompok atau mayarakat, karena dalam mengendalikan penggunaan sumber alam, suatu kelompok atau masyaratat bisa saja menyalahgunakan sumber alam lainnya.

Manusia adalah mahkluk yang mempunyai kemampuan beradaptasi paling tinggi. Teori evolusi mengajarkan bahwa manusia sebagai homo sapiens telah mengalami perubahan dan perkembangan, baik dalam bentuk tubuh, struktur anatomi dan kemampuan otak untuk berpikir. Dalam jangka waktu yang lama, interaksi manusia dengan alam sekitarnya menghasilkan daya adaptasi yang tinggi dalam menyelenggarakan regenerasi yang berkembang sesuai daya dukung alam. Dengan kapasitas otak yang dimilikinya, manusia memanfaatkan akal pikirannya untuk menemukan, membuat serta menerapkan pengetahuan yang diperoleh dari pengalamannya, seperti cara mengatasi hambatan-hambatan alam dalam memenuhi kebutuhan dan keinginan hidupnya. Adaptasi terhadap lingkungan baru menciptakan dinamika kebudayaan.

Lingkungan fisik (alam) adalah pendorong utama dalam kehidupan manusia. Dengan kata lain, perkembangan pola kehidupan suatu masyarakat dalam bentuk kebudayaan dipandang sebagai pengaruh yang dimunculkan oleh lingkungan alamnya. Aliran neo fungsionalisme, berusaha menunjukkan bahwa gejala-gejala sosio kultural mempunyai fungsi adaptif terhadap lingkungan, atau setidak-tidaknya mempunyai fungsi dimana faktor-faktor lingkungan dimanipulasi dalam pola mata pencaharian masyarakat bersangkutan. Pengikut pendekatan ini memandang organisasi sosial dan kebudayaan populasi spesifik sebagai adaptasi fungsional yang memungkinkan populasi-populasi itu mengeksploitasi lingkungan mereka tanpa melampaui daya dukung lingkungan tersebut. Satuan yang digunakan di sini ialah suatu populasi dan bukan satuan sosial (social order).

Situs Sangiran merupakan kekayaan dunia yang sangat penting dan harus dilestarikan serta dikembangkan. Sebagai sebuah lembaga yang menjadi tempat kunjungan banyak orang, museum menjadi titik sentral jembatan atas out put ilmu, dalam hal ini arkeologi, yang bisa dirasakan langsung oleh mayarakat. Penemuan fosil yang begitu banyak menjadikan Sangiran sebagai sebuah kawasan manusia purba yang selalu menjadi penelitian hingga sekarang. Secara umum, hasil-hasil penelitian telah dapat menggambarkan kehidupan manusia purba, budaya, dan lingkungan kala Plestosen.

Fosil merupakan petunjuk adanya evolusi, sebagai catatan sejarah yang dapat digunakan untuk mengetahui jejak-jejak atau bekas kehidupan makhluk masa lampau. Evolusi manusia dan budaya berjalan secara pararel. Antara keduanya saling mempengaruhi. Kebudayaan mengalami proses perubahan dari satu tahap ke tahap selanjutnya secara evolutif. Kebudayaan yang dimiliki oleh manusia juga dimiliki dengan cara belajar. Dia tidak diturunkan secara biologis atau pewarisan melalui unsur genetis. Hal ini perlu ditegaskan untuk membedakan perilaku manusia yang digerakkan oleh kebudayaan dengan perilaku mahluk lain yang tingkah lakunya digerakkan oleh insting.

Budaya merupakan hasil cipta, rasa dan karsa manusia, ia mengalami perubahan secara evolusioner. Dalam Antropologi Kognitif, yang dikembangkan oleh Ward H. Goodenough (1950-an), membawa definisi budaya dari yang fisik menuju pengertian bahwa budaya sebagai sistem pengetahuan. Konsep arkeologi publik dalam batasan luas selalu akan menempatkan masyarakat sebagai bagian yang tidak terpisahkan dalam pengelolaan warisan budaya. Masyarakat pada hakekatnya, adalah pemegang penuh hak atas pemanfaatan sumber daya arkeologi. Merekalah pada dasarnya yang akan memberikan makna sumber daya arkeologi tersebut, baik untuk identitas, media hiburan atau hobi, sarana rekreasi, dan kepariwisataan. Sumber daya arkeologi dapat pula dimaknai secara berbeda sesuai dengan orientasinya, misalnya untuk media pendidikan atau ilmu pengetahuan, bahkan sebagai peneguhan jatidiri bangsa.

Pada umumnya kebudayaan itu dikatakan bersifat adaptif, karena kebudayaan melengkapi manusia dengan cara-cara penyesuaian diri pada kebutuhan-kebutuhan fisiologis dari badan mereka, dan penyesuaian pada lingkungan yang bersifat fisik-geografis maupun pada lingkungan sosialnya. Kebudayaan dengan sejumlah normanya itu merupakan suatu akumulasi dari hasil pengamatan, hasil belajar dari pendukung kebudayaan tersebut terhadap lingkungannya selama beratus-ratus tahun dan dijalankan hingga sekarang karena terbukti telah dapat mempertahankan kehidupan masyarakat tersebut. Kecenderungan warisan budaya yang seringkali dikatakan sebagai media yang memiliki fungsi dalam menjaga proses pertumbuhan kebudayaan bangsa, ternyata mengandung nilai-nilai yang pewarisannya dapat terjadi secara berbeda. Arkeologi publik sebagai teori atau strategi tentang bagaimana cara supaya warisan budaya dapat dimanfaatkannya sekaligus dipahami maknanya oleh masyarakat.


3. PENUTUP

Keberadaan arkeologi diperlukan dalam proses rekonstruksi sejarah kebudayaan, cara hidup serta penggambaran proses budaya masa lampau. Arkeologi sebagai ilmu yang mampu mengungkapkan kehidupan manusia beserta budayanya ditampilkan secara menarik melalui museum Sangiran. Ahli Arkeologi semakin diperlukan untuk melakukan penelitian dan menganalisa tinggalan manusia purba untuk mengungkap kehidupannya, kemudian menampilkannya ke publik.

Museum adalah tempat untuk perlindungan dan pelestarian kekayaan budaya bangsa, lembaga edukatif kultural yang bergerak di bidang pelestarian serta pemanfaatan warisan budaya dan alam. Dengan keberadaan museum Sangiran diharapkan masyarakat tidak lagi kesulitan mengakses manfaat benda cagar budaya. Disiplin Arkeologi diharapkan dapat menampilkan seluruh hasil budaya manusia purba yang mendiami kawasan Sangiran secara representatif lengkap dengan keterangan-keterangan yang interpretatif tentang komunitas sosial masa lampau.

Dua sisi yang dapat dinikmati pemerintah dan masyarakat, ialah sebagai sumberdaya, museum Sangiran dapat memberikan sumbangan bagi peningkatan APBD, sejalan itu dimanfaatkan pula oleh masyarakat untuk mendapat pengetahuan melalui wisata pengetahuan Masyarakat merupakan pilar keberhasilan program pelestarian yang ingin dicapai BPSMP Sangiran. Suksesnya tujuan perlindungan terhadap benda cagar budaya berjalan seiring dengan kesadaran masyarakat untuk ikut menjaga warisan sejarah tersebut. Masyarakat yang merasa ikut memiliki akan mudah untuk menerima kewajiban ikut menyokong pelestarian situs.


4. DAFTAR PUSTAKA

Hajar, Ibnu. 2008. Potensi Situs Sangiran Bagi Ilmu Pengetahuan, Laporan PKL. Universitas Negeri Semarang: Fakultas Bahasa Dan Seni.

Hamzuri,dkk. 1997. Museum di Indonesia.Jakarta: Direktorat Permuseuman.

Koenjaraningrat, 1990. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.

Kustati. 2009. Museum Sangiran Sebagai Asset Pariwisata Budaya Di Kabupaten Sragen. Laporan PKL. Universitas Negeri Semarang: Fakultas Bahasa Dan Seni .

Semangun, Haryono (ed.) dkk. 2010. Cakrawala Pemikiran Teori Evolusi Dewasa Ini. Salatiga: Universitas Kristen Satya Wacana, Program Studi Magister Biologi.

Suantika, I Wayan. 2001. Sumberdaya Arkeologi Dan Peranannya Masa Kini dan Masa Depan Proceedings EHPA, Mencermati Nilai Budaya Masa Lalu Dalam Menatap Masa. Jakarta: 2001.


*MAKALAH PIA 2011

Pemulihan Jatidiri Bangsa Melalui Pengelolaan Terpadu untuk Candi Borobudur, Per(museum)an, dan Perpustakaan

Tinggalkan komentar


Oleh: Bambang Budi Utomo
Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional


Latar Belakang

Sejak berakhirnya pemerintahan Orde Baru dan dilanjutkan dengan Reformasi 1998, “tatanan” masyarakat yang ada di Indonesia mulai kacau balau. Bedanya hanya pada kebebasan berbicara dan mengemukakan pendapat di kalangan masyarakat, dari terkekang menjadi bebas sebebas-bebasnya. Untuk itu, ada baiknya kita menyimaki apa yang dulu tidak pernah terjadi dan sekarang sering terjadi di masyarakat. Dulu dikenal ramah tamah dan penuh toleransi, sekarang beringas dan mudah diadu domba.

Kita pernah berpandangan bahwa bangsa Indonesia adalah sebuah bangsa yang multietnis. Pandangan itu berubah manakala kita kaji lebih jauh sampai kedatangan bangsa-bangsa lain ke Nusantara. Masuknya bangsa-bangsa Tionghoa, India, Arab, dan Eropa dengan latar belakang budaya yang berbeda-beda, menjadikan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang multikultur. Para pendatang itu ada yang membaur dengan penduduk pribumi, dan ada pula yang “memaksakan” budayanya ke penduduk pribumi dalam bentuk penjajahan.

Suatu kenyataan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang multikultur dengan keragaman budaya pada suku-sukubangsa yang hidup di Nusantara. Sejak kemerdekaan dan Indonesia menjadi Negara Kesatuan, selama beberapa puluh tahun suku-sukubangsa yang mendiami Nusantara hidup dalam damai. Tidak pernah terdengar pertikaian antarsukubangsa dan antaragama. Kedamaian ini “berakhir” dengan dimulainya pertikaian antarsukubangsa di Kalimantan Barat, menyusul di Kalimantan Selatan. Yang lebih memprihatinkan adalah pertikaian antaragama di Ambon dan Poso. Sampai saat ini kondisi demikian seperti api dalam sekam, artinya setiap saat dapat meletus kembali.

Semua kejadian yang memalukan tersebut kalau diamati mungkin disebabkan oleh menipisnya rasa toleransi yang berakar dari jatidiri. Ditambah lagi dengan kebijakan pemerintah dalam hal penghapusan kurikulum budi pekerti pada tingkat pendidikan dasar dan menengah. Terbukti para remaja mudah beringas dan mudah terprovokasi. Kalau ditelusuri ke belakang, remaja yang mudah beringas ini ketika masih di tingkat Sekolah Dasar tidak mengenal pelajaran Budi Pekerti. Fenomena inilah yang harus segera dibenahi dengan menggunakan pendekatan kebudayaan.

Ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengumumkan Kabinet Indonesia Bersatu (Jilid 2), bahwa Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata masuk dalam koordinasi Menko Perekonomian, tak pelak masyarakat awam bertanya-tanya: Mau dikemanakan kebudayaan? Apakah kebudayaan akan “dijual” melalui kegiatan kepariwisataan? Ya tidak masalah kalau dijual karena sumber devisa dari migas akan habis dalam jangka waktu tidak lama lagi. Sebab itu sektor pariwisata harus digalakkan agar dapat menjadi salah satu sumber devisa negara.

Tidak dimungkiri bahwa Indonesia sangat kaya akan ragam budaya penduduknya yang katanya multietnis, bahkan lebih tepat dikatakan multikultur. Keragaman budaya dikarenakan perbedaan budaya antara satu sukubangsa dengan sukubangsa lainnya merupakan daya tarik wisata, yang sudah barang tentu bisa dijual. Lantas, bagaimana dengan sisi lain dari kebudayaan yang lebih penting bagi jatidiri bangsa dan persatuan?

Jika kebudayaan dimaknai sebagai pariwisata, maka kita tidak ubahnya seperti bangsa Eropa zaman kolonial yang melihat kebudayaan di luar negaranya sebagai sesuatu yang eksotis, menarik, dan “aneh” sehingga perlu dilestarikan agar bisa dinikmati. Padahal kebudayaan mempunyai pengertian yang sangat luas, yang menyangkut jatidiri bangsa dan pengetahuan bangsa.

Kebudayaan merupakan satu kesatuan dari pengetahuan atau gagasan budaya, tingkah laku budaya dan benda-benda budaya. Ini tentunya menjadi sangat menarik jika ketiga unsur itu dilihat secara terpisah, sehingga orang berbicara tentang mana yang bisa dijual dan mana pula yang tidak bisa dijual. Pengetahuan budaya sebagai sebuah entitas yang sangat terkait dengan eksistensi masyarakat pendukungnya menjadi bekal yang kuat bagi jatidiri suatu komunitas, bahkan bangsa. Sebut saja kearifan lokal, yang sangat sarat dengan ide, nilai, norma dan moral suatu komunitas sesuai dengan lingkungan hidupnya.

Suatu entitas mestinya disimbolkan juga dengan penguasaan wilayah yang tergambar sebagai hak hukum adat seperti dalam Undang-undang Dasar 1945 pasal 18b ayat (2): “Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diatur dalam undang-undang”. Penguasaan wilayah menjadi dasar bagi berkembangnya aturan adat yang dilindungi itu, dan biasanya wilayah komunitas tertentu dikuatkan dengan adanya mitos, legenda dan ceritera-ceritera rakyat tentang daerah dan asal komunitas yang bersangkutan, dan ini menjadi sandaran bagi aturan-aturan adat yang ada. Wilayah-wilayah tersebut tidak terbatas pada daratan saja, akan tetapi juga wilayah lautan atau air yang menjadi daerah yang dapat dihuni.

Batas kewilayahan tempat tinggal komunitas suatu sukubangsa tidak nyata. Ada daerah abu-abu yang dimukimi oleh komunitas dua sukubangsa yang berbeda. Daerah abu-abu inilah merupakan daerah rawan konflik. Pada saat ini di daerah tersebut sering terjadi pertikaian antarsukubangsa, seperti yang terjadi di Lombok dan beberapa tempat lain.


Pengelolaan Terpadu

Tidak ada satu pun pemerintah di muka bumi ini yang membiarkan rakyatnya hidup dalam kekacauan dan tidak mempunyai jatidiri. Kalau kita melihat kenyataan-kenyataan yang terjadi pada bangsa ini, penurunan jatidiri bangsa, mudah beringas dan diadu-domba, serta dilecehkan bangsa lain, tentu pemerintah Republik Indonesia melalui Kabinet Indonesia Bersatu (Jilid 2) harus segera berbenah.

Setahun lebih pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu (Jilid 2) “mengemban” amanat rakyat, namun hingga saat ini hasilnya apalagi manfaatnya belum ada. Kita tidak tahu apa hasil dari penilaian yang 30, 50, 70, dan 100 hari seperti yang pernah dijanjikan oleh Presiden Yudhoyono. Kita hanya melihat bahkan merasakan, tidak ada perubahan yang mengarah pada perbaikan. Ini tentu ada yang salah. Kalau kita perhatikan keseharian dalam kehidupan masyarakat, kesalahan itu terletak pada degradasi jatidiri masyarakat Indonesia.

Urusan jatidiri bangsa adalah urusan kebudayaan, dan urusan kebudayaan ada pada Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata. Lantas apa yang harus dilakukan untuk membenahi bangsa yang sedang “kehilangan” jatidiri ini? Untuk itu, marilah kita lihat potensi yang kita miliki dan dapat dimanfaatkan untuk kepentingan bangsa.

Urusan jatidiri bangsa dapat dilakukan melalui beberapa cara, tetapi walau bagaimanapun cara yang dilakukan harus melalui suatu pengelolaan yang terpadu di antara potensi-potensi yang dimiliki, yaitu Borobudur, Museum, dan Perpustakaan yang pengelolaannya harus dilakukan antar kementerian terkait. Lagipula, kabinet sekarang ini mengandalkan kerja sama antar kementerian. Inilah potensi dan sekaligus kekayaan budaya yang sangat berharga dan tidak ternilai.

Borobudur merupakan gunung kosmos, punden berundak untuk memuja arwah nenek moyang dan juga bangunan suci utama dari dinasti Sailendra yang berkuasa di Tanah Jawa pada abad ke-8-10 Masehi. Ini mengindikasikan bahwa meskipun pada Borobudur kental dengan unsur budaya India, namun unsur budaya lokal tidak ditinggalkan. Arsitektur punden berundak merupakan unsur budaya lokal.

Bangunan Borobudur bukan saja merupakan contoh arsitektur yang unik, tetapi juga dapat dianggap sebagai perwujudan konsep ajaran Buddha dalam batu. Penguasa Sailendra mewariskan kepada kita suatu dokumentasi kehidupan keseharian masyarakat pada abad ke-8 Masehi yang ceria dan damai. Meskipun rangkaian cerita yang dipahatkan pada dinding bangunan dan dinding pagar berasal dari India, namun setting-nya adalah keadaan masyarakat di sekitar Borobudur. Misalnya dapat disaksikan bentuk-bentuk rumah tinggal, perahu khas Asia Tenggara, sistem pertanian sawah, membuat barang tembikar, dan aktivitas pande logam di bengkelnya. Pesan yang hendak disampaikan melalui penggambaran relief adalah hidup damai dan saling menolong antar umat manusia seperti yang diajarkan oleh para Bodhisattwa.

Borobudur dengan relief ceritanya bak sebuah buku best seller yang kandungan isinya baik dan dianjurkan dibaca untuk diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Namun sayangnya, kitab yang baik itu tidak atau kurang disertai dengan “resensi” yang baik serta kurang disosialisasikan pada masyarakat pewarisnya. Akibatnya, calon pembaca hanya melihat bentuk fisiknya, tidak membacanya dengan seksama, apalagi mengimplementasikan dalam kehidupan kesehariannya. Pengunjung lebih suka berfoto berlatar onggokan batu yang tidak dapat berbicara.

Berbicara Indonesia, maka tak pelak lagi muncul sebuah ikon yaitu Borobudur, sehingga nama Borobudur lebih identik dengan Indonesia. Bangunan itu sarat dengan nilai sejarah, filosofi serta harapan-harapan, merupakan sebuah benda budaya yang sudah menjadi milik Indonesia dan bukan lagi Jawa atau Sailendra. Ini menjadi sebuah jatidiri bangsa Indonesia.

Museum, berdasarkan definisi yang diberikan International Council of Museums (ICOM), adalah institusi permanen, nirlaba, melayani kebutuhan publik, dengan sifat terbuka, dengan cara melakukan usaha pengoleksian, mengkonservasi, meriset, mengkomunikasikan, dan memamerkan benda nyata kepada masyarakat untuk kebutuhan studi, pendidikan, dan kesenangan.

Cerminan dari tingginya kebudayaan sebuah bangsa dapat dikatakan diwujudkan dalam sebuah benda. Itulah sebabnya tinggi rendahnya peradaban dari sebuah bangsa dapat dilihat di museum berupa benda-benda koleksinya. Adalah tugas dan kewajiban dari penelitilah yang menjadikan benda koleksi museum menjadi “hidup” dan dapat “berbicara”. Ini jarang sekali dilakukan oleh para pengelola museum. Akibatnya sebagian besar masyarakat mengganggap bahwa museum hanya tempat menyimpan barang-barang antik peninggalan masa lampau, tanpa melihat proses atau aktivitas dari keberadaan benda-benda budaya tersebut.

Perjalanan panjang sebuah artefak mulai dari situs sampai museum memerlukan waktu yang lama dan biaya yang relatif besar. Idealnya, sebuah artefak yang ditemukan terlebih dulu dilakukan analisis artefaktual dan konstekstual sampai tuntas. Setelah diketahui jenis dan fungsinya, barulah diserahkan ke museum untuk menjadi koleksi dan sekaligus diinformasikan pada masyarakat bagaimana sebuah aktivitas manusia dari bangsa tertentu melaksanakan kehidupannya. Dari perjalanan aktivitas serta benda yang ada di museum, maka tampak adanya sebuah atau seperangkat tingkah laku budaya dari bangsa tersebut. Melalui benda-benda cagar budaya inilah jatidiri sebuah bangsa dapat terbentuk.

Borobudur tidak berdiri sendiri. Bangunan ini berkonteks dengan bangunan lain dan artefak lain yang ditemukan di sekitar Borobudur, atau di tempat yang jauh tetapi masih berkorelasi dengan Borobudur. Benda cagar budaya lepasan ini, setelah tuntas dianalisis idealnya diserahkan ke museum. Kalau museum itu ada di lingkungan kompleks Borobudur, dapat menjadi koleksi Museum Samudrareksa. Kenyataan yang ada, selain “miskin” koleksi, museum ini jarang dikunjungi masyarakat, baik untuk keperluan sekadar melihat-lihat koleksi maupun untuk pengetahuan apalagi untuk keperluan studi.

Kedua potensi tersebut (Borobudur dan Museum) yang masih bernaung di bawah satu atap (Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala), tampaknya masih berjalan sendiri-sendiri tidak terkoordinasi dengan baik. Belum lagi kalau sebuah museum berada di bawah pengelolaan pemerintah provinsi, makin jauh dari koordinasi apalagi dikelola secara terpadu.

Sekarang kita melihat potensi lain yang dapat dipakai untuk mengangkat jatidiri bangsa, yaitu Perpustakaan. Salah satu dari misi dari perpustakaan adalah “Melestarikan Bahan Pustaka (Karya Cetak dan Karya Rekam) sebagai Hasil Budaya Bangsa” dengan kewenangan antara lain “merumuskan dan pelaksanaan kebijakan pelestarian pustaka budaya bangsa dalam mewujudkan koleksi deposit nasional dan pemanfaatannya”.

Seperti halnya museum, perpustakaan juga memiliki koleksi karya budaya yang mencerminkan jatidiri bangsa. Naskah-naskah (manuskrip-manuskrip) kuna tinggalan budaya awal berkembangnya Islam di Nusantara dan sebelumya, banyak tersimpan di perpustakaan di berbagai tempat. Ada yang disimpan di Museum Keraton, di Balai-balai Kajian, dan di perpustakaan daerah. Dilihat dari fisiknya, manuskrip ini ada yang ditulis di atas daun tal (lontar), kulit kayu, dan kertas. Isinya bermacam-macam, ada yang tentang sejarah kerajaan, hikayat, pengobatan tradisional, petuah-petuah kebajikan, pesan dan tuntunan hidup, agama, dan semuanya menunjukkan kearifan dari suatu bangsa.

Mengenai naskah—terutama naskah-naskah Melayu dari sekitar Riau Kepulauan—nasibnya sangat memprihatinkan. Pemerintah daerah dan pemerintah pusat kurang memberikan perhatian. Akibatnya banyak manuskrip dijual ke Singapura dan Malaysia. Padahal, di antaranya ada yang isinya cukup penting bagi penulisan sejarah. Ini sangat berbahaya apabila menyangkut batas-batas kerajaan sebelum terbentuknya Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Sebagai contoh, Malaysia dapat menang dari klaim Singapura atas Pulau Batu Putih karena merujuk dari dokumen zaman kesultanan Johor abad ke-19 tentang batas-batas wilayah. Bagaimana kalau sebuah pulau di Indonesia berhasil dikuasai Malaysia atau Singapura hanya berdasarkan rujukan dari secarik dokumen kesultanan Riau-Penyengat?

Selain itu, perpustakaan juga mempunyai andil terhadap perkembangan pengetahuan dan teknologi manusia, khususnya dalam hal sosialisasi pengetahuan dari generasi ke generasi. Adanya sistem on-line antar perpustakaan menjadi sangat membantu bagi kepentingan kebutuhan satu daerah dengan daerah lain dalam hal informasi terbaru melalui buku-buku yang ada serta informasi up to date dari perkembangan teknologi dapat diakses oleh seluruh komponen bangsa di seluruh Indonesia.

Perpustakaan adalah sebuah gudang penyimpanan pengetahuan manusia dalam bentuk tulisan-tulisan, baik masa lalu maupun masa sekarang dan akan berlanjut pada masa selanjutnya sebagai bentuk proses sosialisasi. Seperti istilah Scripta manen verba Volant, (“apa yang tertulis bersifat abadi dan apa yang diucapkan akan sirna”). Tulisan-tulisan yang tersaji dalam perpustakaan merupakan perjalanan panjang sebuah pengetahuan budaya suatu bangsa.

Tiga komponen atau potensi untuk pemulihan jatidiri bangsa perlu disinerjikan di bawah koordinasi Menteri Kebudayaan dan Pariwisata yang merangkul Menteri Pendidikan Nasional, Menteri Dalam Negeri, serta Menteri Komunikasi dan Informasi. Karena kondisinya sangat mendesak agar dapat mengurangi tindak kekerasan di lingkungan masyarakat baik di kota maupun di desa, perlu segera dibentuk semacam tim pengelolaan terpadu untuk Borobudur, Museum, dan Perpustakaan. Melalui koordinasi yang bersinerji lintas sektoral (kementerian) potensi-potensi yang dimliki tersebut dapat dimasyarakatkan. Sebagai penanggungjawab program adalah Menteri Kebudayaan dan Pariwisata.


Makalah pada PIA 2011

Pengembangan Situs Pemakaman Kolonial Sebagai Open Air Museum: Uji Coba pada Museum Taman Prasasti

Tinggalkan komentar

Oleh: Atina Winaya
Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional


Abstrak

Museum Taman Prasasti merupakan salah satu museum di Jakarta yang memiliki keunikan tersendiri. Berbeda dengan museum lain yang pada umumnya memamerkan koleksinya di dalam suatu bangunan, Museum Taman Prasasti memamerkan koleksinya di ruang terbuka. Keunikan lainnya adalah kawasan museum yang pada awalnya merupakan kompleks pemakaman masyarakat Belanda pada masa kolonial. Pemakaman yang berasal dari akhir abad ke-18 tersebut merupakan warisan budaya yang sangat berharga, salah satunya sebagai tempat yang memberikan kesaksian tentang komposisi penduduk Batavia yang berasal dari seluruh dunia pada masa itu. Melalui pendekatan open air museum, Museum Taman Prasasti dapat “disulap” menjadi tempat rekreasi dan edukasi yang menarik minat masyarakat. Museum, yang merupakan suatu situs pemakaman, tidak lagi terkesan sepi dan menyeramkan, melainkan rindang, teduh, dan menyenangkan. Pendekatan open air museum berupaya menjadikan kawasan museum sebagai sarana rekreasi di alam terbuka melalui penataan lansekap dan penyajian pameran yang menarik, serta program-program interaktif yang menghibur masyarakat. Selain itu, yang tidak kalah penting adalah museum dapat berperan sebagai area terbuka yang berfungsi sebagai paru-paru kota.

Kata kunci: situs pemakaman, open air museum

The Development of Colonial Funeral Site as an Open Air Museum:
Research on Taman Prasasti Museum

Written by:
Atina Winaya

Abstract

Taman Prasasti museum is one of the museums in Jakarta, which has its own uniqueness. In the colonial period, this museum was used as a cemetery of the Dutch people. Thus, the museum collections, such as gravestone and statue, exhibited in the open area. Taman Prasasti museum, which is built from the late 18th century, is a precious cultural heritage. This funeral site is a witness of the composition of Batavia residents who come from all over the world at that time. Using the open air museum approach, Taman Prasasti museum can be “transformed” into a recreational-educational place that attracts people. As a funeral site, “dead and creepy” image changed into a calm and pleasant place. The approach of open air museum intends to create the museum as an interesting recreation area in the open space through the landscape arrangement, exhibition, and interactive program. Besides, the more important thing is museum roles as lungs of the city.

Keyword: funeral site, open air museum


Pendahuluan

Museum Taman Prasasti merupakan salah satu museum di Jakarta yang memiliki keunikan tersendiri. Berbeda dengan museum lain yang pada umumnya memamerkan koleksinya di dalam suatu bangunan (indoor museum), Museum Taman Prasasti memamerkan koleksinya di ruang terbuka (outdoor museum). Keunikan lainnya adalah kawasan museum pada awalnya merupakan kompleks pemakaman masyarakat Belanda pada masa kolonial.

Kompleks pemakaman yang menjadi cikal bakal Museum Taman Prasasti didirikan pada tahun 1795. Menurut Adolf Heuken, kompleks pemakaman tersebut merupakan taman pemakaman umum modern tertua yang masih tersisa di Jakarta, bahkan merupakan salah satu yang tertua di dunia. Pemakaman tersebut lebih tua dari Fort Canning Park (1926) di Singapura, Gore Hill Cemetery (1868) di Sydney, La Chaise Cemetery (1803) di Paris, Mount Auburn Cemetery (1831) di Cambridge, Massachusetts (yang diklaim sebagai taman makam modern pertama di dunia), dan Arlington National Cemetery (1864) di Washington D.C. (ikon visual lansekap sejarah Amerika Serikat) (Joga dkk., 2005:11-12).

Pada awalnya pemakaman digunakan khusus untuk orang asing, terutama yang beragama Kristen. Pemakaman yang dikenal dengan nama Kebon Jahe Kober tersebut berkembang hingga seluas 5,9 hektar (Heuken, 1997:243-244). Kemudian pada tahun 1975, pemakaman ditutup dengan alasan kawasan makam telah penuh. Pada tanggal 9 Juli 1977, kawasan pemakaman dijadikan sebagai Museum Taman Prasasti dan diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin. Akibat pembangunan gedung-gedung pemerintahan di sekitarnya, saat ini kawasan museum hanya memiliki luas 1,2 hektar (DMS DKI Jakarta, 1994:10) .

Melalui penjelasan tersebut, dapat diketahui bahwa Museum Taman Prasasti pada awalnya bukanlah kawasan yang diciptakan khusus sebagai suatu museum, melainkan suatu pemakaman di wilayah tengah Kota Jakarta. Namun, karena kawasan pemakaman tersebut dianggap memiliki nilai historis dan arkeologis, maka dijadikan suatu museum sebagai usaha untuk melestarikannya. Peninggalan arkeologis berupa kawasan pemakaman jarang mendapat perhatian yang lebih, padahal keberadaan pemakaman dapat memberikan informasi serta gambaran mengenai keadaan manusia di masa lampau melalui cara yang unik dan menarik.


Pendekatan Open Air Museum

Isu mengenai pengembangan museum di ruang terbuka sudah menjadi perhatian beberapa negara. Open air museum yang pertama didirikan di Stockholm pada tahun 1891, yaitu Skansen Museum. Skansen Museum memiliki area seluas 50 hektar yang memamerkan berbagai jenis koleksi seperti bangunan tradisional, ladang dan perkebunan, kandang ternak, gudang, gereja, dan rumah bangsawan. Bangunan-bangunan tersebut merupakan bangunan yang insitu. Selain menyajikan koleksi berupa lansekap dan bangunan, Skansen Museum juga menyajikan berbagai aktivitas yang berlangsung pada kehidupan masyarakat Skandinavia kuno. Misalnya, terdapat seorang pandai besi yang sedang bekerja di bengkel pandai besi, kemudian terdapat pula pemuda-pemudi yang mengenakan busana nasional sedang bercengkerama di kedai. Gereja masih difungsikan dan mengadakan pelayanan kepada jemaat. Seringkali acara pernikahan masih diselenggarakan di gereja tersebut, dan semua undangan yang hadir mengenakan busana nasional yang beragam. Pihak museum juga mengadakan festival musik dan tari tradisional yang diadakan di plaza museum. Kebudayaan lampau berikut artefaknya menjadi ”hidup” kembali. Skansen Museum menekankan bahwa semua sajian yang ada di museum merupakan aktivitas yang sebenarnya dan pernah terjadi di masa lalu, bukan rekayasa (Huth, 1940).

Setelah berdirinya Skansen Museum di Stockholm, open air museum lainnya mulai didirikan di berbagai negara di seluruh dunia dengan berbagai bentuk dan ukuran. Pada awalnya, museum tipe ini hanya terdapat di Eropa Utara, kemudian berkembang ke Eropa Barat dan Eropa Tengah. Dewasa ini, konsep open air museum diminati oleh berbagai negara di seluruh dunia, sehingga kemudian berkembang di benua Amerika, Asia, Australia, dan juga Afrika (Rentzhog, 2007:ix).

Open air museum menekankan pentingnya suatu objek ditempatkan pada konteks sejarah kebudayaan yang bersangkutan. Tujuannya adalah untuk merekonstruksi peninggalan bersejarah tersebut, baik berupa bangunan atau lansekap di ruang pameran (Laenen, tt:126). Dengan demikian, otentisitas situs, fitur, dan artefak menjadi sangat penting.

Pelestarian merupakan motivasi utama bagi pengembangan hampir setiap open air museum. Pelestarian tersebut harus dilaksanakan sesuai dengan kaidah-kaidah yang ada. Jika suatu bangunan kuno ingin dipreservasi, maka bangunan tersebut harus ditangani secara baik dan benar, yaitu dengan tetap membiarkan bentuk bangunan sesuai dengan aslinya. Apabila bangunan tersebut tidak menampilkan bentuk asli dan sesuai, maka pelestarian yang dilakukan tidaklah tepat (Chappell, 1999:336).

Selain fungsi pelestarian, open air museum juga ditujukan untuk menciptakan suatu gambaran mengenai kehidupan masyarakat masa lalu dengan cara merekonstruksi kembali lingkungan dan kehidupan mereka. Museum jenis ini ”menghidupkan” kembali kehidupan masyarakat lampau yang telah punah. Dengan demikian, pengunjung dapat merasakan dan memahami kehidupan masyarakat pada saat itu (Laenen, tt:129-132).

Open air museum biasanya dikenali sebagai museum of buildings, living farm museum, living history museum, dan folk museum. Pada umumnya open air museum mengkhususkan koleksinya pada kawasan dan bangunan-bangunan yang memiliki nilai historis dan estetis. Museum berupaya mendirikan kembali bangunan-bangunan tua di dalam kawasan situs terbuka yang luas untuk kemudian dirancang dan diatur kembali sesuai dengan keadaan pada masa lalu.


Pengembangan Situs Pemakaman Kolonial

Situs pemakaman, khususnya yang berasal dari masa kolonial, kerapkali dianggap sebagai tempat yang sepi dan menyeramkan. Padahal, secara tidak disadari, tempat tersebut menyimpan berbagai macam informasi menarik mengenai komposisi penduduk suatu kota di masa lampau. Situs pemakaman merupakan data arkeologi yang tidak kalah penting apabila dibandingkan dengan situs pemukiman, situs keagamaan, atau jenis situs lainnya. Situs pemakaman harus dikemas secara menarik agar dapat berfungsi sebagai sarana rekreasi dan edukasi masyarakat di ruang terbuka.

Sebagai model acuan, akan dipaparkan secara singkat bentuk pengembangan situs pemakaman ”Weaste Cemetery” di Salford, Inggris.

Weaste Cemetery
Weaste Cemetery merupakan pemakaman pertama di kota Salford, Inggris. Sebelum pemakaman didirikan pada tahun 1857, warga kota dimakamkan di halaman gereja. Namun, halaman gereja sudah tidak mampu menampung makam lebih banyak lagi, sehingga Weaste Cemetery pun dibangun sebagai pemakaman kota (www.weasteheritagetrail.co.uk).

Pada periode Victoria , pemakaman juga difungsikan sebagai taman kota yang dirancang mirip satu sama lain. Tidak terkecuali Weaste Cemetery. Weaste Cemetery mempunyai empat kapel dan satu rumah kaca yang dirancang dengan sangat indah. Selain berfungsi sebagai pemakaman, Weaste Cemetery juga menawarkan tempat dan pemandangan yang indah dimana pengunjung dapat melepaskan penat dari keramaian kota (www.weasteheritagetrail.co.uk).

Sejak tahun 1857 hingga sekarang, kawasan Weaste Cemetery telah diisi sekitar 330.000 makam. Di antara orang-orang yang dimakamkan, terdapat beberapa tokoh yang dikenal masyarakat, seperti Joseph Brotherton (politikus sekaligus anggota parlemen pertama Salford), Sir Charles Hallé (pendiri Hallé Orchestra), Mark Addy (pahlawan kota yang menyelamatkan 50 orang yang tenggelam di Sungai Irwell), dan para veteran perang (www.weasteheritagetrail.co.uk).

Saat ini, Weaste Cemetery dirancang layaknya sebuah oase hijau yang tenang di tengah perkotaan. Berbagai jenis tumbuhan, baik berupa pepohonan maupun bunga-bunga liar, ditanam di area seluas 39 hektar. Sebagian besar tumbuhan tersebut telah ada semenjak pemakaman pertama kali didirikan, seperti bunga aster, dandelion, lady’s smock, bluebell, self-heal, dan thyme-leaved speedwell. Tempat tersebut sekaligus menjadi habitat yang nyaman bagi berbagai jenis satwa, seperti burung dan serangga (www.weasteheritagetrail.co.uk).

Weaste Cemetery telah melakukan inventarisasi terhadap seluruh makam yang dimilikinya. Selain itu, sedapat mungkin, dikumpulkan kisah hidup “para penghuni makam”, karena setiap orang memiliki kisah menarik untuk diceritakan. Melalui website resminya, Weaste Cemetery menampilkan data base biografi orang-orang yang dimakamkan, baik yang terkenal maupun tidak. Salah satu contoh yang menarik adalah biografi mengenai James Payne (1823-1907), seorang teknisi lampu di Kota Salford (www.weasteheritagetrail.co.uk).

Weaste Cemetery merupakan model yang cukup ideal bagi pengembangan situs pemakaman. Penataan lansekap yang indah disertai tetumbuhan yang menghiasinya menjadikan situs pemakaman tersebut diminati pengunjung yang mencari suasana alam, udara segar, serta ketenangan di tengah keramaian kota. Namun, hal utama yang harus dimiliki pengelola situs pemakaman adalah kelengkapan data orang-orang yang dimakamkan di tempat tersebut. Weaste Cemetery berhasil mengumpulkan data-data itu dan memasukkannya ke dalam data base yang dapat diakses oleh masyarakat. Dengan demikian, masyarakat dapat mengetahui siapa saja orang-orang yang telah menghuni Kota Salford terlebih dahulu. Kisah kehidupan mereka merupakan bagian dari sejarah yang mewarnai Kota Salford.

Pengetahuan akan sejarah kota menjadikan masyarakat lokal paham akan perkembangan kota yang mereka huni dari masa ke masa. Situs pemakaman dapat memberikan pengetahuan tersebut melalui cara yang unik. Melalui model pengembangan yang tepat, situs pemakaman dapat ”disulap” menjadi tempat rekreasi dan edukasi yang menarik minat masyarakat, serta area terbuka yang berfungsi sebagai paru-paru kota.

Situs Pemakaman sebagai Open Air Museum:
Uji Coba pada Museum Taman Prasasti

Pada awalnya, kawasan Museum Taman Prasasti digunakan sebagai pemakaman khusus orang asing di Batavia. Pemakaman yang diberi nama Kerkhof Laan atau Kebon Jahe Kober (kober = kuburan) tersebut didirikan pada tahun 1795 (Heuken, 1997:244). Pemakaman Kebon Jahe secara resmi mulai berfungsi setelah dibongkarnya kawasan pemakaman yang berada di Gereja Belanda Baru (Nieuwe Hollandsche Kerk) yang saat ini telah menjadi Museum Wayang yang terletak di Jalan Pintu Besar Utara nomor 27. Ketika itu, Pemerintah Batavia berupaya mencari lahan yang lebih luas untuk menampung orang meninggal yang jumlahnya semakin meningkat. Kondisi Kota Batavia yang semakin padat menyebabkan atmosfer yang tidak sehat, sehingga banyak warga kota yang terserang wabah penyakit malaria, diare, dan penyakit lainnya, yang menyebabkan kematian. Sebagai lahan pengganti, dicari lokasi baru di luar kota ke arah selatan, yakni di Kebon Jahe yang termasuk daerah Tanah Abang (DMS DKI Jakarta, 1994:8).

Pemakaman Kebon Jahe berkembang menjadi suatu pemakaman yang prestisius karena banyaknya orang terkenal yang dimakamkan di sana, baik pejabat penting, pelaku sejarah, hingga selebritis pada masanya. Beberapa di antaranya adalah Olivia Mariamne Raffles (istri Gubernur Jenderal Inggris, Sir Thomas Stamford Raffles), MGR. Adami Caroli Claessens pastor Katolik terkemuka), keluarga van Rimsdijk (keluarga gubernur Hindia Belanda), Jonathan Michiels (saudagar di Batavia yang merupakan mardjiker terakhir), Dr. H.F. Roll (pendiri Stovia), W. F. Stutterheim dan Dr. J.L.A. Brandes (ahli sejarah purbakala Indonesia), Miss Riboet (pemain sandiwara terkenal), serta Soe Hok Gie (aktivis mahasiswa).

Kisah di balik tokoh, baik yang terkenal maupun tidak, dikumpulkan dan diulas sehingga masyarakat dapat mengetahui siapa saja orang-orang yang telah menghuni Kota Jakarta terlebih dahulu.

Dalam makalah seminar yang disampaikannya, Adolf Heuken (2005) mengemukakan bahwa Museum Taman Prasasti sebagai peninggalan makam dari akhir abad ke-18 merupakan warisan budaya dari masa lampau yang sangat berharga, salah satunya sebagai tempat yang memberikan kesaksian tentang komposisi penduduk Batavia yang berasal dari seluruh dunia pada masa itu. Keragaman bahasa yang tertera pada nisan-nisan dapat memberikan pengetahuan mengenai perkembangan bahasa dan sastra pada masa kolonial. Informasi lainnya adalah tentang pendeknya umur orang Batavia dan banyaknya kematian anak-anak. Selain itu, terdapat beberapa gaya arsitektur yang khas, antara lain adalah klasisisme, neo-gotik, dan Jawa. Hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah gambaran mengenai gaya pengungkapan (bentuk ekspresi) kepercayaan atau ketidakpercayaan akan kehidupan sesudah kematian, rindu atau perasaan orang yang ditinggalkan yang dapat diketahui melalui gaya patung, puisi, atau prosa yang dituliskan pada nisan.

Museum Taman Prasasti dikategorikan ke dalam jenis open air museum. Museum jenis ini jumlahnya masih sangat terbatas di Indonesia. Walaupun dewasa ini terdapat beberapa museum yang berada di ruang terbuka, namun yang benar-benar menerapkan prinsip open air museum sangat jarang ditemui. Open air museum sebaiknya berlokasi di suatu situs arkeologi, mengutamakan keotentikan situs beserta isinya, dan berupaya merekonstruksi cara hidup di masa lampau melalui pameran dan program lainnya.

Museum Taman Prasasti memiliki kemampuan untuk memenuhi kriteria tersebut. Museum sudah berlokasi di suatu situs arkeologi yang berasal dari periode kolonial. Hanya saja, museum masih perlu berupaya mengedepankan nilai keotentikan situs melalui penataan pameran yang sesuai, dengan menerapkan pendekatan kontekstual. Penataan lansekap sedapat mungkin disesuaikan dengan bentuk kondisi Kebon Jahe Kober di masa lampau. Melalui foto, gambar, dan dokumen lainnya, dapat diketahui bentuk penataan lansekap dan jenis-jenis vegetasi yang ditanam. Mengenai hal ini, diperlukan penelitian yang mendalam mengenai bentuk pemakaman Belanda pada masa kolonial dan jenis tumbuh-tumbuhan yang ditanam. Tujuannya adalah agar pengunjung dapat merasakan secara langsung bentuk pemakaman kolonial di masa lampau sehingga memudahkan proses penerimaan informasi.

Selain itu, museum juga harus mengadakan program-program edukatif-rekreatif yang berkaitan dengan koleksi museum guna merekonstruksi cara-cara hidup masyarakat Batavia pada abad ke-18 hingga 20, terutama yang berkaitan dengan pemakaman dan kematian. Misalnya saja, pada tahun 2004, Museum Taman Prasasti pernah mengadakan kegiatan “Prosesi Pemakaman Batavia 1820: Sebuah Rekonstruksi Sejarah” yang bertujuan untuk memberikan gambaran umum kepada masyarakat saat ini mengenai kehidupan masyarakat Batavia pada masa kolonial, khususnya yang terkait dengan prosesi pemakaman. Selain itu di tahun yang sama, diselenggarakan “Pertunjukan Sound and Light”. Pertunjukan tersebut menonjolkan keindahan batu-batu nisan dan prasasti yang ada dengan menggunakan sinar lampu yang kontras. Kemudian terdapat narasi yang menceritakan keadaan di Batavia pada abad ke-18, yang ketika itu merupakan daerah yang tidak sehat akibat merebaknya berbagai macam penyakit (Museum Sejarah Jakarta, 2004). Sayangnya kegiatan-kegiatan tersebut tidak diadakan secara rutin. Padahal, sebagai open air museum, upaya rekonstruksi kehidupan masa lampau merupakan agenda utama. Oleh karena itu, Museum Taman Prasasti harus lebih mengembangkan program-program interaktif yang dilaksanakan secara rutin, baik itu harian, mingguan, bulanan, maupun tahunan.


Penutup

Museum Taman Prasasti adalah salah satu museum di Jakarta yang mempunyai daya tarik dan keunikan tersendiri. Daya tarik tersebut berupa lokasi museum yang berada di ruang terbuka (outdoor), sehingga pengunjung dapat menikmati koleksi sekaligus keindahan alam yang saat ini sudah jarang ditemui di Jakarta. Sedangkan keunikan museum adalah kawasan museum yang pada awalnya merupakan kompleks pemakaman masyarakat Belanda pada masa kolonial. Sebagai open air museum, sudah seharusnya Museum Taman Prasasti dapat memberikan gambaran umum mengenai suasana Kota Batavia pada abad ke-18 hingga abad ke-20. Melalui keberadaan kompleks pemakaman tersebut, dapat diketahui bentuk pemukiman di wilayah Jakarta tempo dulu secara umum, dan gambaran pemakaman itu sendiri secara khusus.

Museum Taman Prasasti merupakan warisan budaya dari masa lampau yang dapat memberikan berbagai pengetahuan dan wawasan kepada masyarakat saat ini mengenai dinamika kehidupan sosial di Batavia pada abad ke-18 hingga abad ke-20. Setiap informasi yang tersimpan di balik objek harus dapat disampaikan dalam kemasan yang menarik agar dapat dipahami dengan mudah oleh pengunjung. Bentuk penyajian tersebut, baik penyajian koleksi ataupun penyajian gagasan di balik koleksi (nilai) menjadi hal yang sangat penting untuk diperhatikan.

Bentuk penyajian museum tidak lagi bersifat tradisional yang terfokus pada penanganan objek semata (object oriented), melainkan bersifat melayani masyarakat (public oriented) sebagaimana yang terdapat di dalam prinsip new museology. Pendekatan open air museum merupakan salah satu cara yang dapat diterapkan dalam mengembangkan Museum Taman Prasasti. Melalui pendekatan tersebut, museum dapat mengoptimalkan potensi yang dimilikinya melalui penataan lansekap, penyajian koleksi, serta berbagai program interaktif.

Sebagai museum yang berada di wilayah Jakarta, Museum Taman Prasasti berperan dalam meningkatkan kepedulian masyarakat mengenai identitas dan sejarah perkembangan kota Jakarta. Diharapkan masyarakat Jakarta dapat mengetahui dan memahami bentuk perkembangan Kota Jakarta dari masa ke masa melalui informasi di balik koleksi museum. Museum berperan sebagai wahana edukasi dan rekreasi bagi masyarakat, serta penyedia ruang terbuka yang berfungsi sebagai paru-paru kota.


Daftar Pustaka

Chappell, Edward A. 1999. Open-Air Museums: Architectural History for the Masses”, The Journal of the Society of Architectural Historians 58(3): 334-341.

Dinas Museum dan Sejarah Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta. 1994. Petunjuk Museum Taman Prasasti.

Dinas Pertamanan DKI Jakarta. TT. Site Plan Museum Taman Prasasti. (denah).

Heuken, Adolf. 2005. Makna Taman Prasasti sebagai Tempat Bersejarah Kota Jakarta. Makalah yang disampaikan pada Seminar Pengembangan Museum Taman Prasasti yang diselenggarakan oleh Museum Sejarah Jakarta, Jakarta 13-14 Juli 2005.

Heuken, Adolf. 1997. Tempat-tempat Bersejarah di Jakarta. Jakarta: Yayasan Cipta Loka Caraka.

Heuken, Adolf. 2007. Historical Sites of Jakarta. Ed. Ke-7. Jakarta: Yayasan Cipta Loka Caraka.
Huth, Hans. “Open-Air Museums and Folk Art Centers”, The Regional Review IV(6).

Joga, Nirwono dkk. 2005. Museum Taman Prasasti: Metamorfosis Makam Menjadi Museum. Jakarta: Universitas Trisakti, Jurusan Arsitektur Lansekap, Fakultas Arsitektur Lansekap dan Teknologi Lingkungan.

Laenen, M. tt. A New Look at Open Air Museum. 125-140.
Museum Sejarah Jakarta. 2004. Laporan Kegiatan Prosesi Pemakaman Batavia 1820: Sebuah Rekonstruksi Sejarah.

Museum Sejarah Jakarta. 2004. Laporan Kegiatan Pertunjukan Sound and Light di Museum Taman Prasasti.

Rentzhog, Sten. 2007. Open Air Museums: The History and Future of a Visionary Idea. Kristianstad: Kristianstads Boktryckeri.

http://www.weasteheritagetrail.co.uk


Makalah pada PIA 2011