Oleh: Sumijati As. – Inajati Adrisijanti M.R.
Jurusan Arkeologi, Fakultas Ilmu Budaya UGM


Latar Belakang

Toraja Utara merupakan kabupaten baru akibat pemekaran Kabupaten Tana Toraja berdasarkan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2008. Kabupaten Tana Toraja beribukota di Makale, sedangkan Kabupaten Toraja Utara beribukota di Rante Pao. Kabupaten ini memiliki luas kurang lebih 1.215, 55 Km2 dan dibagi dalam 21 kecamatan. Kecamatan itu adalah: Kecamatan Sesehan, Nanggala, Rindinggallo, Buntao, Sa’dan, Sanggalangi, Rantepao, Sopai, Tikala, Balusu, Tallunglipu, Dende Piongan Napo, Buntu Pepasa, Baruppu, Kesu, Tandon, Bangkelikela, Rantebua, Sesean, Seloara, Kapala Pitur, dan Awan Rante Karua (Sektiadi dkk, 2009).

Kabupaten Toraja Utara memiliki bermacam cagar budaya baik tangible maupun intangible. Di antara budaya tangible adalah pemukiman tradisional dengan tongkonan, alang, rante, dan liang, sedangkan budaya intangible antara lain berupa upacara-upacara misalnya upacara kematian (Rambu Solo’), atau upacara pentahbisan tongkonan (Rambu Tuka’). Di antara tongkonan-tongkonan itu adalah Kete’Kesu, Buntu Pone, Palawa, Nanggala, Tangke Allo, dan Kande Api. Selain pemukiman tradisional dengan elemen-elemennya Kabupaten Toraja Utara juga memiliki situs kubur yang sangat terkenal, yaitu Londa. Di antara tongkonan-tongkonan tersebut hanya tongkonan Kande Api yang dibahas dalam tulisan ini. Tongkonan Kande Api dipilih sebagai pokok bahasan dikarenakan kondisi tongkonan tersebut saat ini menunjukkan adanya “pergeseran” dalam pemanfaatannya. “Pergeseran” dalam pemanfaatan tersebut pada gilirannya sangat mempengaruhi pelestariannya. Pelestarian dalam Bab I Ketentuan Umum ps 1 butir 22 UU RI No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya didefinisikan sebagai upaya dinamis untuk mempertahankan keberadaan Cagar Budaya dan nilainya, dengan cara melindungi, mengembangkan, dan memanfaatkan.

Tongkonan Kande Api secara administrasi berada di Kampung Kande Api Utara, Desa Buntu Barana, Kecamatan Tikala, Kabupaten Toraja Utara. Letak astronomis Kande Api berada pada koordinat 02056’ 113” LS 1190 53’ 47,3” BT, pada ketinggian 871 m dari permukaan laut. Seperti halnya tongkonan yang lain, tongkonan Kande Api termasuk dalam kategori living heritage. Tongkonan sebagai living heritage tetap eksis hingga kini bersama dengan masyarakat pendukungnya yang kuat mempertahankan budaya yang dimiliki, diantaranya ajaran Aluk Todolo. Dalam ajaran itu terkandung konsep kepercayaan terhadap alam kehidupan sesudah mati. Dengan demikian, pelestarian dan pengembangannya cenderung menjadi tanggung jawab masyarakat pemiliknya. Warisan budaya Toraja karena keunikan dan keeksotisannya telah menarik minat banyak orang, tidak hanya dari dalam negeri tetapi juga dari manca negara. Oleh karena itu, budaya Toraja menjadi objek wisata andalan terutama untuk wilayah timur Indonesia.

Budaya Toraja sebagai sebuah warisan mengandung nilai dan makna yang bersifat simbolik, estetis, dan ekonomik. Nilai estetika dan artistik dapat diamati tanpa memperhatikan dimensi waktu, oleh karena itu warisan budaya dapat dijadikan sebagai objek wisata. Kondisi seperti itu, terdapat juga di pemukiman Kande Api. Pemanfaatan warisan budaya Toraja, khususnya tongkonan membawa dampak baik bagi tongkonan itu sendiri, bagi masyarakat, maupun pada lingkungan. Dampak itu dapat bersifat positif, tetapi juga dapat bersifat negatif. Artinya pemanfaatan sebagai objek wisata akan membawa dampak kebaikan, atau sebaliknya akan membawa keburukan bagi budaya itu sendiri.

Warisan budaya yang diposisikan sebagai objek dan daya tarik wisata memiliki nilai ekonomis karena membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat lokal. Selanjutnya warisan budaya itu sendiri akan mendapat keuntungan berupa dana untuk pemeliharaannya. Hal itu dikarenakan posisi warisan budaya sebagai aset pariwisata, sedangkan dampak negatif jauh lebih banyak dibandingkan dengan dampak positif. Dampak negatif yang biasa terjadi adalah pencemaran baik bagi lingkungan maupun bagi warisan budaya itu sendiri.

Uraian di atas memberi gambaran bahwa pariwisata bagaikan “sebilah pisau yang bermata dua” bila diterapkan dalam pemanfaatan warisan budaya. Permasalahan yang kemudian muncul adalah: Apakah pemanfaatan Tongkonan Kande Api sebagai objek wisata berpengaruh terhadap pelestariannya?


Pemukiman Kande Api

Situs Kande Api merupakan salah satu pemukiman tua di Kabupaten Toraja Utara, dan termasuk situs yang dinominasikan dalam pengusulan Toraja sebagai World Heritage ( Tanudirjo dkk, 2005). Dalam suatu komunitas, pemukiman mempunyai peran penting kerena merupakan wujud dari ide-ide manusia yang dirancang sebagai wahana untuk mendukung setiap kegiatan yang akan dilakukan. Oleh karena itu, pemukiman selalu dibutuhkan baik dalam komunitas tradisional mapun masyarakat modern. Pemukiman tradisional mengenal pola atau tatanan, sesuai dengan lingkungan alam, dan social budayanya (Rapoport, 1985 dalam Syahmusir,2004).

Tipe pemukiman tradisional Toraja menurut Jovak dkk (1988) dibedakan menjadi 3 tipe, yakni pemukiman di dataran tinggi (puncak bukit); pemukiman terisolir; dan pemukiman di dataran rendah. Berdasarkan lokasinya, maka Pemukiman Kande Api masuk dalam kategori pemukiman di atas bukit karena letak pemukiman tersebut berada di ketinggian 871 m di atas permukaan laut. Pemukiman tradisional Toraja biasanya dikelilingi oleh pohon-pohon bambu yang lebat. Adanya tanaman bambu secara tidak langsung berfungsi sebagai benteng alam sebagai upaya untuk menghindari atau melindungi diri dari ancaman, baik serangan musuh maupun binatang.

Rumah adat dalam budaya Toraja disebut tongkonan. Arsitektur tongkonan berupa rumah panggung dengan atap melengkung. Arah hadapnya ke arah utara, berderet berjajar dari arah timur ke barat. Pada masa lalu kolong rumah digunakan untuk kandang kerbau terutama kerbau belang atau tedong bonga yang melambangkan kekayaan (status sosial). Kekayaan orang Toraja digambarkan juga dengan banyaknya lumbung padi (alang) yang didirikan di depan tongkonan. Apabila sebuah tongkonan dimiliki oleh keluarga kaya, maka mereka dapat dapat membangun lebih dari satu alang di depan tongkonannya. Dalam pemukiman tradisional Toraja selain tongkonan dan alang terdapat pula elemen-elemen lain, yaitu rante, liang, kebun, serta sawah adat. Tata letak tiap-tiap elemen diatur sesuai dengan adat, biasanya didasarkan atas konsep kosmologis dan kepercayaan Aluk Todolo.

Menurut tradisi tutur, tongkonan Kande Api dibangun sekitar 275 tahun yang lalu dengan empat tongkonan yang masing-masing berdiri sendiri. Kondisi itu berubah ketika tahun 1970an Peter Sambo sebagai salah satu keturunan pemilik tongkonan, mengumpulkan tongkonan-tongkonan tersebut menjadi satu, sehingga tata letaknya seperti yang ada pada saat ini (Laporan BP3, 2010), dan mengeruk tanah menjadi rendah dan datar ( wawancara dengan Bp. Oktavianus Parimin, tetua adat setempat). Menurut narasumber dahulu permukaan tanah di area tersebut sejajar dengan gereja yang ada di sebelah barat daya tongkonan.

Pada saat ini Pemukiman Kande Api memiliki 4 tongkonan dan 12 alang, beberapa kuburan (liang), dan yang oleh penduduk setempat disebut rante. Tata letak komponen-komponen tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Keempat tongkonan berjajar, kurang mengikuti konsep penataan tradisional, dengan arah timur laut-barat daya dengan orientasi tongkonan serong ke barat laut sekitar 30•, sementara lumbung menghadap ke arah tenggara. Dalam kunjungan pada bulan September 2010 masih ada satu bangunan tongkonan lagi dalam keadaan rusak, yang berdiri di bagian barat-daya tanah lapang. Namun, dalam kunjungan pada bulan Juni 2011 tongkonan tersebut sudah tidak tampak lagi. Narasumber mengatakan bahwa tongkonan tersebut sudah dibongkar.
  2. Di antara deretan tongkonan dan alang terbentang ruang terbuka selebar kira-kira 20m. Ruang terbuka tersebut difungsikan sebagai tempat untuk melakukan upacara-upacara, misalnya upacara aluh pia yakni sebuah upacara yang diselenggarakan sebelum upacara di rante.
  3. Rante sebagai kelengkapan tongkonan berada di sebelah barat daya kira-kira berjarak 90 m dari tongkonan. Di area rante terdapat menhir (simbuang) yang ukurannya bervariasi dan tidak dikerjakan. Pada saat ini, di dekat rante berdiri sebuah gereja.
  4. Kuburan (liang) ditempatkan pada ceruk di dinding tebing bukit karst di belakang deretan alang. Beberapa kuburan berbentuk patane (kuburan yang dibuat dari cor semen), ada pula yang menggunakan peti kayu. Di atas patane sering dilengkapi miniatur tongkonan.
  5. Sawah adat berada di sebelah barat dan timur tongkonan.
  6. Hutan bambu di sekitar tongkonan-alang, dan tempat penggembalaan ternak

 

Teknik pembuatan tongkonan sebagai rumah adat dikerjakan dengan menggunakan bahan bangunan kayu dan bambu, tanpa menggunakan paku, melainkan pasak dan ikat. Penyambungan menggunakan purus dan lurah. Atap dibuat dari bambu dibelah yang saling menumpuk, dan ditutup kulit bambu yang ditata berjajar dan bertumpuk. Kayu yang digunakan adalah jenis kayu banga yang bentuknya mirip batang pinang dalam ukuran besar.

Tongkonan juga berfungsi sebagai pengikat dan pemersatu keluarga. Pada mulanya tongkonan difungsikan sebagai rumah tinggal, tempat pertemuan keluarga, dan tempat menyemayamkan jenazah sebelum dikebumikan. Seiring dengan perkembangan maka fungsi tongkonanpun mengalami pergeseran. Saat ini tongkonan Kande Api tidak lagi ditinggali, pemilik tongkonan memilih bertempat tinggal di rumah-rumah yang didirikan di sebelah selatan lokasi tongkonan. Akibatnya lokasi tongkonan menjadi kurang terpelihara

Selain pada fungsi tongkonan, pergeseran juga tampak dalam pelestarian baik dalam konsep maupun fisik. Pemilik tongkonan telah melakukan perbaikan pada 3 tongkonan, tetapi tampak bahwa perbaikan tersebut tidak berwawasan pelestarian, karena dalam kegiatan itu tidak ada upaya untuk mengembalikan kondisi fisik tongkonan dan alang. Di satu sisi dunia Arkeologi menggariskan pemugaran berwawasan pelestarian harus berorientasi pada konsep keaslian agar nilai sejarah dan purbakala yang terkandung di dalamnya dapat dimanfaatkan secara benar. Dalam keaslian tercakup upaya untuk memperbaiki struktur dan pemulihan arsitektur.

Butir-butir di atas tidak ditetapkan dalam perbaikan tongkonan Kande Api. Hal itu terjadi pada renovasi 3 buah tongkonan yang telah diganti atapnya dengan seng sebagai pengganti atap lama yang dibuat dari bamboo dan ijuk. Selain itu sekarang juga dibangun satu alang baru yang tidak berdiri dalam satu deret dengan alang-alang yang lain, tetapi di ujung ruang terbuka tersebut di atas. Bentuk atapnya juga berbeda. Jika alang menggunakan atap dengan dua ujung, maka alang baru ini atapnya berujung tiga. Bahan bangunan yang dipakai juga berbeda, yaitu lantai dan tiang-tiang alang dibuat dari semen cor, atap dari kayu dan seng. Bahan bangunan yang sama hanya pada dinding alang yang tetap menggunakan kayu, dengan ukiran dan warna ragam Toraja.

Dalam aspek fungsi beberapa alang mengalami pergeseran karena tidak lagi digunakan sebagai lumbung, tetapi difungsikan sebagai kamar tidur tamu yang dilengkapi kamar mandi dan toilet di dalamnya. Kamar tidur tamu tersebut tampaknya diperuntukkan bagi tamu baik dari dalam negeri maupun luar negeri, dan sudah digunakan oleh beberapa tamu keluarga pemilik tongkonan, serta wisatawan dari Korea (wawancara dengan Ibu Rita Labi, tokoh wanita setempat). Dari fakta ini tampak bahwa pemukiman Kande Api dipersiapkan sebagai “penginapan/ hotel” dalam upaya pengembangan pariwisata, seperti pada alang nomer 6,7, dan 8. Selain itu, beberapa bagian bangunan sudah diganti dengan bahan beton, misalnya tiang, dan lantai dasar alang. Mekipun demikian, masih ada alang dengan bahan bangunan asli, dan fungsi asli sebagai tempat untuk menyimpan padi, misalnya alang nomer 3 dan 13.


Pembahasan

Situs Kande Api berada di ruang saujana budaya ( Jordan & Rowntree, 1986 ) yang menarik. Permukiman yang terdiri atas deretan tongkonan dan alang berlatar belakang pegunungan karst yang gagah. Lokasinya yang berada di atas bukit berketinggian 871 m dpl membawa udara sejuk yang menyegarkan baik bagi penduduk maupun pengunjung. Oleh karena itu, memang pantas jika Kande Api mempunyai nilai penting dalam perpaduan antara budaya dan alam, dan oleh karena itu termasuk dalam 10 situs yang dinominasikan dalam World Heritage List (cf. Department of Culture and Tourism The Republic of Indonesia, 2005; Tanudirdjo, 2005). Dalam aspek pariwisata, Situs Kande Api dapat dimasukkan dalam kategori Pariwisata Budaya sebagai paradigma baru, yang pada intinya memadukan antara wsata alam dan budaya (wisata ekobudaya). Perpaduan antara kedua elemen itu dimiliki oleh Situs Kande Api (Swasono, 2010).

Rencana pemanfaatan Situs Kande Api sebagai objek dan daya tarik wisata tampaknya kurang memperhatikan aspek perlindungan warisan budaya itu sendiri. Kondisi Situs Kande Api sebagai warisan budaya tangible dan intangible yang masih hidup (living heritage), serta didukung oleh kondisi lingkungannya memang layak untuk dikembangkan pemanfaatannya ke arah pariwisata. Namun apabila perencanaannya tidak cermat dapat berakibat warisan budaya tersebut akan tidak menarik dan ditinggalkan oleh wisatawan.

Pemanfaatan warisan budaya dapat mendatangkan keuntungan secara ekonomi apabila memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

  1. Pengembangan pariwisata hendaknya diarahkan sebagai sarana untuk melakukan konservasi warisan budaya dan alam serta hubungan diantara keduanya.
  2. Pengembangan pariwisata berkaitan dengan warisan budaya tanpa merusak warisan tersebut akan menimbulkan masalah sosial.
  3. Pengembangan pariwisata seyogyanya memberikan peluang kepada masyarakat setempat untuk mengelola sehingga mereka mendapatkan keuntungan dari kegiatan pariwisata tersebut (Conservation Problems via Sektiadi dkk, 2009).

Butir-butir di atas memberi pengertian bahwa perencanaan pengelolaan, serta pemantauan kegiatan pariwisata perlu melibatkan masyarakat. “Ruang” untuk melakukan penyesuaian terhadap fungsi yang baru atas bangunan cagar budaya sebenarnya dicakup dalam Undang-Undang Republik Indonesia no. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya pasal 80 tentang revitalisasi, dan pasal 83 tentang adaptasi. Namun, di sisi lain persyaratan-persyaratan yang dikemukakan dalam pasal-pasal tersebut harus pula diperhatikan.

Hal lain yang juga harus difikirkan dalam rencana pemanfaatan Kande Api sebagai destinasi wisata adalah infrastruktur. Dalam kunjungan-kunjungan kami ke situs selama dua tahun ini belum tampak pengadaan dan pembenahan infrastruktur, baik berupa akses jalan maupun prasarana lain untuk wisatawan. Informasi yang memadai juga belum tampak keberadannya

Tongkonan bagi etnis Toraja adalah pusaka atau warisan dengan hak dan kewajiban secara turun temurun dari orang pertama sebagai pendiri hingga ahli warisnya. Secara umum tongkonan merupakan identitas suku Toraja sehingga membedakan dengan suku-suku lain di Indonesia. Dalam lingkup budaya Toraja keberadaan tongkonan merupakan simbol dan identitas keluarga. Selain itu, tongkonan juga mencerminkan status sosial bagi pemiliknya.

Pergeseran fungsi tongkonan tampaknya juga terjadi dalam pelestarian baik secara fisik maupun konsep. Keaslian mencakup upaya untuk perbaikan struktur dan pemilihan arsitektur yang sedapat mungkin diupayakan pada beberapa aspek, yakni:

  • Keaslian bentuk yakni upaya pemulihan bangunan dengan menggunakan bentuk arsitektur aslinya berdasarkan data yang ada.
  • Keaslian bahan adalah upaya pemulihan bangunan dengan menggunakan unsur-unsur bahan seperti aslinya.
  • Keaslian teknik pengerjaan yakni upaya pemulihan bangunan dengan berdasarkan keaslian teknis dan cara kerja pembuatannya, dan
  • Keaslian tata letak adalah upaya pemulihan bangunan berdasarkan keaslian tata ruang letakya secara kontekstual.

Butir-butir pelestarian tersebut di atas tampak tidak dijalankan dalam perbaikan tongkonan dan alang di Kande Api, seperti yang terjadi pada perbaikan tiga buah tongkonan dengan mengganti atap dari bambu dan ijuk menjadi atap seng. Satu tongkonan dalam kondisi belum diperbaiki, dan satu tongkonan dalam kondisi rusak berat. Bahkan tongkonan yang rusak berat tersebut pada tahun 2011 dirobohkan. Kondisi yang sama terjadi pula dalam perbaikan alang. Dari 12 alang yang ada, 7 buah alang telah diperbaiki dengan mengganti atap bambu dan ijuk dengan seng. Selain atap, tiang yang semula dari kayu uru diganti dengan cor semen, demikian pula lantai alang yang semula dari papan-papan kayu diganti dengan beton/keramik. Ukiran pada dinding kayu diganti dengan keramik bergambar “motif Toraja”.


Penutup

Situs Kande Api adalah salah satu di antara sepuluh situs di Kawasan Tana Toraja dan Toraja Utara yang dinominasikan sebagai World Heritage. Di situs tersebut tampak dengan jelas bukti kearifan lokal dalam penataan lansekap untuk kepentingan budaya masyarakat penghuninya. Keindahan alam dan kecantikan arsitektur selain menjadi aspek pendukung nominasi tersebut di atas – yang berimbas pada pelestariannya –, juga menarik banyak pihak untuk memanfaatkannya sebagai objek dan daya tarik wisata, khususnya wisata eko-budaya. Satu sisi dunia Arkeologi menggariskan bahwa pemugaran berwawasan pelestarian harus berorientasi pada konsep keaslian, agar nilai sejarah dan purbakala yang terkandung di dalamnya dapat dimanfaatkan secara benar. Dalam keaslian tercakup upaya untuk memperbaiki struktur dan pemulihan arsitektur.

Namun, harus diingat bahwa sesuai dengan amanat dalam Undang-Undang Republik Indonesia no. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya dan Undang-Undang Republik Indonesia no. 9 Tahun 1990 tentang Kepariwisataan dalam pemanfaatan cagar budaya sebagai objek dan daya tarik wisata, pelestarian adalah aspek yang tidak boleh dilupakan. Adalah fakta bahwa di Situs Kande Api terjadi perubahan-perubahan komponen dalam jangka sekitar lima- satu tahun. Perubahan yang teramati adalah: jumlah tongkonan dan alang, adanya alang baru yang tidak kontekstual, dan perubahan bahan bangunan. Selain itu teramati pula adanya perubahan fungsi dan interior pada beberapa alang. . Apakah hal ini sejalan dengan makna pelestarian yang diamanatkan dalam Undang-Undang Republik Indonesia no. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya pasal 1? Apakah hal ini tidak ada implikasinya pada status Toraja secara keseluruhan pada Tentative List untuk World Heritage?

Kata kunci untuk itu adalah sosialisasi, dan perencanaan yang bersifat komprehensif. Sosialisasi tentang makna pelestarian, revitalisasi, dan adaptasi kepada publik, kepada para pemangku kepentingan. Perencanaan yang komprehensif untuk pengembangan cagar budaya, dan pengembangan kepariwisataan. Supaya pemanfaatan Situs Kande Api sebagai objek dan daya tarik wisata tidak berpengaruh negatif terhadap pelestariannya.


DAFTAR PUSTAKA

“Conservation Problems at World Heritage Sites” http://Express.am.edu.com/culture sustainable/mobil devices/ch. 13 So3.html

Department of Culture and Tourism The Republic of Indonesia, 2005. Nomination of Tana Toraja Traditional Settlement

Jordan, Terry G. & Lester Rowntree, 1986. The Human Mosaic. A Thematic Introduction to Cultural Geography. New York: Harper & Row

Laporan Penelitian Peninggalan Sejarah dan Purbakala di Kabupaten Toraja Utara dan Tanah Toraja Propinsi Sulawesi Selatan 2010 Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Makasar

Sektiadi 2009 Sangiran dan TanahToraja sebagai World Heritage: Studi tentang Pengelolaan Warisan Budaya Berperspektif Kesejahteraan Masyarakat” Laporan Penelitian Hibah Bersaing XII Perguruan Tinggi, 2009

Sektiadi 2010 Sangiran dan Tanah Toraja sebagai World Heritage: Studi tentang Pengelolaan Warisan Budaya Berperspektif Kesejahteraan Masyarakat” Laporan Penelitian Hibah Bersaing XII Perguruan Tinggi, 2010 .

Swasono, Meutia Hatta. 2010. “Pariwisata Budaya: Paradigma Baru dalam Pembangunan dan Pengelolaan Pariwisata”. Diskusi Terbatas: Potensi dan Hambatan dalam Pembangunan Wisata Eko Budaya

Syahmusir, Valentina, 2004. “Pola Pemukiman Tradisional Toraja: Studi Kasus Pemukiman Tradisional Kaero”, dalam Jurnal Toraja, hlm. 239 – 246

Tanudirdjo, Daud Aris dkk. 2005. Tana Toraja Traditional Settlement (Indonesia). World Heritage Site. Management Plan

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor II tahun 2010 Tentang Cagar Budaya

Yovak dkk, 1988 Banua Toraja Changing Patterns in Architecture and Symbolism among the Sa’adan Toraja, Sulawesi, Indonesia”. Amsterdam: Royal Tropical Institute

*MAKALAH PIA 2011