Beranda

Museum Sangiran: Upaya Pendekatan Arkeologi ke Publik (Kajian Antropologi Budaya)

Tinggalkan komentar

Duwiningsih
Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran


Abstrak

Semua disiplin ilmu apapun bidangnya hanya akan menjadi monumen yang tak tersentuh jika tidak disajikan ke publik. Sentuhan langsung ilmu pengetahuan dengan masyarakat menjadi jembatan penting pengakuan implementasi keilmuan. Sebagai upaya menjangkau ranah publik, pengetahuan arkeologi diungkapkan antara lain lewat pemaparan langsung melalui display museum. Museum Sangiran merupakan sumber kepariwisataan yang berharga dan bernilai tinggi bagi ilmu pengetahuan. Kawasan situs Sangiran mempunyai arti yang sangat besar sumbangannya bagi perkembangan ilmu pengetahuan, diantaranya arkeologi dan antropologi. Museum Sangiran diharapkan menjadi obyek wisata budaya yang dapat dimanfaatkan sebagai sarana rekreasi dan pendidikan yang dapat dibanggakan. Potensinya sebagai gambaran kehidupan masa lampau merupakan ladang penelitian yang dapat dimanfaatkan sebagai pelestari budaya yang akhirnya menjadi warisan budaya kaya makna. Sebagai usaha mendekatkan pemahaman arkeologi langsung ke masyarakat, keberadaan Sangiran menjadi sangat ideal sebagai media penarik minat masyarakat untuk mengenal ruang lingkup yang disajikan studi arkeologi. Pembahasan mengenai arkeologi publik pada dasarnya mengenai hubungan langsung antara arkeologi sebagai ilmu dengan masyarakat luas. Tulisan ini mencoba memandang arkeologi sebagai konsep ilmu pengetahuan yang disuguhkan langsung ke publik melalui museum Sangiran. Penulis mencoba mengurai peran arkeologi sebagai ilmu hasil dari evolusi budaya manusia, perjalanan masa lampau yang bisa dinikmati manusia kini, dan mengkajinya dari sudut pandang antropologi.

Any science whatever the discipline are, will only be untouch monument if are not presented to public. The direct contact between science and community is an important bridge of science implementations acceptance. To reach public domain, archaeology is expressed through direct explanation by museum display. Sangiran Museum is valuable tourism center and posses outstanding values for science. The area of Sangiran site greatly contributes to science development, in particular, Archaeology and Anthropology. Sangiran Museum is expected to be a cultural tourism destination which can be used as recreation and education media that we proud of it. It’s potential as a description of past period is the research field that can be used as cultural conservation that finally become a meaningful heritage. As exertion to bring archaeological understanding closer to community, the existence of Sangiran Museum become an ideal media to attrack community response to gain more knowledge of what archaeology study present. Explanation of public archaeology also fundamentally about the direct relation between archaeology as a science, with community. This article is trying to consider archaelogy as a concept of science that directly presented to the public through Sangiran Museum. The writer tries to analyze archaeology role as science from human culture evolution, the past journey that can be enjoyed by today’s people, and analyzed it from anthropological view.


1. LATAR BELAKANG

Diawali dengan kedatangan G.H.R. Von Koeningswald seorang ahli paleontologi Jerman yang memulai eksplorasi sejak tahun 1930an untuk mengumpulkan fosil demi kepentingan pemerintah Belanda, mengingat semakin banyaknya fosil yang ditemukan dan sekaligus untuk melayani kebutuhan wisatawan yang datang untuk melihat fosil, maka dibangunlah museum yang cukup representatif. Museum yang sepenuhnya mengandalkan koleksi fosil itu sekarang bertransformasi menjadi museum megah, yang membantu masyarakat yang haus akan pengetahuan masa lampau.

Arkeologi adalah ilmu yang mempelajari kebudayaan manusia masa lalu melalui kajian sistematis atas data bendawi yang ditinggalkan. Kajian sistematis meliputi penemuan, dokumentasi, analisis dan interpretasi data berupa artefak (budaya bendawi, seperti kapak batu dan bangunan candi) dan ekofak (benda lingkungan, seperti batuan, rupa muka bumi, dan fosil). Antropologi berarti ilmu tentang manusia (Koetjaraningrat, 1990). Dalam kaitannya antara pandangan antropologi terhadap kajian arkeologi di dalam museum Sangiran, Antropologi sebagai ilmu yang mempelajari budaya diantaranya keberadaan ilmu sebagai hasil evolusi perkembangan manusia yang berbudaya. Dengan arkeologi, manusia masa kini dapat mengetahui dan mempelajari kehidupan pendahulunya. Tulisan ini mencoba melihat implementasi arkeologi di ranah publik, serta manfaat langsung yang bisa dirasakan masyarakat, dari sudut pandang antropologi budaya.

Dalam bidang kajian arkeologi, potensi yang ada di situs Sangiran sangat mendukung penelitian, diantaranya ditemukannya alat-alat masif dan non-masif (serpih). Sebagai ilmu yang mempelajari manusia dan kebudayaannya pada masa yang lampau, arkeologi menitikberatkan kajiannya pada pengamatan terhadap benda-benda yang ditinggalkan dan sampai atau dapat ditemukan saat ini.diantaranya berupa artefak, ekofak, fitur, situs atau wilayah. Semua proses evolusi melalui fosil yang ditampilkan menjadi bidang kajian arkeologi yang bisa secara langsung dinikmati masyarakat.


2. PEMBAHASAN

Museum adalah lembaga, tempat penyimpanan, perawatan, pengamanan dan pemanfaatan benda-benda bukti materiil hasil budaya manusia serta alam dan lingkungannya guna menunjang upaya perlindungan dan pelestarian kekayaan budaya bangsa (Pasal 1(1) PP no. 19 Tahun 1995)(Hamzuri dkk, 1997). Museum bukan sekedar tempat sumber informasi, masih banyak yang bisa didapatkan jika kita menelaah lebih jauh. Museum Sangiran beserta situs arkeologinya, selain menjadi obyek wisata yang menarik juga merupakan arena penelitian tentang kehidupan pra sejarah terpenting dan terlengkap di Asia, bahkan dunia.

Museum Sangiran merupakan destinasi pariwisata yang menyimpan koleksi ribuan temuan fosil antara lain fosil manusia, hewan bertulangbelakang, binatang air, batuan, tumbuhan laut dan alat-alat batu. Secara stratigrafi situs Sangiran merupakan situs manusia purba terlengkap di Asia yang kehidupannya dapat dilihat secara berurutan dan tanpa putus sejak dua juta tahun yang lalu menurut riwayat penelitian hingga sekitar 200.000 tahun yang lalu.

Situs Sangiran memiliki potensi penting bagi ilmu pengetahuan, sejarah dan kebudayaan. Secara arkeologis arti penting situs Sangiran didapat dari penemuan alat-alat batu di desa Ngebung yang dikenal dengan istilah “Sangiran Flakes Industry”, berupa alat-alat serpih dari batu kalsedon dan jaspis. Peralatan lain selain serpih yang ditemukan mulai dari yang berciri paleolitik hingga neolitik. Potensi Sangiran tersebut menyebabkan situs ini dianggap sebagai salah satu pusat evolusi manusia di dunia dan digunakan sebagai tolak ukur untuk mengkaji proses-proses evolusi secara umum.

Tujuan dari ilmu arkeologi adalah berusaha merekonstruksi sejarah kebudayaan masa lalu, cara-cara hidup maupun proses-proses budaya yang pernah terjadi. Melalui kajian arkeologi, kehidupan masa lampau dapat disajikan ke permukaan. Penelitian terhadap fosil dan artefak sekaligus membawa peneliti pada cara hidup mahkluk purba itu. Di dalam arkeologi publik, seorang arkeolog dituntut untuk membuat sebuah publikasi dan menyebarluaskan hasil-hasil penelitiannya, sehingga masyarakat dapat merasakan manfaat dari hasil penelitian arkeologi yang dilakukan.

Sebagai ilmu yang berkompeten untuk mengungkap budaya maupun kehidupan purba, Sangiran memberikan bidang yang luas guna pengumpulan data tentang budaya dan evolusi manusia. Penelitian berkelanjutan yang telah dilaksanakan untuk mengungkap kandungan budaya maupun sebaran situs, menjadi bukti implementasi arkeologi. Dari Sangiran kita bisa memperoleh informasi tentang sejarah kehidupan manusia purba dengan kehidupan dan lingkungannya.

Di museum dan situs Sangiran dapat diperoleh informasi lengkap tentang pola kehidupan manusia purba di Jawa yang menyumbang perkembangan ilmu pengetahuan seperti Antropologi, Arkeologi, Geologi, Paleoanthropologi. Di lokasi situs Sangiran ini pula, untuk pertama kalinya ditemukan fosil rahang bawah Pithecantropus erectus (salah satu spesies dalam taxon Homo erectus) oleh Von Koenigswald. Pada homo erektus, terjadi dua kemajuan budaya yang penting, yaitu alat batu yang berbentuk simetris yang mulai dikerjakan sekitar 700.000 tahun yang lalu, serta penguasaan atas api, ini kemudian menyebabkan berkembangnya kehidupan sosial, dan secara tidak langsung mengakibatkan kemajuan di bidang teknologi. Dorongan manusia untuk bertindak didasarkan atas keinginan (apetit) dan dorongan dari dalam untuk menghindar dari bahaya (avertion). Menurut Teuku Jacob, akal dan bahasa merupakan landasan yang memungkinkan kebudayaan berevolusi.

Banyaknya fosil yang terkumpul menunjukkan Museum Sangiran sebagai situs prasejarah yang memiliki peran penting dalam memahami proses evolusi manusia. Alat-alat batu yang ditemukan di wilayah Sangiran merupakan perwujudan adaptasi manusia purba terhadap lingkungannya. Mereka mulai menciptakan peralatan dari batu meski dalam taraf teknologi sederhana. Melalui Sangiran digali informasi mengenai habitat, populasi, binatang yang hidup pada masa itu, dan proses terjadinya bentang alam dalam kurun waktu tidak kurang dari 2 juta tahun yang lalu.

Evolusi membicarakan tentang asal-usul hidup dan kehidupan. Evolusi mencoba merekonstruksi bentuk mahkluk hidup, sejak jaman purba sampai sekarang, beserta aktivitas dan segala hal yang mendukung aktivitas hidupnya. Evolusi terus berlangsung, yang berarti seleksi alampun terus berlangsung. Salah satunya perkembangan pola pikir yang lambat laun terus mencari jawab akan hakekat alam dan kehidupannya. Sifat tidak mudah puas akan persoalan hidupnya memaksa manusia memaksimalkan penggunaan otaknya untuk mencari jawaban. Dari perkembangan tingkat sederhana hingga hal yang semakin kompleks. Dari sekedar memenuhi kebutuhan dasar hingga kebutuhan sekunder bahkan tersier. Rasa haus terhadap keinginan menemukan jawaban inilah yang memicu otak manusia berevolusi. Hal yang terjadi kemudian ilmu sebagai perkembangan daya pikir manusia semakin berkembang ke banyak cabang salah satunya arkeologi. Ilmu Arkeologi (atau ilmu sejarah kebudayaan purbakala) pada mulanya meneliti sejarah dari kebudayaan-kebudayaan kuno dalam zaman purba (Koentjaraningrat,1990).

Perkembangan volume otak manusia diikuti pula dengan kemampuannya mengolah apa yang alam berikan. Tuntutan pemenuhan kebutuhan hidup, dimulai dengan kebutuhan dasar, memaksa manusia mengembangkan kemampuannya untuk pemenuhan bertahan hidup. A Wallace mengemukakan mengenai proses seleksi alam, mahkluk yang bisa bertahan yang akan eksis. Menurutnya, proses seleksi alam menentukan bentuk-bentuk fisik mahkluk hidup yang ada pada saat ini dalam menjalani proses evolusi mereka. Semakin keras dan kejam proses seleksi alam yang dialaminya maka semakin tinggi kualitas jenis mahkluk hidup yang mampu survive.

Evolusi pada manusia mempunyai nilai yang berbeda dengan evolusi tingkat hewan. Pada tingkat hewan, evolusi itu dirangsang oleh kondisi material alam sekitarnya berupa makanan, suhu, tekanan udara dan lain-lain, yang secara mekanis mendorong pertumbuhan atau melenyapkan sel-sel tertentu dari generasi ke generasi. Suatu populasi yang tidak mampu mengadakan perubahan seirama dengan alamnya, sehingga dari generasi-ke generasi mereka punah. Evolusi pada manusia bukan lagi tingkat jasmaniah, namun ia dikontrol oleh kondisi spiritual (metafisik) alam sekitarnya, yang menumbuhkan kebudayaan dan ilmu pengetahuan. Dengan kebudayaan, manusia mempunyai daya dan berusaha untuk merobah alam.

Proses evolusi yang terjadi pada manusia sejalan dengan evolusi sosial budayanya. Faktor fisiologis manusia mempengaruhi kebudayaan, mencakup perilaku,sikap dan tindakan yang dihasilkannya. Dalam teori evolusi sosial universal, semua hal mengalami proses perkembangan yang sangat lambat, berevolusi dari tingkat yang rendah dan sederhana menuju ke tingkat yang makin lama makin tinggi dan kompleks. Sesungguhnya ada hubungan yang erat antara evolusi manusia dengan budaya. Budaya yang berkembang sampai saat ini merupakan konsekuensi dari evolusi biologis. Aktivitas terhadap penelitian fosil membawa peneliti kepada bekas-bekas hasil karyanya, yang terbuat dari bahan-bahan yang keras yang masih utuh dalam lapisan-lapisan bumi, memberitahukan bahwa cara hidup manusia waktu itu sudah berkebudayaan.

Di area situs Sangiran ini jejak tinggalan berumur 2 juta tahun hingga 200.000 tahun masih dapat ditemukan hingga kini. Sehingga para ahli dapat merangkai sebuah benang merah sebuah sejarah yang pernah terjadi di Sangiran secara berurutan. Berdasarkan misi Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata tahun 2010-2014 untuk meningkatkan kualitas perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan warisan budaya, maka menjadi sangat tepat untuk mendukung pengembangan situs Sangiran menjadi museum kelas dunia. Potensi yang bisa digali di dalamnya menjadikan sumber pengetahuan tiada henti. Peranan arkeologi sebagai bidang studi yang sangat berkompeten dalam hal ini mutlak diperlukan untuk menggali cakrawala pandang atas apa yang telah disimpankan alam untuk diolah dan disajikan ke masyarakat.

Perbedaan-perbedaan jenis tanah, bentuk fosil serta jenis fosil yang terdapat pada empat lapisan tanah (Kalibeng, Pucangan, Kabuh, Notopuro) menunjukkan bahwa di Sangiran telah terjadi evolusi. Evolusi adalah konsep umum yang berlaku bagi setiap benda di alam semesta. Evolusi merupakan kejadian sebab akibat yang sangat panjang dan kolosal. Evolusi tidak semata-mata terjadinya perubahan sederhana atau perubahan adaptif. Begitu kompleksnya bidang yang bisa dijamah, membuat evolusi sebagai bidang keilmuan yang diharapkan mampu memberi solusi atas permasalahan tentang asal mula sesuatu, beserta perubahannya baik yang sudah punah maupun yang tetap eksis, dan kajian itu dipakai sebagai masukan untuk tindakan masa depan. Ilmu dalam menyoroti manusia tidak lepas dari gagasan evolusi (khususnya sains modern).

Seperti halnya masyarakat yang terus berubah, perkembangan ilmu pengetahuan pun semakin kompleks. Untuk menarik minat masyarakat terhadap kehidupan lampau, maka Museum Sangiran sebagai jembatan untuk menampilkan hasil penelitian dan penggalian ke masyarakat. Semakin atraktif suatu obyek di pandangan masyarakat, maka semakin masyarakat tergugah mengunjunginya. Pengunjung tidak hanya tertarik pada benda koleksi museum saja, tetapi mereka juga memiliki rasa ingin tahu terhadap latarbelakang kehidupan manusia dan lingkungan purba pada masa itu. Pada dasarnya cinderamata yang paling baik saat berkunjung ke lokasi situs purbakala adalah cerita yang ada di balik sejarah purbakala yang pernah terjadi di daerah itu. Tampilan display hasil olahan studi arkeologi menjadi oleh-oleh, kenangan yang menarik. Melalui sentuhan langsung dengan masyarakat, maka akan mendapatkan dukungan dan apresiasi publik terhadap arkeologi. Museum Sangiran merupakan suatu bentuk tanggungjawab dalam pemanfaatan sumber kekayaan alam dan budaya Indonesia. Melalui benda yang dipamerkan museum, kita memperoleh pengetahuan dan kita dapat belajar sejarah serta kebudayaan masa lampau, serta mengetahui misteri evolusi mahkluk hidup.

Benda cagar budaya tidak hanya penting bagi disiplin ilmu arkeologi, tetapi terdapat berbagai disiplin yang dapat melakukan analisis terhadapnya. Antropologi misalnya dapat melihat kaitan antara benda cagar budaya dengan kebudayaan sekarang. Pengelolaan terpadu benda cagar budaya sebagai warisan budaya dunia seperti halnya museum Sangiran akan menjadi tinggalan tak ternilai bagi generasi berikut. Disamping mengedepankan upaya perlindungan terhadap benda cagar budaya sekaligus dapat dikembangkan kawasan wisata berbasis pengetahuan. Laboratorium alam yang dimiliki sekarang mampu membawa kita melihat kembali ke masa lampau, masa awal kehidupan manusia. Perkembangan budaya yang terjadi, mulai dari masa ketika manusia memanfaatkan alat batu sebagai pendukung hidupnya hingga tahap mereka mengenal api hingga perkembangan budaya yang semakin kompleks akibat bertambahnya volume otak manusia tersebut.

Tugas arkeolog adalah menemukan kembali makna budaya sumber daya arkeologi dan menempatkannya dalam konteks sistem sosial masyarakat sekarang. Ahli Arkeologi bekerja mencari benda-benda peninggalan manusia dari masa lampau. Mereka melakukan penggalian untuk menemukan sisa-sisa peralatan hidup atau senjata. Benda–benda ini adalah barang tambang mereka. Tujuannya adalah menggunakan bukti-bukti yang mereka dapatkan untuk merekonstruksi atau membentuk kembali model-model kehidupan pada masa lampau. Dengan melihat pada bentuk kehidupan yang direkonstruksi tersebut dapat dibuat dugaan-dugaan bagaimana masyarakat yang sisa-sisanya diteliti itu hidup atau bagaimana mereka datang ketempat itu atau bahkan dengan siapa saja mereka itu dulu berinteraksi. Pembuatan peralatan membutuhkan ingatan, perencanaan dan pemecahan masalah yang abstrak. Hal ini menandai awal dimulainya fungsi kebudayaan untuk membantu kita beradaptasi dengan lingkungan, suatu kemampuan yang khas manusia.

Evolusi terjadi karena sifat adaptif yang dimiliki manusia. Manusia beradaptasi melalui medium kebudayaan pada waktu mereka mengembangkan cara-cara untuk mengerjakan sesuatu sesuai dengan sumberdaya yang mereka temukan dan juga dalam batas-batas lingkungan tempat mereka hidup. Proses adaptasi menghasilkan keseimbangan yang dinamis antara kebutuhan penduduk dan potensi lingkungannya. Adaptasi untuk mempertahankan hidup membuat manusia bertindak untuk memanfaatkan apa yang telah disediakan alam. Evolusi sebagai upaya adaptasi lingkungan seperti contoh teknik yang digunakan mereka untuk mendapatkan hewan buruan, misalnya dengan membuat jebakan atau menggiring binatang-binatang tersebut ke arah jurang yang terjal.

Tidak bisa dihindari bahwa manusia harus selalu bisa adaptif karena alam menyeleksi mahkluk yang bisa bertahan. Proses adaptasi yang berlangsung menghasilkan bentuk kontinuitas sosial. Struktur adaptasi menimbulkan perubahan. Adaptasi bisa berupa internal dan eksternal. Adaptasi internal melalui mutasi, perubahan-perubahan dalam fungsi organ, dan pergantian sel-sel hidup. Proses internalisasi biologis yang membentuk sel organisma berjalan secara berkelanjutan. Sedangkan, adaptasi eksternal adalah kehidupan bermasyarakat harus disesuaikan dengan lingkungan alam.

Dalam rangka melanjutkan hidupnya, manusia diharuskan berhubungan dengan lingkungannya. Hubungan manusia dan lingkungan lebih banyak ditekankan pada tema adaptasi. Proses adaptasi yang berlangsung menghasilkan bentuk kontinuitas sosial. Struktur adaptasi menimbulkan perubahan. Lingkungan fisik (alam) adalah pendorong utama dalam kehidupan manusia. Perkembangan pola kehidupan suatu masyarakat dalam bentuk kebudayaan dipandang sebagai pengaruh yang dimunculkan oleh lingkungan alamnya. Pola hubungan antara fenomena sosial budaya dengan lingkungan alamnya dijembatani oleh unsur tengah, yaitu suatu kumpulan tujuan dan nilai-nilai spesifik, suatu kumpulan pengetahuan dan keyakinan, atau adanya suatu pola kebudayaan.

Pada manusia, tingkah-laku tergantung pada proses pembelajaran. Apa yang manusia lakukan adalah hasil dari proses belajar yang dilakukan sepanjang hidupnya disadari atau tidak. Mereka mempelajari bagaimana bertingkah-laku ini dengan cara mencontoh atau belajar dari generasi diatasnya dan juga dari lingkungan alam dan sosial yang ada disekelilingnya. Inilah yang oleh para ahli Antropologi disebut dengan kebudayaan. Jadi, kebudayaan menunjuk pada berbagai aspek kehidupan. Istilah ini meliputi cara-cara berlaku, kepercayaan-kepercayaan dan sikap-sikap, dan juga hasil dari kegiatan manusia yang khas untuk suatu masyarakat atau kelompok penduduk tertentu.

Pola hubungan manusia dan lingkungannya tidak selalu bertujuan menjaga homeostatis (keseimbangan). Walaupun adaptasi tertentu kelihatannya baik untuk untuk jangka waktu pendek dan bijaksana di mata masyarakat yang bersangkutan, tetapi dalam jangka waktu yang panjang justru terlihat merugikan keseimbangan lingkungan, kesehatan manusia, bahkan merugikan masa depan satuan sosio kultural tersebut. Antropologi melihatnya sebagai suatu perangkat proses psikologis, juga suatu perangkat respon perilaku baru yang diadaptasikan pada situasi-situasi dan waktu-waktu tertentu. Pengendalian kebutuhan-kebutuhan individu dipandang tidak relevan bagi pengendalian sumber daya alam oleh kelompok atau mayarakat, karena dalam mengendalikan penggunaan sumber alam, suatu kelompok atau masyaratat bisa saja menyalahgunakan sumber alam lainnya.

Manusia adalah mahkluk yang mempunyai kemampuan beradaptasi paling tinggi. Teori evolusi mengajarkan bahwa manusia sebagai homo sapiens telah mengalami perubahan dan perkembangan, baik dalam bentuk tubuh, struktur anatomi dan kemampuan otak untuk berpikir. Dalam jangka waktu yang lama, interaksi manusia dengan alam sekitarnya menghasilkan daya adaptasi yang tinggi dalam menyelenggarakan regenerasi yang berkembang sesuai daya dukung alam. Dengan kapasitas otak yang dimilikinya, manusia memanfaatkan akal pikirannya untuk menemukan, membuat serta menerapkan pengetahuan yang diperoleh dari pengalamannya, seperti cara mengatasi hambatan-hambatan alam dalam memenuhi kebutuhan dan keinginan hidupnya. Adaptasi terhadap lingkungan baru menciptakan dinamika kebudayaan.

Lingkungan fisik (alam) adalah pendorong utama dalam kehidupan manusia. Dengan kata lain, perkembangan pola kehidupan suatu masyarakat dalam bentuk kebudayaan dipandang sebagai pengaruh yang dimunculkan oleh lingkungan alamnya. Aliran neo fungsionalisme, berusaha menunjukkan bahwa gejala-gejala sosio kultural mempunyai fungsi adaptif terhadap lingkungan, atau setidak-tidaknya mempunyai fungsi dimana faktor-faktor lingkungan dimanipulasi dalam pola mata pencaharian masyarakat bersangkutan. Pengikut pendekatan ini memandang organisasi sosial dan kebudayaan populasi spesifik sebagai adaptasi fungsional yang memungkinkan populasi-populasi itu mengeksploitasi lingkungan mereka tanpa melampaui daya dukung lingkungan tersebut. Satuan yang digunakan di sini ialah suatu populasi dan bukan satuan sosial (social order).

Situs Sangiran merupakan kekayaan dunia yang sangat penting dan harus dilestarikan serta dikembangkan. Sebagai sebuah lembaga yang menjadi tempat kunjungan banyak orang, museum menjadi titik sentral jembatan atas out put ilmu, dalam hal ini arkeologi, yang bisa dirasakan langsung oleh mayarakat. Penemuan fosil yang begitu banyak menjadikan Sangiran sebagai sebuah kawasan manusia purba yang selalu menjadi penelitian hingga sekarang. Secara umum, hasil-hasil penelitian telah dapat menggambarkan kehidupan manusia purba, budaya, dan lingkungan kala Plestosen.

Fosil merupakan petunjuk adanya evolusi, sebagai catatan sejarah yang dapat digunakan untuk mengetahui jejak-jejak atau bekas kehidupan makhluk masa lampau. Evolusi manusia dan budaya berjalan secara pararel. Antara keduanya saling mempengaruhi. Kebudayaan mengalami proses perubahan dari satu tahap ke tahap selanjutnya secara evolutif. Kebudayaan yang dimiliki oleh manusia juga dimiliki dengan cara belajar. Dia tidak diturunkan secara biologis atau pewarisan melalui unsur genetis. Hal ini perlu ditegaskan untuk membedakan perilaku manusia yang digerakkan oleh kebudayaan dengan perilaku mahluk lain yang tingkah lakunya digerakkan oleh insting.

Budaya merupakan hasil cipta, rasa dan karsa manusia, ia mengalami perubahan secara evolusioner. Dalam Antropologi Kognitif, yang dikembangkan oleh Ward H. Goodenough (1950-an), membawa definisi budaya dari yang fisik menuju pengertian bahwa budaya sebagai sistem pengetahuan. Konsep arkeologi publik dalam batasan luas selalu akan menempatkan masyarakat sebagai bagian yang tidak terpisahkan dalam pengelolaan warisan budaya. Masyarakat pada hakekatnya, adalah pemegang penuh hak atas pemanfaatan sumber daya arkeologi. Merekalah pada dasarnya yang akan memberikan makna sumber daya arkeologi tersebut, baik untuk identitas, media hiburan atau hobi, sarana rekreasi, dan kepariwisataan. Sumber daya arkeologi dapat pula dimaknai secara berbeda sesuai dengan orientasinya, misalnya untuk media pendidikan atau ilmu pengetahuan, bahkan sebagai peneguhan jatidiri bangsa.

Pada umumnya kebudayaan itu dikatakan bersifat adaptif, karena kebudayaan melengkapi manusia dengan cara-cara penyesuaian diri pada kebutuhan-kebutuhan fisiologis dari badan mereka, dan penyesuaian pada lingkungan yang bersifat fisik-geografis maupun pada lingkungan sosialnya. Kebudayaan dengan sejumlah normanya itu merupakan suatu akumulasi dari hasil pengamatan, hasil belajar dari pendukung kebudayaan tersebut terhadap lingkungannya selama beratus-ratus tahun dan dijalankan hingga sekarang karena terbukti telah dapat mempertahankan kehidupan masyarakat tersebut. Kecenderungan warisan budaya yang seringkali dikatakan sebagai media yang memiliki fungsi dalam menjaga proses pertumbuhan kebudayaan bangsa, ternyata mengandung nilai-nilai yang pewarisannya dapat terjadi secara berbeda. Arkeologi publik sebagai teori atau strategi tentang bagaimana cara supaya warisan budaya dapat dimanfaatkannya sekaligus dipahami maknanya oleh masyarakat.


3. PENUTUP

Keberadaan arkeologi diperlukan dalam proses rekonstruksi sejarah kebudayaan, cara hidup serta penggambaran proses budaya masa lampau. Arkeologi sebagai ilmu yang mampu mengungkapkan kehidupan manusia beserta budayanya ditampilkan secara menarik melalui museum Sangiran. Ahli Arkeologi semakin diperlukan untuk melakukan penelitian dan menganalisa tinggalan manusia purba untuk mengungkap kehidupannya, kemudian menampilkannya ke publik.

Museum adalah tempat untuk perlindungan dan pelestarian kekayaan budaya bangsa, lembaga edukatif kultural yang bergerak di bidang pelestarian serta pemanfaatan warisan budaya dan alam. Dengan keberadaan museum Sangiran diharapkan masyarakat tidak lagi kesulitan mengakses manfaat benda cagar budaya. Disiplin Arkeologi diharapkan dapat menampilkan seluruh hasil budaya manusia purba yang mendiami kawasan Sangiran secara representatif lengkap dengan keterangan-keterangan yang interpretatif tentang komunitas sosial masa lampau.

Dua sisi yang dapat dinikmati pemerintah dan masyarakat, ialah sebagai sumberdaya, museum Sangiran dapat memberikan sumbangan bagi peningkatan APBD, sejalan itu dimanfaatkan pula oleh masyarakat untuk mendapat pengetahuan melalui wisata pengetahuan Masyarakat merupakan pilar keberhasilan program pelestarian yang ingin dicapai BPSMP Sangiran. Suksesnya tujuan perlindungan terhadap benda cagar budaya berjalan seiring dengan kesadaran masyarakat untuk ikut menjaga warisan sejarah tersebut. Masyarakat yang merasa ikut memiliki akan mudah untuk menerima kewajiban ikut menyokong pelestarian situs.


4. DAFTAR PUSTAKA

Hajar, Ibnu. 2008. Potensi Situs Sangiran Bagi Ilmu Pengetahuan, Laporan PKL. Universitas Negeri Semarang: Fakultas Bahasa Dan Seni.

Hamzuri,dkk. 1997. Museum di Indonesia.Jakarta: Direktorat Permuseuman.

Koenjaraningrat, 1990. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.

Kustati. 2009. Museum Sangiran Sebagai Asset Pariwisata Budaya Di Kabupaten Sragen. Laporan PKL. Universitas Negeri Semarang: Fakultas Bahasa Dan Seni .

Semangun, Haryono (ed.) dkk. 2010. Cakrawala Pemikiran Teori Evolusi Dewasa Ini. Salatiga: Universitas Kristen Satya Wacana, Program Studi Magister Biologi.

Suantika, I Wayan. 2001. Sumberdaya Arkeologi Dan Peranannya Masa Kini dan Masa Depan Proceedings EHPA, Mencermati Nilai Budaya Masa Lalu Dalam Menatap Masa. Jakarta: 2001.


*MAKALAH PIA 2011

Peningkatan Kreativitas Desain Cenderamata untuk Mendukung Museum Sangiran, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah

Tinggalkan komentar

Dody Wiranto
Balai Pelestarian Peninggalan Manusia Purba Sangiran


Abstract and Keyword

The papper entitled “The Increase of Souvenir Design Creativity to Support Museum Sangiran in the Regency of Sragen Central Java”, studies the increase of craftsman and souvenir market potential that support the museum. The title is chosen because of the important value of souvenir creative design in supporting the presence of Museum Sangiran especially as the Heritage of the World Cultural Remains. Thus, the museum is able to give education, information, and entertainment for the visitors. Museum Sangiran is quite crowded by the visitors who also shop at souvenir kiosks around the museum, yet the souvenir design which are marketed are less interesting and informative.     The things mentioned above will encourage the importance of increasing souvenir design creativity based on museum collection, society myth, and types of visitors. Furthermore, the research discusses souvenir marketing channels in general, so the information can be spread optimally. Key words: creative industry, souvenirs design, Museum Sangiran.


Abstrak

Makalah berjudul Peningkatan Kreatifitas Desain Cenderamata Untuk Mendukung Museum Sangiran Kabupaten Sragen Jawa Tengah ini, membahas mengenai peningkatan potensi perajin dan pasar cenderamata sebagai pendukung museum. Judul ini dipilih karena nilai penting industri kreatif cenderamata dalam mendukung keberadaan Museum Sangiran terutama sebagai Warisan Tinggalan Budaya Dunia. Dengan demikian akan mampu secara optimal didalam memberikan edukasi, informasi, dan hiburan kepada pengunjungnya. Museum Sangiran cukup ramai didatangi oleh pengunjungnya termasuk juga berbelanja di kios cenderamata kompleks museum, akan tetapi desain cenderamata yang dipasarkan kurang menarik dan informatif. Hal tersebut mendorong diperlukannya peningkatan kreatifitas desain cenderamata berbasis pada koleksi museum, mitos masyarakat, serta jenis pengunjungnya. Di samping itu di dalam penelitian ini akan dibahas secara umum mengenai saluran-saluran pemasaran cenderamata, sehingga informasinya akan mampu disebarluaskan secara optimal. Kata kunci: Industri Kreatif, Cenderamata, Museum Sangiran.


Pendahuluan

Museum menurut ICOM (International Council of Museum) adalah suatu lembaga permanen yang melayani kepentingan masyarakat dan kemajuannya, terbuka untuk umum, tidak bertujuan mencari keuntungan, yaitu mengumpulkan, memelihara meneliti, memamerkan, dan mengkomunikasikan benda-benda pembuktian material manusia dan lingkungannya, untuk tujuan studi, pendidikan, dan rekreasi obyek wisata (Ambrose & Paine, 2006:8).

Situs Sangiran terletak di kawasan pemukiman penduduk yang memiliki tingkat pendidikan rendah, sehingga sering terjadi perbedan pemaknaan fosil sebagai Benda Cagar Budaya yang harus dilindungi. Kondisi perekonomian penduduk yang kurang bagus dan bentang alam kawasan Sangiran yang tandus, semakin mendorong maraknya pencurian fosil. Keadaan tersebut akan semakin memperparah musnahnya tinggalan fosil di Situs Sangiran yang sudah ditetapkan sebagai World Cultural Heritage.

Sebagai salah satu alternatif pemecahan masalah ini adalah dengan mengembangkan industri kreatif berupa cenderamata yang sudah sejak lama ditekuni oleh perajin di kawasan Sangiran. Cenderamata yang dipasarkan di kios kompleks Museum Sangiran masih memiliki desain yang sangat sederhana dan kurang menarik serta informatif. Oleh karena itu penulis ingin meningkatkan kreatifitas desain cenderamata, sehingga akan menjadi daya tarik bagi pengunjung museum. Dengan demikian pada akhirnya desain cenderamata yang menarik dan informatif akan mampu mendukung keberadaan Museum Sangiran sebagai media edukasi, informasi dan hiburan.


Hasil dan Pembahasan

Sangiran adalah Situs manusia Purba yang terletak kurang lebih 18 kilometer arah Utara Kota Surakarta. Situs Cagar Budaya Sangiran merupakan situs dari Kala Pleistosen yang terlengkap di Indonesia, baik ditinjau dari aspek paleoantropologis, arkeologis, paleontologis, maupun geologis. Situs ini dipandang penting bagi pemahaman evolusi manusia secara umum, bukan hanya sebagai kepentingan Nasional, akan tetapi juga telah dianggap sebagai salah satu pusat evolusi manusia di dunia. Di situs ini ditemukan fosil manusia jenis Homo Erectus yang jumlahnya mencapai 50 % dari populasi yang dimiliki dunia, yang representatif menggambarkan perkembangan evolusi manusia (Widianto dan Simanjuntak, 2009 : 129).

Tingkat pendidikan dan taraf hidup masyarakat Situs Sangiran pada umumnya dikategorikan menengah ke bawah, 80 % lulus SD, 15,4 % lulus SLTP dan hanya 6,02 % lulus SLTA, lulus perguruan tinggi di bawah 2 % (Soeroso, 2008 : 7). Tingkat pendidikan tersebut akan mempengaruhi pilihan jenis mata pencaharian mereka. Dengan demikian tingkat pendidikan yang rendah orang akan sulit memperoleh pekerjaan yang layak dengan penghasilan yang memuaskan. Keadaan tersebut diperburuk oleh faktor pertanian di kawasan Sangiran yang tandus tidak dapat menjanjikan hasil yang baik. Oleh karena itu, alternatif atau jalan pintas yang mereka lakukan untuk menambah penghasilan adalah dengan berdagang fosil kepada turis yang datang ke museum dan penadah (Sulistyanto, 2003 : 112).

Penulis dalam penelitian ini bermaksud mengembangan kreativitas desain cenderamata sebagai alternatif penghasilan masyarakat yang juga memberikan dampak positif bagi Museum Sangiran. Ditinjau secara makna dan fungsinya, cenderamata berperan sebagai identitas dengan wujud simbolis agar bisa dirasakan oleh orang lain, dan mengandung makna-makna di dalamnya. (Berger, 2005 : 107). Seperti diungkapkan juga oleh filusuf terkenal Rene Descartes :  “cogito ergo sum” , yang berarti “aku berfikir maka aku ada”. (Foucault, 2002 : 14). Cenderamata sebagai benda yang merangsang instrumen otak untuk berfikir dan mengingat, sehingga keberadaan atau asal cenderamata dapat diakui serta diingat. Dengan demikian museum menciptakan atau membuat cenderamata dengan memperhatikan model, tipe, atau ciri khusus yang sangat ikonis, simbolis. (Greenhill, 2006 : 139). Peran cenderamata bisa mewakili identitas suatu daerah, misalnya: di Perancis diidentikkan dengan menara Eiffel, di Belanda diidentikkan dengan kincir angin, dan di Amerika diidentikkan dengan menara Liberty. Museum Sangiran sangat terkenal dengan temuan fosil makhluk hidup, salah satu yang bisa dijadikan ikon menarik adalah manusia purba dalam berbagai bentuk dan kegiatan.


Desain Cenderamata di Museum Sangiran

Produk desain cenderamata di Museum Sangiran masih kurang memberikan daya tarik untuk pembelinya. Daya tarik tersebut antara lain cenderamata harus mempunyai nilai budaya, yang terdiri dari: nilai keindahan, nilai kerohanian, nilai simbolis, nilai kesejarahan, dan nilai keaslian. Di samping itu produk cenderamata di Museum Sangiran masih kurang informatif, artinya belum dilengkapi dengan label, tulisan atau tanda yang menjelaskan tentang cenderamata tersebut. Produk cenderamata selain itu juga masih belum bersifat konservatif. Masih banyak produk cenderamata yang menggunakan bahan atau material yang diambil dari kawasan situs dan kadangkala berupa BCB. Dengan demikian dalam jangka waktu yang singkat atau lama akan merusak kawasan situs Sangiran. Desain cenderamata di Museum Sangiran selain yang telah disebutkan, juga kurang menampilkan secara menarik replikasi koleksi Museum Sangiran. Faktor pengunjung dan mitos yang berkembang di masyarakat Sangiran juga masih kurang diperhatikan dalam mendesain cenderamatanya.

Kekurangan yang lain, yaitu semua karya desain cenderamata yang merupakan replika dari koleksi museum dan diperjualbelikan di kios tidak mendapatkan kekuatan hukum berupa hak cipta. Perajin cenderamata perlu mendapatkan hak cipta replika dari Museum Sangiran agar memperoleh perlindungan secara hukum dan mendapatkan edukasi secara benar. Perlindungan hukum sangat membantu para perajin cenderamata, karena karya mereka tidak akan ditiru oleh pihak lain dan bebas untuk diperjualbelikan. Dengan demikian keuntungan akan diperoleh bagi pihak perajin cenderamata (perlindungan secara ekonomis), dan bagi pihak Museum antara lain mengenai keaslian cenderamata (perlindungan kepuasan pengunjung). Di samping itu peran cenderamata juga mengangkat tingkat perekonomian masyarakat sekitar Museum Sangiran, sehingga mengikis  pola pikir perdagangan fosil secara ilegal. Dengan demikian Sangiran menjadi agen perubahan (agent of change), dari perajin yang kurang memiliki pengetahuan desain hingga menjadi perajin yang piawai.

Peran cendermata sangat penting sebagai  sektor pendukung dalam upaya menarik kunjungan wisatawan ke khususnya di Museum Sangiran. Sebagai sektor pendukung yang melayani pengunjung museum akan kebutuhan cenderamata, maka perlu diperhatikan desain sesuai selera pembelinya. Pada umumnya wisatawan menghendaki benda cenderamata yang memiliki ciri khas terrtentu, sehingga mencerminkan budaya lokal yang dihasilkan oleh masyarakat setempat. Dengan demikian perlu diperhatikan desain cenderamata antara lain harus mengacu antara lain pada: mitos yang berkembang, etika masyarakat, ketersediaan bahan alami lokal yang tidak dilindungi undang-undang, pencitraan kawasan situs, dan koleksi Museum Sangiran (Atmojo, 2010: t.h.).


Alternatif Desain Cenderamata di Museum Sangiran

Proses mendesain cenderamata memerlukan daya kreativitas yang bisa digali dari kondisi lingkungan maupun koleksi yang terkait dengan keberadaan Museum Sangiran. Tahap yang dilakukan adalah identifikasi,klasifikasi, dan eksplanasi pada kawasan situs Sangiran, koleksi museum, dan jenis pengunjung Museum Sangiran. Pertama adalah proses identifikasi, klasifikasi, dan eksplanasi pada koleksi Museum Sangiran telah menghasilkan  acuan desain cenderamata. Fosil tengkorak manusia purba Homo erectus dan binatang gajah purba dijadikan desain cenderamata. Pemilihan tersebut berdasarkan asumsi bahwa temuan fosil manusia purba di situs sangiran merupakan salah satu temuan penting dan terlengkap di dunia dalam mengungkap evolusi manusia. Di samping itu pemilihan desain cenderamata binatang gajah didasarkan bahwa temuan fosilnya menjelaskan keberadan tiga tipe gajah yang berkembang di Indonesia. Kedua adalah proses identifikasi, klasifikasi dan eksplanasi telah memberikan acuan desain cenderamata yang berbasis mitos masyarakat situs Sangiran. Desain berdasarkan mitos masyarakat tersebut di dasarkan pada pengilustrasian cerita mitos “Balung Buto” menjadi desain cenderamata. Ketiga adalah proses identifikasi, klasifikasi, dan eksplanasi pada jenis pengunjung di Museum Sangiran yang telah memberikan acuan desain pada produk cenderamatanya. Jenis pengunjung berdasarkan data yang diperoleh di museum menyebutkan bahwa pengunjung jenis umum menempati posisi teratas dari jenis lainnya. Dengan demikian desain cenderamata disesuaikan dengan selera konsumen dari jenis umum, yaitu mencakup umur dari 0 tahun sampai dengan 60 tahun keatas.

Desain cenderamata setelah melalui proses identifikasi, klasifikasi, dan eksplanasi, harus mencakup pula nilai-nilai agar memiliki fungsi edukatif, informatif, dan menarik. Nilai-nilai pada desain cenderamata tersebut, antara lain: 1). keindahan (aesthetic value); 2). kerohanian (spiritual value); 3). simbolis (symbolic value); 4). kesejarahan (historical value); 5). keaslian (authenticity value) (Keene, 2005: 14).  Dengan demikian desain cenderamata akan mampu memberikan gambaran tentang keberadaan museum Sangiran beserta kawasannya secara budaya maupun fisik dengan optimal. Di samping hal tersebut, produk cenderamata juga harus memperhatikan hak cipta (copyright) yang akan melindungi hasil karya, jaminan, dan keaslian  cenderamata. Dengan demikian hak cipta akan melindungi produk cenderamata yang dihasilkan oleh perajin lokal masyarakat kawasaan Sangiran.


Peran Cenderamata Untuk Museum Sangiran

Cenderamata memiliki peran yang sangat besar antara lain: pertama, kerjasama dan pemberdayaan; kedua, edukasi dan penyebarn informasi; dan ketiga adalah sebagai daya tarik kunjungan ke Museum Sangiran. Peran dalam hal kerjasama dan pemberdayaan, yaitu pihak museum akan bekerjasama dengan memberdayakan perajin lokal dalam membuat cenderamata. Dengan demikian terjadi hubungan sinergis resiprokal  antara perajin lokal dengan pihak Museum Sangiran. Hal tersebut akan berdampak dalam turut menekan tingkat pencurian fosil sekaligus meningkatkan taraf hidup masyarakat situs Sangiran. Peran dalam bidang edukasi dan penyebaran informasi, yaitu cenderamata akan memberikan edukasi kepada perajin lokal mengenai pengenalan koleksi dan kawasan situs secara lebih mendalam. Di samping itu pihak museum juga akan memperoleh edukasi tentang local genius dan ketersedian bahan alam di kawasan situs Sangiran. Peran cenderamata juga memiliki potensi yang besar dalam menyebarkan informasi keberadaan Museum Sangiran. Pengunjung yang berbelanja cenderamata akan turut menginformasikan kepada calon pengunjung melalui media cenderamata tersebut. Cenderamata selain itu memiliki kemampuan yang signifikan dalam meningkatkan jumlah kunjungan ke Museum Sangiran. Desain cenderamata yang menarik, informatif, dan edukatif akan menjadi daya tarik yang luar biasa bagi pengunjung museum. Di samping itu tempat dan penataan yang lebih representatif akan memberikan rasa nyaman dan aman bagi pengunjung yang mau berbelanja cenderamata. Dengan demikian keberadaan cenderamata akan turut mendukung museum dan dilain pihak keberadaan Museum Sangiran turut membangun pencitraan positif pada kawasannya.


Simpulan dan Saran

Pengunjung sebagai konsumen produk cenderamata merupakan bagian penting dari pelayanan museum, sehingga perlu mendapatkan produk yang menarik dan informatif. Desain cenderamata di Sangiran yang menarik dan informatif perlu memperhatikan tiga hal, yaitu: koleksi museum, mitos masyarakat, dan pengunjung. Di samping itu peran cenderamata akan lebih efektif dengan didukung oleh faktor fisik dan non fisik dalam pelayanannya kepada pengunjung. Dengan demikian peningkatan desain cenderamata akan mampu mendukung keberadaan Museum Sangiran dan semakin memantapkan peran museum kepada kawasanya.

Peningkatan desain cenderamata perlu segera dilakukan oleh pihak Museum Sangiran terutama merupakan peran museum dalam rangka memberdayakan masyarakat kawasannya. Masyarakat sekitar Museum Sangiran dengan local geniusnya dan ketersediaan kekayaan alamnya akan mampu mendukung potensi cenderamata, sehingga meningkatkan taraf ekonomi masyarakat.

Pihak Museum Sangiran di samping itu juga perlu mendorong terbentuknya asosiasi perajin di sekitar museum, sehingga akan mampu melindungi dan melestarikan budaya serta karya asli masyarakat Sangiran. Hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah hak cipta (copyright) desain cenderamata, sehingga tidak menimbulkan permasalahan dikemudian hari. Sebaiknya pemegang hak cipta adalah Museum Sangiran, karena memiliki kekuatan hukum atas peniruan dan penggandaan koleksinya.

Peran cenderamata yang sangat penting dalam melayani pengunjung dan pada akhirnya berimplikasi pada meningkatnya jumlah kunjungan ke Museum Sangiran. Oleh karena itu sudah sepantasnya apabila pihak Museum Sangiran menyediakan tempat yang representatif bagi pedagang cenderamata. Dengan demikian pengunjung yang berbelanja cenderamata akan merasa aman dan nyaman serta berpotensi untuk datang dan mengunjungi Museum Sangiran lagi.

Sebagai langkah jangka panjang, sebaiknya Museum Sangiran segera memasukkan konsep peningkatan desain cenderamata ke dalam program kerjanya, sehingga peran cenderamata dalam mendukung museum dapat terwujud. Dengan demikian semboyan konservatif yaitu: “dengan membeli cenderamata anda turut menyelamatkan fosil”, menjadi nyata dan berkesinambungan.


DAFTAR PUSTAKA

Ambrose, Timothy & Paine, Crispine. 2006.Museum Basics. New York: Routledge.

Atmojo, Wahyu Tri. 2010. Penciptaan Karya Seni Kerajinan Cenderamata Sebagai Seni Wisata Berbasis Seni Etnik Batak Guna Mendukung Kepariwisataan di Sumatra Utara. http://www.jurnalseni.com. Diunduh pada tanggal  29 Oktober 2010.

Berger, Arthur Asa. 2005. Tanda-Tanda dalam Kebudayaan Kontemporer. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Foucault, Michel. 2002. Pengetahuan dan Methode. Yogyakarta: Jalasutra.

Greenhill, Eilean Hooper. 2006. Museums and The Interpretation of Visual Culture. London: Routledge.

Keene, Suzanne. 2005. Fragments of The World Uses Museum Collections. London: Elsevier Butterworth Heinemann.

Soeroso. 2008. Rencana Induk Pelestarian dan Pengembangan Kawasan Sangiran. Jakarta: Direktorat Peninggalan Purbakala Direktorat Sejarah dan Purbakala Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.

Sulistyanto, Bambang. 2003. Balung Buto:Warisan Budaya Dunia dalam Perspektif Masyarakat Sangiran. Yogyakarta: Kunci Ilmu.

Widianto, Harry dan Simanjuntak, Truman. 2009. Sangiran Menjawab Dunia. Jawa Tengah: Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran.

*MAKALAH PIA 2011

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 28 pengikut lainnya.