Sri Trisna Dewi Hartati
Alumni Arkeologi Universitas Udayana


ABSTRACT

In the Javanese and Balinese cultures revere rice as a goddess – goddess of rice, goddess of fertility, goddess of harvest, goddess of plenty, goddess of blessing, goddess of properity, goddess of luck and of course, goddess of food because rice is a staple food for the population of agricultural Java, Bali and most islands of Indonesia.

Rice is the ultimate food. Rice is sacred and so is the goddess of rice who is known in West Java as Nyi Pohaci and in Bali and the rest of Java as Dewi Sri. She is believed not only to be a sort of patron saint for rice farmers but is also seen as the personification of Mother Nature – as a force as well as source of life.

Indonesian people where animism elements are still influenced their mindset, ideology as well as their daety routinity. The Indonesian people believed in mystic world or supranatural where every objects as having its own spirit. And there is still keeps the harmonious relationship between humans and their nature. They believed if a violation occurs then disaster would come.

Key words: Tradisi – Dewi Sri – Nyi Pohaci – wiwitan – dukun – senthong


PENDAHULUAN

Suatu kegiatan yang sudah lama dikenal oleh sebagian besar masyarakat di Indonesia ialah bercocok tanam. Hal ini disebabkan Indonesia dikenal sebagai negara agraris. Iklim yang teratur, curah hujan, aliran sungai serta kondisi tanah yang subur, merupakan faktor-faktor pendukung yang sangat penting (Ph. Subroto, 1985:3). Oleh karena keadaan geografis yang baik inilah maka sejak zaman dahulu mata pencaharian utama bangsa Indonesia adalah bercocok tanam.

Data arkeologis menunjukkan bahwa kegiatan bercocok tanam telah dikenal sejak zaman prasejarah. Diperkirakan pada awalnya cara bercocok tanam yang dilakukan masih sangat sederhana dengan jenis tanaman antara lain berupa umbi-umbian. Mereka masih mempraktekkan sistem pertanian dengan cara membuka hutan untuk perladangan. Hutan yang akan dijadikan tanah pertanian dibakar terlebih dahulu lalu dibersihkan. Setelah itu barulah mereka menanam tumbuh-tumbuhan berupa umbi-umbian (R.P. Soejono, 1984:156).

Sesudah musim panen dilewati, tanah bekas pertanian yang lama ditinggalkan. Mereka mencari tanah baru untuk dipakai sebagai tempat pertanian baru. Hal ini dilakukan karena tanah yang lama dianggap sudah tidak dapat dipakai untuk lahan pertanian dalam jangka waktu cepat (R.P. Soejono, 1984:158 ).

Ternyata lahan prtanian yang tersedia semakin terbatas, sehingga cara bercocok tanam dengan cara berpindah-pindah tempat tidak dapat dipertahankan lagi. Mereka mulai mengubah sistem bercocok tanam dari membuka hutan beralih ke cara pengolahan tanah secara permanen. Dengan cara baru ini dikenal jenis tanaman baru, yaitu padi. Dan mereka mulai membudayakannya. Mulai saat itulah pertanian padi muncul (Bambang Widyantoro, 1989:2).

Pada masa klasik, kegiatan pertanian mengalami perkembangan yang pesat, perubahan tanah sudah mulai dikenal. Bukti-bukti ini dapat diketahui dengan adanya usaha pengairan/irigrasi yang teratur seperti disebutkan dalam Prasasti Tugu yang dikeluarkan oleh Raja Purnawarman. Isi dari prasasti tersebut adalah tentang penggalian sebuah sungai untuk saluran yang disebut Gomati, sepanjang 12 km dan dikerjakan selama 21 hari. Saluran ini kemungkinan sekali dipakai sebagai irigasi atau bendungan pengendalian banjir yang selalu melanda pantai utara Jawa Barat. Kemungkinan lain dipakai sebagai pelayaran sungai. (Edhie Wuryantoro, 1977:59).

Di dalam prasasti Harinjing/726 Caka (van Stein Callenfels, 1954:115-130), disebutkan tentang pengaturan air dari sungai Harinjing untuk keperluan pertanian. Raja Mpu Sendok telah memerintahkan membuat bendungan untuk mengairi daerah Kapulungan, Wuatan Wulas, Wuatan Wamya (Brandes, 1913:82-83). Pada masa Airlangga, pertanian mengalami kemajuan pesat karena Airlangga telah berusaha mengendalikan sungai Brantas yang telah memusnahkan lahan sekitarnya (Brandes, 1913:134-135).

Pada masa Majapahit, pertanian mendapat perhatian yang cukup besar dari raja dan penguasa. Agar petani dapat bekerja dengan tenang dan baik, raja memberi perlindungan berupa penetapan tanah pertanian (Negarakertagama pupuh 88.3, Th. Pigeaud, vol III:103-104). Selain itu pemilik tanah diatur dalam suatu undang-undang. Bendungan-bendungan (dawuhan) untuk mengairi sawah dibangun atas perintah bhatara Matahun. Semua usaha dalam bidang pertanian tujuannya untuk menyejahterakan rakyat Majapahit.

Adanya kenyataan ini, dapat dikatakan bahwa pertanian memgang peranan penting dalam perekonomian masyarakat Jawa Kuno. Hasil pertanian padi dipakai untuk memenuhi kebutuhan sendiri dan juga diperdagangkan (Bambang Widyantoro, 1989: 3).

Dari keterangan di atas dapat diketahui bahwa pertanian sangat menunjang bidang ekonomi, untuk itulah diusahakan pembudidayaan tanaman padi. Pada masa Majapahit pembudidayaan tanaman padi tampak sangat jelas dengan adanya pejabat-pejabat yang mengurusi berbagai tugas yang berhubungan dengan pertanian. Misalnya pejabat-pejabat soal pengairan disebut pangulu-banu (Edhie Wuryantoro, 1977:64). Pejabat lain yang berhubungan dengan hasil sawah ialah hulu wras, wahuta maweas dan panggulung padi (Edhie Wuryantoro, 1977:64). Tugas dari pejabat-pejabat ini secara khusus tidak diketahui, tetapi yang jelas selalu berhubungan dengan beras. Selain itu dijumpai pula beberapa pejabat lain yaitu asedhan thani, ambekel tuwuh angucap gawe thani, wilang thani dan thani jumput (Th. Pigeaud, III, 1960, 1976).

Dalam kehidupan agraris di Indonesia, aspek kepercayaan terhadap sesuatu yang gaib tidak dapat diabaikan begitu saja. Ada kepercayaan yang timbul secara turun-temurun terhadap adanya suatu kekuatan yang baik dan yang buruk. Kekuatan tersebut dianggap berada di tiap benda di sekitar manusia dan di dalam diri manusia itu sendiri.

Kepercayaan ini tersebar luas di kalangan masyarakat desa, terutama yang bertempat tinggal di daerah terpencil (N.C. Van Seten, 1979:32). Bagi masyarakat pendukung kebudayaan agraris kekuatan tersebut dapat mempengaruhi hasil panen para petani. Oleh karena itulah diadakan pemujaan, dengan maksud menambah hasil panen dan menjaga keselarasan hidup di dunia (Van Seten, 1979:33).

Pada beberapa pendukung masyarakat agraris muncul kepercayaan bahwa tanaman padi berasal dari tubuh seorang wanita. Misalnya dari kesusateraan Sunda, tentang asal usul tanaman padi terdapat dalam cerita Nyi Pohaci Sanghyang Sri (K. Hidding, 1969:77). Di Flores terdapat cerita asal usul tanaman padi dari seorang gadis bernama Ine Pane atau Ine Mbu. Atas permintaan sendiri gadis tadi dikorbankan dan dari tubuhnya keluar tanaman padi (P. Saren Orin Bao, 1969:187-197).

Kepercayaan terhadap Dewi Sri di dalam masyarakat Jawa sudah lama dikenal. Upacara pertanian dilakukan pada waktu pertama kali dan sehabis panen masih dijumpai sampai sekarang, seperti di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Upacara lain yang masih berkaitan dengan pertanian dilakukan pada waktu pertama kali memasukkan padi ke lumbung (munggah lumbung). Hal ini disebabkan adanya kepercayaan bahwa tanaman padi berasal dari tubuh Dewi Sri. Oleh karena itu timbul suatu pandangan sakral terhadap lumbung. Kesakralan inilah yang menyebabkan lumbung sebagai tempat penyimpanan padi diperlakukan sebagai tempat yang suci (Bambang Widyantoro, 1989:8).

Tulisan ini akan membahas tentang peranan Dewi Sri dalam tradisi pertanian di Indonesia. Pengamatan dilakukan dengan cara memperhatikan berbagai bentuk upacara pertanian yang masih dilakukan oleh masyarakat petani tradisional dan tradisi serta mitos yang ada.

Penelitian ini dibatasi mulai abad X sampai dengan XVI, mengingat sumber data yang cukup memadai. Juga dari tradisi yang masih berlangsung sampai sekarang pada masyarakat petani di Jawa. Metode yang digunakan adalah arkeologis dan etnoarkeologis. Melalui metode ini diharapkan dapat ditunjukkan bahwa peranan Dewi Sri sebagai dewi kesuburan sangat penting sekali dalam masyarakat petani di Indonesia.


DEWI SRI DALAM PEMUJAAN MASYARAKAT JAWA

Di Indonesia, pemujaan terhadap kekuatan yang menimbulkan atau menguasai kesuburan sudah berlangsung sebelum datangnya pengaruh Hindu. Pemujaan tersebut berpangkal dari kepercayaan terhadap roh atau arwah nenek moyang. Karena arwah nenek moyang dianggap mempunyai banyak pengalaman, maka di dalam kehidupannya arwah tersebut dilingkupi oleh kekuatan-kekuatan gaib. Dengan kekuatan gaib itulah arwah nenek moyang dapat melakukan segala perbuatan yang tidak dapat dilakukan oleh manusia. Itulah mengapa manusia memuja arwah nenek moyang. Pemujaan ini dilakukan dengan harapan untuk mendapatkan kesejahteraan hidup, kesuburan dan kebahagiaan (JWM. Bakker, 1976:119-120).

Pemujaan terhadap kesuburan yang akhirnya menjadi salah satu bagian terpenting dalam kebudayaan agraris bermula dari ketidaktahuan tentang proses yang terjadi di alam ini. Manusia merasa heran dan takjub menyaksikan kelahiran, sedang mereka percaya bahwa apa yang ada di dunia ini semua dilahirkan. Cara berpikir yang masih sangat sederhana membawa mereka ke tokoh wanita, karena wanitalah yang melahirkan manusia ke dunia ini. Dari pandangan inilah muncul tokoh wanita yang dipuja sebagai dewi ibu. Tokoh dewi ini dalam masyarakat agraris digambarkan sebagai tanah, tanahlah yang melahirkan segala tanaman yang dibutuhkan manusia dan makhluk hidup lainnya di dunia ( Hariani Santiko, 1987:7).

Sebagai dewi kesuburan, ia dianggap sebagai pelindung, pemelihara sumber hidup manusia dan segala yang hidup di dunia. Oleh karena itu ia dianggap sebagai pencipta (yang melahirkan), maka kekuasaan untuk meminta kembali apa yang telah dilahirkan ada pada dirinya. Hal ini berarti dewi kesuburan berhak atas kematian semua makhluk dan penguasa dunia bawah (Eric Neuman, 1955:120-208 ).

Di dalam bagian kitab Reg Weda Sri-Sukta, disebutkan bahwa dewi Sri-Laksmi selalu berhubungan dengan bunga padma. Digambarkan Dewi Sri-Laksmi adalah dewi yang mempunyai bunga padma (padmini), berdiri di atas bunga padma (padmeshita), mempunyai warna bunga padma (padma warna) dan sebagai tempat tumbuhnya bunga padma (padma sambhawa). Dia juga digambarkan mempunyai mata yang bersinar seperti bunga padma (padmaksi) ( Ph. Subroto,1982:9).

Bunga padma adalah simbol air yang memberikan kesuburan. Dalam hal ini bunga padma dapat dihubungkan dengan tempat bunga atau kendi dan binatang gajah (Ph. Subroto, 1982:9). Dalam mitologi India disebutkan bahwa pada waktu alam semesta ini akan dicipta, mula-mula muncul bunga padma dari emas berdaun dan berbunga seribu yang keluar dari dalam air kosmis. Bunga padma ini dianggap sebagai aspek tertinggi bumi, sedangkan air kosmis mempunyai sifat keibuan, aspek pencipta yang absolut. Persatuan keduanya menghasilkan penciptaan. Hubungan antara air, bunga padma dan binatang gajah terdapat di dalam naskah kuno India.

Bukti ikonografis yang menunjukkan peran dewi sri sebagai dewi padi di Jawa, dapat diketahui dari arca yang sekarang di simpan di Museum Sonobudoyo. Arca-arca tersebut digambarkan memegang setangkai padi yang mungkin dapat menunjukkan peranan dewi sri sebagai dewi padi.


MITOLOGI DEWI SRI SEBAGAI DEWI PADI

Mitos adalah hasil kebudayaan yang diturunkan dari generasi ke generasi sebagai sistem komunikasi atau penyampaian pesan. Sebagian masyarakat yang hidup di daerah agraris khususnya penggarap sawah di Jawa dan Bali, percaya mitos tentang adanya daya alam dan kekuatan ajaib yang berkaitan dengan kesuburan secara verbal dipresentasikan melalui figur seorang wanita bernama Dewi Sri atau Nyi Pohaci yaitu seorang Dewi Padi yang dipercayai dapat menjaga sawah dari ancaman bencana alam (Watie Moerany, 2003).

Mitologi Dewi Sri memang termasuk dongeng yang cukup banyak dikenal di Indonesia. Dewi Sri dianggap sebagai ‘ruh’ yang menghadirkan kesukacitaan, kebahagiaan dan kemakmuran. Sosok Dewi Sri selalu digambarkan cantik jelita, bisa terbang dan senantiasa menyunggingkan senyum yang anggun, dilukiskan bukan sebagai dewi pangan saja, tapi juga lambang wanita yang cantik rupawan, simbol kecantikan isi bumi. Dewi Sri diletakkan pada posisi in summa gradu, pada tempat yang tertinggi. Luhur seperti Ken Dedes atau Pradnya Paramita di abad 13, menurut kitab Pararaton (F. Widayanto,2003:10).

Sejarah masyarakat Indonesia menyebutkan bahwa Dewi Sri muncul setelah sebagian besar masyarakat mulai mengenal padi. Padi itu ditanam di dalam alam oleh Ruh Agung yang bernama Dewi Sri. Semua orang mempercayai, Dewi Sri sesungguhnya perpanjangan tangan Sang Hyang Widhi (F. Widayanto, 2003:11).

Padi (Oryza Sativa), mulai dikenal di Indonesia sejak sekitar 1000 tahun sebelum Masehi, ketika bangsa Austronesia menjalankan kehidupannya. Bukti-bukti awal ditemukan di daerah Sulawesi. Bangsa itu memakan biji-biji padi semula sebagai bagian belaka dari segala yang dimakan. Namun selanjutnya dijadikan konsumsi yang penting karena padi bisa tumbuh di mana-mana. Sejak dikenal padi inilah, Dewi Sri “menampakkan diri“ pada komunitas petani, dan memperkenalkan dirinya sebagai Dewi Kesuburan, Dewi Pangan, Dewi Kesejahteraan. Sebagai dewi yang molek, cantik jelita yang tidak pernah usai memberikan kebahagiaan (F. Widayanto, 2003:12-13).

Di Indonesia, kisah Dewi Sri terkait dengan mitos asal mula terciptanya tanaman padi. Salah satu kisah mengenai Dewi Sri sebagai dewi padi ditemukan di “ Wawacan Sulandana”.

Dahulu kala, di Kahyangan, Batara Guru yang menjadi penguasa tertinggi kerajaan langit memerintahkan segenap para dewa dan dewi untuk bergotong royong membangun istana baru. Siapa yang tidak mentaati perintah ini akan dipotong tangan dan kakinya. Mendengar perintah ini, Antaboga (Anta) sang dewa ular sangat cemas. Karena dia tidak mempunyai tangan dan kaki. Karena sangat ketakutan, ia meminta nasehat kepada Batara Narada. Akan tetapi Batara Narada pun tidak bisa menemukan cara untuk membantunya. Akhirnya Dewa Anta pun menangis.

Tetesan air mata Dewa Anta jatuh ke tanah, ajaibnya tiga tetes air mata berubah menjadi mustika yang berkilau bagai permata. Butiran itu sesungguhnya adalah telur yang mempunyai cangkang yang indah. Batara Narada meyarankan agar butiran mustika itu dipersembahkan kepada Batara Guru sebagai bentuk permohonan agar beliau memahami dan mengampuni kekurangan Dewa Anta yang tidak bisa ikut bekerja membangun istana.

Dengan mengulum tiga butir telur mustika, berangkatlah Dewa Anta menuju istana. Dalam perjalanannya ke istana Dewa Anta bertemu seekor burung gagak yang meyapanya dan bertanya kemana ia hendak pergi. Karena mulutnya penuh dengan telur, ia tidak bisa menjawab pertanyaan si gagak. Sang gagak mengira Anta sombong sehingga ia amat tersinggung dan marah. Burung itupun lalu menyerang Anta, akibatnya dua butir telur mustika pecah. Dengan ketakutan Anta melata melarikan diri menyelamatkan sebutir telur yang masih tersisa.

Akhirnya Anta tiba di istana Batara Guru dan segera mempersembahkan telur mustika itu. Batara Guru dengan senang hati menerima telur itu, dan memerintahkan kepada Anta untuk mengerami telur itu hingga menetas. Akhirnya telur itu menetas, dan yang keluar adalah seorang bayi perempuan yang sangat cantik dan lucu. Bayi itupun diangkat sebagai anak oleh Batara Guru dan permaisurinya.

Bayi itu diberi nama Nyi Pohaci Sang Hyang Sri. Seiring berjalannya waktu berlalu, Nyi Pohaci tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik luar biasa. Lemah lembut, baik hati, halus tutur kata dan budi bahasanya, memikat semua insan. Bahkan Batara Guru pun terpikat kepada anak angkatnya itu. Diam-diam Batara Guru hendak mempersunting Nyi Pohaci menjadi istrinya. Melihat gelagat ini, para dewa khawatir. Maka para dewa berunding mengatur siasat untuk memisahkan Batara Guru dengan Nyi Pohaci. Demi menjaga keselarasan rumah tangga sang penguasa kahyangan dan menjaga kesucian Nyi Pohaci. Para dewa mengumpulkan berbagai macam racun untuk membunuh Nyi Pohaci. Nyi Pohaci pun mati keracunan. Para dewa ketakutan karena sudah membunuh gadis suci yang tak berdosa. Maka jenasah sang dewi dibawa turun ke bumi dan dikuburkan di tempat yang jauh dan tersembunyi.

Akan tetapi sesuatu yang ajaib terjadi, karena kesucian dan kebaikan budi sang dewi, maka dari kuburnya muncul beraneka tumbuhan yang sangat berguna bagi manusia. Dari kepalanya muncul pohon kelapa, dari hidung – bibir dan telinganya muncul berbagai tanaman rempah dan sayur mayur, dari rambutnya muncul rerumputan dan berbagai bunga yang cantik dan harum, dari payudaranya tumbuh tanaman buah buahan. Dari pusarnya muncul tanaman padi. Sejak saat itu umat manusia mulai memuja, memuliakan dan mencintai sang dewi yang baik hati. Karena dengan pengorbanannya yang luhur telah memberikan berkah kebaikan alam, kesuburan.

Kitab Tantu Pagelaran menceritakan tentang asal usul tanaman padi. Diceritakan, ketika pulau Jawa diciptakan dewa-dewa turun ke pulau tersebut untuk menyempurnakannya. Batara Wisnu dan istrinya menjelma menjadi raja Mdang Gana beserta permaisurinya. Raja tersebut bernama Sang Kadyawan, mereka berputera lima orang. Pada suatu hari kelima puteranya tersebut membunuh empat ekor burung kesayangan ibunya. Dari tembolok burung yang mati ini keluar empat macam biji-bijian berwarna kuning, hitam, putih dan merah. Biji yang berwarna kuning harum baunya dan dimakan oleh putera-putera raja tersebut. Kulit biji ini kelak menjadi kunyit, sedangkan biji-biji yang lain tumbuh menjadi padi (Th.P.Galestin, De Tantu Pagelaran, tanpa tahun: 217).


CERITA DEWI SRI DALAM MASYARAKAT PERTANIAN DI INDONESIA

Dewi Sri sangat dipuja, dihormati dan dimuliakan oleh masyarakat petani di Indonesia, khususnya di Jawa, Sunda dan Bali. Munculnya cerita Dewi Sri sebagai dewi padi di berbagai daerah, baik di Jawa maupun di luar Jawa menunjukkan betapa kuatnya kepercayaan di kalangan masyarakat agraris terhadap tokoh ini. Berdasarkan kepercayaan tersebut, maka tokoh wanita mempunyai peranan penting dalam proses kesuburan. Kepercayaan Dewi Sri sebagai dewi padi, hidup dalam cerita rakyat dengan berbagai versi.

Di Bali, kepercayaan terhadap Dewi Sri dihubungkan dengan cerita tentang Dewi Melanting yang berdiam di dasar bumi. Dewi Melanting dianggap sebagai puteri tanaman padi. Ia hidup di dunia selama setengah tahun sekali kemudian mati. Setelah mati Dewi Melanting hidup lagi dan dipuja lagi. Bila pemujaan dilakukan di kebun, maka disebut Dewi Melanting ri kebon. Bila pemujaan dilakukan di pasar, dinamakan Dewi Melanting ri pasar. Dipuja di pasar karena hasil pertanian yang diperoleh diperjualbelikan di pasar (Bambang Widyantoro, 1989:45-46).

Dalam upacara Galungan dan Kuningan yang merupakan dua wuku besar untuk mengagungkan seluruh Dewa, rasa penghormatan kepada dunia pertanian (yang berhubungan dengan padi ) terrefleksi dalam berbagai ragam hias. Pada 42 hari masa perayaan masyarakat Bali memasang penjor. Dalam hiasan janur melengkung yang melambangkan Gunung Agung itu disangkutkan berbagai hiasan yang melambangkan hasil-hasil pertanian. Di antaranya adalah lambang pepadian. Pada persiapan Galungan masyarakat banyak membuat hiasan yang digubah dari beras, atau yang ditanak menjadi nasi. Beras dan nasi ini dibentuk sangat estetik, dengan warna-warna menarik dan mencolok. Hiasan dari beras ini merupakan wujud terima kasih masyarakat kepada Dewi Sri yang sudah banyak memberi (F.Widayanto,2003:13-14).

Di daerah Banyuwangi, Dewi Sri memperoleh tempat yang unik yaitu lewat Tari Ratu Sabrang yang diciptakan khusus untuk merayakan kemurahan hati wanita yang mereka panggil Dewi Pari itu. Di sini penari seblang yang sudah kerasukan ruh Dewi Sri turun panggung untuk mendekati penonton. Pada saat inilah lagu Ratu Sabrang dimainkan yang menggambarkan keajaiban yang diberikan oleh Dewi Sri, sang dewi pangan serta kemakmuran. Tari Sabrang adalah tarian ritual dan suci (F.Widayanto, 2003:15).

Masyarakat Sunda Kasepuhan di Cirebon, Jawa Barat, mempunyai cara yang tak kalah uniknya dalam memuja Dewi Sri, yang mereka sebut Nyi Pohaci Sanghyang Sri. Mereka mengirim tabik kepada Sang Dewi sejak musim tanam sampai gejala panen mulai kelihatan. Oleh karena itu masyarakat di sana menciptakan pupuhunan, sebuah gubuk kecil berhias yang dianggap pusat upacara “awal dan akhir“, atau penanaman dan panen. Menjelang panen, mereka mengawali dengan upacara ‘mipit’ atau ‘nyalin’ dan keesokan harinya mereka berdoa di pupuhunan. Di sini tetua mereka memotong setangkai padi yang terbaik, dan diteruskan dengan lima tangkai padi pada berikutnya. Semuanya diikat menjadi satu membentuk induk padi atau yang mereka sebut ‘indung pare‘. Ketika padi dituai, ucapan terima kasih kepada Dewi Sri diujudkan dalam bentuk upacara musik lesung yang dimainkan oleh wanita-wanita di halaman rumah kepala desa. Alu dan lesung adalah alat penumbuk padi. Mendengar musik ini konon, Nyi Pohaci akan tersenyum dan menari (F. Widayanto,2003:15).

Pada masyarakat Sunda lainnya, yaitu masyarakat Baduy, Kampung Naga, Cigugur, Kuningan, dan Ciptagelar Kasepuhan Banten Kidul, ada upacara ‘Seren Taun’ yang digelar tiap tahun. Upacara ini digelar untuk memberkati bibit padi yang akan ditanam serta padi yang akan dipanen. Pada perayaan ini masyarakat Sunda menyanyikan beberapa pantun atau kidung seperti ‘Pangemat dan Angin-angin’. Kidung ini dimaksudkan untuk mengundang Dewi Sri agar turun ke bumi dan memberkati bibit padi, supaya para petani sehat, dan sebagai upacara ‘ngaruwat’ atau ‘tolak bala’, untuk menangkal kejahatan dan nasib buruk para petani.

Di daerah Yogyakarta, khususnya petani yang tinggal di daerah Karang Mojo, Gunung Kidul dan Sariharjo, Sleman, sampai saat ini sebagian penduduknya masih melakukan tata cara ‘selamatan‘ yang ada hubungannya dengan pertanian. Dalam sifat hidupnya yang ‘kosmologis’ ini para petani mengutamakan hidupnya selaras dengan dengan alam sekitarnya. Para petani dalam hidupnya memegang tiga konsep hidup yang sangat penting bagi mereka, yaitu ‘ nrimo’ (menerima apa adanya), ‘rilo‘ (ikhlas dalam menerima keadaan), dan ‘sabar‘ (adanya kepercayaan yang tidak ekstrem). Ungkapan emosinya untuk selalu mendekatkan dirinya dengan kosmologis diujudkan dalam tingkah lakunya melalui tata cara dan segala ‘selamatan‘ (H. Sitanggang,1983: 90).

Salah satu upacara yang dilakukan oleh petani di Sleman dan Karang Mojo adalah upacara ‘munggah lumbung‘. Upacara ini dilakukan sewaktu akan menyimpan hasil panen yang berupa padi ke lumbung dengan kelengkapan sesaji antara lain, kembang, kemenyan, kue atau jajan pasar, dan berbagai macam jenang. Upacara ini dimaksudkan agar Dewi Sri menambah hasil panen yang sudah didapat dan sekaligus sebagai ucapan terima kasih kepada Dewi Sri yang telah memberikan hasil panen yang baik. Selain upacara itu, penduduk juga selalu menyisihkan sebagian kecil hasil panennya untuk dipersembahkan kepada Dewi Sri. Padi tersebut biasanya disimpan di sebuah ruangan dalam di dalam rumah yang disebut ‘ senthong tengah ‘ (pendaringan petanen). Pada zaman dahulu, rumah petani selalu terdapat ruangan kosong yang dibuat untuk tempat istirahat Dewi Sri atau lebih dikenal dengan ‘Mbok Sri‘. Tempat itu diangggap keramat (sakral), tidak boleh seorang pun masuk ke ruangan itu dan tidak boleh digunakan sebagai tempat tidur. Di dalam ‘senthong tengah’ terdapat tempat tidur lengkap dengan sesajen yang dipersembahkan untuk Mbok Sri, antara lain berupa, sirih, kendi berisi air, beberapa makanan kecil, jenang, kemenyan, dan kembang. Di dalam ruangan ini juga disimpan sebagian hasil kecil padi hasil panen (H. Sitanggang,1983:107).

Musim panen adalah saat yang paling menggembirakan karena petani akan mengambil hasil perkawinan antara Sri dengan suaminya, yaitu tanah. Untuk itu perlu diadakan upacara yang disebut ‘wiwit‘. Setelah selesai panenan, padi yang telah kering disimpan di dalam lumbung padi yang disertai upacara ‘munggah lumbung‘. Upacara ‘wiwit’ ini dilakukan pagi hari di sawah atau di rumah petani. Pemimpin upacara disebut ‘dukun‘. Sebelum seluruh padi yang ada di sawah dipanen, terlebih dahulu diambil dua untingan padi untuk dimasukkan ke dalam ‘gedong’. Dukun tadi lalu meminta agar seluruh roh jahat jangan mengganggu kedua untingan tersebut. Setelah empat hari sesudah panen, padi dikumpulkan menjadi satu, dukun mengelilingi padi-padi dengan membawa sebotol air. Empat hari sesudah itu diadakan selamatan dengan membuat sesaji untuk dipersembahkan kepada Dewi Sri (Van Der Meer, 1970: 101).

Padi merupakan bahan pokok bagi kebutuhan hidup manusia, oleh karena itu manusia sangat menghormati dan menghargainya. Berbagai macam usaha dilakukan untuk mencapai keberhasilan bercocok tanam. Segala sesuatu yang berhubungan dengan padi dilakukan dengan perasaan hormat, patuh serta bakti. Perasaan yang demikian mendorong orang untuk mengadakan perbuatan disebut ‘religious behavior’ (Koentjaraningrat, 1967:230), yaitu suatu perbuatan yang selalu berhubungan dengan kepercayaan.

Hal ini dapat dilihat pada upacara-upacara yang telah diuraikan di atas. Dengan mengadakan selamatan yang dipersembahkan kepada Dewi Sri sebagai Dewi penguasa tanaman padi, mereka berharap sawahnya dapat menghasilkan panen yang baik dan melimpah. Berdasarkan uraian ini dapat diambil kesimpulan, yaitu:

  1. Mitologi atau mitos tentang tanaman selalu dihubungkan dengan tokoh wanita sebagai lambang kesuburan.
  2. Pengangkatan tokoh wanita dalam pertanian di Indonesia, yaitu Dewi Sri sebagai Dewi Padi, dewi penguasa tanaman padi.
  3. Peranan Dewi Sri sebagai Dewi Padi sangat erat sekali dalam pertanian di Indonesia, khususnya di Jawa, Sunda, dan Bali.

Adanya tokoh wanita sebagai peran utama dalam proses terjadinya tumbuh-tumbuhan erat hubungannya dengan tokoh dewi ibu yang juga dianggap melahirkan segala sesuatu di dunia ini, terutama tanaman yang dibutuhkan manusia (Hariani Santiko, 1987:294-295). Dewi Ibu juga dianggap sebagai personifikasi dari tanah yang melahirkan tanaman sumber hidup manusia (Hariani Santiko, 1987:292).

Berdasarkan kepercayaan dan mitos ini, terutama yang berhubungan dengan kesuburan terlihat bahwa tokoh wanita mempunyai peranan yang sangat penting dalam kesuburan, kemakmuran, dan kesejahteraan.


PENUTUP

Dari data arkeologis dan etnografis, dapat diketahui bahwa pada periode klasik di Jawa telah terjadi pergeseran peranan Dewi Sri. Pada mulanya Dewi Sri mempunyai peranan sebagai istri Dewa Wisnu. Sebagai pendamping suami, Sri juga mempunyai peranan sebagai Dewi kecantikan, kebahagiaan, kemakmuran dan kesuburan. Kemudian terjadi pergeseran dari kedudukannya sebagai istri Wisnu menjadi Dewi Padi.

Hal ini disebabkan Dewi Sri mempunyai sifat yang sama dengan tanaman padi, yaitu sebagai lambang kesuburan, kemakmuran dan kebahagiaan (dianggap sebagai tanah). Adanya kesamaan sifat ini muncul pengakuan masyarakat Jawa terhadap Dewi Sri sebagai Dewi Padi.

Tulisan ini merupakan pemaparan tentang keberadaan dan peranan Dewi Sri sebagai Dewi Padi pada tradisi pertanian di Indonesia yang masih berlangsung di beberapa daerah di Indonesia, khususnya di Jawa. Bahwa tradisi yang ada sangat erat sekali kaitannya dengan cerita dan mitos yang ada tentang Dewi Sri sebagai Dewi Padi yang melambangkan sebagai dewi kesuburan, kemakmuran dan kesejahteraan. Meskipun masyarakat sekarang sudah mempercayai penuh aliran kepercayaan dan agama, tetapi tradisi pemujaan terhadap kepada roh leluhur masih sangat erat. Orang beranggapan bahwa roh leluhur masih mempunyai hubungan batin dengan orang yang masih hidup. Itulah sebabnya masyarakat masih mengadakan upacara-upacara dengan maksud agar setiap orang dapat memperoleh segala yang diinginkan yaitu kebahagiaan, kesejahteraan baik di dunia maupun di akhirat. Kebahagiaan duniawi akan terujud dalam bentuk kemakmuran dan kesuburan yang diberikan kepada orang yang masih hidup. Sedangkan kebahagiaan akhirat dapat dicapai apabila orang setelah mati arwahnya dapat bersatu dengan arwah nenek moyang dan dewa yang dipujanya.

Tradisi pemujaan kepada Dewi Sri sebagai Dewi Padi merupakan upacara simbolis mempersembahkan sesaji kepada Dewi Sri sebagai dewi kesuburan. Tujuannya adalah agar hasil panen baik dan melimpah. Juga diharapkan agar sawah mereka terhindar dari segala malapetaka dan gangguan roh-roh jahat dan bencana.

Sesaji dilakukan sebagai perujudan rasa syukur kepada Sang Pencipta atas hasil panennya, dengan harapan akan kembali kepada masyarakat berupa kemakmuran dan kesejahteraan hidup.

Tradisi pemujaan kepada Dewi Sri ini merupakan salah satu warisan budaya lokal yang perlu dilestarikan. Pelestarian tradisi memang perlu dilakukan, sehingga masyarakat akan tetap dapat mendekatkan diri kepada Sang Pencipta melalui kepercayaan yang diyakininya, yaitu kepercayaan asli Indonesia.


DAFTAR PUSTAKA

Bakker, J.W.M, 1976, Agama Asli Indonesia, Yogyakarta.

Bambang Widyantoro, 1989, Pandangan Masyarakat Jawa Kuno Terhadap Lumbung Dan Pemujaan Kepada Dewi Kesuburan, Yogyakarta.

Brandes, J.L.A, 1913, Prasasti Kamalagyan.

Edhie Wuryantoro, 1977, Catatan Tentang Data Pertanian di dalam Prasasti, Majalah Arkeologi th I no 1.

F. Widayanto, 2003, Sanghyang Sri…..Nyi Pohaci, Jakarta.

Hariani Santiko, 1977, Dewi Sri, Unsur Pemujaan Kesuburan Pada Mitos Padi, MISI.

Hilderia Sitanggang, 1983, Sistem Pertanian Tradisional Sebagai Perwujudan Tanggapan Masyarakat Terhadap Lingkungan Di DIY, Yogyakarta.

Koentjaraningrat, 1981, Beberapa Pokok Antropologi Sosial, Dian Rakyat, Jakarta.

Neuman, Eric, 1972, The Great Mother, New York.

Pigeaud, Th, 1960, Java in 14th Century A Study in Cultural Historical, vol 1.

Saren Orin Bao, 1969, Nusa Nipa Nama Pribumi Nusa Flores, Ende.

Setten, Van der Meer, 1979, Sawah Cultivation in Ancient Java, Aspect of Development During the Intro Javanese, Canberra, Faculty of Asian Studies in Association with Australian National University Press.

Soejono, RP, 1984, Sejarah Nasional Indonesia I, Balai Pustaka, Jakarta.

Subroto, Ph, 1985, Sistem Pertanian Tradisional Pada Masyarakat Jawa,
Tinjauan Secara Arkeologis dan Etnografis, Yogyakarta.

Watie Moerani, 2003, Sanghyang Sri….Nyi Pohaci “……seorang Dewi yang melegenda dan membumi, seorang wanita cantik dan anggun dengan posisi tubuh yang frontal dan sangat formal dengan posisi tangan yang selalu dalam keadaan mempersembahkan “ F. Widayanto, 2003.


*MAKALAH PIA 2011