Edy Gunawan


ABSTRAK

Berkembangnya teknologi informasi memberikan dampak yang sangat banyak pada kehidupan manusia. Informasi dapat diakses dan diketahui dalam waktu yang sangat singkat dan cepat. Tulisan ini menggambarkan peran media baru dalam penyajian informasi museum tanpa meninggalkan sesuatu yang penting dalam informasi itu sendiri.

Media-media baru yang muncul sebagai akibat dari perkembangan teknologi informasi menjadi penting dalam komunikasi Museum dengan Masyarakat.


Abstract

The gowing of information technology give impact on people’s live. Information is accesible and known within very short and fast. This paper describes the role of new media for museum information.

New Media as a result development of information technology becomes important in communication museum with community.


Pendahuluan

Media baru adalah istilah yang dimaksudkan untuk mencakup kemunculan digital, komputer, atau jaringan teknologi informasi dan komunikasi di akhir abad ke-20. Sebagian besar teknologi yang digambarkan sebagai “media baru” adalah digital, seringkali memiliki karakteristik dapat dimanipulasi, bersifat jaringan, padat, mampat, interaktif dan tidak memihak. Beberapa contohnya adalah Internet, website, komputer multimedia, permainan komputer, CD-ROMS, dan DVD. Media baru bukanlah televisi, film, majalah, buku, atau publikasi berbasis kertas (Manovich, Lev, 2003:13)

Internet jika dapat digambarkan dengan mudah adalah computer dengan computer lain yang dapat terhubung melewati sebuah jaringan, yang mengijinkan mereka untuk berkomunikasi, berinteraksi, bertukar data dan lain-lain.. New media berawal dari bentuk komunikasi bermedia computer atau computer-mediated communication (CMC) ini. Dalam buku Media New, disebutkan beberapa fitur atau fasilitas yang terdapat dalam internet yakni elektronic publishing (penerbitan elektronik), entertainment (hiburan), communities ( komunitas), blog, search engine, dan beragam fitur lainnya termasuk download dan upload data. Internet dalam komunikasi adalah sebuah perubahan, karena dianggap telah menjadi bentuk atau pola baru dalam berkomunikasi. Hal ini lah yang menjadi jawaban keinginan dan mimpi manusia untuk dapat “bersentuhan” dengan sesama secara lebih luas, meng-global, cepat, dan murah. Dan ini kemudian yang menjadi sebuah bentuk baru media, bentuk baru komunikasi, media baru.

Seperti definisi yang diuraikan new media adalah media yang berbasis teknologi komputer, kemajuan teknologi baik dari segi hardware dan software membuat internet semakin canggih dan menjadi populer saat ini. Para peneliti komunikasi dan media mulai tertarik dengan penelitian-penelitian mengenai perbedaan antara old media dan new media. Daya tarik media baru sangat hebat, banyak kelebihannya seperti kecepatan, interaktifitas, jaringan luas dan akses yang lebih bersifat pribadi membuatnya dapat berkembang dengan cepat. Perbandingan antara new media dapat dilihat dari menurunnya angka data-data survey beberapa negara tentang penggunaan atau penjualan old media.


Kemunculan sosial media dalam media baru

Sosial media muncul dalam media baru dan dalam setiap perkembangannya mendapat perhatian yang bersar pengguna internet. Sosial media ini mengijinkan kita untuk dapat bertukar informasi dengan semua orang yang merupakan sesama pengguna media tersebut. Dalam sosial media setiap individu dapat melakukan hal-hal dibawah ini (Wright dan Hinson, 2009):

  • Menerbitkan atau menunjukkan konten-konten digital kreatif, isi dari akun atau halaman pribadi kita dapat ditentukan oleh kita sendiri. Apakah itu buatan sendiri ataupun orang lain
  • Menyediakan dan memiliki fitur online yang realtime, dimana kita dapat melakukan dialog dalam bentuk percakapan langsung atau komentar dengan pengguna lain
  • Dapat melakukan perubahan atau perbaikan sendiri sesuai keinginan kita hingga dapat kita klaim sebagai konten yang sebenarnya

Sistem bermedia inilah yang berbeda dengan sistem media lama sebelumnya. Ketika proses produksi pesan, distribusi dan konsumsinya dapat dilakukan secara mudah dan cepat tanpa pertimbangan atau kendala. bahkan saat ini ditambah dengan kemudahan akses bagi semua orang, kemunculan gadget yang dapat mengakses media sosial dimanapun, kapanpun dengan biaya yang cukup murah.

Aplikasi sosial media tersebut antara lain Facebook, Friendster dan Twitter telah menjadi sosial media yang digunakan saat ini. Informasi akun pribadi yang disajikan akan dapat memperlihatkan secara sekilar tentang profile pengguna. Pada tahap selanjutnya dengan melakukan update informasi yang diinginkan maka informasi tersebut akan mudah diakses oleh banyak orang.


Implikasi media baru terhadap penyampaian informasi museum

Peran museum saat ini tengah mengalami pergeseran paradigma. Semula peran museum hanya mengoleksi benda – benda purbakala dan menjadi sarana penelitian. Sekarang ini telah muncul paradigma baru tentang museum harus mampu menginformasikan dan mengkomunikasikan hasil karyanya kepada public sebagai sarana pembentukan jati diri dan budaya bangsa. Dapat pula dikatakan fungsi museum di Indonesia tidak hanya bertujuan untuk konservasi nilai-nilai budaya, sehingga dapat diteruskan kepada generasi yang akan datang, melainkan juga sebagai sarana pendidikan, penelitian dan rekreasi.

Penyajian informasi museum adalah bentuk dari ekspresi objek dan kejadian dalam konteksnya. Objek museum bukan hanya objek nyata dari bagian sumber daya budaya yang berpindah ke museum melainkan juga pengunjung sebagai projek informasi bagi museum. Informasi yang disampaikan adalah sejumlah informasi yang disusun dengan bentuk tertentu. Ia dapat sepenuhnya berbentuk verbal atau berupa paduan antara verbal dan visual. Kelemahanan dalam aspek penyajian informasi dapat ditingkatkan dengan media baru serta membingkainya dengan informasi yang memadai agar masyarakat dapat memanfaatkan keberadaan museum sebagai sumber sejarah dan pengetahuan tentang masa lampau, para pengelolaan harus gencar melakukan promosi atau kegiatan lain yang menunjang, seperti pameran yang dilengkapi dengan adegan dari isi prasasti tersebut yang dipublikasikan melalui media baru.

Daud Aris Tanudirjo (2007) dalam tulisannya yang berjudul “Museum sebagai Mitra Pendidik”, menjelaskan bahwa museum-museum di Indonesia masih lebih banyak menekankan pada aspek “memamerkan” benda (object oriented) dan hanya memikirkan dari segi keilmuan dan riset, namun melupakan pengunjungnya. Akibatnya museum tidak melakukan komunikasi dengan pengunjug maupun calon pengunjungnya. Bagaimana penyajian informasi dapat berjalan dengan baik jika salah satu pihak tidak terjalin komunikasi yang baik kepada pihak lainnya. Untuk itu, pengelola harus mengetahui kebutuhan pengunjung atau calon pengunjung, sehingga dapat disusun konsep penyajian informasi museum yang menarik. Hal ini dapat dilakukan dengan melakukan banyak interaksi dengan masyarakat calon pengunjung melalui media baru secara intensif dan berkala.

Koleksi yang ada di museum perlu dikomunikasikan dan diinformasikan kepada masyarakat luas. Hal ini menjadi tugas kurator, preparatory, dan educator (bagian edukasi) bagaimana informasi koleksi disampaikan kepada masyarakat. Jika penyampaian informasi koleksi museum tepat dan menarik, mungkin museum tidak lagi menjadi tempat yang sepi pengunjung, upaya yang dapat dilakukan adalah :

  1. Membuat panel informasi singkat berkenaan dengan pembagian ruang dan jenis koleksi yang dipamerkan museum, diletakan di posisi yang menjadi pusat perhatian pengunjung sehingga pengunjung dapat memperoleh gambaran isi museum. Sehingga walau pengunjung hanya masuk disalah satu ruangan, dia tidak akan kehilangan cerita dan informasi yang disajikan museum.
  2. Membuat panel-panel informasi yang disajikan secara lengkap dan menarik sebagai pelengkap informasi setiap koleksi yang dipamerkan. Hal ini akan menimbulkan rasa ingin tahu dan menghilangkan kejenuhan pengunjung.
  3. Menyediakan berbagai fasilitas dan media informasi, seperti leaflet, brosur, buku panduan, film, slide, tabloid dll, sehingga pengunjung dengan mudah mempelajari objek yang dipamerkan.
  4. Memperbaiki service, membuat label-label yang lebih informative, menyediakan guide yang memadai, memperlengkapi museum dengan hiburan pada hari-hari atau jam-jam tertentu, menjajakan buku-buku, foto-foto atau brosur yang tepat.

Setelah tahapan dalam penyajian informasi museum dilakukan, maka media baru akan sangat bermanfaat dalam menginformasikan ke masyarakat luas untuk mengenalkan museum dan informasinya. Hal yang dapat dilakukan yaitu:

  1. Mengupdate informasi yang terdapat pada website, website yang digunakan sebagai sarana informasi digital dunia maya, harus mampu merepresentasikan informasi yang tentangkoleksi museum walaupun hanya pengantar saja.
  2. Membuat iklan dan berita pada sebuah media baru tentang event-event dan kegiatan yang berkaitan dengan acara-acara museum.
  3. Membuat komunitas museum pada sosial media. Sosial media akan menjadi tempat perkenalan museum dengan masyarakat luas.
  4. Membuat forum yang ada pada website, sosial media dengan menyajikan beberapa tema khusus mengenai koleksi museum, program museum maupun kritik dan saran terhadap penyajian informasi museum.
  5. Menjaring sebanyak mungkin komunitas – komunitas yang ada pada sosial media, blog dll. Agar keberadaan museum dan koleksinya semakin diketakui oleh masyarakat luas.


Penutup

Seiring berkembangnya teknologi dan informasi, sudah saatnya hal tersebut dapat membantu museum dalam melakukan komunikasi terhadap masyarakat, menginformasikan visi dan misi museum dalam lingkup yang semakin luas. Media baru berperan sangat besar dalam merubah pola dan tata kehidupan masyarakat saat ini. Dengan tetap menjadikan perubahan ini sebagai penunjang, maka perkembangan teknologi dan informasi akan banyak berdampak baik terhadap lembaga museum dengan masyarakat.

Satu hal lagi dengan menjalin kerjasama yang intensif melalui media baru antara pemerintah, swasta dan masyarakat, akan dapat meningkatkan kualitas museum baik dalam berbagai bidang. Salah satunya dengan membatu untuk pengembangan dan pengelolaan museum. Dengan demikian museum akan berkembang sebagai etalase ilmu pengetahuan, pencitraan suatu bangsa sekaligus sarana informasi tentang banyak hal bukan saja untuk para golongan tertentu tetapi juga masyarakat secara keseluruhan.


Daftar Pustaka

Arbi, Yunus. (2007). “Serpihan: Tampaknya Kita Perlu Evaluasi”, Museografia: Museum dan Pendidikan 1(1): 3-4.

Ardiwidjaja, Roby. (2009). Masyarakat Museum “Peran, fungsi dan Manfaat”. Dalam Museografia Vol.III (4):41-62

Flew (2005). New Media : An Introduction. 2nd Edition. Oxford University Press: New York.

Manovich, Lev. “New Media From Borges to HTML.” The New Media Reader.Noah Wardrip-Fruin & Nick Montfort. Cambridge, Massachusetts, 2003.13-25.

Greenhill.1991. Museum and Gallery Education. Leicester. University Press.

Hopper, Eilen and Greenhill.1995. Museum, Media, Message. Routledge : London Wright dan Hinson, 2009

Curran, James. Media and Cultural Theory. 2006. New York : Routlegde

Henning, Michelle. 2006. Museum Media and Cultural Theory. Open University Press. New York.

Tanudirjo, Daud A. 2007. Museum sebagai Mitra Pendidik, Museografia:
Museum dan Pendidikan 1(1): 5-32.

Wright dan Hinson, 2009. Examining How Public Relations Practitioners Actually Are Ussing Social Media. Public Relation Journal – vol 3. Public Relations Society of America.

*MAKALAH PIA 2011