Adhi Agus Oktaviana
Puslitbang Arkenas


Abstrak

Perahu merupakan sarana transportasi air yang memiliki nilai penting bagi masyarakat di Nusantara. Berdasarkan data arkeologi dan etnografi, perahu telah direkam dalam beragam media seni termasuk pada seni cadas. Kajian terhadap bentuk-bentuk motif perahu ini dilakukan dalam dimensi ruang berskala makro atau regional (mencakup seluruh wilayah Nusantara). Informasi mengenai ragam cara menggerakkan perahu pada seni cadas tidak akan dapat diketahui jika kita mengkaji hanya pada skala mikro atau meso. Hal tersebut dikarenakan pada satu situs belum tentu memiliki data motif perahu yang bervariasi, bisa saja hanya terdapat satu motif perahu untuk mendapatkan gambaran mengenai cara menggerakkan perahu pada seni cadas di Nusantara. Berdasarkan analisis terhadap 67 motif perahu dari delapan kawasan pada 18 situs seni cadas, dapat diketahui tujuh cara menggerakkan perahu. Tujuh cara menggerakkan perahu tersebut menunjukkan bahwa motif-motif perahu seni cadas dapat merekam pengetahuan dalam mengendalikan perahu pada karakter perairan di sungai, pesisir pantai, maupun antar pulau. Pengetahuan mengenai teknik menggerakan perahu ini menunjukkan bahwa motif-motif perahu pada seni cadas memiliki nilai arkeologis yang penting yang mampu merekam dan menampilkan aspek perilaku dari apa yang digambarkan pada motif perahu tersebut yang merupakan kekayaan seni dan maritim di Indonesia.

Kata kunci: seni cadas, motif perahu.



Boat Moving Techniques Recorded in the Rock Art
as Wealth of Art and Maritim in Indonesia

Abstract

In the archipelago, “the boat” has a significant value for society. Based on archaeological and ethnographic data, boats have been recorded in various art media, including the rock art. Study about boat’s forms and motifs are done in spatial dimensions of macro or regional scale (all parts of the archipelago), since the information cannot be found in the meso or micro scales. The analysis on 67 boats motif from 18 rock art sites at 8 areas discovered there are seven techniques on boat moving. Those seven techniques show boats motif on the rock art can record knowledge about controlling boat in the river, coastal area, and sea. Knowledge of boat moving techniques suggests that boat motif on rock art has an important archaeological value which can record and display the behavioural aspect of what is depicted on the boat motif. This is a wealth of art and maritim in Indonesia.

Key word: rock art, boat motif.


Pendahuluan

Perahu merupakan sarana transportasi air yang memiliki nilai penting bagi masyarakat di Nusantara. Selain sebagai moda transportasi air yang sehari-hari digunakan oleh masyarakat tradisional sejak ribuan tahun yang lalu [1], perahu juga memiliki nilai yang penting pada ranah religi masyarakat [2]. Komunitas-komunitas di Kepulauan Asia Tenggara menganggap bahwa laut merupakan unsur penyatu antar komunitas. Timbulnya hubungan perdagangan jarak jauh (long distance exchange) pada masa lalu juga menggunakan moda transportasi air. Para ahli prasejarah dan maritim berpendapat bahwa moda transportasi air sangat berperan di Nusantara dalam proses migrasi atau ekspansi suatu komunitas dari suatu tempat ke tempat yang baru dengan didukung oleh teknologi pelayaran (Bednarik, 2002; Simanjuntak, 2001; dan Dunn dan Dunn, 1977).

Berdasarkan data arkeologi dan etnografi di Nusantara, perahu telah direkam dalam beragam media seni yaitu motif perahu pada kain tenun tradisional Tanpan dan Krui di Lampung (gambar 1). Pada relief candi motif perahu dipahatkan di candi Borobudur (gambar 2) dan candi Panataran. Motif perahu menghias bagian badan pada nekara perunggu (gambar 6), dan miniatur perahu berbahan perunggu di Flores (gambar 4). Perahu digunakan juga sebagai peti mati berbahan kayu yang diletakkan di ceruk-ceruk atau gua di Nusantara (gambar 2). Kalamba atau peti kubur batu juga dianggap sebagai perahu arwah yang mengacu pada tradisi nenek moyang yang datang dari laut. Selain itu bentuk rumah tradisional beberapa daerah di Indonesia menerapkan aspek keruangannya seperti pada perahu tradisional, dan motif perahu pada rock art (seni cadas) (Roder, 1959; Harrisson, 1958a and b; Ballard, 1987; Kosasih, 1991; O’Connor, 2003; dalam Lape et al, 2007). Hasil-hasil motif dan miniatur perahu di atas merupakan wujud dari kekayaan seni dan mencerminkan kekayaan maritim di Nusantara.

Seni cadas termasuk kajian arkeologi yang berperan dalam menginterpretasikan segala tinggalan budaya masa lalu yang terekam pada motif-motif yang diterakan. Para peneliti seni cadas di Indonesia menemukan pula bentuk motif perahu dari wilayah Indonesia timur hingga ke Kalimantan [4] . Temuan seni cadas terbaru di Gua Harimau, Sumatera Selatan tahun 2009 oleh Puslitbang Arkenas mengubah pandangan bahwa di wilayah barat Indonesia tidak terpengaruh budaya seni cadas. Pada situs ini umumnya motif berbentuk geometris yang ditemukan, sampai saat ini belum menemukan motif perahu karena kemungkinan wilayah situs tersebut berada di hulu sungai (LPA Gua Harimau, 2010).

Salah satu interpretasi terhadap tinggalan budaya masa lalu pada seni cadas yaitu mengenai cara-cara hidup (behaviour) pada wilayah perairan yang berkaitan dengan perahu. Tujuan yang ingin dicapai mengenai cara-cara hidup di wilayah perairan yang berkaitan dengan perahu salah satunya yaitu mengetahui cara menggerakkan perahu. Permasalahan yang menarik yang dapat diangkat dalam penelitian mengenai motif perahu pada seni cadas yaitu bagaimanakah cara menggerakkan perahu yang terekam dalam seni cadas tersebut? Sehingga dapat merepresentasikan pengetahuan dan teknik menggerakkan perahu di Nusantara sebagai wujud dari kekayaan seni dan maritim di Indonesia. Hal ini juga dapat mendukung bukti bahwa nenek moyang kita memiliki pengetahuan dan teknologi di bidang maritim.

Tulisan ini merupakan bagian hasil penelitian skripsi saya tahun 2009. Tulisan ini mencoba untuk mengkaji sejauh mana peran motif perahu yang diterakan pada seni cadas memiliki nilai informasi yang penting. Informasi pada motif-motif perahu yang terekam dalam seni cadas salah satunya mengenai perilaku manusia yang sedang mengemudikan perahu.

Kajian terhadap bentuk-bentuk motif perahu ini merupakan tinjauan arkeologi dengan satuan ruang berskala makro atau regional yaitu luas wilayah penelitian mencakup Nusantara dengan kekhususan objek penelitian pada satu motif saja. Informasi mengenai ragam cara menggerakkan perahu pada seni cadas tidak akan dapat diketahui jika kita mengkaji hanya pada skala mikro atau meso. Karena pada satu situs belum tentu memiliki data motif perahu yang bervariasi, bisa saja dalam satu situs hanya terdapat satu motif perahu. Oleh sebab itu kajian berskala makro perlu dilakukan untuk mendapatkan gambaran mengenai cara menggerakkan perahu pada seni cadas di Nusantara.

Data mengenai motif perahu pada seni cadas di Indonesia sebanyak 67 motif perahu dari delapan kawasan pada 18 situs (lihat lampiran). Namun tidak semua motif perahu terdata karena kajian ini menggunakan data sekunder berupa gambar dan foto motif-motif perahu dikumpulkan dari hasil-hasil penelitian mengenai seni cadas di Indonesia.


Pembahasan

Dalam mengkaji mengenai cara menggerakkan perahu maka dilakukan penyeleksian terhadap motif perahu pada seni cadas. Seleksi yang dilakukan terhadap motif perahu berdasarkan analogi etnografi mengenai teknik gerak perahu di Nusantara. Literatur mengenai perahu tradisional dapat ditemukan dari A. Horridge (1981); J. Hornell (1928); W. Mahdi (1999); A.B. Lapian (1997), dan sebagainya.

Chippindale (2001) mengungkapkan bahwa si penggambar lukisan gua menekankan nilai penting dari sebuah benda yang akan direpresentasikannya, apakah dia menggambarkan sesuatu yang dia lihat atau sesuatu yang ada dalam imajinasinya. Bagaimana seorang pelukis mengubah benda (3D) menjadi sebuah gambar (2D) yang pasti akan mengeliminir informasi dari benda tersebut. Pada dasarnya ketika si pembuat gambar lukisan gua akan membuat gambar, ia akan membayangkan bagian-bagian apa saja dari benda tersebut yang dapat merepresentasikan benda yang akan di gambar. Pada gambar motif perahu, si penggambar akan membayangkan terlebih dahulu bentuk-bentuk bagian perahu. Selanjutnya dalam melakukan pendeskripsian terhadap motif perahu, bagian-bagian bentuk perahu tersebut yang menjadi atribut gambar dari motif perahu. Pada proses berikir inilah si pembuat gambar motif perahu pada seni cadas mendapatkan inspirasi dari pengalamannya saat ia melihat perahu yang nyata di DAS sungai, pesisir pantai, atau di lautan.

Berdasarkan hasil analisis bentuk terhadap atribut-atribut pada motif perahu, bagian-bagian perahu pada motif perahu seni cadas yang dapat menginterpretasikan bagaimana cara menggerakkan perahu yang digambarkan adalah sebagai berikut:

  1. Perahu (bagian lunas dan lambung) Bagian lunas dan lambung pada motif perahu seni cadas digambarkan dengan tiga cara yaitu bentuk garis, ragangan, dan solid sesuai dengan teknik penggambarannya.
  2. Figur manusia Penggambaran figur manusia pada motif perahu seni cadas bervariasi, dari segi posisi bisa digambarkan berdiri atau duduk, memegang dayung, kemudi, atau senjata. Selain itu figur manusia dapat digambarkan pada posisi sebagai skiper atau penumpang.
  3. Alat penggerak perahu: tongkat, dayung, kemudi, dan layar.


Tujuh cara menggerakkan perahu yang terekam dalam seni cadas.

Adanya ketiga atribut itu dengan variasi penggambarannya pada seni cadas dapat menunjukkan cara-cara menggerakkan perahu. Berdasarkan analisis pada motif-motif perahu seni cadas, dapat diketahui tujuh cara menggerakan perahu (Oktaviana, 2009), yaitu :

1. Figur manusia yang digambarkan berdiri dengan menggunakan tongkat.

Perahu digambarkan dengan posisi tampak samping (profil) dengan teknik penggambaran solid di bagian badan perahu, sedangkan arah hadap perahu ke arah kiri. Kedua figur manusia yang digambarkan sedang memegang tongkat di atas perahu merupakan penggambaran cara menggerakkan perahu yang masih ada sampai saat ini di Nusantara, umumnya cara menggerakkan perahu semacam ini dilakukan di sepanjang aliran sungai dan pesisir pantai.

2. Figur manusia mengemudikan perahu dengan sikap mendayung berdiri.

Perahu digambarkan dengan posisi tampak samping (profil) dengan teknik penggambaran bagian badan perahu berupa garis, sedangkan arah hadap perahu ke arah kanan. Empat figur manusia yang digambarkan sedang berdiri, masing-masing memegang dayung. Cara menggerakan perahu seperti ini masih dilakukan oleh suku-suku tradisional di Papua. Penggunaan teknik mendayung seperti ini dilakukan di sepanjang aliran sungai, muara, atau di pesisir pantai.

3. Figur manusia dengan posisi duduk dan sikap tangan mendayung.

Perahu digambarkan dengan posisi tampak samping (profil) dengan teknik penggambaran berbentuk garis dan arah hadap perahu ke arah kiri. Figur manusia digambarkan dengan posisi duduk dengan kedua tangan memegang dayung. Cara menggerakan perahu seperti ini umum dilakukan di Nusantara pada jenis perairan sungai atau pesisir pantai.

4. Figur manusia ada yang mengemudikan perahu (skiper) dan beberapa figur manusia lain sedang mendayung.

Kedua perahu digambarkan dengan posisi tampak samping (profil) dengan teknik penggambaran solid dan arah hadap perahu ke arah kanan. Figur-figur manusia yang digambarkan terdiri dari tiga pekerjaan, dua figur manusia yang berada di paling kanan di atas perahu sebagai pengemudi (skiper), beberapa figur digambarkan sedang mendayung, dan figur-figur manusia yang digambarkan di atas perahu sedang memegang senjata dan tameng. Gambar di atas diinterpretasikan sebagai aktivitas perang di lautan.

5. Figur manusia menggunakan kemudi. Mengingat perahu yang digambarkan pada motif ini menggunakan layar, maka kemudi berfungsi sebagai pengatur arah perahu, sedangkan layar sebagai penggerak perahu.

Perahu digambarkan dengan posisi tampak samping (profil) dengan teknik penggambaran solid dengan arah hadap perahu ke arah kanan. Terdapat tiga figur manusia yang digambarkan di atas perahu. Masing-masing figur digambarkan dengan kedua lengan ke arah atas dan memegang sesuatu. Figur manusia yang ditengah memegang kemudi. Bagian kemudi digambarkan dengan bagian ujung bawahnya lebih besar, selain itu digambarkan pula sebuah layar berbentuk segi empat dengan posisi vertikal.

Berdasarkan motif di atas diketahui perahu digerakkan oleh dua alat yaitu layar sebagai tenaga dorong dan kemudi untuk mengarahkan perahu. Penggambaran motif perahu seperti ini menunjukkan lebih berkembangnya cara menggerakan perahu dengan yang menggunakan layar dari perahu yang tidak menggunakan layar. Umumnya perahu di Nusantara yang telah menggunakan layar digunakan di pesisir pantai atau lautan, untuk melakukan penyebrangan antar pulau.

6. Figur manusia mengemudikan perahu (skiper) menggunakan kemudi tunggal di bagian buritan, ditambah dengan dua buah dayung di bagian tengah perahu. Perahu dilengkapi dengan layar sebagai penggerak.

Perahu digambarkan dengan posisi tampak samping (profil) dengan teknik penggambaran solid dengan arah hadap ke arah kanan. Setidaknya terdapat dua figur manusia yang digambarkan di atas perahu. Figur di sebelah kanan digambarkan di sebelah kanan tiang layar dengan salah satu lengan memegang pinggang, sedangkan figur di sebelah kiri digambarkan sedang memegang kemudi tunggal. Kemudi tunggal ini digambarkan berbeda dengan dua bentuk dayung di bagian bawah. Layar berbentuk segi empat diletakkan diagonal pada tiang layar dengan ujung sebelah kanan diikatkan pada ujung kanan perahu.

Berdasarkan motif di atas diketahui perahu digerakkan oleh tiga alat yaitu layar dan dayung sebagai tenaga dorong dan kemudi untuk mengarahkan perahu. Penggambaran motif perahu seperti ini menunjukkan lebih berkembangnya cara menggerakan perahu dengan yang menggunakan layar ditambah dengan dayung sebagai tenaga dorong dan kemudi tunggal dari perahu yang tidak menggunakan layar. Umumnya perahu di Nusantara yang telah menggunakan layar digunakan di pesisir pantai atau lautan, untuk melakukan penyebrangan antar pulau.

7. Figur manusia mengemudikan perahu dengan kemudi ganda di kiri kanan bagian buritan. Perahu dilengkapi dengan layar sebagai penggerak.

Perahu digambarkan dengan posisi tampak samping (profil) dengan teknik penggambaran solid dengan arah hadap ke arah kanan. Setidaknya terdapat dua figur manusia yang digambarkan di atas perahu. Figur di sebelah kiri digambarkan sedang memegang kemudi ganda. Layar berbentuk segi empat diletakkan diagonal pada tiang layar.

Berdasarkan motif di atas diketahui perahu digerakkan oleh dua alat yaitu layar sebagai tenaga dorong dan kemudi ganda untuk mengarahkan perahu. Penggambaran motif perahu seperti ini menunjukkan lebih berkembangnya cara menggerakan perahu dengan yang menggunakan layar ditambah sebagai tenaga dorong dan kemudi ganda dari perahu. Umumnya perahu di Nusantara yang telah menggunakan layar digunakan di pesisir pantai atau lautan, untuk melakukan penyeberangan antar pulau.


Kesimpulan

Kehadiran kemudi, tiang perahu, dan bentuk layar pada perahu yang menandakan bahwa teknologi perahu semakin maju dibandingkan dengan hanya mengandalkan dayung semata. Kemampuan berlayar mengarungi lautan di Nusantara diperlihatkan oleh adanya komponen atribut perahu berupa dayung, kemudi tunggal maupun kemudi ganda, dan tiang yang jumlahnya bervariasi, antara satu sampai empat tiang, serta bentuk layar yang juga bervariasi (segitiga, trapesium, persegi panjang maupun segiempat).

Penggambaran kemudi dan layar pada motif perahu dapat menginterpretasikan daya jelajah atau jangkauan berlayar. Macam-macam cara menggerakkan perahu tersebut menunjukkan bahwa motif-motif perahu seni cadas dapat merekam pengetahuan dalam mengendalikan perahu pada karakter perairan di sungai, pesisir pantai, maupun antar pulau.

Pengetahuan mengenai teknik mengemudikan perahu ini menunjukkan bahwa motif-motif perahu pada seni cadas memiliki nilai arkeologis yang penting yang mampu merekam dan menampilkan aspek perilaku dari apa yang digambarkan pada motif perahu tersebut. Perilaku yang ditampilkan dalam seni cadas tersebut merupakan salah satu kekayaan alam pikir mengenai seni dan maritim di Nusantara.


Acuan Pustaka

Aksa, Laode Muhammad. 1991. Lukisan Dinding Gua Metanduno dan Gua Kobori di Pulau Muna Sulawesi Tenggara (Suatu Analisa Arkeologi). Jurusan Sejarah dan Arkeologi. Fakultas Sastra. Universitas Hasanuddin.

Arifin, Karina. 1992. Lukisan Batu Karang di Indonesia: Suatu Evaluasi Hasil Penelitian. Depok: Lembaga Penelitian-Universitas Indonesia (LP-UI). (tidak diterbitkan).

____________. 1997. Penelitian rock art di Indonesia: dari deskripsi hingga pencarian makna. Paper disajikan pada Seminar Hasil Penelitian Bidang Sosial Budaya Universitas Indonesia yang diselenggarakan oleh Pusat Penelitian Masyarakat dan Kebudayaan, LP-UI. 24 November 1997.

Arifin, Karina dan Philip Delanghe. 2004. Rock art in West Papua. London: UNESCO.

Ballard, Chris, et al. (2003). “The Ship as Symbol in the Prehistory of Scandinavia and Southeast Asia”. World Archaeology 35 (3):385-403.

Bednarik, Robert G. 2002. The Maritime dispersal of Pleistocene humans. http://mc2.vicnet.net.au/home/mariners/shared_files/dispersal.pdf

Chippindale, Christopher. 2001. Studying Ancient Pictures as Pictures. in D.S. Whitley (ed). Handbook of Rockart Research. California: Altamira Press, Walnut Creek.

Dunn. F.L and D.F. Dunn. 1977. Maritime Adaptation and Exploitation of Marine Resources in Sundaic Southeast Asian Prehistory. Dalam G-J. Bartstra, W.A. Casparie dan I.C. Glover (ed). Modern Quarternary Research in Southeast Asia 3:1-28.

Harrison, Tom. 1959. New Archaeological and Ethnological Result from Niah Caves, Sarawak. Man. Vol 59. pp 1-8.

Horridge, Adrian. 1981. The Prahu : Traditional Sailing Boat of Indonesia. Oxford: Oxford University Press.

Horridge, Adrian. 2006. The Austronesian Conquest of the Sea-Upwind. in Bellwood, Peter; James J. Fox and Darrell Tryon (ed). 2006. The Austronesians: Historical and Comparative Perspectives. Canberra: ANU E Press. pp 143-160.

Koestoro. Lucas Partanda (1998). Prasejarah Sarana Transportasi Air Nusantara. Medan: Balar Medan

Lape, Peter V., Sue O’Connor dan Nick Burningham. (2007). Rock Art: A Potential Source of Information about Past Maritime Technology in the South-East Asia-Pacific Region. The International Journal of Nautical Archaeology 36(2): 238–253.

Lapian, A.B. (1997). Dunia Maritim Asia Tenggara. Dalam Taufik Abdullah dan

Edi Sedyawati (ed.), Sejarah Indonesia: Penilaian kembali Karya Utama Sejarawan Asing. Depok: PPKB LPUI, 17-40.

Mahdi, Waruno. (1999). “The Dispersal of Austronesian Boat forms in the Indian Ocean in Archaeology and Language”, dalam R Blench dan M Spriggs (eds.), Archaeology and Language III. New York: Routledge. hlm 145-179.

O’Connor, S., 2003, Nine new painted rock art sites from East Timor in the context of the Western Pacific region, Asian Perspectives 42.1, 96–128.

Oktaviana, Adhi Agus. 2009. Penggambaran Motif Perahu pada Seni Cadas di Indonesia. Skripsi Sarjana. FIB UI

Perry, W.J. 1915. Myth of Origin and the Home of the Dead in Indonesia. Folklore. Vol 26. No. 2.

Röder, J. (1959). Felsbilder und Vorgeschichte des MacCluer-Golfes West-Neuguinea. Darmstadt: L.C. Wittich Verlag.

Suprapta, Blasius. 1996. Lukisan dinding gua di daerah Pangkep: Suatu kajian makna lukisan dalam kehidupan mesolitik. Tesis. Pascasarjana UI.

Tim Penelitian Gua Harimau. 2010. LPA Prasejarah Gua Harimau, Padangbindu, OKU, Sumatera Selatan. Puslitbang Arkenas (tidak diterbitkan)


Lampiran

Tabel 1. Gambaran Data Motif Perahu pada Seni Cadas di Indonesia
(diolah kembali dari Arifin dan Delanghe, 2004)

 

No.

Kawasan

Situs

Bentuk situs

Ketinggian (m dpl)

Teknik

Warna

Jumlah Motif Perahu

Referensi

1

Balocci, Pangkep, Sulawesi Selatan

Leang Sumpang Bita

Gua

280

Lukisan

Merah

1

Suprapta, 1996.

2

Pangkep, Sulawesi Selatan

Gua Bulu Sipong

Gua

180

Lukisan

Merah

2

Kosasih, 1995.

3

Kec. Katobu, P. Muna, Sulawesi Tenggara

Gua Metanduno

Gua

202

Lukisan

Cokelat

7

Kosasih, 1978, 1982,

4

Kec. Katobu, P. Muna, Sulawesi Tenggara

Gua Kobori

Gua

216

Lukisan

Cokelat

3

Kosasih, 1978, 1982,

5

Distrik Lio, Desa Nua Mbako, P. Flores

Watu Weti

Dinding batuan

Pahatan

-

1

Verhoeven,1956

6

Kep. Kai Kecil, Maluku Selatan

Dudumahan

Tebing pantai

± 30

Lukisan

Merah dan Hitam

4

Ballard, 1988

7

Kep. Kai Kecil, Maluku Selatan

Ceruk Loh Vat

Gua

Lukisan

Hitam

1

Sukendar, 2002

8

Pulau Arguni, Teluk Berau

Risatot

Dinding tebing

Lukisan

Hitam

1

Roder, 1959

9

Teluk Berau, Papua Barat

Teluk Berau

Gua

Lukisan

Hitam

20

Roder, 1959; Arifin dan Delanghe, 1995

10

Daerah Tutuala, Timor Leste

Ili Kerekere

Gua

Lukisan

Hitam

8

Arifin dan Delanghe, 2002; Lape et al. 2007

11

Daerah Tutuala, Timor Leste

Lene Hara

Gua

Lukisan

Hitam

1

Arifin dan Delanghe, 2002; Lape et al. 2007

12

Daerah Tutuala, Timor Leste

Kurus

Gua

Lukisan

Hitam

1

Lape et al. 2007

13

2.5 km dari Desa Tutuala

Lene Cece

Ceruk

250

Lukisan

Hitam

2

Lape et al. 2007

14

2 km Timur Laut Desa Tutuala

Lene Kici

Gua

100

Lukisan

Merah

1

Arifin dan Delanghe, 2002; Lape et al. 2007

15

Daerah Tutuala, Timor Leste

Sunu Taraleu

Ceruk

60

Lukisan

Merah

3

Almeida, 1967; Arifin dan Delanghe, 2002, Lape et al. 2007

16

Daerah Tutuala, Timor Leste

Tebing Tutuala

Dinding tebing

500

Lukisan

Merah

2

Lape et al. 2007

17

Sarawak, Malaysia Timur

Gua Liang Kain Hitam

Gua

267

Lukisan

Merah

2

Karina Arifin, 2003

18

Sangkulirang, Kalimantan Timur

Gua Mardua

Gua

± 200

Lukisan

Hitam

7

Setiawan, 1999


Catatan:

[1] (Lihat Dunn dan Dunn, 1977:22-24; Simanjuntak, 2001: 667; Horridge, 2006: 143; Koestoro, 2008).
[2] (Perry, 1915; Ballard, 2003).
[3] (Sumber foto 1. Kerlogue, 2004:51; foto 2. Sukendar, 2002: 182 ; foto. 3 Repro relief di Candi Borobudur oleh Edhi Wuryantoro, ijin 2008; foto 4. Szabo and Piper, 2006; foto 5. diambil dari buku Art of Southeast Asia, 2004: 50; foto 6. Kempers, 1988: 146)
[4] Para peneliti yang berkaitan dengan motif perahu pada seni cadas antara lain H.R. van Heekeren (1952, 1972), J. Röder (1959), E.A. Kosasih (1982, 1995, & 1999), Sumiati A.S. (1984), Karina Arifin & P. Delanghe (2004), Verhoeven (1956), Blasius Suprapta (1996), C. Ballard (1988, 1992, 2003), Harrisson (1958), Sue O’Connor & P. Lape (2007), Jean-Michel Chazine (1999, et al 2001), R. Cecep Eka Permana (2008), dan Pindi Setiawan (1999, 2010).

*MAKALAH PIA 2011