Beranda

Tinggalan Arkeologi Jukung di Kalimantan Selatan Bukti Prototipe Jukung Banjar Masa Kini, dan Pasar Terapung Sebagai Objek Pariwisata Berbasis Arkeologi

1 Komentar

Oleh: H. Achmad Mawardi
Pemerhati budaya dan lingkungan, penasehat LMMC (Lambung
Mangkurat Museum Community) Kalimantan Selatan

Abstract
The word jukung is used as an “umbrella” to describe all types of boats, mainly to wooden boats. The Dayak and the Banjarese word jukung are therefore especially associated with those boat types. And in Austronesian word is called as “d’u(n)kung”. The first jukung (dugout canoe) form lineaged from “stone age” as Jukung Sudur kind, after the bamboo rafts used on the rivers of South Kalimantan. The dugout is made over one half of a cloven trunk of soft wood trees without expanded. The form is still being made and used especially in Nagara wetland water system, Hulu Sungai Selatan district.

The jukung movable artifacts in archaeological excavations in Sungai Tarasi at Hulu Sungai Utara district in August 1994 as the dugout canoe form (Lumbung canoe kind); and in Sungai Saka Raden at Tapin district in June 2009 as Jukung Tambangan (an unique and antique traditional planked-boat), we have also stressed them as the prototypes of the Banjarese traditional jukung of South Kalimantan. And from the Sungai Tarasis’ dugout model is developed to large freighter boats. But then, all are built over hollowed out and expanded dugout over fire of a hard wood full cloven trunk tree by the “mamanggang” or “mamaru” technical expanding process (originated from the early nineteenth century or before), such as Jukung Tiung and Jukung Raksasa; Jukung Nelayan (the seagoing fishing boat), etc. The canoe prototypes were from the kinds of Jukung Patai and Jukung Bakapih; and from the Sungai Saka Radens’ planked boats (Jukung Tambangan) is transformated to some kinds of Banjarese traditional jukung, a plank-built (passenger, foodseller, family, freighter, fishing, farming, cattle-breeding, logging, etc.) boats to day. Within the last 50 years when motor vehicles have been introduced, the sail boats and some paddle-driven boats have disappeared. At the same time, many newest boat-types have been built by the fiber-glass, iron and plywood in their construction. But the wooden boats are still being produced as the Banjarese types of boats, especially as the newest of planked-boat types.

The form model, the kinds, and the types of the present Banjarese jukung are available as the tourism base archaeology objects as the culture of excellence of Banjarese of South Kalimantan, especially to increase the grassroot creative economy lifeline of the South Kalimantan rivers culture. For example, – boats on the two floating market sites (termed as the “blank sites”) at Muara Kuin of Barito river and at Lok Baintan river village. They still being survived for more hundreds year ago. We had also started to look more the interesting thoughts about the historical and ethnographical background for these exciting boats.


Abstrak

Sebutan jukung merupakan payung untuk menyebut semua macam perahu, terutama yang terbuat dari bahan kayu. Demikian juga oleh orang Dayak dan orang Banjar. Jukung dalam bahasa Austronesia disebut “d’u(n)kung”. Jukung pertama, berbentuk Perahu Lesung berasal dari zaman batu, dikenal sebagai jenis Jukung Sudur, setelah penggunaan rakit-rakit bambu di sungai-sungai Kalimantan Selatan. Jukung Sudur dibuat dari setengah batang pohon kayu lunak tanpa diperbesar. Bentuk jukung ini masih dibuat dan digunakan terutama di daerah perairan lahan basah Nagara, Kabupaten Hulu Sungai Selatan.

Artefak bergerak jukung hasil ekskavasi arkeologi di Sungai Tarasi Kabupaten Hulu Sungai Utara pada bulan Agustus 1994 sebagai bentuk Perahu Lesung (jenis perahu Lumbung); dan di Sungai Saka Raden Kabupaten Tapin pada bulan Juni 2004 sebagai Perahu Tambangan (Perahu Papan yang unik dan antik), kita juga tekankan sebagai prototipe jukung tradisional orang Banjar di Kalimantan Selatan. Dan dari model Perahu Lesung di Sungai Tarasi dikembangkan jukung angkutan besar, tetapi kemudian semuanya dibuat di atas jukung yang dibuat dari sebatang pohon kayu keras dengan teknik proses pembukaan jukung yang disebut teknik “mamanggang” atau “mamaru” dengan penggunaan api (berasal dari awal abad ke-19 atau sebelumnya), seperti pada Jukung Tiung dan Jukung Raksasa; Jukung Nelayan untuk menangkap ikan di laut, dan sebagainya. Prototipe jukungnya berasal dari jenis Jukung Patai dan Jukung Bakapih; dan dari Jukung Tambangan yang ditemukan di Sungai Saka Raden ditransformasikan menjadi berbagai jenis jukung tradisional orang Banjar berupa jukung-jukung papan kecil (untuk penumpang, berdagang bahan makanan dan minuman, tumpangan keluarga, angkutan barang-barang kebutuhan hidup dan bangunan, menangkap ikan, bertani, beternak, meramu kayu, dan sebagainya) pada masa kini. Dalam 50 tahun terakhir ketika muncul mesin-mesin penggerak diperkenalkan, banyak jukung-jukung untuk pelayaran dan yang hanya dikayuh dengan pengayuh, lenyap. Pada saat bersamaan, banyak macam-macam jukung terbaru telah dibuat dari bahan fiber-glass, bahan besi dan bahan plywood (kayu lapis). Tetapi jukung-jukung dari kayu masih dibuat sebagai macam jukung orang Banjar, terutama macam jukung papan terbaru.

Bentuk model, jenis dan macam jukung orang Banjar tersedia dan siap digunakan sebagai objek kegiatan pariwisata berbasis arkeologi berupa budaya unggulan (the culture of excellence) masyarakat Banjar, Kalimantan Selatan, terutama untuk meningkatkan ekonomi kreatif masyarakat bawah yang berbudaya sungai di Kalimantan Selatan. Misalnya, jukung-jukung yang terdapat dan digunakan di situs (“situs kosong”) Pasar Terapung di daerah Muara Kuin Sungai Barito dan di daerah sungai desa Lok Baintan. Pasar terapung ini sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu. Mari kita mulai melihat betapa banyak pemikiran yang menarik dari latar belakang sejarah dan ethnografi dari keberadaan jukung tersebut.


PENDAHULUAN

Jukung tradisional merupakan produk budaya bendawi (tangible culture) manusia sejak masa prsasejarah ketika manusia baru menemukan moda transportasi air menjelang berakhirnya kala Neolitik, sesudah penggunaan rakit-rakit bambu. Dalam studi sejarah dan arkeologi peninggalan-peninggalan jukung atau perahu sebagai artefak benda bergerak (movable artifacts) dapat mengungkapkan peristiwa-peristiwa sosial, ekonomi, budaya dan politik dimasa lampau dalam lingkungan geografis etnik pendukungnya ataupun dalam lingkungan yang lebih luas yang berkaitan dengan fakta migrasi di masa lampau.

Jukung Sudur (the real dugout canoe) yang dianggap bentuk awal jukung sejak kala Neolitik, tenyata pada zaman logam (metal age), masih dibuat dan dipertahankan hingga masa kini, seperti di kawasan perairan lahan basah Nagara, Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Bentuk Jukung Sudur bisa dibuat dari ukuran kecil hingga besar. Untuk memperbesar muatannya, bisa ditambah kepingan papan di kedua sisi dinding jukung, yang disebut Jukung Bakapih dari Jukung Sudur. Jukung ini disebut Jukung Lumbung dan Jukung Rangkan . Ada yang bisa dibuat lebih besar, seperti Jung Banjar pada abad ke-16 Masehi. Selanjutnya pertumbuhan berbagai jenis dan macam jukung yang digunakan setempat juga mengikuti perkembangan sejarah. Dimana perubahan bentuk, jenis dan macam (tipe)nya tergantung dengan kebutuhan setempat dan faktor-faktor lainnya yang sangat mempengaruhi (internal dan ekstenal). Di antaranya karena masuknya penggunaan motor penggerak (motor vehicles) dan semakin langkanya bahan pohon kayu untuk jukung.

Setelah ditemukannya teknik memperbesar jukung oleh orang Banjar dan orang Dayak dengan teknik “mamanggang” atau ”mamaru” yang lebih baik pada abad ke-19 atau sebelumnya, bisa dibuat Jukung Patai (the historic dugout canoe) dan Jukung Bakapih yang lebih besar. Dari prototipe kedua jukung ini, bisa dibuat Jukung Tiung (1880-1890); dan Jukung Penes untuk digunakan dalam pelayaran laut antar pulau, yang punah sekitar 1950an. Jukung angkutan penumpang Kelotok Halus, jukung angkutan barang seperti Jukung Tiung, Jukung Raksasa, Jukung Kelotok Baangkut Barang; serta untuk menangkap ikan di laut, Jukung Nelayan muncul sekitar tahun 1960an. Sebagian besar jukung tersebut masih menggunakan lunas dari jukung Perahu Lesung. Tetapi ada juga yang tidak menggunakan lagi. Lunas jukung hanya dibuat dari tanpa dan dengan balokan kayu. Tipe-tipe jukung papan (planked boats) orang Banjar masa kini dibuat untuk keperluan sesuai dengan fungsi/kegunaannya. Berdasarkan prototipe masa lalu, lunas jukung kemudian hanya dibuat dari keping-keping papan dari kayu keras (seperti kayu Ulin) dengan dasar agak rata sedikit melengkung, tidak berbentuk “V” lagi. Kecuali pada sampung bagian depan dan belakangnya. Sedangkan jukung berukuran cukup besar, dibuat seperti Bus Air, Kapal Dagang, dan Taksi Air. Lunas jukung terbuat dari balokan kayu, dan dibuat berbentuk “plankbuilt”.

Berdasarkan kenyataan arkeologis dan historis, jukung-jukung orang Banjar masih banyak terdapat dan digunakan di perairan Kalimantan Selatan. Bahkan pasar terapung (floating markets) di daerah ini, diketahui sudah ada sejak 400 tahun yang lalu (Ditjen. Pariwisata 1991: 209). Diperkirakan pasar terapung dan juga di tebing sungai sudah ada pada tahun 1530 Masehi pada masa pemerintahan Sultan Suriansyah (Pangeran Samudera) yang terletak pada pertemuan Sungai Karamat dan Sungai Sigaling (Idwar Saleh 1981: 41, 115). Kemudian bergeser ke tepi sungai Barito di daerah muara Sungai Kuin menjelang akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17 Masehi. Pasar terapung di sungai Desa Lok Baintan, Kabupaten Banjar, mungkin sudah ada pada abad ke-16 tetapi bisa juga baru menjadi umum ketika perpindahan keraton Banjar ke kawasan Kayu Tangi Martapura sejak awal abad ke-17 (1612). Disamping karena tipe-tipe jukung tradisionalnya dan keberadaan pasar terapung tersebut bernilai sejarah dan arkeologi, maka sepantasnya bisa diusulkan sebagai budaya unggulan masyarakat Banjar sebagai lokasi pariwisata berbasis arkeologi. Masyarakatnya tentunya juga sangat memerlukan bantuan pembinaan dari pemerintah dan pihak-pihak terkait lainnya sebagai kegiatan peningkatan ekonomi kreatif kalangan masyarakat bawah.


JUKUNG BANJAR: PERSPEKTIF ARKEOLOGIS DAN SEJARAH

Tinggalan maritim berupa-bangkai-bangkai jukung (boatwreck) dari kayu yang tenggelam di bawah perairan atau yang tertimbun di bekas-bekas atau tepian pantai, atau sungai, atau yang sekarang menjadi daratan, merupakan situs sumberdaya arkeologi. Di Indonesia tinggalan arkeologis jukung pada masa prasejarah tidak ditemukan. Karena pengaruh faktor-faktor lingkungan yang tidak memungkinkannya untuk terkonservasi. Sedangkan pada masa sejarah, bangkai Jukung Sudur masih bisa ditemukan karena masih digunakan berkesinambungan hingga sekarang. Temuan bekas pecahan bangkai jukung dan dayungnya tanpa diketahui kronologinya, misalnya di bekas Sungai Palayarum, Desa Palajau, Batang Alai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (Elfa 2002: 13). Jukung Sudur yang berukuran panjang 9 meter dan lebar 0,6 meter berumur relatif 300 tahun, ditemukan di Sungai Desa Birayang, Kecamatan Batang Alai Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (Rafdiansyah 2006: 9). Lainnya ditemukan di Sungai Desa Kuangan, Kecamatan Amuntai Tengah, Kabupaten Hulu Sungai Utara, berupa Jukung Sudur berukuran panjang 10 meter dan lebar 1 meter, umurnya diprediksi hanya 60 tahun. Dibuat dari kayu Cangal dan diduga berasal dari luar daerah karena tipenya tidak mirip yang digunakan oleh warga setempat (Rah 2005: 3). Tipe Jukung Sudur di Kalimantan Selatan bisa disebut “tipe Nagara”, baik disegi jenis kayu, lubang tidak begitu dalam, dll. Sebaliknya untuk “tipe Lembah Barito”, lubang jukung lebih dalam, lebih panjang dan lebih besar.

Selain temuan di Desa Kaludan, Jukung Sudur panjang diketahui bangsa Cina pada tahun 1618 berdasarkan berita Cina “Tung Hsi Yang K’an”, ketika pelautnya mendatangi Sungai Barito (Groeneveld 1960: 108). Sebenarnya keberadaan Jukung Sudur di daerah ini, sudah ada dibuat karena kemampuan menebang kayu keras yang jelas dengan menggunakan peralatan besi. Antara lain karena berdasarkan adanya temuan tiang kayu Ulin di situs Candi Agung bertanggalan kronologi absolut dengan C-14, 708-748 Masehi (Kusmartono 2000: 13). Adanya Jukung Sudur beratap dan sumpitan (jelas dibuat dengan bor besi) suku Dayak terlihat pada relief Candi Borobudur yang berusia sekitar abad ke-9 (Petersen 2000: 123). Apalagi pembuatan dan penggunaan peralatan besi di pulau Kalimantan menurut Ave dan King (1986: 15) sudah ada pada abad ke-5 Masehi.

Sebagian besar temuan bangkai jukung atau perahu, khususnya terdapat di Sumatera, Riau, Bangka-Belitung dan yang lainnya, maupun di kawasan Asia Tenggara. Dari sini diketahui, sejak dari abad ke-3 hingga masa klasik abad ke-13 lunasnya berbentuk “U”, tetapi pada abad ke-14 mulai terlihat lunasnya berbentuk “V”. Bangkai jukung tersebut berasal dari berbagai bentuk kapal dari luar kawasan Nusantara. Teknik pembuatannya dari teknik ikat (abad ke-3 s/d 5), gabungan ikat dan pasak (abad ke-5 s/d 13), teknik pasak kayu (abad ke-14 s/d 15), dan gabungan teknik pasak kayu dan besi (abad ke-15 dan seterusnya). Bentuk lunas berbentuk “U” merupakan ciri hibrid tradisi Cina (Manguin 1980) yang menggunakan balokan kayu. Bedanya pada bentuk lunas “V” diberi lenggi (sampung, kepala perahu), dan merupakan perahu bertradisi Asia Tenggara. Sedangkan gabungan keduanya, bentuk tradisi Laut Cina Selatan (Koestoro 2005: 48-60).

Sebaliknya di Kalimantan Selatan, perkembangan tradisinya berbentuk lunas “U”, hanya karena menggunakan lunas dari jukung Perahu Lesung (dugout canoe). Meskipun sesudah abad ke-16, disebut Jukung Papan (Planked Boats). Dimulai prototipenya Jukung Bakapih (dengan lunas Perahu Lesung), Jukung Lumbung dan Jukung Rangkan. Pada awal abad ke-21, kemudian berkembang menjadi Jukung Papan (Planked Boats) biasa, tanpa lunas Perahu Lesung. Tipe jukungnya hanya diberi tajuk (frame), panggar (thwart) dan lantai (floor), tetapi lainnya ada diberi tambahan bingkai (gunwale) pada dinding atas jukung. Meski bingkainya ada yang tidak penuh seperti pada Jukung Hawaian. Dan setelah semakin langkanya jenis kayu untuk jukung, serta semakin majunya jenis motor penggeraknya, jenis dan tipe jukung dibuat dari bahan fiber-glass, besi, dan dari plywood menjelang akhir abad ke-20 Masehi. Misalnya speedboat (fiberglass), Longboat (flywood), Tugboat (besi), dan Bargas (besi). Hanya Bus Air, Kapal Dagang dan Taksi Air terbuat dari kayu.

FOTO 1

Tinggalan arkeologi yang ditemukan di kawasan sungai-sungai Kalimantan Selatan, khususnya dari hasil ekskavasi, ada yang menjadi “masterpiece” di peragakan di Museum Lambung Mangkurat, Banjarbaru. Di antaranya yang sangat dikenal ialah dari bentuk Perahu Lesung, dan Jukung Tambangan, jukung angkutan penumpang masa lalu orang Banjar. Jenis Perahu Lesung tertua di Indonesia ini ditemukan pada kedalaman 1 meter pada bulan Agustus 1994, ditepi Sungai Tarasi, Desa Kaludan Besar, Kecamatan Amuntai Tengah, Kabupaten Hulu Sungai Utara. Jukung berukuran panjang 14,90 meter, lebar 1,15 meter, dan dalam sekitar 32 cm. Perahu Lesung mampu menampung kira-kira 30 orang penumpang. Hasil analisa pertanggalan kronometris dengan menggunakan radio karbon C-14 terhadap kayu jukung dari kayu Cangal (Hopea sangal Korth. atau nama lainnya Neobalanocarpus heimii) berusia antara tahun 1.410-1.570 Masehi (Koestoro 1998: 18 – 24).

Sedangkan Jukung Tambangan ditemukan terbenam lumpur pada kedalaman 1,5 meter di Sungai Saka Raden anak Sungai Nagara, Desa Baulin Margasari, Kecamatan Candi Laras Selatan, Kabupaten Tapin pada bulan Juni 2009. Jukung Tambangan berukuran panjang 12,40 meter, lebar 1,34 meter, dan dalam 59 cm. Kondisi jukung 80 % baik, sebagian rusak dan pada sampung belakang jukung telah mengalami pelapukan (soiling) (Anonim 2010). Berdasarkan analisa C-14 di laboratorium PPGL (Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi dan Kelautan) Bandung, tipe jukung ini berumur absolut 1765-1825 Masehi, atau sekitar tengah abad ke-18 hingga awal abad ke-19 Masehi (Kom. pribadi dengan ibu Vida P.R.K., 8 Juli 2011). Diduga pada masa pemerintahan Sultan Tahmidullah atau Nata Alam (1761-1801) hingga Sultan Adam al Wasik Billah (1825-1857). Bandingkan misalnya dengan Jukung Salisipan (Vinta, Baroto, atau Kakap) yang muncul pada masa kesultanan Sulu (1768-1848) di Filipina bagian Selatan yang panjangnya 30-35 feets, digerakkan dengan dayung, tidak pakai atap, mudah memasuki sungai-sungai kecil dan pinggir pantai, dan digunakan untuk menangkap orang-orang untuk dijadikan budak. Kepala (sampung) dan dinding jukung berukiran (Warren 1985: 42-43, 45, 48).

Berdasarkan temuan “Jukung Sudur” di Sungai Terasi, desa Kaludan, terbukti tipe Jukung Bakapih sebenarnya sudah dibuat dan dikenal di daerah Kalimantan Selatan sejak abad ke- 15 atau ke-16 Masehi. Tetapi bisa juga dikatakan sejak abad ke-14 Masehi yll. Hingga pada tahun 1870, Jukung Lumbung terlihat masih digunakan, misalnya pada masa Perang Wangkang (Sjamsuddin 2001: 309). Pada pertengahan abad ke-16, muncul Jung Banjar yang digunakan angkutan antar pulau. Sekitar tahun 1596 Jung Banjar ini pernah dirampas Cornelis de Houtman di luar Teluk Banten (Koestoro 1998: 15). Sedangkan Perahu Pinisi baru muncul sekitar abad ke-17 (Masrury et al. 1994: 26-29).

Pada abad ke-17 kesultanan Banjar mengalami kejayaan. Banjarmasin sudah menjadi pelabuhan bebas sejak pertengahan abad ke-17, baik antar pulau maupun antar benua. Karena adanya pergeseran peranan pelabuhan di pesisir Jawa Timur ke daerah ini. Menurut Barra, banyak jung Melayu, Inggeris, Portugis, dll. berlabuh di Banjarmasin. Hingga abad ke-17, lada sebagai primadona komoditi, dan emas semakin meningkat produksinya. Menurut Schrieke (1955: 30) pelabuhan Banjarmasin menggantikan kedudukan Gresik (Ideham et al. (eds) 2003: 101, 108). Perahu-perahu layar samudera pada abad ke 16-17 sudah banyak dibuat oleh “pandai kapal” di Sungai Pandai Banjarmasin untuk dijual ke Jawa dan lainnya (Saleh 1981: 41). Memasuki awal abad ke-17, dilaporkan Sumatera pernah membeli jukung dari Banjarmasin, karena harganya murah, sambil untuk membeli madu lebah, padi, ikan kering, dan sebagainya. Demikian juga dilaporkan oleh Alex Dalrymple (1771: 50) suku Dayak Ida’an pernah membuat perahu untuk pergi ke Jawa (Roth 1980: 249).

Pada abad ke-17 berbagai jenis kapal layar besar diproduksi di daerah Nagara, Hulu Sungai Selatan (Saleh 1986: 6), karena terdapat banyak pandai besi yang mahir mengolah dan membuat peralatan besi. Lewat pertengahan abad ke-18, gergaji tangan dari besi sudah digunakan untuk membuat balokan dan papan dari jenis kayu keras seperti kayu Ulin, dsb.nya. Banyak kapal layar besar di buat di Banjarmasin (Soejatmi 1983), sedangkan di Lasem hanya dibuat jenis yang kecil (Sukendar 1998: 18, 83, 93), sehingga hal inilah yang menjadikan Mataram terkendala faktor logistik – terutama kapal, ketika ingin menguasai Banjarmasin (Ideham et al. (eds) 2003: 92-93). Perahu-perahu layar dari kayu mulai menghilang, karena masuknya kapal-kapal api dari besi bermesin tenaga uap, sekitar pertengahan abad ke-19 (Petersen 2000: 132).

Jukung Tambangan , diduga muncul sesudah Jukung Pandan Liris atau Jukung Bagiwas. Sehingga tipe jukung ini menjadi prototipe Jukung Tambangan (Triatno et al. 1998: 31). Tipe Jukung Pandan Liris ditemukan bangkainya berukuran panjang 6,9 meter dan lebar 1,03 meter di dasar sungai Desa Sepala, Kecamatan Danau Panggang, Kabupaten Hulu Sungai Utara (Triatno et al. 1998: 31-32, 54-55). Lunasnya tidak dari balokan kayu, keseluruhan merupakan dinding badan yang ditempelkan pada tajuk, berbentuk “V”. Pada saat ditemukan belum banyak terserang “soiling” oleh “kapang” sejenis siput air tawar, dan tidak adanya ukiran-ukiran (motif bayam raja, daun jaruju (Acanthus ilicifolius), sulur dan motif geometris), polos. Terutama pada sampung belakangnya, sedangkan pada Jukung Tambangan terdapat ukiran daun jaruju melayap.

Jukung Tambangan lebih umum dikenal. Jukung Pandan Liris disebut demikian karena hanya dibuat dan digunakan di Danau Panggang, Kabupaten Hulu Sungai Utara, dan di kawasan sungai dan rawa Nagara, Kabupaten Hulu Sungai Selatan disebut Jukung Bagiwas. Pada sampung muka dan belakang tipe Jukung Bagiwas ini terdapat ukiran sulur daun, warna coklat. Karenanya tipe jukung ini dianggap prototipe Jukung Tambangan menurut Triatno et al. (1998).

Apalagi di kawasan Sungai Nagara terdapat sebuah desa yang disebut Desa Tambangan, dulunya adalah desa pembuat/pengrajin Jukung Tambangan yang sangat dikenal. Di kawasan rawa/sungai Nagara keseluruhan, diketahui banyak pengrajin jukung. Misalnya pembuat Jukung Undaan dan Jukung Parahan (berasal dari kata “Vraag”, Belanda, ongkos yang harus dibayarkan) atau Jukung Gundul. Seperti pada jukung Bagiwas, kedua macam (tipe) jukung angkutan barang ini memiliki ukiran pada kedua sampungnya, berupa motif sulur daun memanjang, dengan warna coklat. Sedangkan pada Jukung Parahan lunasnya berupa balokan kayu memanjang didasar jukung (Triatno et al. 1998: 60). Untuk membuktikan Jukung Pandan Liris atau Jukung Bagiwas adalah prototipe dari Jukung Tambangan, diperlukan analisa C-14 pada bangkai Jukung Pandan Liris atau Jukung Bagiwas. Apakah lebih dahulu atau bersamaan, semasa dengan Jukung Tambangan.

Motif seni tatah atau ukir (seni tatah surut, relif dangkal/lapadan, dan seni tatah tembus/terawangan) disusul ukiran kaligrafi Islam, sangat berkembang di daerah Kalimantan Selatan diperkirakan pada akhir abad ke-19 hingga permulaan abad ke-20 Masehi (Saleh 1984: 43). Motif sulur dedaunan, berbagai jenis buah-buahan, bunga-bungaan, dan sebagainya, sebagai pola hias meski diduga berasal pada kala Perundagian (paleometalik) (Sukendar 1998: 161), dan muncul juga dimasa Hindu (Mardiana et al. 2002: 10, 13), kemudian muncul lagi dimasa Islam dengan hanya mengkhususkan pada pola hias tumbuh-tumbuhan, tidak berpola binatang karena dilarang. Meskipun dengan stelisasi yang penuh imaji.

Pada akhir abad ke-19 tersebut dan sesudahnya, motif ukiran hiasan muncul pada macam jukung dan bentuk rumah tradisional Banjar. Rumah adat Bubungan Tinggi Baanjung ditempati pertama kali oleh Sultan Tamjid (raja terakhir Banjar) di Sungai Mesa pada sekitar 1857-1859 (Saleh 1984: 5, 41). Rumah tersebut berakhir pembangunannya pada tahun 1871. Jukung Tambangan menurut Schwaner (1861: 71-77 dalam Sjamsuddin 2001: 269) terbuat dari kayu Ulin, sudah digunakan oleh para saudagar atau orang kaya, sekitar tahun 1843 -1884. Pertengahan abad ke-19, atap sirap dari kayu Ulin sudah digunakan dan diperdagangkan. Antara lain yang diproduksi di Dusun Hulu dan dijual atau dipertukarkan barter ke Banjarmasin. Surapati misalnya pada Maret 1858 pernah membawanya untuk keperluan pemerintah kolonial Belanda (Sjamsuddin 2001: 60). Adanya sirap untuk atap rumah, membuktikan hanya bisa dipasang dengan jenis paku besi, tidak dengan pasak kayu. Pembuatan Jukung Tambangan terutama dengan lunas tanpa perahu lesung, memerlukan keahlian khusus membuat “lunas mambuah balimbing”. Pembuatan Jukung Tambangan sengaja tidak menggunakan paku besi, tetapi dari pasak kayu Ulin (dowel technique). Penyusunan papan-papan untuk dinding jukung dengan cara “carvel built (susun rata)”. Disini letak seninya. Apalagi mereka sudah mengenal penggunaan bor, pahat dan gergaji kayu (handsaw) dari besi. Pasak kayu Ulin lebih tahan lama dibanding dari besi. Keahlian membuat jukung ini hanya bisa dibuat oleh ahlinya orang Banjar, bukan dari orang Dayak.

Penggunaan Jukung Tambangan dan rumah Bubungan Tinggi Baanjung tadinya barangkali banyak digunakan oleh golongan bangsawan, tetapi sesudah dihapusnya kerajaan Banjar pada tanggal 11 Juni 1860, terjadi pergeseran sosial, banyak bangsawan jatuh miskin, dan kedudukannya digantikan para saudagar atau orang-orang kaya. Pada masa perang Banjar (1859-1905), Jukung Tambangan pernah digunakan oleh para pejuang Banjar, antara lain ketika menyerang Belanda di Margasari pada 16 Desember 1861 malam, kemudian melarikan diri ke Sungai Jaya anak Sungai Nagara di kawasan Nagara (Saleh 1985: 20; Ideham et al. 2003: 202). Jukung Pandan Liris atau Jukung Bagiwas misalnya pernah digunakan oleh Tumenggung Jalil dalam pemberontakan Benua Lima melawan penjajah Belanda, 1859-1881 (Antemas 2004: 42). Jukung Pandan Liris, selain disebut “Tambangan”, juga belum ada ukiran. Jukung Pandan Liris banyak digunakan oleh orang kebanyakan. Sebaliknya Jukung Tambangan semula digunakan oleh kaum bangsawan dan orang kaya Banjar. Tetapi kemudian sejak awal abad ke-20 (paling lama menjelang akhir abad ke-19), sudah banyak digunakan untuk antar jemput penumpang yang bepergian, bertemu keluarga, kematian, perkawinan, dan sebagainya. Baik oleh orang kebanyakan, maupun oleh para bangsawan dan orang kaya, berduit, dll.

Jukung Tambangan yang sekarang mejadi “emblem” orang Banjar, sudah tidak terlihat lagi sekitar tahun 1950an di Banjarmasin (Saleh 1983: 6; Syarifuddin dan Kadir 1990: 73) dan sekitar tahun 1970an di Sungai Nagara, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (Petersen 2000: 133). Jukung-jukung Banjar sekarang ini selain jukung-jukung sudur yang masih digunakan di berbagai kabupaten, Hulu Sungai Selatan, Tapin, Banjar dll., dan jukung-jukung papan terbaru, juga motor boat dan ferry, adalah tipe (macam) jukung yang dibuat sejak lewat pertengahan abad ke-20 M.

Jukung – jukung masa kini, Jukung Hawaian, Alkon, Jukung Rombong, Kelotok Halus, Kelotok Baangkut Barang, Jukung Raksasa, Jukung Nelayan, dan Jukung Tiung. Jukung Hawaian, Kelotok Halus dan Klotok Baangkut Barang sebenarnya sudah ada sebelum tahun 1850an. Sedangkan Jukung Rombong diduga sudah ada mulai akhir abad ke-19, sebelum Jukung Tiung dan Jukung Penes (sudah punah) muncul (Petersen 2000: 132). Jukung – jukung tersebut mewarnai jukung-jukung di pasar-pasar terapung di Kalimantan Selatan sejak masa lalu.

Sesudah perahu-perahu Papan yang terbuat dari kayu Ulin, seperti Jukung Tambangan menghilang, kemudian muncul Jukung Tamban. Macam jukung ini merupakan bentuk nyata jukung batambit (plank-built boat), untuk angkutan penumpang yang bentuknya cantik (Petersen 2000: 154). Sedangkan Jukung Kuin merupakan Jukung Patai yang diberi kapih. Secara berangsur berbagai macam jukung tradisional lenyap tidak digunakan lagi karena didesak angkutan air modern yang menggunakan mesin diesel sebagai penggerak jukung. Jukung Patai yang masih digunakan tetapi dengan menggunakan mesin penggerak berbahan bakar minyak tanah atau kerosin adalah tipe (macam) Jukung Serdangan di Sungai Kusan Kabupaten Tanah Bumbu, yang disebut “katinting”. Tipe jukung ini dibuat dari kayu Halaban (Vitex pubescens Vahl.) dan kayu Bungur (Lagerstromea speciosa Pers.) Macam-macam jukung lainnya yang sudah punah di antaranya Jukung Talangkasan (prototipe Jukung Patai), Jukung Bagiwas, Jukung Tambangan, Jukung Babanciran, Jukung Pangkuh, Jukung Parahan, Jukung Gundul, Jukung Undaan, Jukung Kuin, Jukung Pangkuh, Jukung Tamban, dan Jukung Buntal (jukung sudur kecil, lebar dan terbuat dari kayu Jingah, Gluta renghas L.) (Saleh 1986: 17; Petersen 2000: 154). Selain Jukung Talangkasan yang sudah ada pada abad ke-16, jukung-jukung yang sudah punah tersebut di atas, muncul menjelang tengah atau akhir abad ke-19 Masehi, bahkan mungkin jauh sebelumnya.

Kelotok Halus untuk angkutan penumpang dan Kelotok Angkutan Barang masih banyak digunakan di kota Banjarmasin untuk angkutan barang kebutuhan penduduk. Misalnya untuk angkutan beras di pasar beras di Muara Kelayan Banjarmasin. Angkutan penumpang Longboats (motor boat) atau Jukung Taksi Kota sebenarnya bisa dipromosikan untuk angkutan penumpang di sungai Martapura yang berjarak tempuh ± 32 km, demikian juga speedboats. Jukung-jukung tersebut dianjurkan bisa mempunyai terminal di pinggiran sungai di depan kantor Gubernur Kalimantan Selatan. Selain untuk alat transportasi alternatif sebagai solusi mengurangi kemacetan di jalan raya antar kelurahan, juga bisa melayani para wisata domestik dan mancanegara ke pasar terapung, dan atau wisata sungai lainnya, yang berangkat pagi-pagi sekali.


KLASIFIKASI JUKUNG BANJAR

Berdasarkan temuan arkeologi bangkai jukung (boatwrecks), sejarah (terdapatnya berbagai macam/tipe jukung yang sudah punah), dan berbagai jenis macam jukung yang masih dibuat dan digunakan di perairan sungai-sungai Kalimantan Selatan, ternyata bisa dibuat klasifikasi jukung tradisional Banjar, atas bentuk (form), jenis (kind) dan macam (tipe) (Mawardi 2005: 266-268). Khusus untuk jukung papannya (baik berlunas perahu lesung maupun tidak), papan-papan dinding jukungnya dibuat secara clinker-built (susun tindih), carvel-built (susun rata), dan gabungan keduanya. Tipe jukungnya sekarang ini terlihat dihiasi cat warna warni, meskipun tanpa ada lagi hiasan ukiran relief, dan sebagainya.

Klasifikasi ini dibuat atas jukung-jukung yang hanya dibuat dari bahan pohon kayu, sedangkan yang dibuat dari bahan fiberglass, besi, dan flywood atau dari bahan lain (laminasi) tidak termasuk. Hal ini ditekankan karena sebutan jukung disini, meskipun untuk semua tipe jukung tetapi diutamakan bagi yang dibuat dari bahan kayu. Orang Dayak dan orang Banjar dalam bahasa lokalnya (indigenous knowledge) menamakan jukung untuk semua tipe yang terbuat dari kayu. Dalam bahasa Austronesia, disebut “d’u(n)kung”. Berbagai jenis jukung yang bahan dasar lunasnya dari Perahu Lesung bisa dikatagorikan sebagai jukung Barito atau jukung Lembah Barito, yang meliputi wilayah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Meskipun demikian berdasarkan temuan arkeologi bangkai jukung dan runutan sejarah, serta paradigma kewilayahan, jukung-jukung yang sudah punah, yang masih terdapat dan digunakan di wilayah ini maka bisa saja merupakan jukung tradisional orang Banjar. Berdasarkan kekhasan dari sejarah, jukung papan yang dibuat dari tanpa lunas maupun dengan lunas “kerongkong jukung” yang dibuat disepanjang Sungai Nagara merupakan tradisi pembuatan jukung Banjar (Petersen 2000: 19), sejak abad ke-16 Masehi dan sesudahnya. Pandai kapal pembuat Perahu Pinisi dari Sulawesi Selatan memasuki pantai Tenggara Kalimantan Selatan mulai membuat perahu tersebut dengan bahan kayu setempat seperti dari kayu besi (kayu Ulin, Eusideroxylon zwageri T&B) yang banyak tersedia disana, baru sekitar lewat abad ke-17 Masehi.

Klasifikasi jukung tradisional Banjar tersebut adalah sebagai berikut:

1. Bentuk jukung Perahu Lesung (hollowed out dugout): terdiri dari 2 jenis,

a. Jenis Jukung Sudur: bakal jukung dibuat dari setengah batang pohon (boats made of a half of cloven trunk). Dibentuk dengan cara mengeruk tanpa memperbesar jukung (hollowed out but without expanded over fire), dan dibentuk rupa jukung (out side shaping). Jukung Sudur termasuk Perahu Lesung yang tidak diberi tambahan apa-apa (Petersen 2000: 153). Terdapat 2 jenis ukuran:
- ukuran besar : tipe Jukung Anak Ripang, dan Jukung Paramuan
- ukuran kecil : tipe Jukung Sudur Biasa, dan Jukung Kapahumaan.
Selain Jukung-Jukung Sudur dari kayu Bangkirai Sabun (fam. Dipterocarpaceae) dan kayu
Rasak (Vatica cupularis) yang masih dibuat dan digunakan di kawasan rawa Nagara,
Kabupaten Hulu Sungai Selatan, juga masih dibuat di Sungai Martapura, Kabupaten Banjar yang terbuat dari kayu Halaban (Vitex pubescens Vahl.) atau jenis kayu hutan lainnya yang digunakan untuk Jukung Paiwakan dan Jukung Kapahumaan. Lainnya di Kabupaten Tapin, dibuat dari bahan kayu Bulan (Fagraea crenulata Maing.), kayu Lanan (shorea curtisii), kayu Balangiran (Shorea balangeran Korth.), kayu Kapur Naga (Callophyllum saulattri Burm.F), kayu Taras Jingah (Melanorrhoea sp.) dan sebagainya.

b.Jenis Jukung Patai: bakal jukung dibuat dari sebatang pohon utuh, dikeruk,dibentuk rupa, dan dipanggang di atas api (boats made over a full cloven trunk, hollowed out, outside shaping and expanded over fire). Ada 2 jenis ukuran, yaitu:
- Jenis ukuran besar: tipe Jukung Ripang, Jukung Ripang Hatap, Perahu Pelanjaan, Jukung Getek, Jukung Patai besar, Jukung Pahumbingan, Jukung Pamadang, Jukung Serdangan dan Jukung Pambarasan.
- Jenis ukuran sedang atau kecil: tipe Jukung Beca Air, tipe Jukung Paunjunan, jukung
Panyudiran, Jukung Panyiapan dan tipe Jukung Kapahumaan.

Jukung Patai juga memiliki prototipe. Misalnya Jukung Talangkasan pada abad ke- 16 yang digunakan Pangeran Samudera (Antemas 2004: 41). Jukung Patai tersebut dibuat dengan menakik sebatang pohon seutuhnya yang tidak terlalu besar (juga tidak dibelah dua bagian seperti membuat Jukung Sudur) lalu dibuka secara sederhana dengan menggunakan api (modestly expanded over fire after hollowed out), diberi sampung/kepala seperti Jukung Patai, dan mungkin sudah diberi ukiran hiasan. Bentuknya lebih ramping dan lebih halus pembuatannya daripada Jukung Sudur biasa, dengan alat-alat besi yang lebih maju yang sudah dikenal mereka. Dengan kata lain, pada masa abad ke-16 sudah ada ditemukan cara membuka jukung dengan cara mamanggang atau mamaru sederhana, meskipun belum sebagus pada abad ke-19 M. Tetapi lebih maju daripada abad ke-6 Masehi. Cara pembuatan jukung (dug out) seperti ini menurut Petersen (2000: 41) mungkin sudah dilakukan sejak abad ke-6 Masehi dengan peralatan besi yang baru dikembangkan.

2. Bentuk Jukung Bakapih, merupakan bentuk gabungan antara bentuk Perahu Lesung (jenis Jukung Sudur dan Jukung Patai) dan bentuk Jukung Batambit, dengan hanya menambah satu keping papan/rubing/kapih pada kedua sisi dinding jukung. Pada awalnya jukung ini disebut Jukung Bakapih, tetapi bisa juga disebut sebagai bentuk Perahu Lesung. Tetapi jukung ini dianggap prototipe bentuk Jukung Batambit/Jukung Berubing (planked boats). Jenis Jukung Sudur yang “bakapih” misalnya tipe Jukung Lumbung dan Jukung Rangkan. Artefak Jukung Lumbung misalnya yang ditemukan di Sungai Tarasi, Kabupaten Hulu Sungai Utara. Jenis Jukung Sudur Bakapih misanya tipe Jukung Paiwakan, dan Jukung Kapahumaan. Sedangkan Jenis-jenis Jukung Patai yang “bakapih” misanya tipe Jukung Hawaian, Jukung Kuin, Jukung Paramuan, Jukung Pamadang, Jukung Rombong, dll.

3. Bentuk Jukung Batambit, merupakan bentuk Perahu Papan (planked boats). Bantuk jukung ini dibuat dengan menyusun papan di atas lunas atau tanpa lunas dengan cara susun rata (carvel built) dan atau cara susun tindih (clinker built) dengan menggunakan pasak kayu atau besi. Dapat dibedakan atas beberapa jenis, (a) jukung dengan lunas dari balokan kayu (wood beam as keelson) terdiri atas tipe Jukung Tambangan, Perahu Parahan atau Perahu Gundul, Perahu Dagang (Nagara), dan Jukung Undaan; (b) jukung tanpa lunas dari balokan kayu, merupakan jenis jukung yang dindingnya hanya ditempelkan pada tajuk (frame) atau gading-gading dan pada sampung/kepala perahu, sedangkan bagian lunasnya disatukan berbentuk “V”, misalnya tipe Jukung Pandan Liris (prototipe Jukung Muara Tapus) atau Perahu Bagiwas (prototipe Jukung Tambangan).Atau berbentuk “U” yang disebut “jukung”. Keduanya prototipe jukung orang Banjar masa kini, yang digunakan sesuai dengan fungsi/kegunaannya. Tipe yang disebut “jukung” (bisa juga berdasarkan nama tempat) kebanyakan dari kayu ulin di kawasan Nagara, Sungai Amandit dan Sungai Balimau, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, dan beberapa kabupaten lainnya seperti di Barito Kuala, Banjar, dan sebagainya.; (c) jukung dengan lunas kerongkong jukung, baik dari Perahu Lesung (just hollowed out) atau Jukung Sudur besar biasa maupun dari jukung yang sudah diperbesar dengan cara memanggang (expanded dugout). Kedua dinding jukung diberi papan-papan, misalnya yang berukuran besar tipe Jukung Tiung, Jukung Raksasa, Jukung Baangkut Barang, dan Jukung Nelayan dan yang berukuran sedang atau kecil, tipe Jukung Kelotok Halus dan Kelotok Bangkut Barang.


JUKUNG BANJAR: APRESIASI MASYARAKAT

Penghargaan (apresiasi) etnis Banjar terhadap jukung tradisional Banjar karena mempunyai ikatan kuat dengan budaya sungai. Ini terlihat dari masih bertahannya sumber budaya sungai tersebut selama ratusan tahun. Meskipun sebagian sudah ada yang punah, akibat: 1) terdesak modernisasi moda transportasi air; 2) makin terbatasnya pohon-pohon kayu untuk bahan pembuatan jukung disebabkan eksploitasi hutan; 3) tidak ada lagi ahli pembuat perahu tradisional, seperti Jukung Tambangan, dan tipe-tipe lainnya yang semacam; 4) perubahan kehidupan ekonomi dari tingkat subsistensi menjadi konsumtif; 5) terbukanya akses jalan darat dengan menggunakan kendaraan bermotor roda dua dan roda empat; 6) kemajuan teknologi informasi; 7) terbukanya kesempatan kerja baru; dan 8) meningkatnya pendidikan masyarakat.

Dari sejarah diketahui, kebudayaan sungai etnik Banjar terbentuk karena adanya kebutuhan adaptasi hidup dan interaksi sosial, ekonomi, budaya, dan politik dengan budaya luar. Secara sosiokultural etnis Banjar bersifat terbuka. Namun, dasar tipe Perahu Lesung dari masa prasejarah tetap dipertahankan, karena masih sesuai dengan kebutuhan adaptasi terhadap lingkungan alam setempat dan ekonomi agraris. Jukung masih jelas memperlihatkan inovasi lokal ciri-ciri ketradisionalannya (autotochnous), khas budaya Banjar. Jaring-jaring kehidupan sosial etnis Banjar sebagai pengguna jukung tradisional dalam kehidupan budaya sungai masih menjadi jatidiri. Lalu jika jukung sebagai benda budaya menghilang, maka identitas (jatidiri) etnis Banjar juga juga tidak ada lagi ?. Jukung tradisional Banjar menurut hemat kami berkembang dalam satu paradigma satu wilayah Lembah Barito dan menjadi ciri khas bersamanya, tetapi khusus orang Banjar, jukung papan (planked boats) merupakan unsur budaya yang lebih menonjol. Untuk ini diperlukan penelitian kekhasan yang lebih mendalam.

Upaya meningkatkan apresiasi dan kepedulian masyarakat Kalimantan Selatan terhadap jukung tradisionalnya dapat dimantapkan dengan cara pemanfaatan sekaligus pelestarian sumber budaya sungai tersebut, terutama keberadaan pasar-pasar terapung yang bernilai arkeologi untuk pariwisata. Hal ini bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah tetapi juga kewajiban masyarakat (lembaga swadaya masyarakat atau pemerhati secara perseorangan). Dalam hal ini pemerintah pusat dan daerah beserta para pemangku kepentingan (stake-holders) lainnya, memfasilitasi ketahanan budaya jukung tradisional yang berkaitan dengan sumberdaya budaya sungai lainnya secara keseluruhan, dan menjadikannya sebagai budaya unggulan (the culture of excellence) etnis Banjar.

Peningkatan apresiasi dan kepedulian tersebut di atas dapat dilakukan dengan cara menyampaikan informasi hasil interpretasi tentang jukung tradisional Banjar yang bersumber pada hasil-hasil penelitian, karya-karya tulis, dan keadaan sebenarnya di lapangan sebagai budaya material unggulan, yang bersangkutan dengan pemanfaatan dan pelestarian. Pemanfaatan tidak hanya untuk pengembangan sebagai objek pariwisata berbasis arkeologi, juga dalam upaya peningkatan ekonomi kreatif masyarakat pendukung budaya sungai tersebut yang ternyata sanggup bertahan lebih dari 400 tahun. Lokasi-lokasi Pasar Terapung di Kalimantan Selatan bisa dikatakan merupakan situs arkeologi yang masih memiliki benda budaya jukung tradisional.

Dengan kata lain, hasil interpretasi tentang jukung tradisional Banjar dapat dijadikan salah satu instrumen untuk meningkatkan apresiasi masyarakat. Hasil interpretasi tersebut dapat disampaikan lewat pemanduan di lapangan dan di museum; lewat pameran, leaflet, buku-buku hasil penelitian dan karya tulis, audio-video, internet dalam bentuk website ataupun program-program multimedia lainnnya; lewat seminar, simposium atau lokakarya tentang jukung tradisional pada tingkat lokal, nasional, dan internasional; lewat replika jukung, tiruan jukung, acara lomba jukung (tipe Jukung Pelanjaan) dan pawai jukung tradisional asli, Museum Jukung Tradisional Banjar, termasuk objek wisata terkait lokasi-lokasi pembuatan jukung di antaranya yang terdapat 3-5 km. dari muara Sungai Kuin, di Pulau Alalak di Desa Pulau Suwangi dan Desa Pulau Sugara, dsb.nya. Dalam hal ini program pemanfaatan dan pelestarian harus menunjukkan hubungan resiprokal. Pemanfaatan sumberdaya budaya dapat dilakukan melalui pemanfaatan fisik (pariwisata domestik maupun untuk kemasan mancanegara) dan pemanfaatan non-fisik (berkaitan dengan makna budaya lokal Banjar).

Hasil interpretasi tersebut di atas, tentunya bertujuan untuk meningkatkan kepariwisataandi daerah ini, apalagi ekonomi kreatif masyarakatnya meski berpendapatan rendah tetapi terbukti tetap bertahan turun temurun sejak ratusan tahun yang lalu. Disamping jual beli dengan jukung, mereka juga ada yang hidup sebagai petani, nelayan sungai, peternak kecil, pengrajin, pekebun dsb.nya disekitar pinggiran sungai-sungai. Pariwisata Pasar Terapung disegi pelestarian dan pemanfaatannya akan lebih menonjol jika ditangani secara serius dan bertanggung jawab, karena bisa dijadikan situs arkeologi (seperti Sangiran, dsb.nya) untuk objek pariwisata, baik daerah maupun nasional, bahkan dunia. Antara lain dengan meningkatkan pengadaan investasi pasar terapung sebagai lokasi situs pariwisata berbasis arkeologi jukung tradisional. Tujuannya bernilai komersial sebagai penghasil devisa, objek penerimaan pajak dan peningkatan penanaman modal untuk memperluas kegiatan usaha dan menciptakan lapangan kerja baru. Sehingga objek pariwisata memiliki nilai jual, menghasilkan uang, dengan adanya sentuhan kreativitas bisa mengembangkan keberhasilan ekonomi kreatif dibidang bisnis pariwisata. Kreativitas pengembangan lokasi wisata, tentunya berbeda dengan di Thailand, harus lebih menunjukkan “ke naturalan dan keasriannya”, khas budaya sungai Banjar.

Nilai kealamian atau kenaturalan pasar-pasar terapung di Kalimantan Selatan ini tentunya memerlukan pelestarian, pembinaan, dokumentasi (film atau video dokumenter), dll. meski 1terbukti mampu bertahan sejak ratusan tahun yang lalu, terutama karena didukung oleh perekonomian kerakyatan (grass root economy) yang khas kehidupan budaya perairan sungai yang hanya ada di daerah ini.

Di situs ini bisa dibangun perekonomian kerakyatan melalui kiat-kiat kreatifitas bisnis yang mampu meningkatkan konstribusi, terutama dengan sosialisasi industri kreatif. Caranya mengkaitkan bisnis industri pariwisata dengan spektrum industri-industri kreatif lainnya yang terkait, menterpadukannya dengan bidang-bidang : periklanan, artsitektur, perdagangan barang seni, seni kerajinan, desain industri, desain busana, video, film dan fotografi, permainan interaktif, musik, seni pertunjukan, penerbitan dan percetakan, komputer dan peranti lunak, televisi dan radio, dll. Pengembangan ekonomi kreatif disini, bersangkutan dengan kiat-kiat berbisnis tersebut di atas, dan situs sebagai objek pariwisata merupakan produk dan mempunyai potensi. Diperlukan kecepatan dan percepatan, kemampuan beradaptasi, mencoba ide-ide baru tidak hanya mengandalkan “market research”, berinovasi, berkolaborasi, penggerak distribusi, tetap fokus pada pangsa pasar, dan multidisipler (dengan mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu seperti teknologi, konten, grafis, layanan dan telekomunikasi). Ekonomi yang bisa dikembangkan di situs pasar terapung, tentunya dengan identitas ciri-ciri tradisionalnya, dan bisa memberikan konstribusi terhadap ekonomi masyarakat, khususnya pendapatan penduduk di situs dan sekitarnya, terciptanya lapangan kerja baru, memberikan Pendapatan Asli Daerah (PAD), dll. Terutama pengadaan sarana dan prasarana yang sesuai dan terarah dengan pengembangan intelektual pada usaha-usaha di bidang kreativitas ekonomi kreatif yang cepat bertumbuh kembang. Di lokasi ini, terutama harus ada pelestarian dan pemanfaatan berbagai macam (tipe) jukung tradisional yang bernilai sejarah dan arkeologi, beserta tempat-tempat pembuatan dengan pengrajinnya, seperti di situs pulau Alalak sekitar 3-4 km dari situs masyarakatnya jelas memiliki kearifan pasar terapung Muara Kuin di Sungai Barito. Pemanfaatan, pelestarian dan pengembangan situs pasar terapung di Kalimantan Selatan, tentunya sangat berbeda dengan situs-situs lainnya seperti situs Sangiran yang sangat memerlukan berbagai zonasi, karena bendawinya tetap “hidup (living)”, dengan mana para pelaku pemanfaatan bendawi budaya mampu bertahan survive hingga sekarang meskipun berlangsung sejak ratusan silam. Zonasi nya terpadu dengan lingkungan permukiman yang sudah ada dengan perekonomiannya, singkron dan saling bersinergi satu sama lainnya. Jukung dalam kehidupan budaya dan perekonomian masyarakatnya jelas memiliki kearifan masyarakat yang bernilai tinggi, dan tersendiri. Event pariwisatanya bisa disatukan dengan wisata sungai, juga dengan event-event lainnya yang sudah dijadwalkan. Misalnya, wisata sungai Pulau Kaget, Festival udaya Pasar Terapung yang berpusat di jalan Sudirman Banjarmasin, Wisata Budaya Religi di Kuin, Kampung Sungai Jingah (kuliner)-Surgi Mufti, dan sebagainya.

Mengenai keberadaan situs pasar terapung ini pernah diungkapkan oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata R.I., Jero Wacik, ketika membuka acara Festival Borneo 2005, event seni, budaya dan pariwisata di Gedung Sultan Suriansyah 21-23 Nopember 2005. Karena menurut dia pasar terapung di Kuin Utara, mempunyai nilai jual menjanjikan di bidang pariwisata domestik dan mancanegara. Karena merupakan salah satu kekhasan Indonesia di mata dunia, selain di Thailand. Karenanya perlu dikelola dan ditata secara baik, lebih indah dan lebih rapi. Diperlukan pembinaan pemberian fasilitas penunjang, transfortasi, penginapan/hotel, tempat berjualan, dsb.nya (Rah 2005: 3). Dipinggiran Sungai Barito di kawasan pasar terapung, dan di pinggiran Sungai Kuin, perlu diberi fasilitas “lanting-lanting” untuk tempat berjualan cendera mata, restoran, dll. Demikian juga usaha-usaha kreativisasi meningkatkankan pasar terapung di Lok Baintan.

Secara garis besar, ekonomi kreatif yang bisa dikembangkan di situs ini berdasarkan Instruksi Presiden No. 6 Tahun 2009 tentang Pengembangan ekonomi kreatif harus memiliki dan mendukung : (a). dampak sosial (peningkatan kualitas hidup dan pemerataan kesejahteraan); (b). citra dan identitas sukubangsa dan bangsa (kepariwisataan, ikon nasional, dan membangun warisan budaya dan nilai lokal); (c). iklim bisnis (penciptaan lapangan usaha dan mampu mendukung sektor lainnya); (d). konstribusi ekonomi (PAD dan PDB: Produk Domestik Bruto, ekspor (devisa) dan lapangan kerja); (e). inovasi dan kreativitas (penciptaan nilai ide dan gagasan); (f). sumberdaya terbarukan (berbasis pengetahuan dan kreativitas, dan green community) (Anonim tt. : 3-6).


PENUTUP

Berbagai macam (tipe) jukung tradisional Banjar yang masih terdapat di situs Pasar Terapung Kuin di Banjarmasin dan di Lok Baintan di Martapura, ternyata memiliki ciri-ciri dengan bentuk, jenis dan tipe jukung yang pernah ada di masa lalu, pada masa prasejarah hingga sejarah, baik yang masih ada maupun yang sudah punah, akibat berbagai faktor yang berpengaruh, internal maupun eksternal. Sehingga tetap memiliki kesimbiotikan bentuk, jenis dan macam (tipe) jukung yang prototipenya ada sejak masa lalu. Kesimbiotikan tersebut dilihat dari berbagai prototipe yang tumbuh berkesinambungan, dari Perahu Lesung (Jukung Sudur dan Jukung Patai), Jukung Bakapih, Jukung Batambit (dengan lunas dan tanpa Perahu Lesung) hingga sekarang ini. Apalagi tradisinya masih tetap menggunakan jenis-jenis kayu yang sama digunakan pada masa lalu, yang dipilih dari segi kelas keawetan kayu (wood durability class) dan kelas kekerasan kayunya (wood strength class), yang tumbuh alami dan asli. Di antaranya kayu Ulin (Eusideroxylon zwageri, fam. Lauraceae), Cangal (Neobalanocarpus heimii), Benuas/ Bangkirai (Shorea laevis), Mada Hirang (Depterocarpaceae family), Balangeran (Shorea balangeran), Meranti (Shorea curtisii), dan sebagainya.

Pasar-pasar terapung yang ada sekarang merupakan situs arkeologi yang sudah ada sejak masa lalu, dan bernilai sejarah hingga masa kini, sehingga benda budaya jukung tradisionalnya, beserta kearifan masyarakatnya bisa dipertahankan, dilestarikan dan dimanfaatkan untuk industri pariwisata berbasis arkeologi. Sekaligus menciptakan kreativitas pembangunan perekonomian pro rakyat, untuk kemakmuran dengan inovasi, yang bercirikan ekonomi kreatif masyarakat setempat dalam mempertahankan hidup dan kehidupannya yang sudah berlangsung sejak ratusan tahun yang silam. Tujuannya penyelamatan identitas budaya lokal sebagai bagian budaya nasional secara nyata. Sehingga situs ini bisa dianjurkan dan diharapkan menjadi situs jukung yang bernilai nasional dan dunia, dimasa sekarang maupun dimasa akan datang. Dengan sapta pesona wisata, aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah tamah, dan memberi kenangan. Sebagai situs arkeologi merupakan modal bermanfaat untuk pengembangan nilai-nilai budaya bangsa, dan sebagai objek pariwisata merupakan andil dalam menyelamatkan dan melestarikan warisan budaya. Seperti situs Sangiran dan sebagainya. Wallahu ‘alam.


DAFTAR PUSTAKA

Anonim tt. Membangun Perekonomian Indonesia Melalui Industri Kreatif. Leaflet Pusat Informasi Perekonomian. Badan Informasi Publik. Kemenkominfo. RI.

Anonim 3 Pebruari 2010. Perahu Tambangan Tambah Koleksi Museum lambung Mangkurat. Barito Post

Antemas, Anggraini 2004. Jukung Sudur, Perahu Purba Kalimantan dalam buku Mengenal Flora, Fauna dan Seni Budaya Banjar. Amuntai: Ananda Nusantara, hlm. 35-53

Ave, JB. Dan Victor T. King 1986. Borneo-the People of the Weeping Forest: Tradition and Change in Borneo. Leiden: Rijksmuseum voor Volkenkunde

Ditjen. Pariwisata 1991. Indonesia. Jakarta: Depparpostel.

Elfa, Meldy Muzadi 2002. Sejarah Mesjid Keramat Palajau Barabai. Barabai: Badan Pengelola Nesjid Keramat

Groeneveldt, WP. 1960. Historical Notes on Indonesia and Malaya: Compiled from Chinese Source. Jakarta: CV. Bharatara

Gunadi, Kasnowihardjo 2004. Situs-Situs Kosong: Satu Realita dan Solusinya. Bulletin Arkeologi Naditira Widya No. 12 April. Banjarbaru: Balai Arkeologi Banjarmasin, hlm. 74-82

Han, 6 Oktober 2005. Nelayan Kuangan Temukan Jukung Tua. Banjarmasin Post: 16

Ideham, M. Suriansyah, H. Syarifuddin, HA. Gazali Usman, M. Zainal Arifin Anis, dan Wajidi (eds.) 2003. Sejarah Banjar. Banjarmasin: Balitbangda. Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan.

Ideham, M. Suriansyah, H. Syarifuddin, M. Zainal Arifin Anis, dan Wajidi (eds.) 2005. Urang Banjar dan Kebudayaannya. Banjarmasin: Balitbangda. Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan

Kostoro, Lucas Pertanda 1998. Jukung Sudur, Koleksi Masterpiece Museum Negeri Provinsi Kalimantan Selatan Lambung Mangkurat. Banjarbaru: Museum Lambung Mangkurat

Kostoro, Lucas Pertanda 2000. Bangkai Perahu Sebagai Objek Arkeologis. Catatan Tentang Jukung Sudur Koleksi Museum Negeri Provinsi Kalimantan Selatan “Lambung Mangkurat”. Bulletin Arkeologi Naditira Widya No. 4. Banjarbaru: Balai Arkeologi Banjarmasin, hlm. 46-63

Koestoro, Lucas Pertanda 2005. Rempah dan Perahu di Perairan Sumatera Dalam Ungkapan Arkeologis dan Historis. Jurnal Arkeologi Indonesia No. 3, September. Jakarta: IAAI, hlm. 41-64

Kusmartono, Vida Pervaya Rusianti 2000. Posisi Candi Laras dan Candi Agung Pada Kerangka Sejarah Budaya Masa Klasik di Kalimantan Selatan. Bulletin Arkeologi Naditira Widya No. 4. Banjarbaru: Balai Arkeologi Banjarmasin, hlm. 11-17

Mardiana, Siti Hadijah dan Zailani 2002. Ragam Hias Pada Benda-Benda Kuningan. Seri Penerbitan Khusus No. 46. Banjarbaru: Museum lambung Mangkurat

Masrury, MS. Dan Abbas 1994. Pinisi Perahu Khas Sulawesi Selatan. Ujungpandang: BP2 Permuseuman Sulawesi Selatan

Mawardi, H. Achmad 2008. Asal-Usul, Jenis dan Ciri Khas Perahu Tradisional Banjar, Sebagai Objek Wisata Budaya Sungai di Kalimantan Selatan dalam Proceding PIA X, Yogyakarta 26-29 Juni 2005. IAAI, hlm. 252-279.

Petersen, Erik 2000. Jukung Boats from the Barito Basin, Borneo. Roskilde Denmark: The Viking Ship Museum

Rafdiansyah, 29 Mei 2006. Jukung Sudurpun Terdiam. Spirit Kalsel: 9.

Rah, 28 November 2005. Menteri Minta Benahi Pasar Terapung. Spirit Kalsel: 3

Roth, Henry Ling 1980. The Natives of Sarawak and British North Borneo. Vol. I-II. Kualalumpur: University of Malaya Press

Saleh, M. Idwar 1981. Banjarmasih. Banjarbaru: Museum Lambung Mangkurat

Saleh, M. Idwar 1984. Rumah Tradisional Rumah Bubungan Tinggi. Banjarbaru: Museum Lambung Mangkurat

Saleh, M. Idwar 1985. Lukisan Perang Banjar. Banjarbaru: Museum Lambung Mangkurat

Saleh, M. Idwar 1986. Sekilas Mengenai Daerah Banjar dan Kebudayaan Sungainya Sampai Akhir Abad-19. Banjarbaru: Museum Lambung Mangkurat

Sjamsuddin, Helius 2001. Pegustian dan Tumenggung. Akar Sosial, Politik, Etnis dan Perlawanan di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah 1859-1906. Tesis Doktor, Jakarta: PT. Balai Pustaka

Sukendar, Haris 1998. Perahu Tradisional Nusantara. Jakarta: Depdikbud. R.I.

Syarifuddin 1996. Perahu Banjar. Banjarbaru: Museum Lambung Mangkurat

Syarifuddin dan M. Saperi Kadir 1990. Mengenal Koleksi Museum Negeri Propinsi Kalimantan Selatan Lambung Mangkurat. Banjarbaru: Museum Lambung Mangkurat

Triatno, Agus, Siti Hadijah dan H. Syarifuddin 1998. Perahu Tradisional Kalimantan Selatan. Banjarbaru: Museum Lambung Mangkurat

Warren, Jim 1985. The Prahus of the Sulu Zone. Brunei Museum Journal Vol. 6 No. 1. Brunei Darussalam: The Brunei Museum.


*MAKALAH PIA 2011

Penerapan Ilmu Pengetahuan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya Dalam Perlindungan Situs Arkeologi

Tinggalkan komentar

Oleh: Ida Bagus Sapta Jaya, S.S.M.Si


Abstrak

Manfaat Penerapan Ilmu Pengetahuan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya, dalam perlindungan situs arkeologi adalah sangat positif bagi pengembangan disiplin ilmu arkeologi. Jurusan arkeologi yang memanfaatkan peninggalan purbakala sebagai objek kajian ilmunya, maka para mahasiswa di jurusan arkeologi diwajibkan memahami aturan hukum yang mengatur benda cagar budaya dalam pemanfaatannya dan pelestariannya.

Kasus kerusakan benda cagar budaya yang disebabkan oleh tindakan manusia seperti misalnya kasus pencurian, pemalsuan, pelelangan, dan perusakan benda cagar budaya yang marak akhir-akhir ini dengan dapat diketahui dari media masa/internet, dapat dicegah dengan mengetahui sangsi hukum yang dapat diterima oleh pelaku baik material maupun pidana. Pemahaman yang baik mengenai Undang-Undang RI Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya dapat menekan sedini mungkin kerusakan peninggalan purbakala, dan dapat diupayakan pelestariannya di masa kini dan di masa yang akan datang.

Penjabaran Undang-Undang RI Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya di dalam makalah ini bertujuan untuk mengantisipasi kasus-kasus kerusakan benda cagar budaya. Pasal-pasal yang dikaji dan dianalisis adalah pasal-pasal mengenai pelindungan, pemanfaatan, pelestarian, dan pasal hukum pidana yang menegaskan hukuman pidana baik material maupun pidana dengan ancaman hukuman bagi pihak-pihak yang melakukan perusakan benda cagar budaya.


Abstraction

Benefit Applying Of Science Law Republic Of Indonesia Number 11 Year 2010 About Cultural Pledge, in protection of archaeology situs is very positive to development of archaeology science discipline. Archaeology majors exploiting ancient ommission as its science study object, hence all student in archaeology majors obliged to comprehend law order arranging cultural pledge object in its exploiting and continuation of him.

Case damage of cultural pledge object which because of human being action like for example theft case, forgery, auction, and mutilation of cultural pledge object which is marak recently earned known from media a period to internet, can be prevented by given the is dubious of law able to be accepted by good perpetrator of crime and also material. Understanding of good regarding Law of RI Number 11 Year 2010 About Cultural Pledge can depress early possible damage of ancient ommission, and can be strived by the continuation of him in present day and in the future.

Formulation Of Law of RI Number 11 Year 2010 About Cultural Pledge in this handing out aim to to anticipate cases damage of cultural pledge object. studied sections and analysed [by] [is] sections concerning haven, exploiting, continuation of, and criminal law section affirming good crime penalization of crime and also material with threat of punishment to side doing mutilation of cultural pledge object.


I.PENDAHULUAN

Pengembangan atau pemekaran ilmu pengetahuan dalam bentuk ilmu terapan (applied Scince) sangat diperlukan, terutama di dalam menunjang program pemerintah untuk mensukseskan pembangunan. Kompleksnya pembangunan yang sedang digalakan memerlukan partisipatif aktif seluruh disiplin ilmu. Agar ilmu pengetahuan dapat berdaya dan berhasil guna dalam pembangunan maka seyogianya, penerapan ilmu tersebut disesuaikan atau diselaraskan dengan kebutuhan pembangunan (Rata, 1985 : 1).

Konsep pengembangan ilmu tersebut di atas sangatlah positif mengingat pengembangan ilmu bermanfaat bagi disiplin ilmu di masing-masing program studi. Misalnya di Jurusan Arkeologi dibutuhkan pengembangan ilmu yang berbasis kurikulum kompetensi yaitu dengan menerapkan kurikulum pemahaman mahasiswa terhadap Undang-Undang Republik Indonesia No 5 Tahun 1992 Tentang Benda Cagar Budaya. Undang-Undang ini selanjutnya mengalami revisi pada tahun 1997, dan pada tahun 2010 direvisi menjadi Undang-Undang Cagar Budaya. Pemahaman ini dirasakan sangat dibutuhkan bagi mahasiswa Jurusan Arkeologi mengingat materi yang terdapat dalam Undang-Undang Cagar Budaya berisikan aturan-aturan yang tegas dan positif untuk melestarikan peninggalan benda cagar budaya di seluruh Indonesia. Jurusan Arkeologi di berbagai Universitas dapat mengembangkan ilmu terapan mata kuliah Undang-Undang Cagar Budaya yang dilatarbelakangi oleh manfaat yang positif yang dapat diperoleh oleh mahasiswa. Mahasiswa Jurusan Arkeologi yang mempelajari benda cagar budaya sebagai materi utama dalam materi perkuliahannya nantinya dapat mengambil manfaat ilmunya dalam memahami aturan-aturan yang mengatur cagar budaya tersebut tetap lestari sepanjang jaman.

Pelestarian ini bisa terwujud jika semua komponen menyadari betapa pentingnya nilai benda cagar budaya bagi bangsa Indonesia, dikarenakan merupakan warisan budaya masa lalu yang harus tetap dijaga, dilestarikan, dimanfaatkan dan dipelajari sepanjang jaman.

Dalam Kaitannya dengan kebudayaan manfaat peninggalan arkeologi secara garis besarnya adalah :

  1. merupakan bukti-bukti sejarah dan budaya.
  2. sumber-sumber sejarah dan budaya.
  3. obyek ilmu pengetahuan.
  4. cermin sejarah dan budaya.
  5. media untuk pembinaan dan pengembangan nilai-nilai budaya.
  6. media untuk pendidikan budaya sepanjang masa.
  7. media untuk memupuk kepribadian bangsa di bidang kebudayaan dan ketahanan nasional (Uka Tjandrasasmita, 1982 : 1-5; Rata, 1993 : 65).

Sebagaimana diketahui bahwa warisan budaya khususnya tinggalan arkeologi merupakan sumber daya budaya yang memiliki berbagi nilai dan makna antara lain : nilai, dan makna informasi/ilmu pengetahuan, ekonomi, estetika dan asosiasi/simbolik (Cleere 1984; Lipe 1984; McManamon 2000; et all Ardika 2004 : 50). Selanjutnya dalam pengelolaan sumberdaya arkeologi terdapat tiga kepentingan pokok antara lain kepentingan akademik, ekonomik, dan ideologik. Kepentingan akademik, berkaitan dengan usaha penelitian ilmiah secara terus menerus, kepentingan ekonomik berhubungan dengan pariwisata dan kepentingan ideologi berkaitan dengan jatidiri bangsa (Cleere, 1989 : 5-10 ; Kusumohartono, 1993 : 47 ; et all Edi Triharyantoro, 2002 : 237).

Di dalam Undang-Undang Benda Cagar Budaya dijelaskan mengenai pemanfaatan benda cagar budaya. Penjelasan mengenai Pemanfaatan diuraikan pada pembahasan di bawah ini.
(1) Benda cagar budaya tertentu dapat dimanfaatkan untuk kepentingan agama, sosial, pariwisata, pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan. (Undang-Undang RI, no. 5 Tahun 1992 : 13, BAB VI, Pasal 19, butir 1).

Pentingnya perananan dan manfaat peninggalan arkeologi seperti yang dijabarkan di atas menyebabkan diperlukannya studi ilmu yang membahas secara khusus pemanfaatan dan pelestarian dari peninggalan arkelogi tersebut. Studi ilmu itu adalah mengembangkan kurikulum mata kuliah pemahaman terhadap Undang-Undang Cagar Budaya bagi mahasiswa Jurusan Arkeologi Fakultas Sastra Universitas Udayana. Latar belakang pengembangan ilmu Pemahaman Undang-Undang Benda Cagar Budaya dikembangkan mengingat nilai-nilai universal yang tertuang dalam memanfaatkan peninggalan arkeologi dan usaha pelestarian dan penelitian yang terus-menerus. Oleh sebab itu peninggalan arkeologi harus dijaga, dan dilestarikan dengan mengedepankan pemahaman Undang-Undang Cagar Budaya dikarenakan berisikan aturan yang tegas dalam memanfaatkan dan melestarikan peninggalan benda cagar budaya. Kenyataan di lapangan kini peninggalan arkeologi banyak mengalami tantangan dari kepunahan dan kerusakan. Misalnya terjadinya kasus pencurian, pemalsuan, dan pelelangan benda cagar budaya. Kerusakan dan kepunahan benda cagar budaya jika tidak diantisipasi pelestariannya sedini mungkin mengakibatkan kerusakan dan kepunahan sehingga mengakibatkan sulitnya pihak purbakala dan sejarah untuk merekontruksi sejarah kebudayaan masa lalu peninggalan benda cagar budaya tersebut.

Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa pelestarian dan pemanfaatan benda cagar budaya merupakan warisan budaya yang tidak ternilai harganya sehingga kita patut untuk melestarikannya. Maka dalam tulisan ini akan diuraikan terlebih dahulu manfaat mata kuliah Undang-Undang Benda Cagar Budaya bagi disiplin Ilmu Arkeologi, Studi kasus pencurian, pemalsuan dan pelelangan benda cagar budaya dan Penjabaran Pasal-Pasal dalam Undang-Undang Benda Cagar Budaya sebagai cerminan pemahaman secara umum sebelum diwujudkan sebagai disiplin ilmu di Jurusan Arkeologi.


II. MANFAAT PENGEMBANGAN KURIKULUM ILMU PEMAHAMAN UNDANG-UNDANG CAGAR BUDAYA DI JURUSAN ARKEOLOGI

Manfaat penerapan ilmu Undang-Undang Cagar Budaya di Jurusan Arkeologi adalah sangat positif, mengingat besarnya manfaat ilmu Arkeologi seperti yang dijelaskan pada pembahasan di atas merupakan langkah yang tepat apabila penerapan ilmu pemahaman terhadap benda cagar budaya dan pengaturannya yang dituangkan di dalam Undang-Undang Republik Indonesia Tentang Benda Cagar Budaya Nomor 5 Tahun 1992 dikembangkan sebagai kurikulum mata kuliah di Jurusan Arkeologi di Indonesia pada umumnya dan di Bali pada khususnya. Manfaatnya pengembangan ilmu ini yaitu memberikan wawasan yang luas mengenai pemanfaatan dan pelestarian benda cagar budaya. Pemahaman yang didapat nantinya oleh mahasiswa jika kurikulum pemahaman terhadap benda cagar budaya dapat terwujud, maka mahasiswa nantinya dapat mensosialisasikan pemahaman ilmunya kepada masyarakat mengenai aspek pemanfaatan dan pelestarian warisan budaya masa lalu. Kerjasama mensosialisasikan pemahaman terhadap keberadaan Undang-Undang Benda Cagar Budaya sangat diharapkan, sehingga kerusakan situs dan benda cagar budaya dapat dihindari dengan memahami kaidah aturan yang tegas dan sangsi yang diterima jika merusak benda cagar budaya. Sangsi itu tertuang secara lengkap di dalam pasal-pasal Undang-Undang Republik Indonesia Tentang Benda Cagar Budaya Nomor 5 Tahun 1992. Intinya kerusakan situs dan benda cagar budaya dilatarbelakangi kurang pahamannya sebagian masyarakat akan pentingnya warisan budaya masa lalu. Undang-Undang ini selanjutnya mengalami revisi pada tahun 1997, dan pada tahun 2010 direvisi menjadi Undang-Undang Cagar Budaya.

Peninggalan benda cagar budaya yang tersebar di seluruh Indonesia maka diperlukannya upaya perlindungan dan pengamanan. Pengertian pengamanan disini sebenarnya tidak dapat dipisahkan dengan masalah pemeliharaan, perlindungan, pemugaran, pendokumentasian, dan penelitian terhadap benda budaya itu sendiri. Polisy pengamanan harta budaya di Indonesia, menurut ketetapan dalam Monumenten Ordonantie Stb. 238 Tahun 1931, dipegang oleh Direktorat Sejarah dan Purbakala, Ditjen Kebudayaan, Dep. P. Dan K (Arthanegara, 1978/1879 : 12). Monumenten Ordonantie ini selanjutnya berkembang menjadi Undang-Undang Republik Indonesia Tentang Benda Cagar Budaya dengan nomor 5 Tahun 1992,

Peran tugas yang cukup besar bagi Direktorat Sejarah dan Purbakala, Ditjen Kebudayaan, Dep. P. Dan K sebagai polisy benda-benda cagar budaya nampaknya perlu mendapat dukungan dan kerjasama yang positif antara semua pihak khususnya yang bergerak dibidang pelestarian dan pemanfaatan benda cagar budaya untuk ikut menjadi polisy secara bersamaan. Sedangkan di Jurusan Arkeologi di masing-masing Fakultas di seluruh Indonesia, dan Bali khususnya juga melaksanakan program-program pelestarian benda cagar budaya. Program tersebut dituangkan dalam materi perkuliahan baik itu di kelas maupun di lapangan agar mahasiswa senantiasa untuk melestarikan peninggalan purbakala. Semua pemikiran yang kompleks tersebut di atas dapat terwujud jika kurikulum mata kuliah Undang-Undang Cagar Budaya dapat diwujudkan sebagai mata kuliah pokok di Jurusan Arkeologi di masing-masing Fakultas di Indonesia pada umumnya dan di Jurusan Arkeologi Fakultas Sastra Univeritas Udayana pada khususnya. Pemahaman Undang-Undang Cagar Budaya sejak dini memberikan manfaat yang sangat positif dengan pemahaman arti dan fungsi benda cagar budaya untuk dilindungi, dimanfaatkan dan dilestarikan sehingga para mahasiswa dapat memahaminya dan menyebarkan konsep pasal-pasal yang penting dalam Undang-Undang Cagar Budaya kepada masyarakat. Aspek manfaat penerapan ilmu Undang-Undang Cagar Budaya dikaji sebagai tema pokok, mengingat beberapa kasus pencurian dan penjualan benda cagar budaya yang marak akhir-akhir ini.

Penegasan dipentingkannya mengedepankan Undang-Undang yang mengatur pelestarian benda cagar budaya juga diwacanakan dalam jurnal buku di tingkat Internasional dengan judul buku Community Archaeology. Edited by Yvonne Marshall, Routledge Volume Thirty Four Number Two Oktober 2002, dalam salah satu makalah di buku “Comunity Archaeology” yang ditulis oleh Shelly Greer, Rodney Harrison and Susan Mclntyre-Tamwoy yang berjudul Community-based archaeology in Australia menegaskan konsepnya mengenai perlindungan situs arkeologi dengan mengutamakan pemanfaatan Undang-Undang warisan budaya, dengan konsep pernyataan mereka sebagai berikut.

“Most heritage legislation includes reference to archaeological relics, or the agencies that administer the legislation have policies that include the protection of archaeological relics, or the agencies that administer the legislation have policies that include the protection of archaeological sites”.(, Shelly Greer, Rodney Harrison and Susan Mclntyre-Tamwoy 2002 : 265 : 266).

Terjemahannya :
“Kebanyakan perundang-undangan warisan/pusaka meliputi acuan ke barang peninggalan arkeologis, atau para agen yang mengurus perundang-undangan itu mempunyai kebijakan yang meliputi perlindungan dari barang peninggalan arkeologis, atau para agen yang mengurus perundang-undangan itu mempunyai kebijakan yang meliputi perlindungan situs arkeologi”.

Pernyataan ini memberikan pemahaman kepada para ahli arkeologi di tingkat Internasional untuk peduli akan pentingnya melestarikan situs arkeologi dengan mengedepankan perundang-undangan warisan/pusaka, seperti pamahaman mengedepankan ilmu pmahaman cagar budaya. Begitupula para arkeolog di Indonesia pada umumnya dan di Bali pada khususnya juga mempunyai kepentingan yang sama akan pentingnya melestarikan situs arkeologi dan bukan untuk merusaknya sepertinya kasus kerusakan benda cagar budaya yang disebabkan oleh kurang peduli akan warisan benda cagar budaya. Masyarakat agar memahami jika melakukan tindakan perusakan situs purbakala bisa terancam dengan hukuman bagi yang melakukan tindakan perusakan, seperti yang diketahui dari pasal-pasal pidana yang tertuang dalam Undang-Undang Benda Cagar Budaya. Oleh sebab itu dalam makalah ringkas ini penulis mengharapkannya agar materi perkuliahan di Jurusan Arkeologi dilengkapi dengan kurikulum mata kuliah Undang-Undang Cagar Budaya, agar mahasiswa Jurusan Arkeologi memahami nilai-nilai penting yang tertuang di dalam Undang-Undang Cagar Budaya dan menerapkan pelestariannya di masyarakat.

Jurusan Arkeologi Fakultas Sastra Universitas Udayana layak nantinya kedepannya mengembangkan kurikulum mata kuliah pemahaman terhadap Undang-Undang Benda Cagar Budaya, mengingat peninggalan purbakala di Bali yang tersebar hampir di semua Kabupaten dan menjadi daya tarik pariwisata. Sebagai cerminan benda cagar budaya sebagai daya tarik pariwista dipahami dari beberapa jalur pariwisata di Bali sebagian besar memanfaatkan peninggalan purbakala sebagai daya tarik wisata. Sebagai contoh dapat dikemukakan beberapa seghtseeing tours yang ditawarkan kepada wisatawan oleh Biro Perjalanan, adalah sebagai berikut :

  • Denpasar sightseeing tour. Dalam program tour ini ditonjolkan Museum Bali, istana raja Denpasar dan juga Pura Maospahit di Gerenceng. Sering pula tour ini dengan tour ke luhur Uluwatu, Pura Sakenan di pulau Serangan.
  • Sangeh Mengwi Tour. Program ini mengetengahkan sasaran utama Pura Taman Sari di Sangeh dengan hutan keranya, Pura Taman Ayun di Mengwi dan Pura Sada Kapal.
  • Tanah Lot tour untuk melihat Pura Tanah Lot yang terletak di Samudra Indonesia.
  • Bedugul tour dikaitkan dengan Pura Ulun Danu di pinggir danau Beratan.
  • Singaraja tour berintikan sasaran wisatawan yaitu Pura Beji di Sangsit, Pura Meduwe Karang di Kubutambahan, Gedung Kertya dan juga Pura Pulaki.
  • Besakih tour dengan sasaran utama Pura Besakih, dan Balai Pengadilan Kuna yaitu Kertagosa di Kelungkung.
  • Tampaksiring tour berintikan Goa Gajah, Candi Gunung Kawi dan Tirta Empul, dan juga peninggalan purbakala di seputar Pejeng.
  • Kintamani tour dikatkan dengan Pura Ulun Danu di Batur, Pura Penulisan di Sukawana dan arca Da Tonta atau Ratu Gde Pancering Jagat di Trunyan. Tour ini juga dihubungkan dengan Pura Kehen di Bangli.
  • Karangasem tour berintikan sasaran wisatawan Pura Goa Lawah, desa kuna Tenganan Pegringsingan dan Candi Dasa. (Rata, 1986 : 5-6).

Persebaran peninggalan arkeologi di beberapa Kabupaten di Bali tersebut di atas menyebabkan pemerintah Daerah Bali menetapkan daya tarik pariwisatanya adalah pariwisata Budaya. Besarnya sumbangnya peninggalan arkeologi bagi pariwisata di Bali maka langkah kedepannya untuk melestarikan peninggalan arkeologi diperlukannya pemahaman masyarakat Bali dan mahasiswa Jurusan Arkeologi Fakultas Sastra akan keberadaan Undang-Undang Cagar Budaya, sehingga mengharapkan terbentuknya kurikulum mata kuliah pemahaman Undang-Undang Benda Budaya sangat diharapkan segera terwujud di Jurusan Arkeologi Fakultas Sastra Universitas Udayana.


III. STUDI KASUS PENCURIAN, PEMALSUAN, PELELANGAN BENDA CAGAR BUDAYA DAN PERANAN UNDANG-UNDANG CAGAR BUDAYA

Kerusakan dan kepunahan benda cagar budaya dapat kita lihat secara langsung dilapangan dengan cara penelitian maupun dapat kita mengakses melalui media internet, dapat kita mengetahui secara jelas beberapa kerusakan situs purbakala yang disebabkan oleh beberapa faktor misalnya seperti faktor bencana alam dan juga faktor kerusakan oleh faktor pencurian maupun oleh ulah tangan manusia yang tidak bertanggung jawab. Di bawah ini akan ditampilkan salah satu contoh kasus pencurian dan pemalsuan benda cagar budaya yang diakses melalui media internet.

Sumber foto: http://www.beritaindonesia.co.id/nasional/benda-bersejarah-pun-dipalsukan
Download foto 2011.

Sumber foto: http://iwandahnial.wordpress.com/2010/05/04/harta-karun-di-perairan-indonesia-bisa-lunasi-utang-negara/ . Download foto 2011

Kasus Pencurian dan pemalsuan benda cagar budaya tersebut di atas sepatutnya tidaklah terjadi mengingat akan pentingnya arti dan makna peninggalan purbakala. Oleh sebab itu masyarakat diharapkan memahami nilai-nilai yang tertuang dalam Undang-Undang Benda Cagar Budaya. Kasus pencurian dan pemalsuan Benda Cagar Budaya akan dijerat hukuman yang berat seperti pasal-pasal yang tertuang dalam Undang-Undang yang akan dijabarkan pada pembahasan di bawah ini sebagai contoh beberapa pasal penting yang sangat perlu dipahami oleh semua pihak.

Penjelasan mengenai pasal Perlindungan dan Pemeliharaan khususnya yang menguraikan larangan bagi semua pihak untuk merusaknya dijelaskan pada pembahasan di bawah ini.
(1) Setiap orang dilarang merusak benda cagar budaya dan situs serta lingkungannya.
(2) Tanpa izin dari pemerintah setiap orang dilarang:
a. membawa benda cagar budaya ke luar wilayah Republik Indonesia;
b. memindahkan benda cagar budaya dari daerah satu ke daerah lainnya ;
c. mengambil atau memindahkan benda cagar budaya baik sebagian maupun seluruhnya, kecuali dalam keaadaan darurat ;
d. mengubah bentuk dan/atau warna serta memugar benda cagar budaya ;
e. Memisahkan sebagian benda cagar budaya dari kesatuanya ;
f. Memperdagangkan atau memperjual belikan atau memperniagakan benda cagar budaya. (Undang-Undang RI, no. 5 Tahun 1992 : 11-12, BAB IV, Pasal 13, butir 1-2)

Penjelasan mengenai Ketentuan Pidana diuraikan pada pembahasan di bawah ini.
Barang siapa dengan sengaja merusak benda cagar budaya dan situs serta lingkungannya atau membawa, memindahkan, mengambil, mengubah bentuk dan/atau warna, memugar, atau memisahkan benda cagar budaya tanpa izin dari pemerintah sebagaimana dimaksud dalam pasal 15 ayat (1) dan ayat (2) dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya 10 (sepuluh) tahun dan/atau denda setinggi-tingginya Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah). (Undang-undang RI, no. 5 Tahun 1992 : 16, BAB VIII, Pasal 26).

Barangsiapa dengan sengaja melakukan pencarian benda cagar budaya atau benda berharga yang tidak diketahui pemiliknya dengan cara penggalian, penyelaman, pengangkatan, atau dengan cara pencarian lainya tanpa izin dari Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam pasal 12 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya 5 (lima) tahun dan/atau denda setinggi-tingginya Rp. 50.000.000.,00 (lima puluh juta rupiah). (Undang-Undang RI, no. 5 Tahun 1992 : 16-17, BAB VIII, Pasal 27).

Latar belakang beberapa kasus inilah yang memberikan nilai manfaat penerapan kurikulum Undang -Undang Cagar Budaya di Jurusan Arkeologi Fakultas Sastra Universitas Udayana pada khususnya dan Jurusan Arkeologi di Fakultas dan Universitas lainnya di Indonesia. Manfaatnya adalah mahasiswa dapat memahami dengan jelas dan dapat menyebarkan nilai-nilai Undang-Undang tersebut kepada masyarakat sehingga kasus pencurian, pemalsuan, penjualan atau pelelangan benda cagar budaya, dan kerusakan lainnya dilatabelakngi oleh tidak mengertinya mereka akan aturan yang tegas dan sangsi hukum yang tertuang di dalam Undang-Undang Benda Cagar Budaya yang harus dipahami bagi pihak purbakala, bagi mahasiswa dan masyarakat lainnya.

Manfaatnya secara langsung bagi mahasiswa Jurusan Arkeologi dengan diberikannya mata kuliah Undang-Undang Benda Cagar budaya adalah para mahasiswa ini nantinya dapat memahami secara luas dan spesifik arti dan fungsi benda cagar budaya. Pemahaman arti dan fungsi, benda cagar budaya dilanjutkan dengan minat untuk melestarikannya dan memanfaatnya untuk berbagai kepentingan yang positif, selain memahami akan ancaman hukumannya jika kita melakukan perusakan situs dan tindakan lainnya yang bertujuan merusak peninggalan purbakala. Selain itu kerusakan situs peninggalan purbakala seperti yang kita khawatirkan dapat ditekan sedini mungkin dengan pemahaman akan nilai-nilai yang terdapat pada Undang-Undang Benda Cagar Budaya, sehingga peninggalan purbakala dapat dilestarikan, selanjutnya para mahasiswa dapat menyebarkan pemahaman akan pentingnya pengetahuan tentang benda cagar budaya itu kepada masyarakat. Selanjutnya masyarakat akan sadar dan ikut merasa bertanggung jawab atas pelestarian warisan budaya masa lalu.

Penjabaran pasal-pasal yang tertuang di dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1992 Tentang Benda Cagar Budaya seperti yang dijelaskan di atas, diharapkan dapat dipahami oleh semua pihak sehingga kerusakan benda cagar budaya dapat dihindari dengan pemahaman akan aturan yang tegas jika melakukan perusakan dan tindakan lainnya yang melanggar Undang-Undang Benda Cagar Budaya.


IV. Kesimpulan Dan Saran

Sebagai akhir dari tulisan ini yang berjudul “Pengembangan Kurikulum Ilmu Pemahaman Undang-Undang Cagar Budaya, dapat sementra disimpulkan sebagai berikut :

  1. Manfaat Penerapan Ilmu Undang-Undang Cagar Budaya di Jurusan Arkeologi adalah sangat positif bagi pengembangan disiplin ilmu arkeologi. Jurusan Arkeologi yang memanfaatkan peninggalan purbakala atau benda cagar budaya sebagai objek kajiannya ilmunya maka para mahasiswa di Jurusan Arkeologi diwajibkan memahami aturan hukum yang mengatur benda cagar budaya dalam pemanfaatannya dan pelestariannya. Maka penerapan ilmu pemahaman terhadap Undang-Undang Benda Cagar Budaya sangat tepat dikembangkan di Jurusan Arkeologi. Dengan memahami sejak dini tentang Undang-Undang Benda Cagar Budaya yang diberikan kepada mahasiswa melalui mata kuliah memberikan manfaat pemahaman akan aturan yang berlaku di dalam pemanfaatan benda cagar budaya. Jika aturan sudah dipahami dan dilaksanakan maka kerusakan benda cagar budaya dapat diantisipasi sejak dini. Setelah mahasiswa diberikan materi kuliah pemahaman Undang-Undang Benda Cagar Budaya selanjutnya mahasiswa dapat menyebarkan pemahamannya ke tengah masyarakat. Seperti kita ketahui umumnya kerusakan benda cagar budaya dilatarbelakangi kurang pahamannya sebagaian masyarakat akan pentingnya fungsi benda cagar budaya sehingga peran mahasiswa sangat diharapkan untuk menyebarkan pemahaman benda cagar budaya kepada masyarakat. Masyarakat selanjutnya memahami aturan yang berlaku di dalam memanfaatkan benda cagar budaya terutama aturan hukum dan sangsinya. Latar belakang ini mengakibatkan kerusakan-kerusakan benda cagar budaya dapat dihindari, dari perilaku yang kurang bertanggung jawab. Intinya mahasiswa arkeologi sebagai penyuluh kedepannya di tengah masyarakat akan keberadaan Undang-Undang Benda Cagar budaya.
  2. Penjabaran Secara Umum Pasal-Pasal Undang-Undang Benda Cagar Budaya merupakan sosialisasi akan pentingnya memanfaatkan dan melestarikan benda cagar budaya. Penjabaran pasal-pasal yang tertuang didalam Undang-Undang Benda Cagar Budaya seperti yang diuraikan pada pembahasan maka kita akan memahami arti dan fungsi, dan aturan yang tegas jika kita melakukan perusakan terhadap benda cagar budaya. Perusakan ini dilatarbelakangi oleh faktor tidak pahaman masyarakat akan pentingnya menjaga warisan budaya masa lalu, dan hukuman yang akan dijatuhkan bagi pelaku perusakan sudah dijabarkan pada pembahasan terutama pada pasal 26 dan pasal 27 Undang-Undang Benda Cagar Budaya.


V. Saran

Peninggalan arkeologi sangat tinggi nilainya dan merupakan warisan budaya masa lalu, sangat disayangkan kalau terjadinya perusakan cagar budaya disebabkan oleh berbagai faktor seperti kasus pencurian, perusakan, pelelangan cagar budaya oleh pihak-pihak yang kurang peduli akan pentingnya melestaraikan warisan budaya. Pengharapan terwujudnya Pengembangan Kurikulum Ilmu Pemahaman Undang-Undang Cagar Budaya di Jurusan Arkeologi Fakultas Sastra Universitas Udayana diharapkan dapat segera diwujudkan.


Daftar Pustaka

Ardika, I Wayan 2004. Manajemen Warisan Budaya. KUMPULAN MATERI Program Inovatif TOT (Training of Trainer) Konservasi Warisan Budaya Bali Dalam Pemberdayaan Lembaga Pelestarian Warisan Budaya Bali (Bali Heritage Trust).

Arthanegara, I Gst.Bgs 1978/1979. Policy Pengamanan Harta Budaya. Kumpulan Makalah Penyelamatan Harta Budaya. Team Penyuluhan Penyelamatan Benda Budaya Daerah Bali. Proyek Penyelamatan Benda-Benda Purbakala Serta Pemeliharaan Daerah Propinsi Bali.

Bernet Kempers, A.J. 1959. Ancient Indonesia Art. Cambridge Massachusetts Harvard University Press.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia 1992 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1992 Tentang Benda Cagar Budaya dan Penjelasannya, Biro Hukum Dan Hubungan Masyarakat.

Edi Triharyantoro, 2002. Aspek Ideologi Dalam Management Sumberdaya Arkeologi. Dalam Buku Manfaat Sumberdaya Arkeologi Untuk Memperkokoh Integrasi Bangsa. Denpasar. Upada Sastra.

Koentjaraningrat, 1992 Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.

Rata, Ida Bagus., 1985 Pengembangan Arkeologi Sesuai Dengan Kebutuhan Pemerintah. Fakultas Sastra Universitas Udayana Denpasar.

——-, 1985 Pemanfaatan Peninggalan Purbakala Dalam Pembangunan Wisata Budaya. Ikatan Ahli Arkeologi KOMDA BALI DIA III, 6-7 Januari 1986.1-12, Di Denpasar.

——-,1990 The Use of Archaeological Remains in the Development of Cultural Tourism, COTAH, Brisbane, Australia.

——-,1993 Manfaat Peninggalan Arkeologi untuk Kepentingan Agama, Sosial Budaya, Sosial Ekonomi, Pendidikan & Ilmu Pengetahuan. Dalam Buku Kebudayaan dan Kepribadian Bangsa. Denpasar : PT Upada Sastra.

Sapta Jaya, Ida Bagus, 2007. Pendekatan Ekologi Dalam Meinterpretasikan Data Arkeologi. Disajikan dalam Seminar Nasional Seri Sastra, Sosial, Budaya yang dilaksanakan pada hari Jumat 28 Desember 2007 di Fakultas Sastra Universitas Udayana.

——-, 2008. Kontradiction Of Living Monument And Death Monument Preserve Ommission Archaelogy In Indonesia. (tidak diterbitkan) Dipresentasikan pada saat sebagai peserta Diklat Manajemen of World Heritage Site yang diadakan oleh Direktorat Peninggalan Purbakala, Direktorat Jendral Sejarah dan Kebudayaan, Departemen kebudayaan dan Pariwisata pada tanggal 27 Oktober – 3 November 2008, di Borobudur Magelang Yogyakarta.

——-, 2008. Borubudur is Living Monument. (tidak diterbitkan) Dipresentasikan pada saat sebagai peserta Diklat Manajemen of World Heritage Site yang diadakan oleh Direktorat Peninggalan Purbakala, Direktorat Jendral Sejarah dan Kebudayaan, Departemen kebudayaan dan Pariwisata pada tanggal 27 Oktober – 3 November 2008, di Borobudur Magelang Yogyakarta.

Shelly Greer, Rodney Harrison and Susan Mclntyre-Tamwoy. 2002. Community-based archaeology in Australia. Edited by Yvonne Marshall Routledge Volume Thirty Four Number Two Oktober 2002.

Soediman, 1983. Peranan Arkeologi Dalam Pembangunan Nasional. Pertemuan Ilmiah Arkeologi III, Ciloto, 23-28 Mei.1-16.

Soerjanto Poespowardojo, 1989. Strategi Kebudayaan, Suatu Pendekatan Filosofis, Gramedia, Jakarta.

Sutaba, I Made Ed dkk 2002. Manfaat Sumberdaya Arkeologi Untuk Memperkokoh Integrasi Bangsa. Denpasar : PT. Upada Sastra.

Sumber Internet

http://www.beritaindonesia.co.id/nasional/benda-bersejarah-pun-dipalsukan.

http://iwandahnial.wordpress.com/2010/05/04/harta-karun-di-perairan-indonesia-bisa-lunasi-utang-negara/ .

*MAKALAH PIA 2011

Pelestarian Tongkonan antara Kenyataan dan Harapan: Studi Kasus Tongkonan Situs Kande Api

Tinggalkan komentar

Oleh: Sumijati As. – Inajati Adrisijanti M.R.
Jurusan Arkeologi, Fakultas Ilmu Budaya UGM


Latar Belakang

Toraja Utara merupakan kabupaten baru akibat pemekaran Kabupaten Tana Toraja berdasarkan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2008. Kabupaten Tana Toraja beribukota di Makale, sedangkan Kabupaten Toraja Utara beribukota di Rante Pao. Kabupaten ini memiliki luas kurang lebih 1.215, 55 Km2 dan dibagi dalam 21 kecamatan. Kecamatan itu adalah: Kecamatan Sesehan, Nanggala, Rindinggallo, Buntao, Sa’dan, Sanggalangi, Rantepao, Sopai, Tikala, Balusu, Tallunglipu, Dende Piongan Napo, Buntu Pepasa, Baruppu, Kesu, Tandon, Bangkelikela, Rantebua, Sesean, Seloara, Kapala Pitur, dan Awan Rante Karua (Sektiadi dkk, 2009).

Kabupaten Toraja Utara memiliki bermacam cagar budaya baik tangible maupun intangible. Di antara budaya tangible adalah pemukiman tradisional dengan tongkonan, alang, rante, dan liang, sedangkan budaya intangible antara lain berupa upacara-upacara misalnya upacara kematian (Rambu Solo’), atau upacara pentahbisan tongkonan (Rambu Tuka’). Di antara tongkonan-tongkonan itu adalah Kete’Kesu, Buntu Pone, Palawa, Nanggala, Tangke Allo, dan Kande Api. Selain pemukiman tradisional dengan elemen-elemennya Kabupaten Toraja Utara juga memiliki situs kubur yang sangat terkenal, yaitu Londa. Di antara tongkonan-tongkonan tersebut hanya tongkonan Kande Api yang dibahas dalam tulisan ini. Tongkonan Kande Api dipilih sebagai pokok bahasan dikarenakan kondisi tongkonan tersebut saat ini menunjukkan adanya “pergeseran” dalam pemanfaatannya. “Pergeseran” dalam pemanfaatan tersebut pada gilirannya sangat mempengaruhi pelestariannya. Pelestarian dalam Bab I Ketentuan Umum ps 1 butir 22 UU RI No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya didefinisikan sebagai upaya dinamis untuk mempertahankan keberadaan Cagar Budaya dan nilainya, dengan cara melindungi, mengembangkan, dan memanfaatkan.

Tongkonan Kande Api secara administrasi berada di Kampung Kande Api Utara, Desa Buntu Barana, Kecamatan Tikala, Kabupaten Toraja Utara. Letak astronomis Kande Api berada pada koordinat 02056’ 113” LS 1190 53’ 47,3” BT, pada ketinggian 871 m dari permukaan laut. Seperti halnya tongkonan yang lain, tongkonan Kande Api termasuk dalam kategori living heritage. Tongkonan sebagai living heritage tetap eksis hingga kini bersama dengan masyarakat pendukungnya yang kuat mempertahankan budaya yang dimiliki, diantaranya ajaran Aluk Todolo. Dalam ajaran itu terkandung konsep kepercayaan terhadap alam kehidupan sesudah mati. Dengan demikian, pelestarian dan pengembangannya cenderung menjadi tanggung jawab masyarakat pemiliknya. Warisan budaya Toraja karena keunikan dan keeksotisannya telah menarik minat banyak orang, tidak hanya dari dalam negeri tetapi juga dari manca negara. Oleh karena itu, budaya Toraja menjadi objek wisata andalan terutama untuk wilayah timur Indonesia.

Budaya Toraja sebagai sebuah warisan mengandung nilai dan makna yang bersifat simbolik, estetis, dan ekonomik. Nilai estetika dan artistik dapat diamati tanpa memperhatikan dimensi waktu, oleh karena itu warisan budaya dapat dijadikan sebagai objek wisata. Kondisi seperti itu, terdapat juga di pemukiman Kande Api. Pemanfaatan warisan budaya Toraja, khususnya tongkonan membawa dampak baik bagi tongkonan itu sendiri, bagi masyarakat, maupun pada lingkungan. Dampak itu dapat bersifat positif, tetapi juga dapat bersifat negatif. Artinya pemanfaatan sebagai objek wisata akan membawa dampak kebaikan, atau sebaliknya akan membawa keburukan bagi budaya itu sendiri.

Warisan budaya yang diposisikan sebagai objek dan daya tarik wisata memiliki nilai ekonomis karena membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat lokal. Selanjutnya warisan budaya itu sendiri akan mendapat keuntungan berupa dana untuk pemeliharaannya. Hal itu dikarenakan posisi warisan budaya sebagai aset pariwisata, sedangkan dampak negatif jauh lebih banyak dibandingkan dengan dampak positif. Dampak negatif yang biasa terjadi adalah pencemaran baik bagi lingkungan maupun bagi warisan budaya itu sendiri.

Uraian di atas memberi gambaran bahwa pariwisata bagaikan “sebilah pisau yang bermata dua” bila diterapkan dalam pemanfaatan warisan budaya. Permasalahan yang kemudian muncul adalah: Apakah pemanfaatan Tongkonan Kande Api sebagai objek wisata berpengaruh terhadap pelestariannya?


Pemukiman Kande Api

Situs Kande Api merupakan salah satu pemukiman tua di Kabupaten Toraja Utara, dan termasuk situs yang dinominasikan dalam pengusulan Toraja sebagai World Heritage ( Tanudirjo dkk, 2005). Dalam suatu komunitas, pemukiman mempunyai peran penting kerena merupakan wujud dari ide-ide manusia yang dirancang sebagai wahana untuk mendukung setiap kegiatan yang akan dilakukan. Oleh karena itu, pemukiman selalu dibutuhkan baik dalam komunitas tradisional mapun masyarakat modern. Pemukiman tradisional mengenal pola atau tatanan, sesuai dengan lingkungan alam, dan social budayanya (Rapoport, 1985 dalam Syahmusir,2004).

Tipe pemukiman tradisional Toraja menurut Jovak dkk (1988) dibedakan menjadi 3 tipe, yakni pemukiman di dataran tinggi (puncak bukit); pemukiman terisolir; dan pemukiman di dataran rendah. Berdasarkan lokasinya, maka Pemukiman Kande Api masuk dalam kategori pemukiman di atas bukit karena letak pemukiman tersebut berada di ketinggian 871 m di atas permukaan laut. Pemukiman tradisional Toraja biasanya dikelilingi oleh pohon-pohon bambu yang lebat. Adanya tanaman bambu secara tidak langsung berfungsi sebagai benteng alam sebagai upaya untuk menghindari atau melindungi diri dari ancaman, baik serangan musuh maupun binatang.

Rumah adat dalam budaya Toraja disebut tongkonan. Arsitektur tongkonan berupa rumah panggung dengan atap melengkung. Arah hadapnya ke arah utara, berderet berjajar dari arah timur ke barat. Pada masa lalu kolong rumah digunakan untuk kandang kerbau terutama kerbau belang atau tedong bonga yang melambangkan kekayaan (status sosial). Kekayaan orang Toraja digambarkan juga dengan banyaknya lumbung padi (alang) yang didirikan di depan tongkonan. Apabila sebuah tongkonan dimiliki oleh keluarga kaya, maka mereka dapat dapat membangun lebih dari satu alang di depan tongkonannya. Dalam pemukiman tradisional Toraja selain tongkonan dan alang terdapat pula elemen-elemen lain, yaitu rante, liang, kebun, serta sawah adat. Tata letak tiap-tiap elemen diatur sesuai dengan adat, biasanya didasarkan atas konsep kosmologis dan kepercayaan Aluk Todolo.

Menurut tradisi tutur, tongkonan Kande Api dibangun sekitar 275 tahun yang lalu dengan empat tongkonan yang masing-masing berdiri sendiri. Kondisi itu berubah ketika tahun 1970an Peter Sambo sebagai salah satu keturunan pemilik tongkonan, mengumpulkan tongkonan-tongkonan tersebut menjadi satu, sehingga tata letaknya seperti yang ada pada saat ini (Laporan BP3, 2010), dan mengeruk tanah menjadi rendah dan datar ( wawancara dengan Bp. Oktavianus Parimin, tetua adat setempat). Menurut narasumber dahulu permukaan tanah di area tersebut sejajar dengan gereja yang ada di sebelah barat daya tongkonan.

Pada saat ini Pemukiman Kande Api memiliki 4 tongkonan dan 12 alang, beberapa kuburan (liang), dan yang oleh penduduk setempat disebut rante. Tata letak komponen-komponen tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Keempat tongkonan berjajar, kurang mengikuti konsep penataan tradisional, dengan arah timur laut-barat daya dengan orientasi tongkonan serong ke barat laut sekitar 30•, sementara lumbung menghadap ke arah tenggara. Dalam kunjungan pada bulan September 2010 masih ada satu bangunan tongkonan lagi dalam keadaan rusak, yang berdiri di bagian barat-daya tanah lapang. Namun, dalam kunjungan pada bulan Juni 2011 tongkonan tersebut sudah tidak tampak lagi. Narasumber mengatakan bahwa tongkonan tersebut sudah dibongkar.
  2. Di antara deretan tongkonan dan alang terbentang ruang terbuka selebar kira-kira 20m. Ruang terbuka tersebut difungsikan sebagai tempat untuk melakukan upacara-upacara, misalnya upacara aluh pia yakni sebuah upacara yang diselenggarakan sebelum upacara di rante.
  3. Rante sebagai kelengkapan tongkonan berada di sebelah barat daya kira-kira berjarak 90 m dari tongkonan. Di area rante terdapat menhir (simbuang) yang ukurannya bervariasi dan tidak dikerjakan. Pada saat ini, di dekat rante berdiri sebuah gereja.
  4. Kuburan (liang) ditempatkan pada ceruk di dinding tebing bukit karst di belakang deretan alang. Beberapa kuburan berbentuk patane (kuburan yang dibuat dari cor semen), ada pula yang menggunakan peti kayu. Di atas patane sering dilengkapi miniatur tongkonan.
  5. Sawah adat berada di sebelah barat dan timur tongkonan.
  6. Hutan bambu di sekitar tongkonan-alang, dan tempat penggembalaan ternak

 

Teknik pembuatan tongkonan sebagai rumah adat dikerjakan dengan menggunakan bahan bangunan kayu dan bambu, tanpa menggunakan paku, melainkan pasak dan ikat. Penyambungan menggunakan purus dan lurah. Atap dibuat dari bambu dibelah yang saling menumpuk, dan ditutup kulit bambu yang ditata berjajar dan bertumpuk. Kayu yang digunakan adalah jenis kayu banga yang bentuknya mirip batang pinang dalam ukuran besar.

Tongkonan juga berfungsi sebagai pengikat dan pemersatu keluarga. Pada mulanya tongkonan difungsikan sebagai rumah tinggal, tempat pertemuan keluarga, dan tempat menyemayamkan jenazah sebelum dikebumikan. Seiring dengan perkembangan maka fungsi tongkonanpun mengalami pergeseran. Saat ini tongkonan Kande Api tidak lagi ditinggali, pemilik tongkonan memilih bertempat tinggal di rumah-rumah yang didirikan di sebelah selatan lokasi tongkonan. Akibatnya lokasi tongkonan menjadi kurang terpelihara

Selain pada fungsi tongkonan, pergeseran juga tampak dalam pelestarian baik dalam konsep maupun fisik. Pemilik tongkonan telah melakukan perbaikan pada 3 tongkonan, tetapi tampak bahwa perbaikan tersebut tidak berwawasan pelestarian, karena dalam kegiatan itu tidak ada upaya untuk mengembalikan kondisi fisik tongkonan dan alang. Di satu sisi dunia Arkeologi menggariskan pemugaran berwawasan pelestarian harus berorientasi pada konsep keaslian agar nilai sejarah dan purbakala yang terkandung di dalamnya dapat dimanfaatkan secara benar. Dalam keaslian tercakup upaya untuk memperbaiki struktur dan pemulihan arsitektur.

Butir-butir di atas tidak ditetapkan dalam perbaikan tongkonan Kande Api. Hal itu terjadi pada renovasi 3 buah tongkonan yang telah diganti atapnya dengan seng sebagai pengganti atap lama yang dibuat dari bamboo dan ijuk. Selain itu sekarang juga dibangun satu alang baru yang tidak berdiri dalam satu deret dengan alang-alang yang lain, tetapi di ujung ruang terbuka tersebut di atas. Bentuk atapnya juga berbeda. Jika alang menggunakan atap dengan dua ujung, maka alang baru ini atapnya berujung tiga. Bahan bangunan yang dipakai juga berbeda, yaitu lantai dan tiang-tiang alang dibuat dari semen cor, atap dari kayu dan seng. Bahan bangunan yang sama hanya pada dinding alang yang tetap menggunakan kayu, dengan ukiran dan warna ragam Toraja.

Dalam aspek fungsi beberapa alang mengalami pergeseran karena tidak lagi digunakan sebagai lumbung, tetapi difungsikan sebagai kamar tidur tamu yang dilengkapi kamar mandi dan toilet di dalamnya. Kamar tidur tamu tersebut tampaknya diperuntukkan bagi tamu baik dari dalam negeri maupun luar negeri, dan sudah digunakan oleh beberapa tamu keluarga pemilik tongkonan, serta wisatawan dari Korea (wawancara dengan Ibu Rita Labi, tokoh wanita setempat). Dari fakta ini tampak bahwa pemukiman Kande Api dipersiapkan sebagai “penginapan/ hotel” dalam upaya pengembangan pariwisata, seperti pada alang nomer 6,7, dan 8. Selain itu, beberapa bagian bangunan sudah diganti dengan bahan beton, misalnya tiang, dan lantai dasar alang. Mekipun demikian, masih ada alang dengan bahan bangunan asli, dan fungsi asli sebagai tempat untuk menyimpan padi, misalnya alang nomer 3 dan 13.


Pembahasan

Situs Kande Api berada di ruang saujana budaya ( Jordan & Rowntree, 1986 ) yang menarik. Permukiman yang terdiri atas deretan tongkonan dan alang berlatar belakang pegunungan karst yang gagah. Lokasinya yang berada di atas bukit berketinggian 871 m dpl membawa udara sejuk yang menyegarkan baik bagi penduduk maupun pengunjung. Oleh karena itu, memang pantas jika Kande Api mempunyai nilai penting dalam perpaduan antara budaya dan alam, dan oleh karena itu termasuk dalam 10 situs yang dinominasikan dalam World Heritage List (cf. Department of Culture and Tourism The Republic of Indonesia, 2005; Tanudirdjo, 2005). Dalam aspek pariwisata, Situs Kande Api dapat dimasukkan dalam kategori Pariwisata Budaya sebagai paradigma baru, yang pada intinya memadukan antara wsata alam dan budaya (wisata ekobudaya). Perpaduan antara kedua elemen itu dimiliki oleh Situs Kande Api (Swasono, 2010).

Rencana pemanfaatan Situs Kande Api sebagai objek dan daya tarik wisata tampaknya kurang memperhatikan aspek perlindungan warisan budaya itu sendiri. Kondisi Situs Kande Api sebagai warisan budaya tangible dan intangible yang masih hidup (living heritage), serta didukung oleh kondisi lingkungannya memang layak untuk dikembangkan pemanfaatannya ke arah pariwisata. Namun apabila perencanaannya tidak cermat dapat berakibat warisan budaya tersebut akan tidak menarik dan ditinggalkan oleh wisatawan.

Pemanfaatan warisan budaya dapat mendatangkan keuntungan secara ekonomi apabila memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

  1. Pengembangan pariwisata hendaknya diarahkan sebagai sarana untuk melakukan konservasi warisan budaya dan alam serta hubungan diantara keduanya.
  2. Pengembangan pariwisata berkaitan dengan warisan budaya tanpa merusak warisan tersebut akan menimbulkan masalah sosial.
  3. Pengembangan pariwisata seyogyanya memberikan peluang kepada masyarakat setempat untuk mengelola sehingga mereka mendapatkan keuntungan dari kegiatan pariwisata tersebut (Conservation Problems via Sektiadi dkk, 2009).

Butir-butir di atas memberi pengertian bahwa perencanaan pengelolaan, serta pemantauan kegiatan pariwisata perlu melibatkan masyarakat. “Ruang” untuk melakukan penyesuaian terhadap fungsi yang baru atas bangunan cagar budaya sebenarnya dicakup dalam Undang-Undang Republik Indonesia no. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya pasal 80 tentang revitalisasi, dan pasal 83 tentang adaptasi. Namun, di sisi lain persyaratan-persyaratan yang dikemukakan dalam pasal-pasal tersebut harus pula diperhatikan.

Hal lain yang juga harus difikirkan dalam rencana pemanfaatan Kande Api sebagai destinasi wisata adalah infrastruktur. Dalam kunjungan-kunjungan kami ke situs selama dua tahun ini belum tampak pengadaan dan pembenahan infrastruktur, baik berupa akses jalan maupun prasarana lain untuk wisatawan. Informasi yang memadai juga belum tampak keberadannya

Tongkonan bagi etnis Toraja adalah pusaka atau warisan dengan hak dan kewajiban secara turun temurun dari orang pertama sebagai pendiri hingga ahli warisnya. Secara umum tongkonan merupakan identitas suku Toraja sehingga membedakan dengan suku-suku lain di Indonesia. Dalam lingkup budaya Toraja keberadaan tongkonan merupakan simbol dan identitas keluarga. Selain itu, tongkonan juga mencerminkan status sosial bagi pemiliknya.

Pergeseran fungsi tongkonan tampaknya juga terjadi dalam pelestarian baik secara fisik maupun konsep. Keaslian mencakup upaya untuk perbaikan struktur dan pemilihan arsitektur yang sedapat mungkin diupayakan pada beberapa aspek, yakni:

  • Keaslian bentuk yakni upaya pemulihan bangunan dengan menggunakan bentuk arsitektur aslinya berdasarkan data yang ada.
  • Keaslian bahan adalah upaya pemulihan bangunan dengan menggunakan unsur-unsur bahan seperti aslinya.
  • Keaslian teknik pengerjaan yakni upaya pemulihan bangunan dengan berdasarkan keaslian teknis dan cara kerja pembuatannya, dan
  • Keaslian tata letak adalah upaya pemulihan bangunan berdasarkan keaslian tata ruang letakya secara kontekstual.

Butir-butir pelestarian tersebut di atas tampak tidak dijalankan dalam perbaikan tongkonan dan alang di Kande Api, seperti yang terjadi pada perbaikan tiga buah tongkonan dengan mengganti atap dari bambu dan ijuk menjadi atap seng. Satu tongkonan dalam kondisi belum diperbaiki, dan satu tongkonan dalam kondisi rusak berat. Bahkan tongkonan yang rusak berat tersebut pada tahun 2011 dirobohkan. Kondisi yang sama terjadi pula dalam perbaikan alang. Dari 12 alang yang ada, 7 buah alang telah diperbaiki dengan mengganti atap bambu dan ijuk dengan seng. Selain atap, tiang yang semula dari kayu uru diganti dengan cor semen, demikian pula lantai alang yang semula dari papan-papan kayu diganti dengan beton/keramik. Ukiran pada dinding kayu diganti dengan keramik bergambar “motif Toraja”.


Penutup

Situs Kande Api adalah salah satu di antara sepuluh situs di Kawasan Tana Toraja dan Toraja Utara yang dinominasikan sebagai World Heritage. Di situs tersebut tampak dengan jelas bukti kearifan lokal dalam penataan lansekap untuk kepentingan budaya masyarakat penghuninya. Keindahan alam dan kecantikan arsitektur selain menjadi aspek pendukung nominasi tersebut di atas – yang berimbas pada pelestariannya –, juga menarik banyak pihak untuk memanfaatkannya sebagai objek dan daya tarik wisata, khususnya wisata eko-budaya. Satu sisi dunia Arkeologi menggariskan bahwa pemugaran berwawasan pelestarian harus berorientasi pada konsep keaslian, agar nilai sejarah dan purbakala yang terkandung di dalamnya dapat dimanfaatkan secara benar. Dalam keaslian tercakup upaya untuk memperbaiki struktur dan pemulihan arsitektur.

Namun, harus diingat bahwa sesuai dengan amanat dalam Undang-Undang Republik Indonesia no. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya dan Undang-Undang Republik Indonesia no. 9 Tahun 1990 tentang Kepariwisataan dalam pemanfaatan cagar budaya sebagai objek dan daya tarik wisata, pelestarian adalah aspek yang tidak boleh dilupakan. Adalah fakta bahwa di Situs Kande Api terjadi perubahan-perubahan komponen dalam jangka sekitar lima- satu tahun. Perubahan yang teramati adalah: jumlah tongkonan dan alang, adanya alang baru yang tidak kontekstual, dan perubahan bahan bangunan. Selain itu teramati pula adanya perubahan fungsi dan interior pada beberapa alang. . Apakah hal ini sejalan dengan makna pelestarian yang diamanatkan dalam Undang-Undang Republik Indonesia no. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya pasal 1? Apakah hal ini tidak ada implikasinya pada status Toraja secara keseluruhan pada Tentative List untuk World Heritage?

Kata kunci untuk itu adalah sosialisasi, dan perencanaan yang bersifat komprehensif. Sosialisasi tentang makna pelestarian, revitalisasi, dan adaptasi kepada publik, kepada para pemangku kepentingan. Perencanaan yang komprehensif untuk pengembangan cagar budaya, dan pengembangan kepariwisataan. Supaya pemanfaatan Situs Kande Api sebagai objek dan daya tarik wisata tidak berpengaruh negatif terhadap pelestariannya.


DAFTAR PUSTAKA

“Conservation Problems at World Heritage Sites” http://Express.am.edu.com/culture sustainable/mobil devices/ch. 13 So3.html

Department of Culture and Tourism The Republic of Indonesia, 2005. Nomination of Tana Toraja Traditional Settlement

Jordan, Terry G. & Lester Rowntree, 1986. The Human Mosaic. A Thematic Introduction to Cultural Geography. New York: Harper & Row

Laporan Penelitian Peninggalan Sejarah dan Purbakala di Kabupaten Toraja Utara dan Tanah Toraja Propinsi Sulawesi Selatan 2010 Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Makasar

Sektiadi 2009 Sangiran dan TanahToraja sebagai World Heritage: Studi tentang Pengelolaan Warisan Budaya Berperspektif Kesejahteraan Masyarakat” Laporan Penelitian Hibah Bersaing XII Perguruan Tinggi, 2009

Sektiadi 2010 Sangiran dan Tanah Toraja sebagai World Heritage: Studi tentang Pengelolaan Warisan Budaya Berperspektif Kesejahteraan Masyarakat” Laporan Penelitian Hibah Bersaing XII Perguruan Tinggi, 2010 .

Swasono, Meutia Hatta. 2010. “Pariwisata Budaya: Paradigma Baru dalam Pembangunan dan Pengelolaan Pariwisata”. Diskusi Terbatas: Potensi dan Hambatan dalam Pembangunan Wisata Eko Budaya

Syahmusir, Valentina, 2004. “Pola Pemukiman Tradisional Toraja: Studi Kasus Pemukiman Tradisional Kaero”, dalam Jurnal Toraja, hlm. 239 – 246

Tanudirdjo, Daud Aris dkk. 2005. Tana Toraja Traditional Settlement (Indonesia). World Heritage Site. Management Plan

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor II tahun 2010 Tentang Cagar Budaya

Yovak dkk, 1988 Banua Toraja Changing Patterns in Architecture and Symbolism among the Sa’adan Toraja, Sulawesi, Indonesia”. Amsterdam: Royal Tropical Institute

*MAKALAH PIA 2011

Pameran Tematik: Sarana Untuk Meningkatkan Daya Tarik Museum Sebagai Destinasi Wisata Edukasi

Tinggalkan komentar

Pipit Puji Lestari
Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran


Abstrak

Museum didirikan dengan tujuan utama melestarikan warisan budaya, bukan hanya melestarikan fisik benda-benda warisan budaya, tetapi juga melestarikan makna yang terkandung di dalam benda-benda itu dalam sistem nilai dan norma. (Tim Direktorat Museum). Sayangnya, walaupun museum mempunyai arti yang sangat penting, kunjungan masyarakat ke museum belum menggembirakan, hanya 2 persen dari jumlah penduduk per tahun. Menurut Direktur Ullen Sentalu Museum, KRT Thomas Haryonagoro kesan museum di masyarakat selama ini adalah tidak atraktif, tidak aspiratif, tidak menghibur.

Keberadaan museum belum mampu menunjukkan nilai-nilai koleksi yang tersimpan kepada publik.(Yurnaidi, 2009) Makalah ini menyajikan tentang pameran tematik sebagai sarana untuk meningkatkan daya tarik museum sebagai destinasi wisata edukasi. Adapun yang dimaksud pameran tematik disini adalah pameran yang diadakan di luar pameran rutin harian museum, dengan tema khusus atau pada waktu tertentu. Tema pameran bisa sangat bervariasi sesuai dengan spesifikasi masing-masing museum, karena masing-masing museum mempunyai ciri khas dan keistimewaan tersendiri. Dengan adanya pameran tematik diharapkan minat masyarakat untuk berkunjung ke museum semakin tinggi dengan demikian warisan budaya yang diciptakan pada masa lampau tidak terlupakan.

Thematic Exhibition: An Instrument to Increase Museum’s
Attractiveness as Educational Tourism Destinations


Abstract

Museum was founded with the aim of preserving cultural heritage, not only the physical objects of cultural heritage, but also preserving the meaning contained in the objects in the system of values and norms (Directorate of Museum’s Team). Unfortunately, although the museum has a very important sense, community visiting museums needs to be encouraged, since the number figures only 2% of the population per year. According to KRT Thomas Haryonagoro, Ullen Sentalu’s Museum Director, museum has not yet impressed public since museum is labeled as not attractive, not aspiring, nor entertaining. The existence of the museum has not been able to demonstrate the values of the collections to the public. (Yurnaidi, 2009).

This paper presents the thematic exhibitions as a means to increase the attractiveness of the museum as an educational tourism destination. The thematic exhibition here refers to the exhibition that was held outside the daily routine Museum’s displays, but an exhibition with specific theme or at a certain time. The theme of the exhibition can vary greatly according to the specifications of each museum, as each museum has a characteristic and distinctive. With the thematic exhibition is expected to interest public to visit the museum thus the cultural heritage created in the past will not be forgotten.


PENDAHULUAN

Warisan budaya dan peradaban setiap negara membuka jendela kehidupan tentang spirit, etos, kreativitas, adat, istiadat dan sejarah berbagai bangsa dunia. Mengenal warisan budaya dan peradaban setiap negara dan menyerap pengalaman para pendahulu merupakan jalan untuk meretas masa depan yang lebih gemilang. Museum sebagai tempat penyimpanan benda-benda bersejarah dari budaya dan peradaban etnis masa lalu membuka kesempatan untuk mengenal peradaban dan budaya orang-orang terdahulu dari generasi ke generasi (Anonim, 2011).

Benda-benda yang disimpan di museum merupakan perjalanan sejarah selama ribuan tahun hingga kini. Dengan demikian, museum dewasa ini menunjukkan parameter pembangunan sebuah bangsa dan negara. Artinya, keberadaan museum di sebuah negara sebagai salah satu parameter pembangunan negara itu dibandingkan negara lainnya. Semakin tinggi kualitas dan kuantitas museum sebuah negara, maka indeks pembangunan di negara itu semakin meningkat (Anonim, 2011)

Museum di Indonesia didirikan dengan tujuan untuk menciptakan kelembagaan yang melakukan pelestarian warisan budaya dalam arti yang luas, artinya bukan hanya melestarikan fisik benda-benda warisan budaya, tetapi juga melestarikan makna yang terkandung di dalam benda-benda itu dalam sistem nilai dan norma. Dengan demikian warisan budaya yang diciptakan pada masa lampau tidak terlupakan, sehingga dapat memperkenalkan akar kebudayaan nasional yang digunakan dalam menyusun kebudayaan nasional. Museum sangat berperan dalam pengembangan kebudayaan nasional, terutama dalam pendidikan nasional, karena museum menyediakan sumber informasi yang meliputi segala aspek kebudayaan dan lingkungan. Museum menyediakan berbagai macam sumber inspirasi bagi kreativitas yang inovatif yang dibutuhkan dalam pembangunan nasional. Namun museum harus tetap memberikan nuansa rekreatif bagi pengunjungnya. Sebagai lembaga pelestari budaya bangsa, museum harus berazaskan pelayanan terhadap masyarakat. Program-program museum yang inovatif dan kreatif dapat meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap museum (Tim Direktorat Museum).

Selama ini museum belum menjadi tempat tujuan utama bagi kalangan generasi muda. Masih banyak kalangan generasi muda kita yang enggan untuk berjunjung ke museum karena kesannya yang tidak menarik dan membosankan. Kebanyakan dari mereka lebih memilih untuk pergi ke pusat-pusat perbelanjaan atau pusat keramaian lain sebagai tempat bersenang-senang. Hal ini sungguh memprihatinkan, karena bila hal ini tidak diperbaiki di khawatirkan nilai-nilai agung budaya warisan nenek moyang kita lama kelamaan akan terlupakan.


PEMBAHASAN

a. Minat Masyarakat Untuk Berkunjung Ke Museum Masih Kurang
Kunjungan masyarakat ke museum yang tersebar di berbagai kota belum menggembirakan, hanya 2 persen dari jumlah penduduk per tahun. Karena itu, dicanangkannya Tahun Kunjungan Museum 2010, perlu dibuat berbagai terobosan. Museum harus tampil beda, muncul dengan new brand (Yurnaldi, 2009).

Direktur Ullen Sentalu Museum, KRT Thomas Haryonagoro mengatakan, kesan museum di masyarakat selama ini adalah tidak atraktif, tidak aspiratif, tidak menghibur, dan pengelolaan seadanya. Keberadaan museum belum mampu menunjukkan nilai-nilai koleksi yang ters impan kepada publik. Kondisi sumberdaya manusia di museum pun memprihatinkan. Edukator (programmer) kurang profesional, kehumasan (public relation) lemah, kurang aktif. Pemasaran stagnan, ungkapnya (Yurnaldi, 2009).

Kondisi ini diperparah pula dengan penyelenggara pariwisata yang kurang berpihak kepada museum. Museum dinilai belum sebagai destinasi yang potensial. Otonomi daerah pun menghambat konsolidasi pusat-daerah (Yurnaldi, 2009).

Thomas Haryonagoro berpendapat, pengelola museum ke depan harus berupaya bagaimana menjadikan museum sebagai rumah memelihara pikiran-pikiran yang tetap hidup daripada sekadar kuburan barang rongsokan. Hanya dengan demikian, museum dapat menjadi tempat belajar dan pencerahan bagi manusia, sekaligus tempat menyenangkan (Yurnaldi, 2009).

Museum adalah juga pusat industri budaya, tempat kontemplasi yang inspirasional pemicu munculnya karya kreatif. Museum itu sendiri menjadi bagian dari industri kreatif. Perlu muncul new brand, sebuah inisiatif yang bertujuan pada peningkatan awareness masyarakat terhadap museum. Bagaimana mengemas potensi museum secara menarik, atraktif, dan kekinian, jelasnya. Bahkan, berangkat dari kesadaran bahwa pengalaman sejarah maupun artefak yang tersimpan di museum dapat dipelajari begaram hal, untuk diambil nilai-nilainya yang positif bagi kehidupan masa kini, maka positioning museum juga sebagai inspirator dan motivator bagi masyarakat untuk mengambil hal-hal yang bernilai dari masa lalu yang dimanfaatkan pada masa kini (Yurnaldi, 2009).

Data dari Direktorat Permuseuman Departemen Kebudayaan dan Pariwisata jumlah museum di seluruh Indonesia sekarang ini mencapai 269 buah. Dari jumlah tersebut, 176 museum dikelola oleh kementerian atau pemerintah daerah, 7 museum dikelola oleh unit pelaksana teknis Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, serta 86 museum dikelola oleh pihak swasta. Dari segi jumlah kunjungan, dalam rentang beberapa tahun terakhir, jumlah kunjungan masyarakat Indonesia ke museum tampak terus mengalami penurunan.Tahun 2006, angka kunjungan total masyarakat Indonesia ke museum adalah 4.561.165 kunjungan. Pada tahun 2007, jumlah ini menurun menjadi 4.204.321 kunjungan dan menurun lagi di tahun 2008 menjadi 4.174.020 kunjungan.Jika tidak dilakukan langkah-langkah berarti, bisa jadi tingkat kunjungan masyarakat kita ke museum akan terus menurun. artinya, museum akan semakin tidak dilirik orang dan bahkan mungkin akhirnya dilupakan.Sesungguhnya banyak hal yang bisa dilakukan agar museum tidak kehilangan pamor sekaligus menarik minat masyarakat untuk terus mengunjungi. Selain dengan menambah dan memperbarui koleksi-koleksinya, salah satu yang bisa dilakukan untuk menyedot minat pengunjung adalah dengan cara menggelar berbagai kegiatan menarik, seperti pentas seni, seminar, konferensi hingga pertunjukan musik remaja, yang berpusat di museum. Agenda kegiatan yang digelar di museum ini harus berkesinambungan dan berlangsung sepanjang tahun, bukan cuma temporer dan musiman (Fitriasarah, 2010).

b. Pameran Tematik: Sarana Untuk meningkatkan Daya Tarik Museum Sebagai Destinasi Wisata Edukasi
Selain penyelenggaraan kegiatan lain di luar pameran seperti konferensi dan pertunjukan musik, pelaksanaan pameran sendiri juga harus dikemas semenarik mungkin sehingga kesan membosankan museum dapat hilang, sekaligus pengunjung dapat belajar dari koleksi museum dengan lebih menyenangkan. Disamping pameran koleksi rutin setiap harinya, akan lebih menyenangkan bila pihak museum juga menyelenggarakan pameran-pameran khusus dengan tema yang populer sehingga lebih menarik masyarakat untuk berkunjung. Tema yang diangkat dipilih berdasarkan pangsa pasar utama yang dituju. Untuk kalangan pelajar setingkat sekolah lanjutan tema yang perlu diangkat tentu agak berbeda dengan masyarakat umum misalnya, karena kalangan pelajar biasanya lebih kritis sehingga pameran perlu dibuat lebih menarik dan memancing imajinasi mereka untuk bertanya. Pameran bisa diselenggarakan dengan memanfaatkan momen tertentu yang familiar dengan remaja seperti misalnya hari valentine, dengan tema pameran yang menarik sehingga tidak membosankan bagi remaja. Pameran tematik bisa dilaksanakan di museum maupun di luar museum. Lokasi pameran yang diselenggarakan di luar museum bisa dilakukan di tempat umum yang banyak dikunjungi masyarakat seperti alun-alun, pusat perbelanjaan atau sekolah-sekolah. Pada pameran ini, koleksi yang dipamerkan sebaiknya replika. Bila memungkinkan untuk membawa koleksi asli, pengamanan koleksi harus diperhatikan, menyangkut keamanan di lokasi pameran maupun pengangkutan sehingga resiko koleksi hilang/rusak bisa ditekan seminimal mungkin.

Bila memungkinkan, pameran dengan tema yang berubah-ubah dapat diselenggarakan di dalam museum itu sendiri. Untuk itu, selain ruang koleksi utama, patut dipertimbangkan untuk menyediakan ruangan khusus untuk pameran tematik, misalnya untuk memamerkan koleksi terbaru yang dimiliki oleh museum, terutama untuk museum yang masih bisa menambah koleksinya.

Disamping remaja, kalangan yang sangat perlu ditingkatkan minatnya untuk berkunjung ke museum adalah anak-anak. Anak-anak akan mendapat akan pengalaman di museum dengan bertambahnya pengetahuan yang diperoleh di lingkungan pendidikan formal di sekolah. Untuk menunjang ke arah itu, maka museum harus menekankan pada aspek keunikan materi koleksi yang di milikinya. Oleh sebab itu, fokus dari proses pembelajaran anak adalah pada koleksi beserta informasinya (Arbi, 2002).

Para ahli menetapkan ada 3 lingkup pembelajaran di museum yaitu:

  • Kognitif (berpikir)
  • Afektif (emosi)
  • Motor (keterampilan fisik)

Dalam membuat program interpretasi di museum, khususnya untuk anak-anak, harus mempertimbangkan ketiga aspek tersebut. Penyajian informasi maupun pembimbingan yang dilakukan harus mampu merangsang anak untuk bertanya dan secara aktif mencari jawaban-jawabannya sendiri. Aktifitas terutama berpusat pada diskusi dan teknik penjelajahan yang dipandu (guided discovery) dapat diterapkan pada beberapa kelompok usia dan secara efektif dapat mendorong anak-anak untuk belajar melalui benda (Arbi, 2002).

c. Perlunya Kerjasama Dengan Pihak di Luar Museum
Hal yang bisa dilakukan pengelola museum untuk menggaet wisatawan untuk berkunjung adalah dengan menggalang kerja sama dengan agen wisata. Pihak pengelola museum dan agen wisata dapat merancang paket wisata khusus ke museum termasuk berbagai atraksi yang akan digelar di museum, sekaligus menjadikan kunjungan ke museum sebagai salah satu daftar agenda kunjungan para wisatawan. Memperpanjang waktu buka museum dan memungkinkan para pengunjung masuk ke museum secara gratis juga dapat dilakukan untuk menarik minat masyarakat berkunjung ke museum. Khusus untuk masuk museum secara gratis, tentu hanya diberlakukan pada momen-momen tertentu, tidak setiap hari. Contohnya, pada saat peringatan Hari Kemerdekaan atau peringatan Hari Museum Internasional.Menurunnya kunjungan masyarakat ke museum antara lain disebabkan pula oleh kurangnya promosi dan pemasaran dari para pengelola museum. kebanyakan pengelola museum dinilai pasif dalam memasarkan museum yang dikelolanya. Saat ini banyak sarana yang bisa dimanfaatkan untuk melakukan promosi dan pemasaran menyangkut koleksi dan aktivitas museum. Dari pihak pengelola museum, misalnya, bisa bekerja sama dengan media agar secara berkala memuat agenda acara yang ada di berbagai museum. Dengan demikian, masyarakat mengetahui secara persis koleksi museum, jam buka dan tutup museum berikut berbagai agenda acara yang ada di museum (Fitriasarah, 2010).

Hal lain yang dapat dilakukan pengelola museum adalah merangkul komunitas-komunitas yang ada di masyarakat. Sebagaimana diketahui, terdapat banyak sekali komunitas di masyarakat ini. Dengan mempertimbangkan bidang minat yang mereka tekuni, berbagai komunitas di masyarakat ini bisa dirangkul dan menjadi bagian penting dalam upaya promosi dan pemasaran museum. Dengan pesatnya kemajuan teknologi informasi komunikasi saat ini, pengelola museum sesungguhnya dapat dengan mudah melakukan promosi dan pemasaran melalui dunia maya sehingga koleksi dan aktivitas museum pun dapat dikenal secara lebih luas.Tujuannya agar masyarakat ke depannya tidak hanya menunggu acara seremonial ke museum, namun dapat datang kapan saja, sepanjang tahun. Sudah saatnya masyarakat umum yang menjadi sasaran pendidikan nonformal museum untuk tidak terpaku lagi dengan acara khusus yang dilaksanakan museum, namun masyarakat dapat kapanpun mengunjungi museum. Kunjungan wisatawan mancanegara ( Wisman ) ke Indonesia masih sangat rendah, jauh dibandingkan Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam yang sudah banyak wisatawan yang berwisata ke negera tetangga. Rendahnya wisatawan berkunjung ke Indonesia karena promosi yang kurang gencar, akibat dana promosi kita masih kecil dan sangat terbatas. Dengan melakukan promosi horisontal itu melalui pendekatan komunitas di Indonesia, Dimana secara aktif mereka menggelar kegiatan MICE (Meeting, Incentive, Convention & Exhibition) di antaranya pertemuan dihadiri anggota – anggota dari mancanegara (Fitriasarah, 2010).


PENUTUP

Museum di Indonesia didirikan dengan tujuan untuk menciptakan kelembagaan yang melakukan pelestarian warisan budaya dalam arti yang luas, artinya bukan hanya melestarikan fisik benda-benda warisan budaya, tetapi juga melestarikan makna yang terkandung di dalam benda-benda itu dalam sistem nilai dan norma. Namun museum harus tetap memberikan nuansa rekreatif bagi pengunjungnya. Sebagai lembaga pelestari budaya bangsa, museum harus berazaskan pelayanan terhadap masyarakat. Program-program museum yang inovatif dan kreatif dapat meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap museum. (Tim Direktorat Museum). Meningkatnya apresiasi masyarakat salah satunya tercermin dari tingginya tingkat kunjungan masyarakat ke museum. Dengan demikian warisan budaya yang diciptakan pada masa lampau tidak terlupakan, sehingga dapat memperkenalkan akar kebudayaan nasional yang digunakan dalam menyusun kebudayaan nasional.

Pameran tematik merupakan salah satu sarana untuk meningkatkan daya tarik museum sebagai destinasi wisata edukasi. Adapun yang dimaksud pameran tematik disini adalah pameran yang diadakan di luar pameran rutin harian museum, dengan tema khusus atau pada waktu tertentu. Tema pameran bisa sangat bervariasi sesuai dengan spesifikasi masing-masing museum, karena masing-masing museum mempunyai ciri khas dan keistimewaan tersendiri. Dengan adanya pameran tematik diharapkan minat masyarakat untuk berkunjung ke museum semakin tinggi dengan demikian warisan budaya yang diciptakan pada masa lampau tidak terlupakan.


DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2011. Hari Museum sedunia. Tuesday, 17 May 2011. http://indonesian.irib.ir [2 Agustus 2011]

Anonim. 1994. Buku Pinter Tentang Permuseuman. Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan. Jakarta.

Arbi, Y. 2002. Museum Dan Pendidikan. Kementerian Kebudayaan Dan Pariwisata. Jakarta.

Fitriasarah.2010. Pendapat Visit Museum Year 2010-2014. http://fitrisarah.wordpress.com/2010/04/26/pendapat-visit-museum-year-2010-2014/ [2 Agustus 2011]

Wawan. 2008. Museum Sebagai Lembaga Pelestari Warisan Budaya. http://www.facebook.com/topic.php?uid=56583952447&topic=7676 [2 Agustus 2011]

Yurnaldi. 2009. Tahun Kunjungan Museum 2010, Munculkan New Brand. http://www.kompas.com [10 Agustus, 2011]

*MAKALAH PIA 2011

Museum Sebagai Daya Tarik Wisata: Perspektif Multikulturalisme

Tinggalkan komentar

I Wayan Ardika


Pendahuluan

Pariwisata budaya kini ditengarai sebagai salah satu segmen industri pariwisata yang perkembangannya paling cepat. Hal ini dilandasi oleh adanya kecenderungan atau trend baru di kalangan wisatawan untuk mencari sesuatu yang unik dan autentik dari suatu kebudayaan (Richards, 1997; http://en.wikipedia.org/wiki/Heritage_tourism). Hasil studi yang dilakukan oleh Travel Industry Association and Smithsonian Magazine pada tahun 2003 menunjukkan bahwa wisatawan yang mengunjungi situs sejarah dan atraksi budaya umumnya berpendidikan lebih tinggi, dengan pendapatan lebih banyak, tinggal lebih lama dan membelanjakan uangnya lebih banyak dibandingkan dengan jenis wisatawan lainnya (Tien, 2003: 2; http://www.squidoo.com/Heritage_tourism. Pariwisata budaya diyakini memiliki manfaat positif secara ekonomi dan sosial budaya. Jenis pariwisata ini dapat memberikan keuntungan ekonomi kepada masyarakat lokal, dan di sisi lain dapat melestarikan warisan budaya yang sekaligus berfungsi sebagai jati diri masyarakat bersangkutan.

Museum adalah salah satu daya tarik wisata budaya. Artefak atau benda warisan budaya yang menjadi koleksi dan bahan pameran dari suatu museum sering menjadi daya tarik wisata. Aneka ragam benda budaya yang menjadi koleksi sebuah museum biasanya merupakan milik berbagai etnik dan berasal dari beberapa daerah. Dalam konteks ini koleksi museum sesungguhnya mencerminkan pluralisme budaya atau multikultur. Sesuai dengan judul maklah ini maka permasalahan yang akan dibahas berikut adalah bagaimana memanfaatkan museum sebagai salah satu daya tarik wisata yang sekaligus juga dapat menjadi sarana ideologi multikuturalisme. Ideologi multikulturalisme adalah suatu paham atau kesadaran mengapresiasi dan menghormati adanya perbedaan budaya. Selanjutnya juga diuraikan strategi untuk mewujudkan ideologi multikulturalisme melalui benda budaya koleksi museum,


Museum Sebagai Daya Tarik Wisata

Salah satu fungsi museum adalah sebagai tempat menyimpan dan memajang benda warisan budaya (cultural heritage). Museum berfungsi sebagai pengelolaan warisan budaya sesungguhnya memiliki ideologi yang sama dengan pariwisata budaya yakni memberikan informasi dan pelayanan kepada publik dan/atau wisatawan tentang fungsi dan makna suatu artefak ataupun event tertentu. Sebagaiman diketahui bahwa warisan budaya belakangan ini merupakan daya tarik wisata yang sangat signifikan. Wisatawan pada umumnya cenderung ingin memahami tentang asal-usul kebudayaan masa lalu yang dianggap masih autentik. Selain itu, wisatawan juga ingin memahami kebudayaan yang berbeda dengan yang mereka miliki. Dalam konteks ini museum adalah tempat wisatawan untuk dapat melihat dan memahami warisan budaya masa lalu dari etnik lain, yang berasal dari kurun waktu yang berbeda.

Eksibisi dan pengelolaan benda warisan budaya seharusnya diatur sedemikian rupa sehingga menarik minat wisatawan. Informasi yang lengkap dan menarik, serta penataan yang baik tentang warisan budaya akan dapat menjadi daya tarik wisatawan. Dalam hubungan ini kerjasama antar museum dan komponen pariwisata budaya perlu dikembangkan. Museum dapat memamerkan atau memajang benda warisan budaya yang menjadi daya tarik wisata, dan di sisi lain industri pariwisata juga mendapat keuntungan ekeonomi sehingga dapat membantu keberadaan museum sebagai lembaga nirlaba (non profit).

Museum sebagaimana didefinisikan oleh the International Council of Museums (ICOM): A museum is a non profit making, permanent institution in the service of soceity and of its development, and open public, which acquaires, conserves, research, communicates and exhibits, for purposes of study, education and enjoyment, material evidence of people and their environment (Benediktason, 2004: 9). Sebagai lembaga nirlaba (non profit), museum juga perlu dana untuk memelihara koleksi dan kesejahteraan karyawannya. Salah satu sumber dananya dapat diupayakan dari industri pariwisata, sehingga dengan demikian ada hubungan yang saling menguntungkan antara museum dan pariwisata budaya.

Pengelolaan museum di dunia belakangan ini mengalami perubahan paradigma yakni dari pemeliharaan dan perawatan koleksi museum itu sendiri ke pelayanan publik. Museum kini tidak lagi sebagai gudang tempat menyimpan barang-barang antik yang langka, tetapi museum berfungsi sebagai tempat work-shop dan dapat memberi kesan tersendiri kepada pengunjungnya atau wisatawan. Dalam hubungannya dengan pariwisata budaya, museum mempunyai manfaat ekonomi. Kehadiran wisatawan ke suatu museum akan memberikan manfaat ekonomi secara langsung ataupun tidak langsung kepada masyarakat setempat dan industri pariwisata. Selain menciptakan lapangan pekerjaan baru bagi penduduk setempat, wisatawan juga memerlukan akomodasi, makanan, dan shopping atau belanja (Tien, 2003:2-3). Hal ini merupakan manfaat ekonomi dari suatu museum.

Pengelolaan museum sedapat mungkin agar dilakukan secara kluster, baik antar museum maupun dengan komponen . industri pariwisata. Wisatawan akan mendapat kemudahan dan keuntungan ekonomi karena harga tiket atau fee yang harus dibayar biasanya menjadi lebih murah, sehingga jumlah mereka akan meningkat untuk mengunjungi museum. Meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan ke suatu museum yang dikelola secara kluster itu juga berarti keuntungan bagi industri pariwisata. Hal ini dapat memberikan keuntungan kepada masyarakat lokal, wisatawan, dan industri pariwisata (Tien, 2003: 5-9).


Museum Sebagai Sarana Mewujudkan Multikulturalisme

Museum pada awalnya adalah tempat para aristokrat di Eropa untuk menyimpan benda-benda yang ekslusif dan langka yang dilandasi oleh pemikiran Renaisance dan Pencerahan pada abad ke 18. Selanjutnya muncul gagasan baru untuk memungsikan museum sebagai media pendidikan dan pencerahan bagi publik agar mereka lebih beradab dan melaksanakan kehidupan sosial yang lebih baik (Benediktason, 2004: 8).

Makalah ini akan mencoba mengkaji museum sebagai sarana untuk mewujudkan ideologi multikulturalisme. Multikulturalisme adalah ideologi yang mengakui dan mengagungkan perbedaan dalam kesederajatan, baik secara individu maupun kebudayaan (Fay, 1996). Dalam masyarakat multikultural perbedaan budaya, perbedaan etnis, lokalitas, ras, dan lain-lain dilihat sebagai mozaik yang memperindah masyarakat (Ardika, 2011: 5-6).

Perbedaan dan persamaan benda-benda koleksi museum dipandang sebagai landasan dalam multikulturalisme. Fungsi museum kini dilihat sebagai dimensi multikultural yakni peradaban manusia melalui rentang waktu dan tempat. Museum berfungsi sebagai tempat yang netral dimana bertemunya benda-benda budaya yang berbeda dan bersifat lintas budaya (interculture) dan lintas bangsa, namun diperlakukan secara sama dan setara (equal). Dalam hubungan ini museum mempunyai posisi yang bersifat lokal, regional dan internasional.

Museum memberikan peluang kepada kita untuk memahami dan mengapresiasi perbedaan dan merayakan persamaan. Selain itu, museum juga merupakan wahana untuk mengajarkan kepada manusia di dunia bahwa mereka adalah bersaudara sebagai kakak-adik (African American Multicultural Museum. http://webcache.googleusercontent.com/seacrh?hl=id&q=cache:Ibzl75PB864J:http://www… 8/26/2011).

Audien adalah para pihak/stakeholder yang berpengalaman yang datang ke museum untuk memenuhi bermacam-macam tujuan antara lain: rekreasi dan memenuhi pengalaman atau pengembangan diri. Di lain pihak, merupakan kewajiban museum untuk menciptakan metode agar para pihak/stakeholder termasuk wisatawan dapat memahami fungsi dan makna benda-benda koleksi museum.

Di Amerika perbedaan warisan budaya dan etnik dianggap sebagai elemen kuat yang menjadi karakter bangsa tersebut. Koleksi museum dan eksibisi benda-benda warisan budaya merefleksikan keanekaragaman etnik dan sekaligus dijadikan sebagai bahan ajar dan topik tentang multikultur di sekolah-sekolah. Dengan demikian, pendidikan merupakan kunci penting bagaiman mutikulturalisme itu dapat diterima sebagai kesadaran nasional sehingga menjadi kekuatan positif (Donley, 1993:2).

Proyeksi sensus menunjukkan bahwa secara budaya penduduk di Amerika cenderung bervariasi. Istilah yang banyak sekarang digunakan adalah mozaik, dan bukan melting pot. Istilah mozaik melambangkan satu tipe ideal yakni satu dalam perbedaan/keragaman (unity in diversity). Selain mozaik, “salad bowl” (mangkok salad) juga sering digunakan di Amerika untuk menggambarkan keindahan dan kekuatan budaya yang berasal dari beraneka budaya, dan memelihara identitasnya masing-masing dengan tujuan yang sama.

Di Amerika siswa diajarkan untuk memahami multikulturalisme dengan tingkatan atau hirarki sebagai berikut: kesadaran (awareness), memahami/mengerti (understanding), toleran (tolerance/acceptance), dan apresiasi (appreciation)(Donley, 1993:5-6). Dalam upaya mengajarkan kepada siswa tentang multikulturalisme yang perlu dilakukan adalah menghargai budaya sendiri (self esteem), sebelum dapat menghargai budaya orang lain. Menghargai budaya sendiri selanjutnya dapat digunakan sebagai basis untuk membandingkan dengan budaya lain (cross cultural comparisons).

Dalam menginterpretasikan benda-benda budaya koleksi museum yang perlu diperhatikan adalah konteks benda-benda tersebut. Dengan memahami konteksnya maka kita akan lebih dapat memahami fungsi ataupun makna dari suatu artefak.


Strategi Pemanfaatan Museum untuk Pendidikan Multikulturalisme

Ivan Karp dan Stephen Lavine dalam buku Exhibiting Cultures menyatakan bahwa agar pendidikan multikultural efektif museum harus mengubah paradigma dari “museum sebagai bangunan suci (temple) ke museum sebagai forum” (Karp and Lavine 1991 dalam Donley, 1993: 10). Fungsi museum tidak hanya memamerkan benda-benda koleksinya, tetapi memberikan informasi tentang objek tersebut. Berikut beberapa strategi yang perlu dilakukan oleh museum dalam konteks pendidikan multikulturalisme.

  • Menginterpretasikan perbedaan budaya berdasarkan persamaannya

Dalam upaya menanamkan rasa toleransi, menerima/mengakui dan mengapresiasi perbedaan budaya, museum dan sekolah harus selalu ingat tentang konsep multikultural yang pada intinya menyatakan bahwa manusia memiliki kebutuhan dasar dan nilai yang sama, namun cara yang ditempuh mungkin berbeda untuk memebuhi kebutuhan itu dan mengekpresikan nilai-nilai yang dikandungnya. Museum harus dapat membantu pengunjung atau wisatawan guna mengklasifikasikan kebiasaan atau adat dan objek yang aneh dengan cara menginterpretasikan kebutuhan dasar (basic needs) dan nilai-nilai yang memotivasi kebiasaan tersebut.

  • Membuat hubungan dan perbandingan lintas budaya (Cross Cultural Connections and Comparisons)

Perbandingan lintas budaya (cross-cultural comparison) adalah salah satu strategi yang efektif untuk mengajarkan pendidikan multikutural melalui museum. Hal ini dapat dilakukan dengan tema: persamaan dan perbedaan. Tema lain yang juga biasa digunakan dalam pendidikan multikultur adalah perbedaan bentuk dan fungsi benda budaya atau artefak, serta perbandingan mengenai elemen formal dari seni. Dalam melakukan perbandingan lintas budaya agar dihindari adanya kesan penyederhanaan yang berlebihan. Misalnya, fungsi benda seni dalam etnik tertentu belum tentu sama dengan benda sejenis pada etnik yang lain.

  • Menunjukkan Konteknya

Museum sedapat mungkin harus dapat menginterpretasikan fungsi ataupun makna benda-benda koleksinya sesuai dengan konteksnya. Benda-benda seni tidak dilihat dari nilai estetikanya semata, namun juga harus diperhatikan konteksnya apakah bersifat sakral atau profan.

Elemen yang paling penting mengenai konteks suatu benda adalah hubungan antara pembuat dan penggunanya. Pihak pengelola museum harus dapat menunjukkan hubungan pembuat dan pemakai suatu artefak dalam program pemeran, publikasi, dan kegiatan museum lainnya.

  • Menyeimbangkan antara konteks (Ecological) dan komparasi (Cross-cultural) dalam Pameran

Komparasi lintas budaya sering kali tidak dapat menampilkan aspek ekologi dan konteksnya. Museum harus berupaya untuk menyeimbangkan antara style dan interpretasi, serta menjelaskan keuntungan dan kerugian pendekatan tersebut.

  • Mengikutsertakan Masyarakat Pemilik Budaya dalam Pameran

Masyarakat pemilik budaya agar diikutsertakan dalam menginterpretasikan benda-benda koleksi museum. Hal ini menjadi sangat penting untuk mewujudkan fungsi museum sebagai forum dan bukan sebagai temple atau tempat suci.

Benda-benda budaya koleksi museum mencerminkan pluralitas budaya, demikian pula masyarakat ataupun wisatawan yang berkunjung bersifat heterogen. Fenomena ini merupakan dasar yang sangat penting dalam memahami dan mewujudkan museum sebagai sarana pendidikan multikulturalisme.


Penutup

Kecenderungan pariwisata global telah menempatkan musuem sebagai salah satu daya tarik wisata budaya. Wisatawan yang ingin memahami keragaman dan keaslian atau autentisitas budaya menyebabkan museum sebagai salah tempat pilihan kunjungannya. Sebagaimana diketahui bahwa wisatawan yang tertarik dengan budaya biasanya memiliki pendidikan tinggi dan uang yang lebih banyak sehingga mereka cenderung tinggal lebih lama (length of stay) dan membelanjakan uang lebih banyak (high spending) dari jenis wisatawan lain.

Museum biasanya memiliki koleksi benda-benda budaya yang beragam dan berasal dari berbagai etnik atau bangsa. Oleh karena itu, koleksi museum bersifat plural dan multikultur. Koleksi dan pengunjung museum yang bersifat plural atau heterogin dapat dijadikan media untuk pengembangan pendidikan multikulturalisme. Multikulturalisme adalah suatu ideologi yang menghormati perbedaan atas dasar persamaan. Paradigma pengelolaan museum kini harus diubah dari tempat menyimpan barang-barang antik menjadi forum untuk mendiskusikan dan menginterpretasikan benda-benda budaya tersebut sehingga muncul pemahaman, toleransi, dan apresiasi terhadap keanekaragaman dan persamaan budaya untuk mewujudkan ideologi multikulturalisme.


Daftar Pustaka

African American Multicultural Museum. http://webcache.googleusercontent.com/seacrh?hl=id&q=cache:Ibzl75PB864J:http://www… 8/26/2011.

Ardika, I Wayan. 2011. Hubungan Komunitas Tionghoa dan Bali: Perspektif Multikulturalisme. Dalam Sulistyawati. 2011. Integritas Budaya Tionghoa ke dalam Budaya Bali dan Indonesia. Sebuah Bunga Rampai. Hal 1-12. Denpasar: Universitas Udayana.

Benediktason, Gudbrandur. 2004. Museums and Tourism. Stakeholders, Resource and sustainable development. Master’s Dissertation. Musion, Goteberg University.

http://en.wikipedia.org/wiki/Heritage_tourism).

(http://www.squidoo.com/Heritage_tourism).

Casey, Valerie. 2003. The Museum Effect: Gazing from Object to Performence in the Contemporary Cultural-History Museum. Ecole du Louvre.ICHIM Paris 03. http://www.ichim.org

Donley, Susan K. 1993. The Museum as Resource. Pennsylvania Federation of Museums and Historical Organizations. Distributed by American Association of Museums. http://www.learningdesign.com/Porfolio/museum/museumschool.html. 8/26/2011.

Mingetti, Valeria, Andrea Moretti, and Stefano Micelli. 2002. Reengineering the Museum ‘s Role in the Tourism Value Chain: Towards an it Business Model. http://webcache.googleusercontent.com/search?hl=id&q=cache:m9mzDGGtG0wJ:http://ci…. 8/26/2011

Museum and Tourism. http://webcache.googleusercontent.com/search?hl=idq=cache:Iv8APIj53AJ:http://www…. 8/26/2011

Richards, Greg. 1997. Cultural Tourism in Europe. Wallingford: CAB INTERNATIONAL

Tien, Chieh-Ching. The Role of Museum Cluster in the Cultural Tourism Industry. http://webcache.googleusercontent.com/search?hl=id&q=cache:2j_vj6BpVwg:http://www. 8/26/2011.

*MAKALAH PIA 2011

Arkeologi Membuktikan Bahwa Sulawesi Utara adalah Gerbang Asia Pasifik Sejak Prasejarah

Tinggalkan komentar

Santoso Soegondho

Saat ini sedang hangat dipermasalahkan bahwa daerah Sulawesi Utara adalah merupakan Pintu Gerbang Asia-Pasifik. Banyak orang yang tidak tahu bahwa berdasarkan penelitian arkeologi telah dibuktikan bahwa sebenarnya sejak masa prasejarah atau masa sebelum ada dokumen tertulis, wilayah Sulawesi Utara sudah merupakan pintu gerbang bagi wilayah Asia-Pasifik. Bahkan para sarjana menyebutnya sebagai jembatan darat yang menghubungkan wilayah Asia dengan wilayah Pasifik. Para pakar memperkirakan sebenarnya Gajah Purba (Stegodon) pernah bermigrasi dari daratan Asia ke Kepulauan Indonesia melalui Sulawesi Utara. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya fosil gading dan geraham binatang tersebut di Desa Pintareng Tabukan Selatan di pulau Sangihe. Demikian juga ditemukan bukti bahwa budaya yang disebarkan dan dibawa oleh suku bangsa penutur bahasa Austronesia, menyebar dari Daratan Asia lewat Formosa dan Filipina masuk ke wilayah Pasifik melalui Sulawesi Utara. Dari Sulawesi Utara budaya ini kemudian menyebar ke bagian Timur sampai di Pulau Paskah di Kepulauan Pasifik dan ke bagian Barat sampai di Madagaskar.


FOSIL GAJAH PURBA

Pada saat terjadi peng-esan (zaman glacial) di muka bumi pada masa Plestosin, pernah terjadi migrasi fauna dari daratan Asia ke Selatan melalui Filipina dan Sulawesi Utara. Oleh sebab itu di Filipina dan di Sulawesi Utara terdapat peninggalan fosil-fosil binatang purba seperti gajah purba (stegodon) dan fosil hewan lainnya. Di Desa Pintareng di Tabukan Selatan di Pulau Sangihe, telah ditemukan adanya fosil-fosil gading dan geraham gajah purba tersebut. Menurut para ahli dari Museum Geologi Bandung dan dari Pusat penelitian Arkeologi Nasional Jakarta, fosil-fosil tersebut dinyatakan sebagai bagian dari fosil Stegodon yang pernah hidup di Kepulauan Nusantara pada masa Plestosin sekitar 2 juta tahun lalu. Gajah purba ini selain di Pintareng telah ditemukan fosil-fosilnya di Sangiran, di Kabupaten Sragen Jawa Tengah, di Lembah Cabenge di Sulawesi Selatan dan di Lembah Besoa di Sulawesi Tengah. Stegodon di dunia diperkirakan pernah hidup sejaman dengan binatang purba lainnya. Di Indonesia stegodon hidup dengan binatang-binatang purba lainnya seperti Rinocheros (badak purba) serta kerbau purba dan lain sebagainya. Dengan temuan fosil gajah purba di Pintareng, Tabukan Selatan Sangihe tersebut, maka sebenarnya pada masa lalu gajah pernah hidup di Pulau Sulawesi dan terutama di Sulawesi Utara.

Seperti diketahui pada masa plestosin sekitar 2.5 juta tahun yang lalu, iklim di bumi mengalami perobahan total yaitu penurunan suhu yang sangat drastis. Masa itu dikenal dengan zaman glacial (zaman es). Fenomena alam ini erat hubungannya dengan perubahan dari parameter astronomi mengenai posisi bumi terhadap matahari. Kejadian ini berlangsung secara periodik, yang telah mengakibatkan berubahnya jumlah total dan pembagian energy dari matahari yang diterima bumi. Selama apa yang disebut zaman es (zaman glasial) itu berlangsung, air di bumi terkumpul dalam bentuk es di daerah-daerah yang bergaris lintang tinggi. Hal ini berarti kandungan air di samudra menjadi berkurang, akibatnya muka air laut menjadi turun. Sebagai contoh, pada puncak zaman glacial terakhir yang terjadi sekitar 18.000 tahun yang lalu, muka air laut terletak 100 meter lebih rendah dari sekarang. Ternyata selama 1 juta tahun terakhir, muka air laut telah mengalami lebih dari 10 kali pendangkalan yang mencapai sekurang-kurangnya 80 meter.

Perubahan tersebut di atas sangat mempengaruhi bentuk kepulauan nusantara. Laut Cina Selatan dan Laut Jawa menjadi surut, sehingga mengakibatkan terbentuknya jembatan daratan yang luas yang menghubungkan Benua Asia dengan Kepulauan Asia Tenggara. Jembatan daratan inilah yang memungkinkan berlangsungnya proses migrasi dari daratan Asia ke Asia Tenggara bahkan ke Pulau-pulau lain di sekitarnya. Beberapa jenis hewan seperti halnya Gajah yang mampu menyeberangi lautan, tidak menyianyiakan kesempatan itu untuk bermigrasi mencari daerah yang lebih memberikan jaminan untuk kelangsungan hidupnya. Oleh sebab itu tidak heran kalau gajah purba dari jenis Stegodon ditemukan di Filipina dan beberapa daerah di Indonesia seperti Pintareng, Besoa, Cabenge, Flores dan Sangiran. Para ahli memperkirakan bahwa Sulawesi Utara menjadi pintu gerbang di dalam migrasi binatang purba ini.


SEJARAH PERADABAN DI SULAWESI UTARA

Sejarah peradaban manusia di daerah ini cukup panjang dan menarik. Daerah ini pada jaman es melanda dunia pada masa plestosin jutaan tahun yang lalu, merupakan bagian daratan yang menghubungkan pulau Sulawesi dengan daratan Filipina bahkan daratan Asia. Setelah jaman es berakhir, Sulawesi Utara menjadi daratan yang membentuk jazirah Pulau Sulawesi dan kepulauan di bagian Utaranya.

Selain daratan yang sebagian besar merupakan dataran tinggi, Sulawesi Utara juga terdiri dari pulau-pulau yang jumlahnya cukup banyak, lebih dari 150 pulau. Daerah ini mempunyai karakter alam yang khas yaitu dataran tinggi lebih luas dari dataran rendahnya, memiliki banyak gunung berapi dan sebagian besar masih aktif termasuk gunung api bawah laut, memiliki banyak gugusan karang yang membentuk pulau-pulau, selain itu kerak bumi daerah ini berdekatan bahkan sebagian berada tepat di daerah terjadinya proses subduksi (perbenturan) lempeng-lempeng (plates) tektonik antara lempeng Pasifik-Filipina-Australia dengan lempeng Sangihe dan Halmahera. Bahkan terletak dekat dengan pertemuan lempeng-lempeng dunia seperti lempeng Pasifik, Eurasia dan Australia.

Posisi di daerah subduksi inilah yang menyebabkan kemunculan gunung-gunung berapi dan sering terjadinya berbagai gempa bumi di daerah ini sejak jaman dahulu kala. Gunung-gunung berapi Sulawesi, Halmahera dan Sangihe, adalah merupakan hasil zona subduksi lempengan Sangihe dan Halmahera.

Sebagian besar lempengan Maluku telah tertindih (tersubduksi) oleh zona subduksi Halmahera di bagian Timur dan oleh zona subduksi Sangihe di bagian Barat. Gunung-gunung berapi di Sulawesi, Sangihe dan Halmahera diberi pasokan magma yang dibangkitkan di mantle asthenospherik yang termodifikasi oleh fluida yang dihasilkan dari lempengan Maluku yang tertindih. Dalam beberapa juta tahun semua lempengan Laut Maluku akan tersubduksi dan lempengan Sangihe serta Halmahera yang sudah saling menindih pada ujung-ujung lempengannya akan bertabrakan hebat (Salindeho, Winsulangi dan Pitres Sombowadile, 2008: hal. 12, 144-149).

Fenomena alam yang telah digambarkan tersebut, disatu sisi telah menyebabkan berbagai bencana seperti bencana gempa bumi atau letusan gunung api yang mendatangkan kesulitan bagi masyarakat. Akan tetapi d sisi lain telah menberi warisan yang berupa keindahan alam dan kekayaan alam yang menguntungkan bagi masyarakat. Warisan yang menguntungkan itu antaralain keindahan alam pegunungan maupun bahari termasuk keindahan terumbu karang bahkan juga hasil rempah-rempah yang sudah terkenal di dunia sejak ratusan tahun lalu, adalah merupakan warisan yang menguntungkan masyarakat. Demikian juga warisan alam yang berupa logam bernilai ekonomis tinggi seperti emas, perak, timbal, seng dan tembaga. Semua itu telah terekam di dalam dokumen-dokumen sejarah alam daerah ini.

Dari uraian tersebut diperoleh gambaran bahwa Sulawesi Utara berdasarkan alamnya, terkenal keseluruh dunia dengan kekhasan dan kekayaan alamnya yang indah dan subur, dengan adanya taman-taman laut seperti Bunaken maupun adanya tambang-tambang emas, serta tanaman cengkih-pala dan perkebunan kelapa yang sangat luas, demikian juga dengan fauna langkanya seperti Anoa, Maleo, Tarsius dan lain sebagainya.

Berdasarkan penelitian arkeologi diketahui bahwa tanda-tanda kehidupan manusia di Sulawesi Utara sudah berlangsung sejak 30.000 tahun yang lalu seperti yang ditemukan buktinya di gua Liang Sarru di Pulau Salibabu. Bukti yang lain menunjukkan adanya kehidupan sekitar 6.000 tahun lalu di Situs Bukit Kerang Passo di Kecamatan Kakas dan 4.000 tahun yang lalu sampai awal Masehi di gua Liang Tuo Mane’e di Arangkaa di Pulau Karakelang. Kemudian muncul kebudayaan megalitik berupa kubur batu ‘waruga’, menhir ‘watutumotowa’, lumpang batu dan lain-lain sejak 2.400 tahun yang lalu sampai abad 20 Masehi di Bumi Minahasa. Selain itu Sulawesi Utara pada masa lalu merupakan wilayah penghasil rempah-rempah, beras, dan emas yang potensial yang menjadi ajang pertarungan kepentingan hegemoni ekonomi antara bangsa Portugis, Spanyol, Belanda dan Kerajaan-kerajaan di sekitar daerah ini, yang akhirnya bermuara pada pertarungan politik dan militer (Meilink-Roelofsz, 1962: 93-100). Pada masa lalu daerah ini juga menjadi route perdagangan antara barat dan timur serta penyebaran agama Kristen, Islam maupun kepercayaan atau agama yang di bawa oleh pedagang-pedagang Cina. Sulawesi Utara juga berperan dalam perjuangan-perjuangan kemerdekaan dengan munculnya pahlawan-pahlawan asli dari daerah ini.

Wilayah Indonesia Timur termasuk daratan Sulawesi Utara dan kepulauan Sangihe, Sitaro dan Talaud, sejak dahulu adalah merupakan wilayah yang strategis di kawasan Pasifik, karena merupakan jembatan penghubung antara kawasan Asia dengan Kepulauan Pasifik (Bellwood, 1996; Veth 1996). Pada masa lalu wilayah ini menjadi bagian dari route perjalanan migrasi fauna dan manusia beserta kebudayaannya. Bukti-bukti yang menunjukkan bahwa di dalam migrasi fauna prasejarah pernah melewati dan singgah di wilayah ini adalah ditandai dengan adanya fosil gading gajah purba (stegodon) yang ditemukan di Pintareng, di Kabupaten Kepulauan Sangihe di Sulawesi Utara (Husni, 1996/1997, 1999), dan geraham binatang purba di lembah Napu di Kabupaten Poso Sulawesi Tengah, serta fosil-fosil binatang purba lainnya di Cabenge di Sulawesi Selatan (Santoso, 2001, 2002, 2003).


PENINGGALAN BUDAYA AUSTRONESIA

Adapun migrasi manusia dari wilayah Asia ke Pasifik melalui route ini ditengarai dengan menyebarnya kebudayaan Austronesia di pulau-pulau di sekitar Pasifik, seperti ditunjukkan oleh penggunaan bahasa-bahasa yang tergolong ke dalam rumpun bahasa Austronesia, serta ditemukannya sisa-sisa budaya yang mengenal pemakaian alat-alat batu muda (neolitik) yang berupa beliung batu persegi di Liang Tuo Mane’e di Kabupaten Talaud dan di daerah lain di Sulawesi Utara. Disamping itu ditemukan pula sisa-sisa budaya masa logam tua (paleometalik) yang mengenal penggunaan tempayan kubur seperti yang ditemukan di Liang Buiduane di Talaud dan di Bukit Kerang Passo di Minahasa, serta peninggalan budaya megalitik (kebudayaan yang mengenal penggunaan batu-batu besar) tersebar di wilayah kepulauan Sulawesi dan kepulauan Maluku Utara (Bellwood, 1978). Sehubungan dengan hal itu wilayah ini menurut para pakar diperkirakan menjadi daerah kunci yang dapat memberi jawaban atas permasalahan daerah asal (home land) dari suku bangsa yang berbahasa Austronesia yang pada masa kemudian mendiami daerah-daerah antara Madagaskar di bagian barat sampai dengan Easter Island di kepulauan Pasifik di bagian timur, serta Formosa Island di bagian Utara (Solheim, 1966; Shuttler, 1975, Bellwood, 2001).

Budaya yang dibawa oleh suku bangsa penutur bahasa Austronesia meninggalkan warisan-warisan budaya yang terdiri dari alat-alat batu neolitik beliung persegi, benda-benda yang terbuat dari batu-batu besar (megalitik) dan penguburan dengan menggunakan tempayan tanah liat. Warisan budaya semacam itu banyak ditemukan peninggalannya di Sulawesi Utara. Alat-alat batu neolitik telah ditemukan di gua-gua di daerah Talaud, di Guaan Bolaang Mongondow dan daerah Oluhuta yang sebelum pemekaran wilayah daerah itu termasuk ke dalam wilayah Sulawesi Utara. Demikian juga benda-benda megalitik banyak ditemukan di Sulawesi Utara dalam bentuk kubur batu waruga, batu bergores ‘watu pinabetengan’, menhir ‘watu tumotowa’, kubur tebing batu Toraut dan lesung batu, yang umunnya ditemukan di Tanah Minahasa dan Bolaang Mongondow. Sedangkan kubur tempayan tanah liat ditemukan di beberapa daerah seperti di Bukit Kerang Passo di Kecamatan Kakas Minahasa, di Liang Buiduane Salibabu, di Tara-tara, Kombi dan di beberapa daerah lainnya.

Dengan uraian di atas jelas peranan Sulawesi Utara sebagai gerbang Asia-Pasifik sejak masa prasejarah tidak perlu diragukan lagi. Fosil-fosil binatang purba yang ditemukan di daerah ini adalah salah satu bukti nyata peranan tersebut. Demikian juga dengan bukti-bukti sejarah dan budaya yang dimiliki oleh daerah ini adalah merupakan saksi-saksi bisu yang menjelaskan bagaimana peranan Sulawesi Utara sebagai Gerbang Asia-Pasifik sejak masa prasejarah sampai masa sejarah bahkan tentunya sampai masa sekarang seperti yang diperjuangkan Gubernur Sulawesi Utara pada saat ini.

Dengan kenyataan-kenyataan tersebut, maka wilayah ini dapat digambarkan berdasarkan fenomena-fenomena dasarnya sebagai berikut (Ambary 1998: 150):

  1. Dari segi zoografi, wilayah ini merupakan wilayah transisi antara dua lini fauna, yakni Wallace dan Weber (Bellwood, 1978:37; Veth, 1996).
  2. Dari segi geolinguistik, wilayah ini dianggap sebagai tanah asal dari suku-suku bangsa pemakai bahasa Austronesia (Andili, 1980; Bellwood, 2001: 340-347).
  3. Dari segi geokultural, wilayah ini merupakan daerah lintasan strategis dalam migrasi-migrasi manusia dan budaya dari Asia Tenggara ke wilayah Melanesia dan Mikronesia, serta Oceania (Solheim, 1966; Duff, 1970; Shuttler, 1975: 8-10).
  4. Dari segi ekonomi, wilayah ini merupakan wilayah penghasil rempah-rempah, emas dan beras (Ulaen, 2003: 42-44), yang menyebabkan wilayah tersebut menjadi ajang potensial di dalam pertarungan kepentingan hegemoni ekonomi, yang akhirnya bermuara pada pertarungan politik dan militer (Meilink-Roelofsz, 1962: 93-100). Selain itu dari segi ekonomi pada saat ini Sulawesi Utara merupakan daerah yang relatif aman baik untuk investasi dan pariwisata.

Dengan demikian jelas terbukti bahwa daerah Sulawesi Utara sngguh-sungguh berperan sebagai pintu gerbang antara Asia dan Pasifik sejak masa yang telah lama lalu yaitu sejak masa prasejarah, bahkan peran sebagai pintu gerbang Asia-Pasifik ini terus berlanjut sampai sekarang.


DAFTAR ACUAN

Ambary, Hasan Muarif, 1998. Menemukan Peradaban. Jejak Arkeologis dan Historis Islam Indonesia. Editor Jajat Burhanuddin. Penerbit Logos.

Andili, A. Bahar, 1980. Profil Daerah Maluku Utara: Halmahera dan Raja Empat, Konsep dan Strategi Penelitian. Editor E.K.M. Masinambouw, Jakarta: LEKNAS-LIPI.

Bellwood, P.S, 1976. Archaeological research in Minahasa and Talaud Islands, Northeastern Indonesia. Asian Perspective, vol XIX, p. 240-288.

Bellwood, Peter, 1978. Man’s Conquest of the Pacific, The Prehistory of Southeast Asia and Oceania. William Collins Publ. Auckland.

Bellwood, Peter, 1996. The Northern Mollucas as Crossroads between Indonesia and The Pacifik. The International Conference on Linguistic and Culture Relations in East Indonesia, New Gguinea and Australia. Yogyakarta.

Bellwood, Peter, 2001. Formosan Prehistory and Austronesian Dispersal, di dalam : Austronesian Taiwan, ed. David Blundell

Daud Tanudirjo, Jeanny Dhewayani, Joko Siswanto, 1995. Laporan Penelitian Kepurbakalaan di Kabupaten Sangihe-Talaud

Daud Tanudirjo. 2001. Islands in Between: Prehistory of the Northeastern Indonesian Archipelago. Phd. Thesis pada Australian National University.

Duff, Roger, 1970. Stone adzes of Southeast Asia, Mueum Bulletin no. 3, Christchurch, New Zealand.

Geldern, Heine von, 1945. Prehistoric Research in the Netherlands Indies, Science and Scientists in the Netherlands Indies, New York, hal. 129-167.

Heekeren, H.R. van, 1972. The Stone Age of Indonesia, VKI, 62, 2nd Revised Edition, The Hague, Netherlands.

Lapian, A.B, 1996. Peta Pelayaran Nusantara dari Masa ke Masa. Al-Turas, vol. 2,
No. 5, halaman 51-65.

Meilink-Roelofsz, M.A.P. 1962. Asian Trade and European Influence. The Hague: Martinus Nijhoff.

Salindeho, Winsulangi dan Pitres Sombowadile, 2008. Daerah Perbatasan Keterbatasan Pembatasan. Fuspad, Jogja.

Santoso Soegondho, 2001. Pospek dan Strategi Balai Arkeologi Manado Menghadapi Tantangan Issue-Issue Global. Paper pada EHPA, tahun 2001 di Yogyakarta.

Santoso Soegondho, 2002. A Small Prospect And Challenges Of North And Central Sulawesi Archaeology. Paper pada Konggres IPPA, tahun 2002 di Taiwan.

Santoso Soegondho, 2003. Prospek Arkeologi Dan Pariwisata Daerah Sulawesi Utara di Era Globalisasi. Jejak-Jejak Arkeologi, No, 3 Tahun 2003. Kementerian Kebudayaan Dan Pariwisata. Balai Arkeologi Manado.

Shutler, Richard Jr. And Jeffrey C. Marck, 1975. On the Dispersal of the Austronesian Horticulturalist. APAO, vol. X, No. 2, July: 103.

Soejono, R.P (Editor), 1976. Jaman Prasejarah di Indonesia, Sejarah Nasional Indonesia, Jilid I, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Solheim, Wilhelm G. II, 1976. Reflections on the New Data of Southeast Asian Prehistory. Asian Perspective, vol. XVIII, no. 2. Hal. 154.

Ulaen, Alex J., 2003. Nusa Utara. Dari Lintasan Niaga Ke Daerah Perbatasan. Pustaka Sinar Harapan, Jakarta 2003.

Veth, Peter (et all), 1996. Bridging Sunda and Sahul: The Arcahaeological Significance of the Aru Islands, Maluku.The International Conference on Linguistic and Cultural Relation in East Indonesia, New Guinea and Australia. Yogyakarta.

*MAKALAH PIA 2011

Film Pengetahuan Arkeologi: Kerangka dan Garis Besar

Tinggalkan komentar

Sugeng Riyanto
Balai Arkeologi Yogyakarta


1. PENDAHULUAN: Film Pengetahuan Arkeologi

Tulisan ini didasarkan pada pengalaman penulis dalam mengembangkan arkeologi visual, yang sebenarnya meliputi beberapa media, baik cetak maupun elektronik. Kerangka dasar “paradigma” arkeologi visual dalam pemikiran penulis adalah sebuah kemasan informasi arkeologis untuk “memanjakan” publik berkenaan dengan pengetahuan maupun hasil penelitian arkeologi secara visual. Sebagai salah satu produk arkeologi visual, secara khusus penulis memberikan batasan film pengetahuan arkeologi (FPA) sebagai sebuah film yang berisi informasi dan pengetahuan tentang hasil penelitian arkeologi atau kegiatan dan gagasan kearkeologian lainnya. Dalam kerangka pengembangan pemasyarakatan hasil penelitian arkeologi, produk ini termasuk kategori Publikasi Digital, bersama dengan produk CD-Interaktif dan website (Riyanto, 2003a: 138).

Batasan tersebut mengisyaratkan bahwa hasil penelitian arkeologi baik berupa informasi mengenai data arkeologi maupun pengetahuan tentang kehidupan masa lalu dapat dikembangkan dan dituangkan tidak hanya dalam bentuk buku dan artikel, tetapi juga dalam bentuk film. Hal ini sangat memungkinkan mengingat setidaknya dua hal, yaitu 1) substansi hasil penelitian arkeologi memiliki sisi yang langka, unik dan estetik; dan 2) kegiatan penelitian arkeologi senantiasa didukung oleh perekaman dokumentasi visual baik berupa foto, video, serta peta dan gambar yang dapat diolah sebagai bagian dari bahan film, melalui proses digitasi (Riyanto, 2003b, 155).

Berbeda dengan film jenis “dokumenter” yang cenderung mengedepankan kekuatan dokumen dalam aspek “autentisitas”, kelangkaan, kesulitan, dan on-site, maka FPA juga meliputi seluruh aspek tersebut, namun ditambah dengan visualisasi substansi ilmiah yang dirangkai sebagai cerita. FPA juga sangat berbeda dengan jenis “film cerita” yang nyaris 100% didukung dengan dokumen “artifisial” yaitu hasil rekaman buatan yang seluruhnya didasarkan pada ide cerita.

Oleh karena itu, selain memiliki kekuatan sebagaimana film “dokumenter”, FPA juga didukung dengan dokumen “artifisial” yang sengaja dilakukan guna memenuhi aspek cerita, baik berupa rekaman video, foto, peta, maupun gambar. Selain itu, dalam kemasan FPA juga dimungkinkan dilakukannya kompilasi berbagai dokumen lain yang dianggap dapat menghidupkan “dongeng” dalam aliran film. Dengan demikian, maka dalam batas yang sangat khusus FPA dapat dikatakan berada di antara kerangka film “dokumenter” dan film cerita. Namun demikian, berdasarkan kerangka substansi dan kualitas visual, tidak seluruh hasil penelitian arkeologi dapat dikembangkan menjadi FPA, sehingga dalam hal ini perlu adanya pertimbangan yang harus dilakukan sebelum menentukan hasil penelitian atau gagasan kearkeologian apa yang “layak” difilmkan. Namun, idealnya seorang arkeolog juga dapat berperan sebagai “story teller” agar informasi dan pengetahuan hasil penelitian dapat dipresentasikan kepada publik secara lebih memadai dan menghibur (Young, 2002: 240); dan FPA dapat menjadi medianya.

Pertanyaannya adalah: jika film pengetahuan arkeologi berbeda dengan jenis film “dokumenter” dan jenis film cerita, maka seperti apa proses pembuatannya ?
Bab berikutnya adalah jawaban atas pertanyaan tersebut, sekaligus tujuan dari penulisan ini.


2. PROSES: Garis-garis Besar Pembuatan FPA

Uraian dalam bab ini bukanlah tutorial yang menggambarkan urutan proses untuk diikuti secara operasional dalam pembuatan film pengetahuan arkeologi, namun lebih kepada penjelasan bagian-bagian paling dominan dalam proses tersebut. Akan tetapi, sebagai garis besar, uraian ini juga menggambarkan bahwa pembuatan FPA membutuhkan banyak orang dan banyak unsur, dan di sisi lain dapat menjadi kerangka bagi siapa saja untuk mengembangkan masing-masing bagian sesuai dengan minat dan kualifikasinya.

Berikut ini adalah garis-garis besar proses tersebut.

1. Naskah (Substantif):
Adalah tulisan yang berisi pengetahuan hasil penelitian arkeologi tertentu atau topik dan gagasan kearkeologian lainnya yang menjadi dasar perencanaan pembuatan film pengetahuan arkeologi sekaligus sebagai kerangka cerita. Tulisan ini diturunkan berdasarkan hasil penelitian atau gambaran kegiatan dan gagasan kearkeologian lainnya yang difokuskan pada topik atau tema tertentu dan mengacu pada substansi ilmiah.

Jangkauan NASKAH pada prinsipnya adalah lengkap, dalam arti meliputi (1) latar belakang, riwayat, dan tujuan penelitian atau kegiatan (mengapa dan untuk apa penelitian atau kegiatan itu dilakukan), (2) proses penelitian atau kegiatan (siapa, di mana, kapan, bagaimana proses penelitian berlangsung), dan (3) hasil penelitian atau kegiatan (apa, berapa, kapan, di mana, mengapa, bagaimana, siapa, – berkenaan dengan penjelasan hasil penelitian atau kegiatan).

Karena NASKAH ini akan diacu dalam penyusunan skenario, eksekusi perekaman, dan editing, maka penting juga untuk menyertakan aspek-aspek non-akademis untuk menghidupkan film, seperti gambaran lingkungan (alami, sosial, dan ekonomi), tokoh-tokoh yang tekait dengan situs atau proses penelitian, dsb. Jika ada, juga penting artinya untuk menunjuk pada fenomena estetik dan unik pada lokasi penelitian sebagai pelengkap NASKAH.

Tebal NASKAH tidak terbatas, karena yang paling penting adalah uraian yang lugas dan jelas, tidak duplikatif, dan sedapat mungkin runut. Yang tidak kalah pentingnya adalah apa yang digambarkan di dalam NASKAH dapat divisualkan, baik berupa gambar, peta, foto, video, maupun animasi.

Kualifikasi penulis NASKAH film pengetahuan arkeologi pada prinsipnya adalah arkeolog, tetapi tidak menutup kemungkinan ditulis oleh non-arkeolog yang memahami secara mendalam tentang topik atau tema pengetahuan arkeologis yang akan diangkat sebagai film. Idealnya, NASKAH ini ditulis oleh beberapa orang dengan spesialisasi maupun kualifikasi yang berbeda, sehingga kedalaman substansi NASKAH secara akademis lebih solid dan berimbang.

2. Skenario:
Adalah garis besar alur film yang diturunkan dari NASKAH FILM. Alur skenario FPA tidak harus persis dengan alur naskah, karena SKENARIO merupakan hasil konversi dari bahasa teks menjadi bahasa visual. Selain itu, karena SKENARIO juga akan menjadi kerangka dalam eksekusi perekaman (dan pengumpulan bahan grafis), maka aspek psikologis calon penonton, estetika, eksotika, dan dramatisasi substansi sudah mulai dipertimbangkan dalam penyusunan SKENARIO.

Secara garis besar, SKENARIO terdiri atas tiga bagian, yaitu: opening (pembuka), main (utama), dan ending (penutup); kesederhanaan ini karena “skenario” film pengetahuan arkeologi berbeda sama sekali dengan skenario untuk film cerita yang script skenarionya sangat detil. Selain diturunkan dari NASKAH yang bersifat akademis, SKENARIO ini juga “hanya” menggambarkan alur film secara garis besar untuk memberikan kerangka dalam eksekusi perekaman (dan pengumpulan bahan grafis) maupun panduan bagi EDITOR.

Uraian masing-masing bagian adalah sebagai berikut:

(1) Opening (pembuka) adalah prolog film yang berisi gambaran ringkas isi film atau gambaran fenomenal yang akan membuahkan pertanyaan bagi penonton dan dijawab pada bagian main (utama). Pada bagian pembuka ini juga ditampilkan Judul, Penulis Naskah, Penulis Skenario, Editor, Produser, Narasumber, dan Host. Hal-hal lain yang sifatnya administratif kadang-kadang juga dianggap perlu untuk ditampilkan dalam bagian pembuka, seperti sponsor atau pendukung utama. Durasi bagian pembuka pada prinsipnya tidak terbatas, namun secara psikologis, idealnya kurang dari 2 menit.

(2) Bagian Utama (Main) adalah isi film sebenarnya sehingga 100 % harus mengacu pada substansi NASKAH, tetapi dengan alur dan pembabakan substansi yang disesuaikan dengan aspek psikologis penonton, estetika, eksotika, serta pembobotan kualitas visual. Artinya, kerangka substansi sebagaimana tertuang dalam NASKAH harus dikonversi menjadi bahasa visual sehingga penonton tidak seperti sedang membaca artikel atau buku, tetapi dapat terpancing secara emosional, membuka wawasan akademis, dan menikmati aspek estetis visual arkeologi. Inti dari penyajian dengan alur seperti ini adalah untuk menghindari kebekuan, kemonotonan, dan kebosanan penonton dengan cara menciptakan “greget” dan dramatisasi visual (dan audio) dalam alur film.

Dalam batasan tertentu, skenario dan alur film memang perlu dibuat agar terkesan melompat-lompat, namun tetap berada dalam batas kerangka yang mengerucut, dengan titik puncak di bagian akhir Main. Pada bagian puncak ini pula perlu dituturkan “epilog” yang menggambarkan “kesimpulan”, harapan, pertanyaan lanjutan, dsb. Di sela-sela aliran film, penulis skenario, eksekutor, dan editor harus memikirkan tampilnya gambar-gambar yang menyegarkan, dramatis, keindahan, kebisuan, “keributan”, dan gambaran yang mengejutkan lainnya, meskipun tidak berkaitan secara langsung dengan substansi akademis. Hal ini penting artinya agar penonton “beristirahat” sejenak setelah dibombardir dengan data dan pengetahuan arkeologi, sehingga siap untuk menerima data dan pengetahuan arkeologi berikutnya.

Masing-masing babak dalam SKENARIO sedapat mungkin dilengkapi dengan uraian singkat tentang kerangka visual yang perlu ditampilkan, baik berupa adegan, klip, foto, peta, gambar, animasi, dsb. Penting juga artinya untuk memberikan batasan durasi dalam masing-masing babak tersebut, sehingga di akhir babak akan dapat dihitung kisaran durasi film, khususnya untuk bagian utama. Secara psikologis, film pengetahuan arkeologi idealnya berdurasi antara 20 – 30 menit, tergantung topik, substansi, dan ketersediaan data grafis. Untuk film dengan topik dan tema yang mengedepankan “informasi data arkeologi”, durasi film dimungkinkan lebih kama, tetapi harus di bawah 60 menit, yaitu antara 40 – 50 menit.

(3) Bagian penutup (ending) pada prinsipnya sudah tidak terkait dengan aliran film, tetapi merupakan durasi yang khusus disediakan untuk menampung informasi teknis pembuatan film, seperti ucapan terima kasih, Tim Riset, sumber ilustarsi musik, Tim Perekaman, kontributor foto / video, Tim Teknis Grafis, Hak Cipta dan tahun pembuatan, dsb.

Namun demikian, tidak menutup kemungkinan adanya overlap antara bagian utama dengan bagian penutup, dalam arti sebagian main (misalnya epilog) masuk dalam durasi ending dan sebaliknya. Contoh overlap ini adalah ditampilkannya informasi teknis (misalnya ucapan terima kasih dan Tim Riset) pada saat aliran film belum usai, dan sebagian babak (bagian akhir) main masih ditampilkan dalam ending.

Selain itu, penting artinya untuk menampilkan “klip yang terbuang” di bagian ending. Tampilan klip jenis ini pada prinsipnya menggambarkan proses pembuatan film (behind the scene) sehingga paling tidak harus mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut: klip menggambarkan hal-hal lucu karena kesalahan teknis atau karena hal lain yang tidak terduga, klip yang menggambarkan kerja keras Tim Eksekutor, serta klip yang menggambarkan keseriusan Tim. Klip jenis ini juga dapat meliputi gambaran lain yang dianggap mampu menghadirkan behind the scene dengan harapan agar penonton dapat memahami proses pembuatan film pengetahuan arkeologi yang tidak sesederhana pembuatan film prosesi pernikahan, misalnya.

Kualifikasi penulis SKENARIO film pengetahuan arkeologi pada prinsipnya adalah arkeolog dengan pengalaman menulis populer yang cukup serta memiliki imajinasi visual yang memadai. Hal ini karena SKENARIO merupakan jembatan emas antara penulis NASKAH, EKSEKUTOR, dan EDITOR. Untuk itu, selain dituntut untuk mampu menerjemahkan bahasa teks dari NASKAH menjadi bahasa visual yang imajinatif, alur skenario juga harus dapat menjadi kerangka dan panduan bagi EKSEKUTOR dan EDITOR.

3. Eksekutor:
Adalah sebuah tim yang melaksanakan tugas pengumpulan bahan visual sesuai dengan NASKAH dan SKENARIO. Berdasarkan beban tugas, eksekutor meliputi dua bagian, yaitu 1) pengumpul dokumen grafis yang sudah tersedia baik berupa foto, video, peta, maupun gambar; dan 2) pelaksana perekaman, baik berupa pemetaan, penggambaran, fotografi, maupun videografi. Keduanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan bahan visual sebagaimana termuat di dalam NASKAH maupun SKENARIO.

Dengan demikian, selain Tim Pengumpul Dokumen Grafis, EKSEKUTOR terdiri atas: pengarah perekaman (“sutradara”) yang dibantu oleh kamerawan video, fotografer, serta juru peta dan gambar. Secara lebih lengkap, setidaknya Tim EKSEKUTOR juga didukung oleh Penanggung Jawab Peralatan, Penanggung Jawab Transportasi – Akomodasi – Konsumsi, Administrasi (perijinan dsb.), serta Properti dan Talen (setting artifisial, juru rias, dsb).

Uraian kedua Tim Eksekutor adalah sebagai berikut:
(1) Tim Pengumpul Dokumen Grafis pada prinsipnya bekerja di dalam ruangan, karena sasarannya adalah arsip dan dokumen yang berkaitan dengan topik dan tema film. Foto, peta, gambar, dan rekaman video, selain biasanya berada di instansi yang bersangkutan (Puslitbang Arkenas, Balai arkeologi, dan BP3), kadang-kadang juga tersimpan di luar instansi tersebut, dan bahkan sering hanya dapat diunduh dari dunia maya (internet). Oleh karena itu, Tim ini harus cekatan dalam menginventarisasi kebutuhan bahan grafis beserta perkiraan penyimpanannya sehingga akan mudah dalam pelacakan dan pengumpulan dokumennya.

Catatan dan daftar hasil inventarisasi dan pelacakan sangat penting artinya, sehingga harus disusun secara rapi dan sistematis. Hasil inventarisasi dan pelacakan ini paling tidak berguna untuk dua hal, yaitu: 1) mengetahui bahan grafis yang tersedia sesuai isi NASKAH dan SKENARIO maupun bahan grafis yang belum ada sehingga perlu dimasukkan dalam sasaran perekaman; 2) menjadi salah satu acuan dalam eksekusi perekaman dan salah satu acuan dalam proses penyuntingan oleh EDITOR.

Kualifikasi Pengumpul Dokumen Grafis pada prinsipnya adalah Dokumentalis atau orang yang memahami seluk-beluk dokumen grafis. Dalam hal ini penting artinya untuk membentuk Tim yang diketuai oleh arkeolog atau orang yang dapat “membaca” NASKAH dan SKENARIO film pengetahuan arkeologi. Selain itu, Tim ini harus mampu menerjemahkan NASKAH dan SKENARIO dalam bahasa visual sebagai panduan dalam inventarisasi dan pelacakan dokumen grafis serta menuangkannya di dalam tabulasi yang sistematis disertai pengelompokkan dokumen yang juga sistematis.

(2) Tim Eksekutor Perekaman pada prinsipnya adalah sebuah tim yang terdiri atas pengarah perekaman (“sutradara”), kamerawan video, fotografer, serta juru peta dan gambar. Dalam pelaksanaannya Tim ini dibantu oleh Penanggung Jawab Peralatan, Penanggung Jawab Transportasi – Akomodasi – Konsumsi, Administrasi (perijinan dsb.), serta Properti dan Talen (setting artifisial, juru rias, dsb).

Peran dan kedudukan Pengarah Perekaman sangat strategis karena harus mampu menyediakan bahan grafis hasil perekaman, terutama videografi yang dapat memvisualkan secara substantif maupun estetis sesuai isi NASKAH dan SKENARIO. Panduan dan acuannya dalam hal ini adalah NASKAH, SKENARIO, serta daftar yang dibuat oleh Tim Pengumpul Dokumen Grafis.

Untuk dapat menghasilkan rekaman yang baik (secara substantif dan estetik) Pengarah Perekaman setidaknya juga harus mempertimbangkan beberapa hal, yaitu:

  • Lokasi, yang berkaitan dengan kuantitas dan kualitas visual situs atau lokasi perekaman yang diperlukan
  • Kategorisasi sasaran perekaman yang meliputi kerja arkeolog, narasumber, host, situs, artefak, lingkungan (alami, sosial, ekonomi), candid dan snapshot, dsb.
  • Aspek teknis, seperti cuaca, arah cahaya, bayangan, background, komposisi, angel
  • Kemampuan alat rekam, seperti lebar lensa dan kemampuan zooming untuk menentukan komposisi, kualitas sound recorder, kepekaan lensa terhadap cahaya, kualitas tripod dan alat pendukung yang lain, dsb.
  • Kamampuan SDM pendukung, terutama kamerawan, fotografer, serta juru peta dan gambar
  • Waktu Perekaman yang tersedia, dalam hal ini berkaitan dengan keleluasaan dalam menentukan sasaran eksekusi, karena beberapa gambar harus diambil pada waktu dan kondisi yang sangat khusus (seperti peristiwa khusus, sunrise dan sunset, jadwal kehadiran narasumber, host, dsb). Semakin banyak waktu yang tersedia akan semakin besar kemungkinan menghasilkan hasil perekaman yang baik

Dengan demikian, secara teknis Pengarah Perekaman bertanggung jawab atas kualitas hasil perekaman sebagaimana termuat dalam NASKAH dan SKENARIO. Oleh karena itu, dia berhak atas segala pengaturan dan penjadwalan, penentuan peralatan, serta penentuan SDM pendukung. Demikian pula pada saat perekaman “adegan” (kerja arkeolog, narasumber, host, dsb), Pangarah Perekaman memiliki kewenangan untuk menentukan lokasi, kostum, pose, artikulasi, gerakan, dsb. Berkaitan dengan hal tersebut, hal-hal teknis juga menjadi tanggung jawabnya, termasuk menentukan jumlah dan arah kamera, waktu perekaman, komposisi, sudut pengambilan, dsb.

Tim Pendukung Perekaman pada dasarnya mengikuti instruksi dan arahan dari Pengarah Perekaman, tanpa kecuali. Namun demikian, bentuk arahan cukup diberikan secara prinsip dan garis besar, sehingga memungkinkan teknisi (kamerawan, fotografer, serta juru peta dan gambar) mengembangkan detil perekaman sesuai dengan imajinasi dan kemampuannya.

4. Narasumber Ahli
Adalah ahli yang menjadi tokoh utama dalam film yang secara khusus berkaitan dengan peyampaian informasi kearkeologian maupun hasil penelitian yang secara substantif terkait langsung dengan topik dan alur film. Narasumber Ahli memiliki peran psikologis atas kualitas informasi dan pengetahuan yang disampaikan, sehingga secara akademik harus menguasai topik dan tema film. Jumlah Narasumber Ahli tidak terbatas, tergantung topik dan alur film yang disusun, namun pada prinsipnya adalah berbanding lurus dengan jumlah topik yang disampaikan; artinya sedapat mungkin dihindari perangkapan (topik lebih banyak dari narasumber) maupun duplikasi (suatu topik disampaikan oleh beberapa narasumber).

Materi yang disampaikan, waktu, lokasi, cara penyampaian, dan kostum narasumber pada saat perekaman pada dasarnya diarahkan oleh Pengarah Perekaman. Khusus untuk materi, sedikitnya ada tiga cara penyampaian materi dalam perekaman, yaitu 1) narasumber berbicara bebas dan hanya dibatasi oleh topik, 2) narasumber menghafal materi dengan arahan Pengarah, dan 3) narasumber mambaca materi dalam bentuk teks yang terlebih dahulu disiapkan dengan tetap memandang lensa kamera; dalam hal ini teks ditempatkan di dekat lensa sehingga megurangi kesan membaca. Penggunaan ketiga cara ini sangat tergantung pada isi materi, kondisi narasumber, serta kebiasaan narasumber dalam menyampaikan informasi.

5. Narasumber Pendukung
Secara umum tidak berbeda dengan Narasumber Ahli, perbedaannya ada pada isi materi yang harus disampaikan. Dalam hal ini, materi tersebut tidak terkait secara substantif dengan topik dan alur film, namun keberadaannya dibutuhkan sebagai mata rantai alur dan penghubung antar babak maupun penghubung antar informasi. Narasumber pendukung tidak wajib ada, namun sebagai pelengkap dan untuk memberikan gambaran komprehensif atas proses penelitian arkeologi, keberadaanya sangat membantu kelancaran alur film. Contoh narasumber ini adalah tokoh masyarakat atau penduduk sebagai penyampai informasi tentang riwayat penemuan, kondisi situs, pandangan masyarakat, situasi situs sehari-hari, dsb. Selain itu, Pejabat yang mewakili instansi tertentu dan secara substantif tidak terkait dengan topik dan alur film juga termasuk kategori narasumber ini.

Hal-hal lain yang berkaitan dengan teknis perekaman, penjelasannya sama dengan Narasumber Ahli.

6. Host:
Adalah tokoh dalam film yang memiliki peran sebagai “pengantar” suatu babak, “pengantar” materi informasi, dan “pengantar” visualisasi dalam alur film. Keberadaan host memang bukan keharusan, namun secara psikologis dan estetis dapat menambah kualitas sebuah film pengetahuan, dan yang lebih penting adalah meningkatnya kelancaran aliran film.

Materi yang disampaikan oleh host disiapkan terlebih dahulu oleh Tim Eksekutor dengan arahan substansi dari Narasumber Ahli. Di sisi lain, dalam batasan tertentu host juga dapat berperan untuk “memberikan” informasi substantif akademis yang disiapkan oleh Narasumber Ahli. Oleh karena itu, host tidak memiliki kedudukan dan peran yang berkaitan dengan substansi film, karena tugas utamanya adalah menyampaikan secara verbal “pengantar” dan informasi di depan kamera, dan seluruh materinya disiapkan oleh Tim Eksekutor.

Hal-hal yang bersifat teknis seperti gaya gerak, pose, kostum, logat, dan artikulasi, sepenuhnya diarahkan oleh Pengarah Perekaman. Ada dua cara dalam penyampaian materi oleh host, yaitu: 1) menghafal materi dengan arahan Pengarah, dan 2) mambaca materi dalam bentuk teks yang terlebih dahulu disiapkan dengan tetap memandang lensa kamera; dalam hal ini teks ditempatkan di dekat lensa sehingga megurangi kesan membaca. Pemilihan penggunaan cara ini sangat tergantung pada panjang atau pendeknya materi, serta kemampuan host dalam menghafal teks. Namun penggunaan cara yang pertama sangat disarankan sepanjang hal itu dimungkinkan, karena dalam perekaman ini sering diperlukan penyampaian materi oleh host sambil bergerak (berjalan, menunjuk, menengok, dsb.).

Kualifikasi peran host tidak terbatas pada gender tertentu, karena yang paling diutamakan adalah kelancaran berbicara, kemampuan “mengendalikan” audiens, secara fisik menarik, mampu mengendalikan logat dan artikulasi, serta sedapat mungkin mampu menghafal teks dalam waktu cepat.

7. Editor:
Secara teknis, Editor merupakan inti dari pembuatan film pengetahuan arkeologi, karena di tangannya sebuah film pengetahuan arkeologi harus “berbicara” dan harus menarik. Oleh karena itu, sedikitnya ada tiga aspek yang harus dimiliki oleh Editor film pengetahuan arkeologi, yaitu: 1) pemahaman secara mendalam tentang penelitian dan kegiatan arkeologi baik adalam skala akademis maupun non-akademis; 2) memiliki daya imajinasi artistik dan estetik yang memadai; 3) memiliki kemampuan teknis editing video (dan audio) dan teknik grafis.

Proses penyuntingan didasari oleh tiga hal, yaitu Naskah, Skenario, dan Imajinasi, sebagaimana uraian berikut ini.

(1) Secara umum Naskah digunakan sebagai acuan untuk menyusun kerangka “dongeng” atau cerita sehingga proses penyuntingan secara tidak langsung dibatasi oleh “dongeng” tersebut. Selain itu, pemahaman atas kerangka cerita ini juga digunakan untuk menentukan efek visual dan efek suara yang diperlukan bagi estetika dan eksotika film. Penyuntingan dasar (pemilihan dan koreksi klip, foto, peta, dan gambar) dalam batasan teknis juga mengacu pada isi Naskah sebagai bahan baku dalam proses penggabungan gambar.

(2) Skenario merupakan bingkai utama yang digunakan oleh Editor dalam penyuntingan, karena sudah tersusun secara runut sebagaimana sebuah storyboard. Mulai dari pemilihan gambar (klip, foto, peta, gambar), penyuntingan dasar (koreksi bahan klip, foto, peta, gambar), pemilihan musik latar, perencanaan animasi, hingga sentuhan efek visual dan suara, seluruhnya didasarkan pada storyboard sesuai Skenario.

(3) Imajinasi merupakan aspek paling dibutuhkan dalam penyuntingan film pengetahuan arkeologi, karena kedudukan dan perannya sangat strategis dalam “menghidupkan” film. Kerangka Naskah dan Skenario bukan menjadi harga mati, sehingga Editor harus mampu mengembangkan imajinasinya untuk menentukan koreksi dan olah grafis bahan, menentukan efek visual dan audio, menentukan dan menyunting musik latar, serta menentukan bentuk animasi yang diperlukan. Demikian pula dengan urutan babak, Editor harus mampu berimajinasi agar aliran film tidak terkesan kaku, beku, monoton, dan membosankan. Untuk itu diperlukan improvisasi agar aliran film memiliki “greget”, mengejutkan, mendorong rasa “penasaran”, eksotik, dan esktetik, namun tetap dalam kerangka besar Naskah dan Skenario. Editor juga berhak untuk mengurangi babak dalam sekenario jika itu dipandang menganggu atau duplikasi, dan menambahkan babak baru jika dirasa perlu untuk memperlancar alur film.

Kualifikasi Editor Film Pengetahuan Arkeologi adalah arkeolog atau orang yang memiliki pemahaman mendalam tentang aspek akademis arkeologi, menguasai teknis penyuntingan video dan olah grafis, serta memiliki imajinasi estetis yang memadai.

8. Ilustrator Grafis:
Secara teknis, Ilustrator Grafis bertugas membantu Editor, khususnya berkaitan dengan kebutuhan akan bahan-bahan ilustrasi yang berkaitan dengan still image dan animasi. Foto, peta, dan gambar tidak dapat digunakan begitu saja sebagai bahan dalam penyuntingan film, karena harus disesuaikan baik dalam aspek visual maupun aspek teknisnya. Aspek visual, misalnya berkaitan dengan efek warna dan komposisi, penyediaan teks, latar, dan dekorasi artistik, maupun pembuatan animasi yang disesuaikan dengan babak film; aspek teknis khususnya berkaitan dengan dimensi dan resolusi bahan (sama atau lebih besar dari dimensi output film).

Selain itu, ilustrator grafis juga bertugas untuk mendesain cover maupun desain cetakan lainnya seperti poster film, leaflet, dsb. Oleh karena itu, kualifikasi Ilustrator Grafis pada prinsipnya adalah profesional di bidang desain grafis, memiliki daya imajinasi, dan mampu memahami aspek akademis arkeologi. Seorang arkeolog yang memiliki kemampuan teknis di bidang desain grafis dan daya imajinasi, sebenarnya lebih ideal karena materi film memang berkenaan dengan seluk-beluk arkeologi.

9. Sound Editor:
Sound Editor pada prinsipnya juga bertugas membantu Editor dalam penyuntingan film pengetahuan arkeologi, khususnya berkaitan dengan aspek teknis suara. Dalam hal ini, ada dua tugas utama, yaitu 1) menyiapkan musik latar dan 2) menyunting teknis suara hasil perekaman maupun efek yang diperlukan, termasuk suara hasil rekaman Narator.

Musik latar sedapat mungkin disiapkan secara khusus untuk mendukung alur film. Dengan arahan Editor, Sound Editor dapat menunjuk pencipta aransemen yang diperlukan. Namun demikian, Sound Editor juga dapat memilih musik yang sudah published untuk digunakan sebagai latar film, dengan menyebutkan pencipta maupun artis pembawanya. Musik yang terpilih perlu disunting agar sesuai dengan kebutuhan film, khususnya dalam hal dinamika level dan durasi.

Dengan kemampuannya, Sound Editor juga bertugas menyediakan efek suara (sound effect) berdasarkan arahan Editor. Efek suara dapat diciptakan atau disunting dari sound effect yang sudah published. Dengan demikian tidak ada batasan yang tegas untuk kualifikasi Sound Editor, meskipun idealnya adalah profesional di bidang digital audio.

10. Teks Narasi:
Adalah teks yang disiapkan untuk dibaca oleh Narator sebagai pelengkap dan pengisi suara dalam alur film. Teks Narasi ditulis oleh penulis khusus berdasarkan tiga kerangka, yaitu: 1) Naskah, 2) Skenario, dan 3) Alur lengkap film yang sudah disunting. Namun demikian, kerangka ke-3 adalah yang paling penting karena teks yang ditulis memang ditujukan untuk mengisi jeda-jeda dalam alur film yang sudah disunting.

Selain bertujuan untuk mengisi jeda-jeda dalam alur film, teks narasi juga bertujuan untuk mengganti suara Narasumber maupun Host jika dipandang perlu. Di sisi lain, teks narasi juga dapat disiapkan untuk mengisi suara yang perlu ditambahkan.

Teknik penulisan Teks Narasi adalah dengan menyimak berulang-ulang aliran film yang sudah disunting untuk mendapatkan kalimat serta frase yang sesuai secara substantif dan menarik secara estetik pada setiap jeda atau babak yang dianggap perlu. Teks Narasi ditulis dengan sistematika berdasarkan tanda waktu (menit dan detik); artinya, kalimat tertentu akan dibaca oleh Narator pada menit dan detik tertentu dengan durasi tertentu. Dalam pelaksanaannya, Penulis Teks Narasi didampingi oleh editor agar pengembangan imajinasi penulis sesuai dengan imajinasi Editor.

Kualifikasi Penulis Teks Narasi pada dasarnya berlatar belakang sastra dengan kemampuan Bahasa Indonesia yang memadai, namun dapat berimprovisasi dengan penggunaan bahasa pergaulan. Penggunaan Bahasa Indonesia non-baku bahkan slank sering diperlukan agar film lebih familiar dengan penonton.

11. Narator:
Narator bertugas membaca Teks Narasi yang sudah disiapkan untuk direkam suaranya sebagai pengisi suara dalam alur film. Cara perekaman suara Narator dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu: 1) Narator membaca Teks Narasi dan direkam tanpa menyimak aliran film, dan 2) Teks Narasi dibaca Narator sambil menyimak aliran film.

Cara petama secara teknis lebih mudah karena proses perekaman lebih leluasa, namun dengan syarat: 1) Narator menyimak terlebih dahulu aliran film untuk menentukan speed, beat, tekanan, artikulasi, serta tipe dan gaya suaranya; 2) Pada saat perekeman, Narator didampingi oleh Editor, Sound Editor, dan Penulis Teks Narasi.

Cara yang kedua lebih rumit proses perekamannya karena di tempat perekaman (studio) harus disediakan media pemutar film dan konsetntrasi Nataror akan terpecah menjadi dua, yaitu konsentari pada alur film dan Teks Narasi. Namun, secara umum kedua cara tersebut dapat ditempuh, karena muara hasil perekaman suara Narator akan disunting ulang oleh Sound Editor dan digabungkan ke dalam alur film oleh Editor.

Kualifikasi Narator pada prinsipnya adalah profesional di bidang penyiaran publik. Namun secara khusus juga dibutuhkan profesional yang mampu memahami topik kearkeologian serta memiliki tipe dan gaya suara yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan film, seperti gaya suara smart, melankolis, tegas, datar, sedih, manja, menggurui, dsb.


3. PENUTUP: Menuju Arkeologi Visual

Jika bombardir teks dianggap tidak mampu menjangkau kebutuhan publik atas informasi dan pengetahuan hasil penelitian arkeologi, maka film pengetahuan arkeologi dapat menjadi salah satu jurus yang dapat menjawabnya. Oleh karena itu produk publikasi ini menjadi penting artinya untuk dikembangkan, apalagi di era digital seperti sekarang, yang secara stereotipe identik dengan kecepatan, estetika, ringkas-padat, serta yang paling penting adalah berbagai kemudahan yang ditawarkan.

Namun, FPA tidak sendirian karena merupakan bagian dari produk-produk arkeologi visual, sehingga pengembangannya juga harus diiringi dengan pengembangan jenis produk yang lain. Mungkin pertanyaannya adalah, “bagaimana memulainya ?”. Jika teknologi menawarkan berbagai kemudahan, maka arkeologi visual dapat dimulai dengan mengumpulkan, memilah, mendiskusikan, dan menentukan “dongeng” apa yang sekiranya patut disampaikan kepada masyarakat melalui FPA pada khususnya dan produk-produk arkeologi visual pada umumnya. Dengan demikian maka arkeolog dengan pasti sedang beranjak menuju arkeologi visual, dan siap memanjakan publik dengan informasi dan pengetahuan yang belum diakrabinya.

“Toh hasil penelitian arkeologi maupun gagasan kearkeologian tidak melulu harus dikemas dalam bentuk tulisan seperti buku dan artikel…”

“Dalam “perang” informasi di era digital, bombardir teks (written words) sudah tidak mempan lagi dalam menjangkau luasnya publik yang semakin akrab dengan informasi grafis yang begitu kreatif dan imajinatif” (Riyanto, 2008: 455)


ACUAN

Riyanto, Sugeng. 2003a. “Pemasyarakatan Hasil Penelitian Arkeologi: Sebuah Kerangka” dalam Berkala Arkeologi. Tahun XXIII Edisi No. 1 / Mei 2003. Hlm. 132 – 144.

_____________. 2003b. “Digitasi Dokumen Penelitian Arkeologi” dalam Berkala Arkeologi. Tahun XXIII Edisi No. 2 / November 2003. Hlm. 151 – 163.

_____________. 2008. “”Habis Gelap Terbitlah Terang”: Digital Imaging untuk Arkeologi Visual” dalam Kumpulan Makalah Pertemuan Ilmiah Arkeologi X, Yogyakarta, 26-30 September 2005. Jakarta: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI), hlm. 452-456.

Young, Peter A. 2002. “Archaeologist as Storyteller” dalam Public Benefit of Archaeology. Barbara J. Little (ed.). Florida: University Press of Florida, pp. 239-243.

 

*MAKALAH PIA 2011

Entri Lama

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 26 pengikut lainnya.